Masuk
Pena emas itu terbanting keras di atas meja kaca yang bening hingga menimbulkan bunyi dentuman yang mengejutkan.
Suaranya menggema di dalam ruangan kantor yang sunyi serta sanggup meruntuhkan sisa keberanian milik Alya Kirana. Gadis itu menatap selembar kertas putih di hadapannya dengan pandangan yang sangat kabur oleh air mata yang terus mendesak keluar. Di sana tertera nama lengkapnya bersanding dengan angka yang sama sekali tidak masuk akal bagi orang biasa seperti dirinya. Lima miliar rupiah adalah harga yang harus dibayar demi menebus nyawa ayahnya dari ancaman maut yang sangat mengerikan. Alya merasa dadanya sesak seolah-olah seluruh oksigen di ruangan itu telah dihisap habis oleh kehadiran pria di depannya. Gibran Rakabuming duduk dengan angkuh di kursi kebesarannya yang dilapisi oleh kulit hewan asli yang sangat mahal. Wajahnya yang tegas tampak tidak memiliki celah sedikit pun untuk sebuah rasa belas kasihan terhadap nasib orang lain. Matanya yang tajam mengunci setiap pergerakan Alya dan membuat gadis itu merasa seperti buruan yang tidak memiliki jalan untuk lari. "Tanda tangani sekarang juga, Alya Kirana," perintah Gibran dengan suara rendah yang sangat mengancam. "Atau kau bisa membawa ayahmu pulang dalam peti mati malam ini juga karena aku tidak suka menunggu lama." Alya meremas ujung roknya yang sudah kusut dengan tangan yang bergetar hebat karena rasa takut yang mendalam. Bibirnya yang pucat terbuka sedikit serta mencoba mengeluarkan suara yang seolah-olah tertahan di kerongkongan yang terasa kering. Ketakutan itu nyata serta menjalar dari ujung kaki hingga ke ubun-ubun kepalanya yang kini berdenyut kencang tidak keruan. "Kenapa harus saya yang Anda pilih untuk melakukan kegilaan ini, Tuan?" bisik Alya akhirnya dengan nada parau. "Ada banyak wanita di luar sana yang jauh lebih cantik serta mungkin bersedia melakukan ini tanpa ada keterpaksaan." Gibran bangkit dari duduknya dan melangkah pelan memutari meja kerjanya yang sangat luas serta terlihat begitu megah. Setiap langkah kakinya yang berbalut sepatu kulit mahal terdengar seperti dentuman jarum jam kematian bagi pendengaran Alya. Pria itu berhenti tepat di depan Alya lalu menunduk hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti saja di bawah lampu. "Karena kau adalah satu-satunya wanita yang tidak punya pilihan untuk menolak keinginanku saat ini," sahut Gibran sinis. "Aku tidak butuh cinta serta aku hanya butuh rahim yang sehat untuk memberikan ahli waris bagi keluarga besar Rakabuming." Pintu ruangan itu tiba-tiba terbuka dengan sangat kasar tanpa ada ketukan terlebih dahulu dari arah luar sana. Seorang pria paruh baya dengan wajah kusam serta pakaian yang tidak rapi masuk dengan tergesa-gesa ke dalam ruangan. Itu adalah Pak Herman yaitu ayah kandung Alya yang telah menggadaikan masa depan putrinya sendiri di atas meja judi. "Alya, cepat kerjakan apa yang diminta oleh Tuan Gibran tanpa banyak bertanya lagi!" teriak Pak Herman tanpa malu. "Jangan jadi anak durhaka yang membiarkan orang tuanya menderita demi keras kepalamu yang tidak berguna itu!" Alya menoleh dan menatap ayahnya dengan pandangan yang penuh dengan kekecewaan yang sangat mendalam di dalam hati. Ia merasa dikhianati oleh orang yang seharusnya menjadi pelindung terdepan dalam setiap badai kehidupan yang ia hadapi. Namun kenyataan pahit justru menunjukkan bahwa ia hanyalah barang dagangan bagi pria yang telah melahirkannya ke dunia ini. "Ayah benar-benar tega melakukan semua ini pada saya?" tanya Alya dengan air mata yang mulai mengalir membasahi pipinya. "Ayah melakukan ini demi kebaikan kita semua, Alya!" sanggah Pak Herman sambil mendekati meja kerja Gibran dengan bersemangat. "Tuan Gibran adalah orang terkaya di kota ini serta kau akan hidup seperti ratu dan semua masalah kita selesai!" Gibran mendengus kasar melihat drama keluarga