เข้าสู่ระบบBeberapa waktu kemudian.Sebuah pertemuan resmi mempertemukan Vimala dengan Burhan.Pertemuan tersebut diatur melalui penasihat hukum dan pihak berwenang sesuai prosedur yang berlaku.Bukan pertemuan rahasia.Tidak ada ancaman.Maupun upaya meminta pengakuan di luar pemeriksaan.Vimala hanya ingin mengatakan sesuatu kepada laki-laki yang selama bertahun-tahun dianggapnya sebagai bagian dari keluarga.Ruangan itu sederhana.Jauh berbeda dari ruang kerja Burhan dahulu di MG Group.Tidak ada meja besar dengan kursi direktur dan sekretaris yang menunggu di luar.Burhan duduk di hadapan Vimala.Untuk beberapa saat, keduanya tidak berbicara.Burhan memperhatikan perempuan muda itu.Vimala mengenakan blus putih dan celana panjang berwarna gelap.Wajahnya terlihat lebih sehat dibandingkan ketika terakhir kali mereka bertemu.Perutnya tampak membuncit.Namun yang paling berbeda adalah tatapannya.Tidak lagi
Jakarta.Kantor pusat MG Group.Davin berjalan cepat memasuki ruang kerja Zyandru."Zyan."Zyandru sedang membaca laporan terbaru mengenai proyek Integrated Transit & Commercial Development.Ia pun mengangkat pandangan."Apa?""Update dari om Arkana."Davin menutup pintu.Kemudian duduk di hadapan sahabatnya."Robi benar-benar buka semuanya."Zyandru meletakkan pena."Sudah diverifikasi?""Sebagian sudah. Sisanya masih diproses."Davin menyerahkan laporan perkembangan perkara yang telah disampaikan tim hukum."Aliran dana ke auditor mulai ketemu. Ada invoice konsultasi yang diduga fiktif, komunikasi dengan vendor, dan bukti keterlibatan Burhan yang sebelumnya enggak kita punya."Zyandru membaca beberapa halaman."Bagaimana dengan archive room?""Pesan Burhan sudah berhasil dicocokkan dengan perangkat asal. Dua staf juga memberikan keterangan tambahan."Zyandru mengembuskan napas."Ber
Dua hari kemudian.Robi menerima surat panggilan untuk memberikan keterangan terkait laporan dan bukti yang telah disampaikan MG Group kepada aparat penegak hukum.Ia membaca surat itu dengan tangan gemetar.Kemudian bergegas menuju ruang kerja ayahnya."Ayah!"Burhan sedang berbicara melalui telepon.Melihat Robi masuk, ia mengakhiri percakapan."Apa lagi?"Robi melemparkan surat itu ke meja."Ini!"Burhan mengambilnya.Membaca.Ekspresinya hampir tidak berubah."Lalu?"Robi menatapnya tidak percaya."Lalu?!"Ia menunjuk surat tersebut."Aku dipanggil!""Kalau dipanggil, ya datang.""Ayah serius?"Burhan meletakkan surat."Memangnya kamu mau lari?"Robi berjalan mondar-mandir."Mereka punya bukti archive room."Burhan mengernyit menatap putranya."Lalu?""Mereka juga menyelidiki pembayaran vendor.""Bagus."Robi berhenti."Bagus?"Bur
"Kamu… hamil?"Vimala mengangguk. "Iya.""Sejak kapan?""Masih trimester awal."Robi menggeleng."Kenapa Kakak enggak tahu?"“Memangnya kenapa Kak Robi harus tahu?"Pertanyaan itu membuat Robi terdiam.Seketika sesuatu yang panas menjalar ke dadanya.Vimala hamil.Perempuan yang selama ini ia yakini akan segera berpisah dari Zyandru kemudian menikah dengannya ternyata sedang mengandung anak laki-laki itu.Robi mengepalkan tangan di bawah meja.Ia teringat bagaimana Vimala pernah datang kepadanya dengan mata sembap.Bagaimana perempuan itu menangis karena suaminya selingkuh dengan Ratu.Bagaimana ia memintanya membantu mencari bukti.Bagaimana perceraian nyaris terjadi.Dan sekarang—Semuanya berbalik.Robi menarik napas kasar."Mala, justru ini bahaya."Vimala mengernyit."Bahaya?""Iya!"Robi mencondongkan tubuh nyaris melewati meja yang memisahkan mereka."Kamu enggak
Sejak mendengar Vimala telah kembali dari Swiss bersama Zyandru, sesuatu terus mengganggu pikirannya.Ia pernah begitu yakin bahwa pernikahan mereka hanya tinggal menunggu waktu untuk berakhir.Vimala sudah meminta cerai.Zyandru sudah kehilangan kepercayaannya.Ratu kembali menjadi sumber pertengkaran.Bahkan penyakit Vimala sempat membuat hubungan mereka semakin kacau.Semua berjalan sesuai rencana.Lalu tiba-tiba—Vimala pulang bersama suaminya.Bukan sebagai pasangan yang sedang menunggu perceraian.Melainkan sebagai suami istri yang kembali terlihat dekat.Robi tidak tahu apa yang terjadi di Swiss.Ia tidak tahu bahwa Ratu datang dan meminta maaf.Tidak tahu bahwa Vimala dan Zyandru sudah saling mengakui kesalahan.Tidak tahu bahwa perempuan yang selama ini dianggapnya mudah dipengaruhi telah memilih untuk mempertahankan pernikahannya.Yang ia tahu hanya satu.Seluruh usahanya hampir berhasil.Dan sekarang semuanya seolah sia-sia.Ponselnya bergetar.Robi segera
Jakarta.Pagi itu, sebuah mobil hitam memasuki halaman kediaman keluarga Natamanggala.Gerbang besi yang selama beberapa minggu terakhir lebih sering tertutup kini kembali terbuka lebar.Bi Tina sudah menunggu di depan pintu utama.Perempuan paruh baya itu berkali-kali merapikan ujung celemeknya, meskipun sejak tadi tidak ada bagian yang perlu dirapikan.Matanya terus mengarah ke gerbang.Sampai akhirnya mobil berhenti.Pintu belakang terbuka.Zyandru turun lebih dahulu.Laki-laki itu mengenakan kemeja kasual berwarna biru muda dengan celana panjang hitam. Wajahnya masih menyimpan kelelahan akibat perjalanan panjang dari Swiss.Namun pagi itu ada sesuatu yang berbeda.Ia tersenyum, senyum seorang laki-laki yang akhirnya berhasil membawa pulang perempuan yang dicintainya.Zyandru membungkuk sedikit ke dalam mobil."Pelan-pelan, Sayang."Sebuah tangan terulur.Vimala menyambutnya.Perempuan itu turun dengan hati-hati.Tubuhnya masih lebih kurus dibandingkan sebelum bera







