Compartilhar

Pertemuan Pertama

Autor: Erna Azura
last update Data de publicação: 2026-07-12 10:53:00

Mobil yang ditumpangi Yudha dan Vimala akhirnya memasuki kawasan AG Group.

Begitu melewati gerbang utama, Vimala tanpa sadar menoleh ke luar jendela.

Kompleks perkantoran itu jauh lebih luas daripada yang ia bayangkan.

Deretan gedung kaca menjulang tinggi dengan lanskap yang tertata rapi.

Air mancur di tengah halaman memantulkan cahaya matahari pagi, sementara puluhan karyawan berlalu-lalang dengan langkah tergesa.

“Segede ini?” gumam Vimala pelan.

Yudha tersenyu
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Takdir Tidak Pernah Keliru   Satu Lagi Yang Memuja Zyandru

    Keesokan paginya, kediaman keluarga Natamanggala kembali diselimuti keheningan.Namun kali ini, bukan kesedihan yang paling mengganggu Vimala.Melainkan kebingungan.Sejak membuka mata, pikirannya dipenuhi wajah yang sama.Zyandru Gunadhya.Ia memeluk bantal sambil menatap langit-langit kamar.“Aku harus ketemu Gunadhya yang lain?”Pertanyaan itu terdengar begitu melelahkan.Ia mengembuskan napas panjang.Percuma.Kalau yang pertama saja hasilnya seperti itu, apa bedanya dengan yang lain?Mereka semua pasti berpikir sama.Menganggap dirinya perempuan aneh yang datang melamar laki-laki karena dipaksa surat wasiat.Malu.Sangat memalukan.Belum lagi jika setiap pertemuan berakhir dengan penolakan yang sama.Semakin dipikirkan, semakin sesak dadanya.“Mungkin… semua Gunadhya memang sama saja.”Mereka pasti sama-sama dingin.Sama-sama rasional.Sama-sama tidak membutuhkan dirinya.Vimala menutup wajah menggunakan kedua telapak tangannya.“Aku capek Paaa….”Siang har

  • Takdir Tidak Pernah Keliru   Dukungan Ayah Bunda

    “Bel, saya pulang ya.” Zyandru pamit sambil menutup pintu di belakangnya.“Oh tumben Pak ….” Bella berdiri dari kursinya sebagai sikap hormat.Zyandru mendekat sembari terkekeh, “Mau cepet-cepet pulang katanya bunda masak.”“Saya enggak percaya, Pak.” Bella menggelengkan kepala.“Saya juga, makanya saya pulang buat ngecek.”Bella pun tertawa seiring langkah Zyandru menjauh.Bosnya itu semestinya sudah menikah di usianya yang sudah matang ini tapi entah kenapa belum ada juga menaklukan hatinya.Sementara itu, satu setengah jam kemudian Zyandru sudah sampai di mansion Gunadhya,Dia mematikan mesin mobil, lalu mengembuskan napas panjang.Hari ini benar-benar di luar dugaan.Seumur hidupnya ia tak pernah membayangkan akan didatangi putri dari rival terbesar keluarganya hanya untuk ditawari menikah.Pria itu menggeleng pelan sambil terkekeh sendiri.“Hidup memang aneh.” Zyandru bergumam.Begitu memasuki rumah, aroma teh melati langsung menyambutnya.Di ruang keluarga, Kama Gu

  • Takdir Tidak Pernah Keliru   Pertemuan Yang Melelahkan

    Jam makan siang telah lewat ketika mobil yang ditumpangi Yudha dan Vimala meninggalkan kawasan AG Group.Tak banyak percakapan terjadi sepanjang perjalanan.Yudha sengaja membiarkan Vimala tenggelam dalam pikirannya sendiri.Sementara Vimala terus memandangi gedung AG Group yang semakin lama semakin menjauh melalui kaca samping mobil.Pertemuan yang berlangsung tak sampai satu jam itu entah mengapa terasa begitu melelahkan.Ia mengembuskan napas panjang.“Om.”“Iya?” Yudha menoleh.“Aku laper.”Yudha tertawa kecil. “Tumben, kata bu Tina kemarin kamu malah enggak mau makan.” “Capek, kayanya tenaga aku terkuras gara-gara ketemu Zyandru.”Yudha terkekeh. “Atau gara-gara terlalu banyak ngomel?”“Bukan ih….” Vimala langsung membela diri. “Gara-gara cappuccino yang aku pesan enggak pernah datang.”Yudha kembali tertawa lebih keras. “Kasihan Bella.”“Apa sih Om, malah kasian sama dia.” Vimala mendelik sebal.“Mala

