LOGINBerbeda jauh dengan suasana di belahan bumi yang lain—tidak ada tepuk tangan.
Tidak ada cincin.Tidak ada perayaan.Hanya suara mesin monitor yang berdetak konstan di kamar rumah sakit.Vimala terbangun menjelang subuh.Untuk beberapa detik ia tidak tahu apa yang membuatnya terjaga.Kamar remang.Lampu di sisi tempat tidur dibiarkan menyala paling redup.Zyandru tertidur di sofa.Laptop masih terbuka di atas meja.Kacamata yang beberapa hari tJakarta.Kediaman Davin.Pukul sepuluh lewat lima belas menit.Davin sedang duduk santai di meja makan ketika ponselnya berdering.Ia baru saja menyuapkan telur rebus ke mulut.Namun ketika melihat nama yang muncul di layar, wajahnya seketika berubah.Zyandru Gunadhya.Davin mengembuskan napas."Ya Tuhan…"Ia meletakkan sendok.Kemudian menerima panggilan."Apaan, Zyan? Minggu pagi ini, Bro.""Gue butuh bantuan lo."Davin memejamkan mata."Kalimat itu lagi."Zyandru tertawa di seberang sana."Kenapa?""Setiap lo bilang butuh bantuan, hidup gue langsung berubah jadi lembur.""Lebay.""Enggak ya gue cuma trauma."Zyandru terkekeh."Davin, gue mau lo siapin satu ruangan khusus buat Mala di kawasan kantor proyek."Davin mengernyit."Ruangan khusus?""Iya.""Buat apa?""Mulai Senin Mala mau nemenin gue kerja."Davin terdiam.Kemudian tersenyum kecil.
“Sayang ….” Zyandru mengecup pipi Vimala.“Aku lemes Zyan….” Vimala merengek membuat Zyandru terkekeh.Posisi mereka masih sama bahkan milik Zyandru masih berada di dalam Vimala.“Mau tidur sebentar atau mau mandi?” Zyandru menawarkan.“Mandi tapi gendong.” Zyandru akhirnya bergerak turun dari ranjang, memakai boxer kemudian menggendong Vimala ke kamar mandi.“Zyan … pelan-pelan …,” gelak tawa Vimala terdengar.Sekarang Vimala tampak sehat karena bahagia, suara tawanya pun cukup kencang.Dengan sabar Zyandru memandikan Vimala, menyambung, menggosok punggung dan membantunya keramas.Kamar mandi suite itu kini dipenuhi aroma sabun yang lembut.Setelah selesai, Zyandru membalutkan bathrobe ke tubuh Vimala.“Kamu tunggu sebentar ya ….” Vimala mengangguk saja lalu keluar.Setelah pintu tertutup, Zyandru bergegas membersihkan tubuhnya. ***Di luar sana, Vimala duduk di depan meja rias mengenakan telah mengenakan
Menjelang pukul sembilan.Sebuah troli room service masuk ke bridal suite.Aroma kopi, roti panggang, serta hidangan sarapan hangat memenuhi ruangan.Ratu mengambil duduk di dekat jendela dengan rambut yang masih sedikit lembap.Ia telah mengenakan dress selutut tanpa lengan berwarna putih.Sementara Bagas datang membawa dua gelas minuman."Untuk istri aku."Ratu menerima salah satunya."Makasih, suami aku."Bagas tertawa."Senang banget manggil suami?""Banget… banget… banget.""Kalau begitu ulangi."Ratu mendelik."Suami aku.""Lagi.""Bagas!"Laki-laki itu tertawa.Kemudian duduk di hadapannya.Di atas meja tersaji telur, roti, buah-buahan, bubur ayam, dan beberapa hidangan kecil.Ratu memperhatikan semuanya."Kita cuma berdua, Gas.""Iya.""Kenapa makanannya kayak buat satu RT?"Bagas terkekeh."Karena aku enggak tahu kamu mau makan apa.""Kan bisa tanya.""Tadi kamu lagi mandi."Ratu menggeleng."Dasar."Namun ia segera mengambil sedikit bubur ayam.
