مشاركة

Fitnah

مؤلف: Erna Azura
last update تاريخ النشر: 2026-09-08 21:21:03

Mereka baru saja memasuki lobby utama MG Group ketika suasana yang tadinya santai seketika berubah.

Ada terlalu banyak orang berkumpul di dekat lift eksekutif.

Beberapa kepala divisi.

Tim Legal.

Corporate Secretary.

Bahkan dua orang dari Internal Audit.

Zyandru langsung menyadari ada sesuatu yang salah.

Davin juga.

Ekspresi santainya hilang seketika.

Vimala memperlambat langkah.

“Ada apa?”

Zyandru belum menjawab.

Corporate Secretary bergerak cepat menghampiri.

“Pak Zyandru.”

“Ya?”
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Takdir Tidak Pernah Keliru   Bukan Dirinya

    Mall itu termasuk salah satu pusat perbelanjaan paling eksklusif di Jakarta.Tidak terlalu ramai pada hari kerja.Koridor lebar.Marmer mengilap.Deretan butik merek dunia berada di kiri-kanan.Restoran fine dining memenuhi lantai atas.Begitu turun dari mobil, Zyandru langsung menggenggam tangan Vimala.“Pelan-pelan.”“Iya ih … aku bukan nenek-nenek, Zyaaan.”“Kalau nanti capek bilang ya.”“Iya.”“Kalau perut kamu sa—”“Zyan.”“Apa?”“Kita datang buat makan, bukan medical check-up.”Zyandru akhirnya menutup mulut membuat Vimala tertawa.Mereka baru berjalan beberapa meter ketika perempuan itu mendadak berhenti.Matanya mengarah ke sebuah butik.Langkah Zyandru ikut berhenti.“Kenapa?”Vimala menunjuk kaca display.“Lucu.”Zyandru mengikuti arah telunjuknya.Sebuah tas.Kecil.Entah apa yang lucu.Bentuknya biasa saja menurut Zyandru.“Masuk bentar y

  • Takdir Tidak Pernah Keliru   Batal Bertemu

    “Saya benar-benar kagum sama Bapak.”Kalimat itu baru keluar setelah mereka berada di ruang Direktur Utama.Davin mengikuti Zyandru ke mejanya. Vimala sendiri mengambil posisi favoritnya di sofa besar dekat dinding kaca.Kakinya dinaikkan.Selimut tipis menutupi bagian bawah tubuhnya.iPad berada di pangkuan.Drama Korea sudah berjalan.Secara teori ia sedang menonton.Praktiknya?Setiap dua menit matanya melihat Zyandru.Pria itu duduk di kursi besar mendiang Wisnutama.Kemeja putih.Dasi sudah sedikit dilonggarkan.Lengan jasnya dilepas.Tangan bergerak membuka laporan berikutnya seolah kejadian pagi tadi hanya gangguan kecil dalam jadwalnya.Aneh.Dulu Vimala pernah takut melihat orang lain duduk di sana.Kursi itu milik Papa.Ruang itu milik Papa.Bahkan aroma ruangannya dulu seperti Wisnutama.Sekarang—melihat Zyandru di sana justru tidak terasa seperti ada seseorang

  • Takdir Tidak Pernah Keliru   Fitnah

    Mereka baru saja memasuki lobby utama MG Group ketika suasana yang tadinya santai seketika berubah.Ada terlalu banyak orang berkumpul di dekat lift eksekutif.Beberapa kepala divisi.Tim Legal.Corporate Secretary.Bahkan dua orang dari Internal Audit.Zyandru langsung menyadari ada sesuatu yang salah.Davin juga.Ekspresi santainya hilang seketika.Vimala memperlambat langkah.“Ada apa?”Zyandru belum menjawab.Corporate Secretary bergerak cepat menghampiri.“Pak Zyandru.”“Ya?”“Kita ada masalah.”Nada itu cukup serius untuk membuat Zyandru berhenti.“Masalah apa?”Pria tersebut sempat melirik Vimala.Zyandru menangkapnya. “Bicara sekarang.”Corporate Secretary menyerahkan sebuah tablet.“Satu dokumen beredar sejak pagi.”Zyandru mengambilnya.Di layar terdapat memo berlogo MG Group.Judulnya—DIRECTIVE FOR STRATEGIC APPOINTMENT – COMMERCIAL ADVISORY PARTNERZyandru membaca bagian pertama.Kemudian kedua.Ekspresinya berubah.Vimala yang berdiri di sampin

