LOGINMendengar kabar bahwa anak kesayangan mereka jatuh sakit karena efek kehamilan, Amira dan Bastian tak menunda waktu. Dari luar kota, keduanya segera mengatur penerbangan untuk pulang. Kekhawatiran itu tak bisa ditutupi meski Serena sudah menikah, di mata mereka, ia tetap anak yang sama.Di apartemen, Serena sedang berbaring setengah duduk di sofa. Kepalanya bersandar di dada Arkan, lengannya melingkar erat di pinggang suaminya seolah takut ditinggal barang sedetik. Sejak tahu dirinya hamil, Serena berubah jauh lebih manja. Ia mudah lelah, mudah mual, dan yang paling kentara adalah tak mau jauh dari Arkan.Arkan membiarkan. Bahkan tangannya sejak tadi tak berhenti mengusap punggung Serena dengan gerakan pelan, menenangkan.“Nayel kapan pulang ya, Mas?” tanya Serena lirih, suaranya sedikit manja bercampur lelah.Arkan menunduk, mengecup pelipis istrinya.“Bentar lagi, sayang. Nanti dijemput sopirnya Ibu,” jawabnya lembut.Serena mengangguk kecil, tapi pelukannya justru mengencang.“Aku
Arkan terkejut saat suara bel apartemennya berbunyi bertubi-tubi pagi itu. Ia mengerjap, menoleh ke arah jam dinding—06.30 pagi.“Siapa sih sepagi ini…” gumamnya pelan.Dengan hati-hati, Arkan melepaskan pelukan Serena yang masih terlelap di sisinya. Ia bangkit perlahan, berjalan gontai menuju pintu, masih dengan sisa kantuk yang berat.Begitu pintu terbuka, matanya langsung membulat.“Ibu?”“Kak Eliza?”Dua sosok itu berdiri di depan pintu dengan wajah penuh antusias.“Loh, ngapain Ibu pagi-pagi ke sini?” tanya Arkan refleks.Kinanti tersenyum lebar. “Ibu mau ketemu Serena, kan kamu bilang kemarin dia lagi hamil. Ibu pengin lihat mantu Ibu.”Eliza ikut tersenyum. “Iya, Kan. Masa kami nunggu lama-lama?”Arkan belum sempat menjawab, ketika dari dalam apartemen terdengar suara pintu kamar terbuka disusul langkah tergesa.“Mas—”Belum selesai Serena memanggil, suara itu langsung berganti dengan bunyi muntah dari kamar mandi.Arkan refleks berbalik. “Serena!”Ia berlari kecil menyusul ist
Di kediaman keluarga Arkan, suasana sore berjalan seperti biasa. Mereka berkumpul di ruang keluarga, menikmati teh hangat sambil berbincang ringan obrolan yang tampak sederhana, namun menyimpan rasa penasaran.Samudra meletakkan cangkirnya, lalu menoleh pada anak sulungnya.“Arkan sudah dua hari nggak ke kantor. Kamu tahu kenapa, Aksa?” tanyanya.Aksa mengangkat bahu. “Nggak tahu, Yah. Arkan juga nggak ngabarin apa-apa. Tapi kata asistennya, kerjaan Arkan tetap jalan. Kayaknya dia kerja dari rumah.”Samudra mengernyit tipis. “Kerja dari rumah?” gumamnya.Kinan yang sejak tadi duduk di sisi lain sofa langsung menoleh. “Lho, Arkan nggak masuk kantor?”“Iya,” jawab Samudra. “Sudah dua hari. Kerjaannya memang tetap beres, tapi Ayah heran. Biasanya Arkan paling jarang absen ke kantor.”“Bener,” sambung Aksa. “Sejak dulu dia selalu datang paling pagi, pulang paling akhir.”Kinan terdiam sejenak, pikirannya mulai berkelana. “Apa jangan-jangan Serena kenapa-kenapa?”Samudra menatap Kinan, lal
Mobil Arkan berhenti tepat di depan gerbang sekolah Nayel. Jam pulang baru saja usai, anak-anak kecil berlarian keluar dengan wajah ceria, tas menggantung di punggung mereka. Serena masih duduk diam di kursi penumpang, tangannya tak lepas dari perutnya sendiri gerakan refleks yang bahkan belum ia sadari sepenuhnya.“Kamu tunggu di sini ya,” ucap Arkan lembut. “Mas yang jemput Nayel.”Serena mengangguk. “Mas jangan lama-lama.”Arkan tersenyum kecil, lalu turun dari mobil. Tak lama, Nayel muncul dari balik gerbang, matanya langsung berbinar begitu melihat Arkan.“Papa!” teriaknya sambil berlari.Arkan berlutut dan membuka tangan. Tubuh kecil itu menabraknya dengan pelukan erat.“Papa jemput?” tanya Nayel antusias.“Iya. Mama juga ada,” jawab Arkan sambil mengusap kepala Nayel.Nayel langsung menoleh ke arah mobil. Begitu melihat Serena di dalam, ia melambai cepat. “Mama!”Serena turun perlahan dari mobil. Nayel menghampirinya, tapi kali ini langkahnya terhenti di depan Serena, seperti m
Sudah satu bulan berlalu sejak liburan keluarga itu berakhir. Kehidupan kembali berjalan dengan ritme biasa. Arkan dengan pekerjaannya, Serena dengan toko dan rutinitas rumah, Nayel dengan hari-harinya yang riuh.Tak ada tanda apa pun. Sampai malam tadi...Semalam, ketika Arkan baru saja pulang dari kantor, ia langsung dikejutkan oleh kondisi Serena. Istrinya tertidur di ranjang dengan wajah pucat, keningnya basah oleh keringat dingin. Begitu Arkan menyentuh keningnya, panas samar langsung terasa.Lebih anehnya lagi, Serena begitu manja malam itu.Ia tidak mau melepaskan pelukan Arkan sedikit pun. Bahkan saat Arkan belum sempat mandi atau berganti pakaian kerja, Serena tetap memeluknya erat, seolah takut ia menghilang.Arkan sempat mengira Serena hanya kelelahan.Namun menjelang subuh, Arkan terbangun karena Serena tiba-tiba menghentakkan tangannya.“Mas…” suaranya parau.Belum sempat Arkan bertanya, Serena sudah bangkit dan berlari menuju kamar mandi. Arkan langsung menyusul dan mend
Setelah seminggu penuh berlibur, keluarga kecil Arkan akhirnya harus rela mengakhiri perjalanan mereka. Waktu berjalan terlalu cepat saat kebahagiaan terasa sederhana tertawa bersama, bermain salju, dan menikmati kebersamaan yang selama ini terasa tertunda.Satu minggu ke depan, Nayel sudah “dibooking” oleh Kinanti. Sang nenek ingin mengajak cucu kesayangannya berlibur, seperti kebiasaan mereka selama ini.Malam sebelum kepulangan, Arkan duduk di tepi tempat tidur hotel, memperhatikan Nayel yang tertidur pulas setelah seharian bermain. Serena berdiri di dekat jendela, menutup tirai perlahan.“Mas,” panggil Serena lembut.Arkan menoleh. “Hm?”“Nayel bakal seminggu sama ibu. Kamu nggak apa-apa?”Arkan tersenyum tipis. Ada sesuatu di dadanya yang terasa mengganjal, tapi ia berusaha menutupinya.“Dulu… Nayel lebih sering pergi tanpa aku. Sekarang rasanya beda.”Serena mendekat, duduk di sampingnya. Ia menggenggam tangan suaminya erat.“Mas bukan kehilangan waktu. Mas cuma lagi belajar ber