Bandung.Hotel Indigo Dago Pakar.Pukul tujuh pagi.Cahaya matahari menerobos celah tirai yang semalam lupa ditutup dengan sempurna.Udara dingin khas kawasan Dago Pakar masih menyelimuti ruangan, berpadu dengan kehangatan selimut tebal yang menutupi sepasang pengantin baru.Ratu menggeliat pelan.Namun baru saja mencoba mengubah posisi, sebuah rasa pegal menjalar dari pinggang hingga kedua pahanya."Aduh…"Perempuan itu mengerutkan wajah.Matanya terbuka perlahan.Hal pertama yang dilihatnya adalah dada bidang seorang laki-laki.Laki-laki yang salah satu lengannya masih melingkari pinggangnya, sementara wajah tampannya terlihat begitu damai dalam tidur.Siapa lagi kalau bukan Bagas.Suaminya.Ratu terdiam.Kemudian perlahan mengangkat selimut.Dan seketika matanya membulat.Ya Tuhan!Ia langsung menarik selimut sampai ke leher.Gerakan mendadak itu membuat Bagas terusik."Hm…"Laki-laki itu mengeratkan pelukannya."Jangan gerak dulu, Sayang."Ratu membeku."Ga
Dia tatap wajah istrinya, wanita yang begitu dicintainya.“I love you,” bisik Bagas sebelum akhirnya mulai menggerakan bokong maju mundur, menghentak Ratu yang pasrah menerima kenikmatan di bawahnya.Malam itu, ketika suara desah menggema memenuhi seantero suite dan peluh menjadi saksi betapa Bagas menginginkan Ratu juga sebaliknya—mereka menikmati keintiman pertama sebagai suami istri dengan kelembutan, kesabaran, dan cinta yang selama ini mereka bangun bersama.Tidak ada yang perlu dikejar.Tidak ada yang perlu dibuktikan.Malam itu adalah milik mereka berdua.Ketika mereka sudah sampai pada puncak kenikmatan dunia, desahan Ratu berubah menjadi jeritan panjang.Dan geraman seksi suara berat Bagas membuat tubuh Ratu merinding dua kali lipat.Seakan Bagas tidak ingin sedetikpun kehilangan kenikmatannya, dia terus menghentak hingga tetes terakhir benih cintanya.Bagas menarik salah satu bathrobe yang bisa dia gapai kemudian menutupinya ke tubuh mereka berdua.Ratu berbaring d
Bagas pergi ke kamar mandi lebih dulu, memastikan suhu air terasa nyaman.Ratu masih terlihat malu-malu.Beberapa kali ia merapikan kain yang membalut tubuhnya.Bagas memperhatikannya tanpa komentar yang membuatnya semakin canggung."Airnya nyaman?" tanyanya.Ratu mencelupkan ujung jari."Hangat.""Kalau terlalu panas bilang ya.""Iya."Bagas mengulurkan tangan.Ratu menyambutnya.Perlahan ia masuk ke dalam jacuzzi setelah membuka bathrobe.Air hangat menyentuh kulitnya.Ratu mengembuskan napas panjang."Ah… enak banget."Bagas tersenyum."Kan."Ratu menyandarkan punggung.Bahu dan lehernya yang sejak pagi terasa tegang perlahan mulai lebih rileks.Beberapa saat kemudian Bagas ikut masuk dan duduk di dekatnya.Tubuh Ratu seketika menegang.Bagas mengangkat alis."Loh… kenapa?""Enggak apa-apa." Ratu tampak pucat."Yakiiiin?" Nada suara menggoda itu lagi.Ratu mengangguk kaku, kepalanya menunduk.Dan kini wajahnya semakin merah ketika laki-laki itu duduk cukup