yang sangat menyedihkan itu terjadi tepat di depan matanya sendiri saat ini. Ia kembali ke kursi kebesarannya dan mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya di atas meja dengan irama yang sangat tidak sabar. Baginya waktu adalah hal yang paling berharga serta ia tidak ingin membuang-buang waktu hanya untuk melihat air mata yang tidak berguna. "Waktuku sisa dua menit saja sebelum aku membatalkan perjanjian ini," ucap Gibran sambil melirik jam tangan mewahnya. "Jika kau tidak menandatanganinya, aku akan membiarkan orang-orangku menyerahkan ayahmu kepada para penjahat yang sudah menunggu." Dengan tangan yang masih gemetar hebat, Alya meraih pena emas yang terasa sangat berat seolah-olah terbuat dari timah. Ia menarik napas panjang serta mencoba menenangkan degup jantungnya yang seakan-akan mau melompat keluar dari rongga dada yang sesak. Perlahan namun pasti, ia menggoreskan tanda tangannya di atas kertas bermaterai yang akan mengubah seluruh hidupnya selamanya. Gibran menarik kertas itu dan memeriksanya dengan sangat teliti sebelum memberikan isyarat kecil kepada asisten yang berjaga. Alya melangkah mengikuti pria itu menuju area parkir bawah tanah yang sangat luas serta hanya berisi kendaraan mewah yang mengkilap. Mobil mewah itu akhirnya berhenti tepat di depan teras utama sebuah gedung megah yang sudah diterangi oleh ribuan lampu kristal. Wanita tua dengan pakaian sutra yang sangat elegan serta berkelas sudah berdiri tegak di depan pintu jati yang besar. Ia menatap Alya dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan tatapan yang penuh dengan rasa jijik yang sangat mendalam. Tanpa ada sepatah kata sambutan yang manis, tangan wanita tua itu bergerak dengan sangat cepat di udara yang sunyi.Satu alasan kuat untuk tetap bernapas seketika terasa direnggut dari paru-paru Alya saat ia melihat ayahnya terbaring tidak berdaya di bawah ancaman dua pria berbadan tegap.Kejutan pahit itu menyambutnya tepat saat ia baru saja menginjakkan kaki di pelataran rumah sakit dengan harapan bisa memberikan sedikit penghiburan bagi sang ayah.Alya terpaku di ambang pintu ruang perawatan sambil menutup mulutnya dengan tangan yang bergetar hebat guna menahan teriakan yang hampir meledak.Ayahnya yang sudah renta tampak sangat pucat dengan selang pernapasan yang hampir terlepas karena guncangan kasar pada kerah bajunya.Dua pria itu tidak mempedulikan bunyi alat pemantau jantung yang berbunyi sangat nyaring serta sangat memekakkan telinga di dalam ruangan yang sempit tersebut.Alya segera berlari maju serta mencoba memisahkan para penagih hutang itu dari tubuh ayahnya yang sudah sangat lemah serta ringkih sekali."Hentikan semua ini, saya mohon jangan sakiti ayah saya yang sedang kritis!" jeri
Asing di mata suami sendiri adalah kenyataan pahit yang harus ditelan bulat-bulat oleh Alya saat Gibran melemparkan map berisi dokumen hasil pemeriksaan kesehatan ke atas meja makan.Kertas-kertas itu tersebar berantakan di dekat piring porselen yang masih berisi hidangan sarapan yang belum sempat tersentuh sama sekali.Gibran menatap Alya dengan sorot mata yang begitu tajam serta sangat menusuk seakan-akan sedang menguliti setiap rahasia yang tersimpan di dalam sel terkecil tubuh wanita tersebut.Alya terperanjat serta melepaskan sendok perak yang sedang ia pegang hingga menimbulkan bunyi dentingan nyaring yang memecah kesunyian ruangan yang sangat luas itu.Jantungnya berdebar kencang sekali sementara tangannya yang masih terbalut kasa putih kini mulai berkeringat dingin karena merasa terintimidasi secara mendadak.Ia menatap lembaran kertas yang penuh dengan istilah medis tersebut tanpa berani untuk menyentuhnya meski hanya dengan ujung jemari tangannya saja."Apa maksud dari semua
