MasukSuatu hari di sebuah siang, mereka sedang melakukan rapat koordinasi yang molor hampir satu jam.
Pukul satu lewat ketika akhirnya semua peserta meninggalkan ruangan.Ratu masih harus menyelesaikan catatan keputusan sebelum turun ke lapangan lagi.Ketika kembali ke ruang kerja kecil yang disediakan untuk Project Lead, ia mendapati satu kotak makan sudah berada di atas meja.Ratu mengernyit.“Ini punya siapa?”Seorang staf yang sedang lewat menjawab.“Punya IbPukul sebelas.Rumah terasa terlalu besar.Vimala duduk di ruang keluarga.Televisi menyala.Tidak ditonton.Pukul dua belas.Ia pindah ke taman belakang.Lima belas menit kemudian bosan.Pukul satu.Makan siang sendirian.Bi Tina duduk menemaninya sebentar.“Pak Zyan enggak pulang makan siang, Non?”Vimala menusuk nasi dengan sendok.“Enggak.”“Kerja?”“Project.”Satu kata itu keluar sedikit lebih tajam daripada yang dimaksudkan.Bi Tina tersenyum.“Namanya juga lagi pegang project besar.”“Iya.” Vimala mengangguk.Ia tahu.Semua orang tahu.Zyandru bekerja.Bukan bermain.Bukan pergi ke klub.Bukan menghilang tanpa alasan.Bahkan kalau dipikir menggunakan logika—Vimala tidak punya alasan untuk marah.Tetapi kesepian tidak selalu tunduk kepada logika.Pukul dua siang ia mengirim pesan.Lagi apa?Tidak dibalas.Pukul tiga.Si
Pukul sepuluh lewat dua puluh malam.Suara pintu kamar membuat Vimala membuka mata.“Zyan?”Zyandru berhenti. “Eh sorry, kamu kebangun ya?”Vimala mengusap mata. “Kamu baru pulang?”“Iya.”“Jam berapa ini?”“Sepuluh lewat.”Vimala mengambil ponsel.Menatap layar lalu menatap suaminya.“Kamu bilang tadi sore paling telat jam delapan.”“Ada issue Mala.”“Lagi?” Nada suaranya berubah, setengah mengesah.Zyandru melepas jam tangan. “Iya.”“Kemarin juga kamu bilang gitu.”“Namanya juga project, Mala.”“Aku tahu namanya project.”Vimala menegakan punggungnya duduk di tengah ranjang. “Tapi setiap hari ada aja.”Zyandru menoleh.Wajah Vimala terlihat kesal.Bukan marah besar.Justru seperti seseorang yang terlalu lama menunggu sampai lelah untuk marah.“Kamu belum tidur?” Zyandru mengalihkan pembicaraan.“Sudah. Bangun lagi.”“Obat sudah diminum, kan?”Vimala diam.
Suatu hari di sebuah siang, mereka sedang melakukan rapat koordinasi yang molor hampir satu jam.Pukul satu lewat ketika akhirnya semua peserta meninggalkan ruangan.Ratu masih harus menyelesaikan catatan keputusan sebelum turun ke lapangan lagi.Ketika kembali ke ruang kerja kecil yang disediakan untuk Project Lead, ia mendapati satu kotak makan sudah berada di atas meja.Ratu mengernyit.“Ini punya siapa?”Seorang staf yang sedang lewat menjawab.“Punya Ibu. Tadi catering kirim.”“Oh.”Ratu masuk.Laptop dibuka.Ia bahkan belum sempat duduk ketika ponselnya berdering.Dua menit bicara.Kemudian email.Kemudian revisi drawing.Lima belas menit berlalu.Kotak makanan masih utuh.Sampai pintu terbuka.Ratu mendongak.Dan langsung berhenti.Zyandru berdiri di sana membawa kotak makanannya sendiri.Keduanya saling menatap.“Kenapa ke sini?” tanya Ratu.“Ruang meeting dipak
Perubahan besar selalu mudah disadari.Seseorang yang tiba-tiba berhenti pulang lebih awal.Telepon yang mendadak tidak pernah lagi dijawab.Pelukan yang perlahan hilang.Percakapan yang berubah dingin.Namun perubahan kecil jauh lebih berbahaya.Karena terkadang ia datang begitu pelan sampai seseorang baru menyadarinya setelah mulai merasa kehilangan sesuatu yang sebelumnya selalu ada.Dan selama beberapa hari terakhir—Vimala mulai merasakan itu.***Ruang koordinasi proyek Integrated Transit & Commercial Development sudah dipenuhi suara diskusi padahal jam masih menunjukkan pukul sembilan pagi.Sebuah layar besar menampilkan progress map dengan sejumlah penanda berwarna pada area yang sedang memasuki tahap persiapan konstruksi.Ratu berdiri di depan layar.Rompi proyek dikenakan di atas blouse putih, rambut panjangnya diikat rendah agar tidak mengganggu aktivitas.“Utility owner sudah kasih written confirmation untuk
Hampir pukul sebelas malam ketika Zyandru sampai di rumah.Rumah sudah sunyi.Lampu ruang keluarga menyala redup.Bi Tina rupanya sudah masuk kamar.Zyandru meletakkan tas kerja.Melepas jam tangan.Kemudian naik ke lantai atas.Baru ketika membuka pintu kamar—langkahnya berhenti.Vimala sudah tidur.Perempuan itu berbaring miring di sisi ranjang.Selimut menutupi tubuhnya sampai pinggang.Lampu tidur telah menyala.Dan ponselnya tergeletak tidak jauh dari tangan.Zyandru berdiri di ambang pintu.Ada sesuatu yang terasa salah.Kemudian ia teringat.Ponsel.Zyandru cepat mengambil ponselnya dari saku.Membuka layar.Dan seketika—dadanya bergemuruh.Pesan Vimala.Bukan hanya dua.Ada beberapa.Udah makan?Kamu masih di project?Aku makan duluan ya.Foto makanan.Lihat. Aku nurut. Enggak pedas 😒Kemudian—Pulang jam berapa?Satu jam setelahnya
Ternyata persoalan di titik U-17 lebih rumit daripada yang terlihat di drawing.Temporary access yang direncanakan memang masih memungkinkan digunakan.Tetapi setelah marking aktual dilakukan, turning radius kendaraan berat membuat sisi luar jalur terlalu dekat dengan existing utility corridor.“Kalau tetap pakai alignment ini, clearance kita kurang,” ujar Site Interface Engineer sambil menunjuk marking di tanah.Ratu berjongkok sedikit untuk melihat posisi garis.“Berapa minimum safe clearance untuk equipment terbesar?”Engineer menjawab.Zyandru berdiri di sampingnya.“Kalau access digeser ke timur?”Planning Manager membuka drawing.“Bisa, Pak. Tapi kena area yang tadinya disiapkan untuk temporary storage.”“Storage bisa pindah,” ujar Ratu.Zyandru menoleh.Ratu melanjutkan, “Yang enggak boleh dikompromikan utility safety. Temporary storage lebih fleksibel.”“Impact ke mobilization?”“Kalau keputusan hari