  • Takdir Tidak Pernah Keliru   Pertemuan Pertama

    Mobil yang ditumpangi Yudha dan Vimala akhirnya memasuki kawasan AG Group.Begitu melewati gerbang utama, Vimala tanpa sadar menoleh ke luar jendela.Kompleks perkantoran itu jauh lebih luas daripada yang ia bayangkan.Deretan gedung kaca menjulang tinggi dengan lanskap yang tertata rapi.Air mancur di tengah halaman memantulkan cahaya matahari pagi, sementara puluhan karyawan berlalu-lalang dengan langkah tergesa.“Segede ini?” gumam Vimala pelan.Yudha tersenyum tipis. “Ini baru anak perusahaan. Kamu akan kesal kalau liat sendiri kantor pusatnya.”Vimala mendecak lirih. “Pantesan Papa selalu ngomel kalau kalah tender sama mereka.”Mobil berhenti tepat di depan lobi utama.Begitu Yudha turun lebih dulu, dua orang petugas keamanan segera menghampiri.“Selamat pagi, Pak.”“Pagi.”“Ada yang bisa kami bantu?”Yudha menganggukkan kepala ke arah Vimala yang baru saja turun dari mobil.“Kami ingin bertemu pak Zyandru.”

  • Takdir Tidak Pernah Keliru   Biodata Lengkap Zyandru

    Mentari pagi menyelinap lembut melalui jendela besar ruang makan kediaman keluarga Natamanggala.Di atas meja panjang yang biasanya hanya ditempati Wisnutama dan Vimala, kini hanya tersisa seorang gadis bergaun putih dengan cardigan hitam tipis yang duduk sambil mengaduk bubur ayam di mangkuknya tanpa selera.Sejak kepergian sang ayah, ruang makan itu terasa terlalu luas.Terlalu sepi.Tak ada lagi suara koran yang dibalik.Tak ada lagi aroma kopi hitam yang selalu diseduh setiap pukul tujuh pagi.Tak ada lagi suara berat yang setiap hari bertanya, “Hari ini mau ke mana, Mala?”Yang tersisa hanyalah keheningan.“Non….”Tina datang membawa segelas susu hangat, lalu meletakkannya perlahan di samping piring Vimala.“Bibi sudah bilang berkali-kali…Kalau sarapan itu jangan cuma dua sendok.”Vimala mengangkat wajah sekilas.“Bibi… aku enggak nafsu makan.”“Tetap harus dimakan.” Tina duduk di kursi yang biasanya ditempati Wisnutama.Tatapannya penuh kasih.“Mau enggak mau Non

  • Takdir Tidak Pernah Keliru   Malam Terpanjang Dalam Hidup Vimala

    Keesokan paginya, Vimala gelisah sejak bangun tidur.Atau lebih tepatnya sejak semalam karena dia tidak bisa benar-benar tertidur lelap memikirikan wasiat tersebut.Biasa Vimala akan melakukan Pilates, berenang atau shopping untuk membuat pikirannya sedikit lebih tenang.Kini justru Vimala tidak memiliki keinginan tersebut.Karena entah kenapa, ucapan orang-orang kemarin kembali terngiang di kepalanya.“Menikahlah dengan salah satu Gunadhya.”“Setelah seluruh aset berpindah atas namamu, kamu bisa bercerai.”“Kalau ternyata enggak ada Gunadhya yang mau menikahi Vimala gimana?”“Semua pria Gunadhya keren-keren.”“Om Wisnu pasti punya alasan.”Vimala memejamkan mata rapat.“Argh!”Ia meraih bantal di sampingnya lalu menutup wajah sendiri.“Papa… kenapa sih harus bikin wasiat kayak gini?”Belum sempat pikirannya kembali tenang, ponsel di atas nakas bergetar.Sebuah pesan masuk.Direktur Keuangan MG Group

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status