Tangisan bisu di tengah malam yang panjang itu akhirnya pecah saat Alya menemukan setumpuk pakaian lamanya telah dibakar menjadi abu di halaman belakang rumah.Asap hitam yang pekat membumbung tinggi di bawah siraman cahaya bulan yang pucat seolah-olah menertawakan kemalangan nasib yang menimpanya.Alya berlutut di atas rumput yang basah oleh embun sambil mencoba menyelamatkan sisa kain yang belum habis dilalap si jago merah.Siska berdiri tidak jauh dari perapian tersebut sambil memegang sebuah tongkat kayu untuk mengaduk abu yang masih membara dengan sangat puas.Wajah cantiknya terlihat sangat menyeramkan karena pantulan api yang menari-nari di dalam manik matanya yang penuh dengan kebencian mendalam.Ia mendengus bangga saat melihat kehancuran di wajah Alya yang tampak sangat terpukul karena kehilangan harta terakhir dari masa lalunya yang sederhana."Kenapa Anda begitu tega membakar semua kenangan yang saya miliki, Nyonya Siska?" tanya Alya dengan suara yang tersedak oleh isak ta
Kewajiban semu di balik pintu kamar utama dimulai saat Gibran mendorong tubuh Alya dengan kasar hingga ia terjerembap di atas ranjang yang sangat empuk. Alya merasakan jantungnya berdegup kencang seolah-olah ingin melompat keluar dari rongga dadanya yang terasa sangat sesak serta sempit. Lampu gantung kristal yang mewah di langit-langit kamar memantulkan cahaya yang sangat menyilaukan mata Alya yang kini sudah mulai berkaca-kaca. Gibran berdiri tegak di samping tempat tidur sambil melepaskan kancing kemeja mahalnya satu demi satu dengan gerakan yang sangat mekanis. Wajahnya tampak sangat datar serta tidak menunjukkan sedikit pun rasa kemanusiaan atau rasa belas kasihan terhadap wanita yang ada di hadapannya. Ia menatap Alya dengan pandangan yang sangat dingin serta sangat meremehkan seolah-olah Alya hanyalah barang dagangan yang baru saja ia beli dari pasar gelap. "Jangan pernah berpikir bahwa aku akan memperlakukanmu dengan lembut seperti seorang istri yang sesungguhnya," ucap
Harga diri yang terinjak di bawah kaki terasa jauh lebih menyakitkan daripada luka robek yang menganga di telapak tangan Alya.Pagi itu matahari belum sepenuhnya naik namun suasana di ruang makan utama sudah terasa sangat mencekam serta begitu menyesakkan.Alya berdiri mematung di sudut ruangan dengan pakaian pelayan yang diberikan secara paksa oleh Nyonya Ratna sesaat setelah fajar menyingsing.Di atas meja kayu jati yang sangat panjang itu telah tersaji berbagai macam hidangan mewah yang mengeluarkan uap panas serta aroma menggoda.Gibran duduk di ujung meja sambil membaca koran bisnis dengan wajah yang sangat datar serta tampak sangat tidak acuh pada sekitarnya.Sementara itu Siska duduk di samping suaminya sambil menikmati sepotong roti panggang dengan gerakan yang sangat anggun sekaligus penuh keangkuhan."Kenapa kau hanya berdiri di sana seperti patung pemujaan yang tidak berguna, Alya?" tanya Siska tanpa menoleh sedikit pun."Cepat tuangkan kopi panas ini ke cangkir suamiku ser
Bab 5: Noda Merah di Atas Lantai MarmerNoda merah di atas lantai marmer itu merembes perlahan di antara pecahan porselen yang berserakan.Alya meringis menahan perih saat butiran debu dapur mulai menyentuh luka robek yang cukup dalam di telapak tangannya.Cairan hangat yang kental terus mengalir serta mengotori kemewahan lantai dapur yang semula putih bersih tanpa celah sedikit pun.Siska berdiri tidak jauh dari sana sambil melipat kedua tangannya di depan dada dengan raut wajah yang sangat dingin.Tidak ada sedikit pun niat dari wanita itu untuk mengulurkan tangan atau sekadar memanggil pelayan guna membantu Alya yang malang.Ia justru tersenyum tipis seolah-olah sedang menikmati pemandangan penderitaan yang sedang tersaji tepat di depan matanya saat ini."Lihatlah betapa cerobohnya kau, Alya Kirana," ucap Siska dengan nada bicara yang sangat meremehkan."Piring-piring itu jauh lebih mahal daripada harga dirimu yang sudah kau gadaikan demi hutang judi ayahmu yang tidak tahu diri itu







