LOGINPintu ruang Direktur Utama diketuk tidak lama setelah Davin mengirim undangan executive site alignment untuk keesokan pagi.
Zyandru yang masih berdiri membelakangi meja menoleh.“Masuk.”Pintu terbuka.Seorang pria berkemeja putih dengan map hitam di tangan melangkah masuk.Davin yang semula hendak meninggalkan ruangan langsung berhenti.“Pak Zyandru.”Zyandru mengenal wajah itu.Salah satu senior auditor yang sejak kemarin tergabung dalam tim investigaBegitu pintu tertutup, langkah Ratu semakin cepat.Ia melewati lorong temporary office.Satu tikungan.Dua.Sampai yakin Zyandru tidak mungkin melihatnya.Barulah langkahnya berhenti.Ratu menempelkan punggung ke dinding.Tangannya menutup mulut.Tangisnya pecah.Tanpa suara.Bahu bergetar.Dadanya sakit.Ternyata mengatakan selamat tinggal kepada seseorang yang masih dicintai jauh lebih menyakitkan daripada ditinggalkan.Karena kali ini—Ratu sendiri yang memilih berjalan pergi.Ponselnya bergetar di dalam tas.Ia mengeluarkannya.Satu pesan.Bagas : Sudah selesai meetingnya? Jangan lupa makan. Kalau hari ini berat, telepon aku.Ratu menatap pesan itu lama.Sangat lama.Kemudian tanpa sadar—tangisnya semakin deras.Bukan karena ia tiba-tiba mencintai Bagas.Belum.Tetapi karena Ratu batu menyadari sesuatu.Selama bertahun-tahun dirinya selalu berjalan menuju satu o
Aa.Satu panggilan itu akhirnya kembali.Bukan karena Ratu lupa pada batas yang dibuatnya.Melainkan karena rasa sakit terkadang merobohkan dinding yang susah payah dibangun.Zyandru menutup mata. Air mata pertama jatuh.Ratu terus bicara. “Aku pikir kalau aku punya gelar S2 dari New York… kalau aku punya karier… kalau aku bisa berdiri sendiri…” Suaranya tercekat. “…keluarga kamu enggak akan melihat aku cuma sebagai adiknya a Satria.”Zyandru menggeleng pelan. “Neng…”“Aku mau pantas buat kamu.”“Kamu enggak perlu seperti itu—”“Tapi aku merasa perlu!”Suara Ratu akhirnya naik. Tangisnya pecah.“Aku capek merasa enggak cukup!”Zyandru tampak terpukul. Ternyata dugaan Kaluna benar.“Aku capek takut suatu hari orang tua kamu memperlakukan aku seperti dulu mereka memperlakukan kakak aku.”Ratu menekan dadanya sendiri.“Makanya setiap kamu tanya aku sayang atau enggak sama kamu, aku selalu bilang aku enggak
“Waktu Wisnutama meninggal,” Zyandru memulai, “Mala datang ke kantor aku sama pengacaranya, pak Yudha.”Ratu menatap Zyandru tidak berkedip.“Dia bawa wasiat.”“Wasiat?” Kening Ratu mengernyit dalam.“Iya.”Zyandru menarik napas. “Wisnutama mensyaratkan dia harus menikah dengan salah satu laki-laki Gunadhya kalau mau menerima seluruh warisannya.”Ratu semakin bingung, jelas dia tidak menduga.“Jika tidak, harta papanya akan dilepas sesuai ketentuan wasiat. Saham, aset, kepemilikan properti.”Ratu masih menatap Zyandru tapi sorot matanya tidak setajam tadi.“Dan kamu setuju menikah begitu saja sama dia?” Ada nada meledek dalam pertanyaan Ratu itu.“Iya.”“Kenapa?”Pertanyaan itu langsung. Zyandru tidak bersembunyi.“Awalnya salah satunya karena bisnis.”Ratu tertawa kecil. Dia seakan tidak percaya.“Ketika itu, AG Group dan MG Group sedang bersaing memenangkan tender Swiss, tuan Robert.” Zyandru menjelaskan.
Executive Site Alignment dimulai pukul sembilan tepat.Davin benar-benar melakukan pekerjaannya.Bahkan terlalu baik.Alih-alih membuat rapat kosong yang hanya dijadikan alasan agar Zyandru bertemu Ratu, Davin menemukan persoalan nyata yang memang layak dinaikkan ke level Project Director.Temporary access and utility relocation interface.Satu jalur akses eksisting berpotensi dipakai bersamaan untuk mobilisasi konstruksi tahap awal dan pekerjaan relokasi utilitas. Kalau sequencing-nya salah, critical path bisa bergeser.Bukan masalah yang dibuat-buat.Bukan drama.Dan cukup penting untuk menghadirkan Project Lead.Itulah sebabnya Ratu tidak bisa menolak.Pukul sembilan kurang lima menit, perempuan itu masuk ke temporary project office bersama Engineering Lead, Planning Manager, dan Commercial Lead dari perusahaannya.Zyandru sudah ada di sana.Tatapan mereka bertemu.Ratu hanya mengangguk.“Pagi, Pak Zyandru.”Pak bukan Aa.Zyandru menahan sesuatu di dada. “Pagi, Bu R
Pagi itu seharusnya menjadi pagi yang biasa saja.Setidaknya itu yang diharapkan Zyandru.Bangun, mandi, sarapan, mengecup istrinya lalu pergi ke kantor.Menjalani sederet rapat sampai sore kemudian pulang.Sesederhana itu.Namun sejak membuka mata, ada sesuatu yang terasa berat di dalam dadanya.Mungkin karena ia tahu hari ini dirinya akan bertemu Ratu.Bukan sekadar berada dalam satu ruangan seperti ketika kick-off.Bukan sekadar bertukar pandangan dari seberang meja rapat.Hari ini, kalau kesempatan itu benar-benar datang, Zyandru berniat mengatakan semuanya.Tidak ada lagi kebohongan di Swiss.Tidak ada lagi alasan yang dipotong setengah.Tidak ada lagi pernikahan yang disembunyikan.Tidak ada lagi cerita yang sengaja dibuat berbeda karena ia terlalu pengecut menghadapi kemungkinan kehilangan.Dan justru karena itulah—perempuan yang sedang berdiri di depannya pagi ini membuat semuanya terasa semakin rumit.Zyandru tersenyum kepadanya sambil membetulkan jam tangan.
“Kalau begitu,” katanya pelan, “skenario audit menurut kamu gimana?”Adi menarik napas.“Kemungkinan paling aman untuk disimpulkan saat ini adalah ada pihak yang menggunakan dokumen lama, mengambil scan tanda tangan Bapak, kemudian memasukkan file tersebut melalui jalur Business Development.”“Siapa?”“Itu yang belum bisa kami pastikan.”“Orang internal?”“Sangat mungkin.”“Robi?” “Belum bisa kami buktikan.”Zyandru menatap Adi cukup lama.Adi mempertahankan ekspresinya.Davin memperhatikan keduanya.Ada sesuatu yang terasa terlalu rapi.Bukan hasilnya.Cara Adi membawakannya.Audit biasanya penuh pengecualian, cabang kemungkinan, pertanyaan yang belum terjawab.Namun Adi terdengar seperti seseorang yang sudah tahu persis ke mana kesimpulan itu harus dibawa.Tidak membebaskan Robi sepenuhnya.Tidak pula menjerat.Persis di tengah.Cukup abu-abu untuk membuat kasus mati perlahan.







