MasukVimala masih sesekali terisak ketika mobil Zyandru berhenti di depan rumahnya.
Tampak bi Tina keluar dari pintu utama, berdiri di teras menunggunya turun.“Kenapa orang tua kamu baik sama aku, padahal aku adalah anak musuh kalian.” Akhirnya Vimala mengungkapkan apa yang ada di benaknya itu.“Sebenarnya kami enggak pernah menganggap kalian musuh … kami memang selalu menang tapi kadang papa kamu juga pernah mengalahkan kami dalam tender dan itu hal biasa ….”Vimala menolehJam pulang kerja masih satu jam lagi, tapi Zyandru keluar dari ruangannya sambil membawa tas.“Bel … saya pulang duluan ya, kerjaan saya kirim aja ke email.”“Baik, Pak … berkas Bapak juga sudah saya kirim ke pak Yudha … oke, thanks Bel.”“Oh iya, Pak … Bapak nikahnya kapan?” Pertanyaan Bella tidak membuat langkah Zyandru yang hendak menuju lift berhenti.“Kalau enggak sabtu … Minggu, Bel.” Zyandru menjawab sedikit lantang karena sosoknya telah menjauh.Bella menatap malas sang bos yang menghilang ke dalam box besi.“Iya tahu … pesta pernikahan itu biasanya diselenggarakan sabtu atau minggu … tapi tanggal berapa?” Bella misuh-misuh.Dan di depan loby, mobil mewah Zyandru sudah terparkir eksclusive.“Pak, aku bawa sendiri saja … mau ke toko perhiasan dulu terus ke rumah Natamanggala,” kata Zyandru kepada sang driver yang menghampirinya.“Bapak mau ke rumah Natamanggala? Apa perlu ditemani sekuriti?” Pria tua itu tampak khawatir.
Robert menutup map presentasinya.Ia tersenyum kepada Zyandru.“Mr. Gunadhya, before we proceed… may I ask you something personal?”“Of course.”“Kami mendengar kabar bahwa Anda akan menikah dengan miss Vimala Natamanggala.”Beberapa direktur AG Group saling berpandangan.Bella yang duduk di sisi ruangan pun refleks mengangkat kepala dari layar laptopnya.Zyandru tersenyum tipis. “Itu bukan lagi rumor.” Pria itu menatap seluruh peserta rapat. “Saya memang akan menikah.”Robert langsung berdiri. Ia mengulurkan tangan. “Congratulations, Mr. Gunadhya.”Mereka berjabat tangan. Kemudian Robert membuka map lain yang sejak tadi belum disentuh.“Kalau begitu…” Ia mendorong sebuah draft kontrak ke tengah meja.“Our Board has reached a decision.”Semua mata langsung tertuju kepadanya.“Kontrak kerja sama ini akan kami tandatangani segera setelah pernikahan Anda resmi tercatat.”Salah seorang direktur AG Group mengangkat alis.“May we know the reason?”Robert tersenyum. “Because
“Zyan … lo enggak akan ke sini dulu?” Suara Kaluna-sang kakak dari ujung panggilan sana terdengar menggoda. Zyandru memejamkan mata, punggung pria itu bersandar pada kursi kebesarannya di ruang CEO gedung anak perusahaan AG Group. “Enggak usah lah, Kak ….” Zyandru menghela nafas pelan. “Yakin? Ratu bentar lagi balik ke NewYork, loh ….” Zyandru berdecak lidah sebal. “Dulu, lo ngelarang gue pacaran sama Ratu … sekarang malah ngonok-ngojokin.” Kaluna tertawa renyah. “Dulu ‘kan masalahnya beda.” “Salam aja sama Ratu ya Kak.” Kaluna tidak langsung merespon, sang kakak seperti sedang memikirkan sesuatu. “Lo yakin mau nikah sama gadis Natamanggala itu, Zyan? Lo ‘kan masih cinta sama Ratu.” Zyandru mencubit pangkal hidungnya, mata terpejam tapi bibir tersenyum pelik. “Masih banget Kak, gue masih cinta banget sama dia … tapi ya gimana, dianya enggak pernah mau jadi menantu Gunadhya.” Kaluna terkekeh pelan. “Ya udah, kata bunda … gadis Natamanggala itu keliatanny
Vimala masih sesekali terisak ketika mobil Zyandru berhenti di depan rumahnya.Tampak bi Tina keluar dari pintu utama, berdiri di teras menunggunya turun.“Kenapa orang tua kamu baik sama aku, padahal aku adalah anak musuh kalian.” Akhirnya Vimala mengungkapkan apa yang ada di benaknya itu.“Sebenarnya kami enggak pernah menganggap kalian musuh … kami memang selalu menang tapi kadang papa kamu juga pernah mengalahkan kami dalam tender dan itu hal biasa ….” Vimala menoleh menatap Zyandru, cukup lama mengamati wajah tampan pria itu sampai Zyandru pun akhirnya menoleh menatapnya.Pandangan mereka berdua terpaut cukup lama, sekarang Zyandru tidak melihat sorot mata dingin dan tajam di sana.“Makasih ya …,” kata Vimala, memutus tatapan kemudian membuka handle pintu.Setelah terbuka, dia kembali menoleh ke belakang. “Jadi … Kamu bersedia menikah sama aku?” “Apa sih, lamarannya enggak romantis banget.” Zyandru menggoda Vimala untuk mencairkan suasa
Mobil SUV berwarna silver itu perlahan melambat.Kelopak mata Vimala bergerak beberapa kali.Ia mengerjap pelan, lalu menguap kecil. “…Udah sampai?”Belum ada jawaban.Vimala menoleh ke luar jendela.Detik berikutnya dahinya langsung berkerut.Gerbang besi hitam menjulang perlahan terbuka otomatis.Di baliknya berdiri sebuah mansion megah bergaya modern klasik dengan halaman yang bahkan lebih luas daripada rumah keluarga Natamanggala.Air mancur bertingkat menyembur di tengah taman.Deretan pohon kamboja tertata rapi.Beberapa mobil mewah berjajar di garasi samping.Vimala menoleh cepat ke arah Zyandru. “Ini bukan rumah aku.”“Memang bukan.” Zyandru menjawab santai“Lho?” Mata Vimala membulat.“Lho gimana?” “Kamu bawa aku ke mana?” Vimala menuntut penjelasan.Zyandru memarkirkan mobil dengan santai. “Rumah.”“Rumah siapa?”“Rumah Gunadhya.” Zyandru sengaja memberikan senyumnya.Mata Vimal
Perjalanan kembali menuju Jakarta dimulai menjelang pukul sebelas siang.Langit Bandung cerah.Kabut tipis yang sejak pagi menggantung di kawasan Dago perlahan menghilang, berganti sinar matahari yang hangat.SUV silver milik Zyandru meluncur meninggalkan Hotel Indigo dengan kecepatan sedang.Berbeda dengan perjalanan mereka semalam, kali ini suasana jauh lebih tenang.Vimala duduk di kursi penumpang depan.Sabuk pengaman melintang rapi di tubuhnya.Sementara kedua tangannya memeluk bantal kecil yang tadi diberikan pihak hotel sebagai souvenir.Tubuhnya memang sudah jauh lebih baik.Namun efek obat masih membuat kepalanya terasa berat.Belum lima belas menit perjalanan, kelopak matanya kembali turun. “Hem….”Kepalanya perlahan miring ke arah jendela.Zyandru sempat melirik sekilas.“Tidur lagi.” Pria itu hanya menggeleng kecil. “Bagus lah. Jadi enggak berisik.”Sudut bibirnya terangkat tipis.Mobil kembali me







