LOGINSepuluh menit kemudian, tidak ada satu pun orang di MG Group yang mampu menebak kalau Direktur Utama mereka baru saja hampir kehilangan seluruh konsentrasinya karena satu panggilan telepon.
Zyandru memasuki ruang rapat dengan aura sempurna.Ekspresi tenang.Langkah terukur.Davin berjalan di belakang.Begitu pintu tertutup, beberapa jajaran direksi langsung berdiri.“Pagi, Pak.”“Pagi.”Zyandru duduk di ujung meja. “Silahkan mulai.”Layar besar menSalah seorang direktur yang selama ini cukup dekat dengan Burhan segera menyambung.“Saya setuju.”Tatapan Zyandru berpindah kepadanya.“Pak Zyandru tetap bisa berada di steering committee. Tidak perlu menjadi Project Director langsung.”Direktur lain ikut berkata, “Secara governance juga lebih lazim seperti itu.”Burhan mengangguk. “Exactly. Direktur Utama cukup berada pada level keputusan strategis.”Zyandru belum menjawab.Ia hanya memainkan ujung pulpen beberapa kali.Kemudian bertanya tenang—“Kalau terjadi perubahan desain yang berdampak pada investasi dua ratus miliar dan keputusan harus diberikan hari itu juga, siapa yang tanda tangan?”Burhan menjawab, “Naik ke Direktur Utama.”“Berarti tetap ke saya.”“Iya, tapi—”“Kalau partner meminta keputusan saat rapat berlangsung?”“Bisa kita minta waktu.”“Berapa lama?”Burhan terdiam. “Satu hari?”Tidak ada jawaban.“Dua hari?”Ruangan mulai be
Sepuluh menit kemudian, tidak ada satu pun orang di MG Group yang mampu menebak kalau Direktur Utama mereka baru saja hampir kehilangan seluruh konsentrasinya karena satu panggilan telepon.Zyandru memasuki ruang rapat dengan aura sempurna.Ekspresi tenang.Langkah terukur.Davin berjalan di belakang.Begitu pintu tertutup, beberapa jajaran direksi langsung berdiri.“Pagi, Pak.”“Pagi.”Zyandru duduk di ujung meja. “Silahkan mulai.”Layar besar menyala.Judul proyek muncul.INTEGRATED TRANSIT & COMMERCIAL DEVELOPMENTZyandru langsung mengangkat pandangan.Ia ingat proyek tersebut.Kontrak awalnya bahkan sudah disiapkan jauh sebelum dirinya resmi mengambil alih MG Group.Proyek skala besar.Nilainya triliunan.Menggabungkan kawasan transit, commercial district, pedestrian integration, office tower, retail, serta beberapa fasilitas publik dalam satu kawasan terpadu.Direktur Pengembangan Bisnis m
Sekitar satu setengah jam kemudian, Zyandru sudah berada di ruang Direktur Utama MG Group.Pintu tertutup.Jasnya telah dilepas dan digantungkan di tiang gantungan di sudut ruangan.Dua layar monitor menyala.Beberapa laporan divisi menunggu diperiksa.Dan untuk beberapa saat, segala hal berjalan seperti biasa.Sampai ponsel pribadinya bergetar.Nama yang muncul membuat tangan Zyandru berhenti.Kak Luna.Alisnya sedikit berkerut.Kaluna jarang menelepon di jam kerja kecuali ada sesuatu yang cukup penting.Zyandru menerima panggilan.“Halo, Kak.”“Zyan.”Nada suara kakaknya langsung membuat sesuatu di dadanya bergerak.“Kenapa?”Kaluna diam beberapa detik.“Lagi sibuk?”“Enggak. Kenapa?”“Gue mau ngomong sesuatu.”Zyandru menyandarkan tubuh.“Ngomong aja.”Hening kembali.Kemudian Kaluna mengatakan satu nama.“Ratu sudah pulang.”Napas Zyandru otomatis tertahan
Zyandru baru bergerak dua langkah ketika Vimala kembali memanggil.“Zyan.”Pria itu berhenti.Davin menunduk menahan senyum.Lagi.“Apa lagi, Sayang?” Panggilan itu membuat mata Davin hampir membesar.Sayang.Gila.Zyandru sudah benar-benar rusak.Vimala justru tampak biasa saja.“Nanti aku mau makan siang sama Anindya, Keisha, Marvelle.”“Ya.”“Terus mungkin shopping sedikit.”“Boleh.”Vimala diam.Zyandru menunggu.“Terus?”“Ya….”Vimala menggerakkan jarinya seperti memberi kode.Zyandru mengerutkan dahi.“Apa?”“Uang sayang… uang.”Davin langsung menundukkan kepala.Bibirnya sudah benar-benar nyaris bergerak.Zyandru menatap istrinya tidak percaya.“Kartu aku kan masih di kamu.”“Iya.”“Terus kenapa minta uang? Pakai aja itu.”“Ya bedaaa.” Vimala menghentakan kakinya Karina merasa Zyandru tidak peka, dia gemas sendiri.“Bedanya apa?”“Kalau dikasih suami rasanya lebih bahagia.”Davin menutup mulut menggunakan kepalan tangan seolah sedang batuk.“Ehem
Pagi ini di kediaman Wisnutama seharusnya berjalan normal, sampai Zyandru mencoba berangkat kerja.Pria itu tengah berdiri di depan cermin ruang televisi dengan setelan kerja lengkap. Jas abu gelap membungkus tubuh tinggi atletisnya, kemeja putih tanpa cela, dasi terpasang rapi, sementara jam tangan sudah melingkar sempurna di pergelangan tangan kiri.Satu tangan memegang ponsel.Tangan lainnya baru saja hendak meraih tas kerja ketika sesuatu melingkar di pinggangnya dari belakang.Zyandru berhenti.Menunduk sedikit.Dua tangan dengan kulit putih dan mulus muncul di perutnya.Lalu kepala Vimala menyembul dari sisi lengannya.“Jangan pergi dulu.”Zyandru langsung tersenyum.“Kenapa?”Vimala mengeratkan pelukan. “Belum selesai.”“Apa yang belum selesai?”“Belum puas lihat kamu.”Zyandru terkekeh.Ia berbalik di dalam pelukan sampai kini mereka berhadapan.Vimala masih mengenakan piyama satin warna champagne dengan cardigan tipis yang bahkan belum dikancingkan sempurna me
Pukul enam sore.Sebagian besar lampu di area kerja mulai dimatikan.Satu demi satu karyawan berpamitan.“Duluan, Bu.”“Hati-hati.”“Besok ketemu lagi ya, Bu.”“See you.”Namun Ratu justru kembali memasuki ruang rapat.Hari pertamanya belum selesai.Di dalam sudah ada Ryan, Direktur Engineering, Finance representative, Legal, Procurement, serta beberapa senior manager.Proyek MG Group dibahas lebih mendalam.Ratu mendapat akses seluruh dokumen.Kontrak.Scope of work.Timeline.Struktur komunikasi.Pembagian tanggung jawab.Risk register awal.Milestone.Sampai daftar orang dari MG Group yang terlibat.Namun daftar lengkap steering committee pihak partner belum tersedia.“MG sedang restrukturisasi,” jelas salah seorang eksekutif.Ratu mengangguk.“Minggu depan final?”“Seharusnya.”“Siapa counterpart saya?”“Project Director mereka belum dikonfirmasi.”