  • Takdir Tidak Pernah Keliru   Mendampingi Zyandru ke Kantor

    Pagi ini Vimala tidak lagi pucat.Tubuhnya juga tidak selemas kemarin.Bahkan ketika Zyandru selesai mengenakan dasi di depan cermin, perempuan itu sudah duduk bersila di tengah ranjang sambil memegang semangkuk oatmeal yang tadi dibawakan bi Tina.Sebuah kemajuan besar.Setidaknya menurut Zyandru.Sebab biasanya butuh negosiasi panjang hanya untuk membuat perempuan itu menghabiskan sarapan yang menurutnya makanan orang tidak punya kebahagiaan hidup.Zyandru menatap pantulan istrinya melalui cermin.“Habiskan ya.”Vimala mengangkat wajah. “Iyaaa.”“Dari tadi cuma diaduk.”“Aku lagi menikmati.” “Itu oatmeal, Mala. Bukan lukisan.”Vimala mendelik.Kemudian memasukkan satu sendok ke mulut dengan ekspresi menderita.“Nih.”Zyandru tersenyum puas.Ia mengambil jas yang tergantung di dekat lemari.“Hari ini istirahat lagi. Jangan keluar.”Vimala tidak menjawab.Zyandru sudah hafal.Diamnya Vimala sering kali bukan berarti menurut.Justru biasanya karena sedang merancan

  • Takdir Tidak Pernah Keliru   Kenapa Harus Bertemu Kembali?

    Malam sudah cukup larut ketika Zyandru akhirnya tiba di rumah.Lampu-lampu di lantai bawah sebagian telah dimatikan. Hanya beberapa pencahayaan temaram yang dibiarkan menyala di sepanjang lorong, membuat rumah besar itu terasa jauh lebih sunyi daripada biasanya.Zyandru bahkan tidak berhenti lama di ruang tengah.Ia langsung naik ke lantai dua.Entah karena tubuhnya benar-benar lelah atau karena pikirannya terlalu penuh untuk sekadar duduk sendirian.Pintu kamar terbuka perlahan.Vimala sudah berada di atas ranjang.Perempuan itu bersandar santai pada headboard dengan beberapa bantal di belakang punggungnya. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai, sementara tubuhnya dibalut gaun tidur sederhana. Sebuah ponsel berada di tangannya.Wajah Vimala langsung terangkat ketika mendengar pintu terbuka.“Kamu baru pulang?”Zyandru tidak menjawab.Ia hanya meletakkan ponsel dan jam tangannya di atas nakas, membuka kancing manset kemejanya, ke

  • Takdir Tidak Pernah Keliru   Tempat Bersandar Ratu

    Ratu keluar dari kantor ketika hari menjelang malam.Langkahnya lebih lambat dibanding pagi tadi.Bahunya terasa berat.Bukan karena pekerjaan.Justru pekerjaan adalah satu-satunya bagian hari ini yang masih mampu membuatnya bernapas normal.Yang membuat hari terasa sangat panjang adalah segala sesuatu di luar pekerjaan.Pertemuan.Tatapan.Panggilan Neng.Cincin di jari Zyandru.Dan suara pria itu ketika bertanya mengenai kondisi istrinya.Begitu sampai di area lobby, Ratu langsung mengeluarkan ponsel.Tidak berpikir lama.Ia menghubungi satu orang.Bagas.Panggilan langsung diangkat.“Halo Ratu?”“Gas.”“Iyaaa?”“Jemput aku dong.”Bagas terdiam sepersekian detik.Nada Ratu cukup untuk membuatnya memahami sesuatu.“Kamu masih di kantor?”“Iya.”“Okay.”“Kamu bisa, kan?”“Bisa donk.”“Makasi.”“Twenty minutes.”Ratu memutus sambungan telepo

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status