MasukRestoran resort mulai lengang ketika mereka menyelesaikan makan malam.Sesuai janjinya, Zyandru tidak membiarkan Vimala makan sembarangan.Semangkuk Bircher Muesli menjadi menu pembuka. Campuran oat yang telah direndam semalaman, yoghurt segar, apel parut, irisan stroberi, blueberry, kacang almond, dan sedikit madu tersaji cantik dalam mangkuk keramik putih.Awalnya Vimala memandangnya dengan wajah skeptis.“Ini makanan orang sakit?”“Bukan.”“Terus?”“Makanan orang yang pengin panjang umur.”Vimala mendengkus.“Ternyata rasanya enak juga.”“Makanya.”“Hm… masih enakan nasi padang.”Zyandru terkekeh. “Ya enggak usah dibandingin.”Setelah itu, mereka menikmati ikan trout panggang khas danau Alpen dengan kentang rebus dan sayuran kukus.Tidak terlalu berbumbu.Tidak pedas.Namun justru terasa hangat di perut.Dan sebagai penutup, Zyandru benar-benar memenuhi janjinya.Empat buah Luxemburgerli mun
Pelukan itu bertahan cukup lama.Tidak ada lagi desah yang memenuhi udara chalet.Yang terdengar hanyalah bunyi kayu dari perapian yang sesekali berderak pelan, berpadu dengan desir angin pegunungan yang menyentuh dinding kaca di hadapan mereka.Di balik selimut tebal itu, tubuh keduanya masih saling menempel.Vimala memejamkan mata. Napasnya kini jauh lebih teratur dibanding beberapa menit yang lalu. Pipinya masih menyisakan rona merah, sementara rambut panjangnya berantakan menutupi sebagian bahu.Zyandru tidak berkata apa-apa.Tangannya hanya mengusap pelan punggung istrinya dengan ritme yang menenangkan.Entah berapa lama mereka larut dalam keheningan itu.Sampai…“Grrruuukkk….”Suara yang cukup nyaring memecah suasana.Zyandru berkedip.Vimala ikut membuka mata.Dua detik mereka saling berpandangan.Lalu…“Grrruuukkk….”Kali ini lebih panjang.Zyandru menunduk perlahan ke arah perut Vimala.Sementara perempuan itu langsung menutup wajah menggunakan kedua telapak
Zyandru melumat bibir Vimala lebih dalam, kepalanya miring kemudian maju mundur ketika mengulum dan melepaskan.Bibir telah menjadi candu baginya, entah sejak kapan.Zyandru jadi ingin terus menikmatinya.Sama halnya dengan Vimala, ketika bibir bawahnya dikulum Zyandru maka dia akan mengulum bibir atas pria itu, begitu juga sebaliknya.Sementara kedua tangannya melingkar di leher pria itu.Kedua tangan Zyandru sendiri memegang lekukan pinggang Vimala, perlahan masuk ke dalam bajunya langsung menyentuh kulit Vimala yang hangat dan lembut.Seketika sesuatu milik Zyandru di bawah sana menegang, Vimala merasakannya, begitu keras.Naluri Vimala menggerakan bokongnya lebih menekan, seakan miliknya juga menginginkan Zyandru.Zyandru nyaris tersenyum di antara pagutan, dia yakin kalau Vimala ketagihan.Sedangkan dia sendiri yang awalnya merasa menyesal seakan telah mengkhianati Ratu juga malah terus ingin menyentuh Vimala, ingin mencium bibir Vimala, ingin melumat bagian lembut di da
Setelah staf meninggalkan chalet, Zyandru membawa Vimala naik ke lantai dua.Kamar utama berada di ujung lorong.Pintunya terbuka langsung menuju ruangan luas dengan ranjang besar menghadap dinding kaca.Dari tempat tidur, mereka dapat melihat danau dan gunung tanpa perlu bangun.Di sebelahnya terdapat kamar mandi marmer dengan bathtub yang menghadap pemandangan serupa.Sementara pintu lain mengarah ke balkon pribadi.Vimala langsung berjalan keluar.Udara dingin menerpa wajahnya.Namun matahari yang masih tersisa membuat suhu terasa cukup nyaman.Di balkon terdapat sofa panjang dengan selimut bulu, meja kecil, dan perapian gas.Vimala duduk.Kemudian menyandarkan tubuhnya.“Kayaknya aku enggak mau pulang.”Zyandru yang berdiri di ambang pintu tertawa kecil.“Baru juga datang.”“Tempatnya enak.”“Ya udah, enggak usah pulang.”Vimala menoleh.“Serius?”“Kita pindah ke sini aja.”“Terus
Perjalanan berakhir ketika mobil berbelok memasuki jalan pribadi yang diapit pohon-pohon pinus.Di ujung jalan berdiri sebuah gerbang batu dengan nama resort terukir di atasnya.Begitu gerbang terbuka, mata Vimala kembali membulat.Resort itu tidak menyerupai hotel.Bangunan utamanya berbentuk chalet besar dengan dominasi kayu gelap dan batu alam.Atapnya lebar.Jendela-jendelanya tinggi.Lampu-lampu berwarna hangat menyala di sepanjang teras.Di belakang bangunan tampak pegunungan menjulang, sementara di sisi lain terbentang danau yang airnya berkilau diterpa cahaya sore.Beberapa staf telah berdiri menunggu di depan pintu.Begitu mobil berhenti, mereka segera mendekat.“Welcome, Mr. and Mrs. Gunadhya.”Seorang manajer resort menyambut mereka dalam bahasa Inggris.Zyandru mengangguk sopan.“Thank you.”Vimala turun perlahan.Udara dingin langsung menyentuh wajahnya.Namun kali ini ia tidak mengeluh
Mobil mewah yang membawa mereka meninggalkan rumah sakit melaju tenang membelah jalanan Zurich.Vimala masih tertidur.Kepalanya bersandar di bahu Zyandru, sementara jemarinya tetap menggenggam tangan pria itu seolah takut kehilangan pegangan meski sedang berada di alam bawah sadar.Sejak keluar dari rumah sakit, Zyandru nyaris tidak bergerak.Ia khawatir pergerakan kecilnya akan membangunkan Vimala.Sesekali tatapannya turun ke wajah pucat sang istri.Kemudian berpindah ke selang bekas infus yang meninggalkan titik kemerahan pada punggung tangannya.Ada rasa nyeri yang aneh setiap kali melihatnya.Bukan nyeri fisik.Namun sesuatu yang menekan jauh di dalam dada.Sopir yang berada di depan sempat melirik mereka melalui kaca spion.“Tuan, apakah kita langsung kembali ke hotel?”Zyandru tidak langsung menjawab.Pandangan pria itu tetap tertuju pada Vimala.“Enggak.”Sopir itu mengangguk pelan, menunggu arahan b







