MasukBab 5: Noda Merah di Atas Lantai Marmer
Noda merah di atas lantai marmer itu merembes perlahan di antara pecahan porselen yang berserakan. Alya meringis menahan perih saat butiran debu dapur mulai menyentuh luka robek yang cukup dalam di telapak tangannya. Cairan hangat yang kental terus mengalir serta mengotori kemewahan lantai dapur yang semula putih bersih tanpa celah sedikit pun. Siska berdiri tidak jauh dari sana sambil melipat kedua tangannya di depan dada dengan raut wajah yang sangat dingin. Tidak ada sedikit pun niat dari wanita itu untuk mengulurkan tangan atau sekadar memanggil pelayan guna membantu Alya yang malang. Ia justru tersenyum tipis seolah-olah sedang menikmati pemandangan penderitaan yang sedang tersaji tepat di depan matanya saat ini. "Lihatlah betapa cerobohnya kau, Alya Kirana," ucap Siska dengan nada bicara yang sangat meremehkan. "Piring-piring itu jauh lebih mahal daripada harga dirimu yang sudah kau gadaikan demi hutang judi ayahmu yang tidak tahu diri itu." Alya mencoba mengumpulkan sisa tenaganya untuk bangkit sambil terus menekan luka di tangannya menggunakan ujung baju yang ia kenakan. Napasnya tersengal serta keringat dingin mulai membasahi dahinya yang tampak sangat pucat karena rasa sakit yang berdenyut kencang. Ia menatap Siska dengan pandangan yang bergetar namun tidak sanggup mengeluarkan kata-kata pembelaan apa pun saat menghadapi intimidasi tersebut. "Maafkan saya, Nyonya Siska, saya akan segera membersihkan semua kekacauan ini sampai bersih," lirih Alya dengan suara yang parau. "Tentu saja kau harus membersihkannya sampai tidak ada satu pun sisa darah kotormu yang tertinggal di sini!" bentak Siska tiba-tiba. "Gunakan tanganmu yang terluka itu untuk memungut pecahan kaca ini agar kau ingat betapa rendahnya posisimu di dalam rumah besar ini." Alya tertegun serta merasa jantungnya seakan-akan berhenti berdetak mendengar perintah yang sangat kejam serta sangat tidak masuk akal tersebut. Namun ia tahu bahwa melawan hanya akan membuat penderitaannya semakin panjang di bawah kekuasaan sang nyonya besar yang sangat berkuasa. Perlahan Alya mulai memungut kepingan tajam itu satu demi satu sementara rasa perih yang luar biasa menyiksa kembali menjalar ke seluruh tubuh. Seorang pelayan senior bernama Bi Sumi muncul dari balik pintu dapur dengan wajah yang tampak sangat pucat serta penuh dengan rasa iba. Ia hendak melangkah maju untuk memberikan bantuan namun tatapan mata Siska yang sangat tajam segera menghentikan langkah kaki wanita tua tersebut. Bi Sumi hanya bisa berdiri mematung di sudut ruangan sambil meremas celemeknya karena merasa sangat tidak berdaya untuk membantu Alya sekarang. "Nyonya, biarkan saya saja yang membereskan pecahan kaca ini agar tidak semakin membahayakan bagi siapa pun," mohon Bi Sumi dengan suara gemetar. "Jangan pernah berani mencampuri urusanku, Bi Sumi, atau kau akan ikut tidur di jalanan malam ini juga!" ancam Siska tanpa menoleh sedikit pun. Alya terus bekerja dalam diam meski air matanya mulai jatuh membasahi lantai marmer yang sedang ia bersihkan dengan penuh rasa sakit. Setiap gerakan tangannya meninggalkan jejak merah yang samar namun ia tidak berhenti karena rasa takut yang jauh lebih besar dari rasa perihnya. Ia merasa seperti seekor binatang buruan yang sedang dipojokkan ke dinding oleh pemangsa yang sangat haus akan sebuah kemenangan emosional yang keji. Setelah beberapa menit yang terasa seperti selamanya, lantai dapur itu akhirnya kembali bersih dari serpihan porselen yang hancur berkeping-keping. Alya mencoba berdiri dengan kaki yang lemas namun kepalanya tiba-tiba terasa sangat ringan serta pandangannya mulai berputar dengan sangat cepat sekali. Ia kehilangan keseimbangan serta hampir jatuh kembali jika saja sebuah tangan kekar tidak menangkap lengannya dengan cengkeraman yang sangat kuat dan kokoh. Gibran berdiri di sana dengan setelan jas kantor yang sangat rapi serta wajah yang tampak sangat tegang sekaligus penuh dengan amarah besar. Ia menatap luka di tangan Alya yang masih mengeluarkan darah serta kemudian beralih menatap istrinya yang berdiri dengan angkuh tanpa rasa bersalah. Suasana di dalam dapur itu seketika menjadi sangat mencekam seolah-olah badai besar akan segera datang menerjang seluruh isi rumah mewah tersebut. "Apa yang sebenarnya terjadi di sini, Siska?" tanya Gibran dengan suara rendah yang mengandung getaran emosi yang sangat hebat serta menakutkan. "Alya hanya sedikit ceroboh saat mencuci piring, Mas, aku sedang menasihatinya agar lebih berhati-hati lagi," jawab Siska dengan nada yang tiba-tiba lembut. Topeng sempurna itu kembali terpasang di wajah Siska dengan sangat cepat hingga membuat Alya merasa mual karena melihat kemunafikan yang sangat nyata. Gibran tidak membalas perkataan istrinya melainkan langsung menarik tangan Alya dengan kasar menuju ke arah ruang tengah yang sangat luas sekali. Alya merasa tangannya semakin sakit karena tarikan itu namun ia tidak berani meronta atau mengeluarkan suara keluhan sedikit pun di hadapan suaminya. Gibran menghempaskan Alya ke atas sofa kulit yang sangat dingin serta segera mengambil kotak obat yang tersimpan di dalam lemari kayu jati. Pria itu mulai membersihkan luka Alya dengan gerakan yang sangat kasar seolah-olah ia sedang mengerjakan sebuah kewajiban yang sangat membosankan bagi dirinya. Meskipun tindakannya terlihat seperti sebuah perhatian namun mata Gibran tetap memancarkan kedinginan yang tidak tersentuh oleh rasa cinta sedikit pun untuk Alya. "Jangan pernah membuat kekacauan lagi di rumah ini karena aku tidak memiliki waktu untuk mengurusi drama picisan seperti ini!" ucap Gibran dingin. Alya hanya bisa menggigit bibir bawahnya agar tidak berteriak saat cairan antiseptik menyentuh luka terbukanya dengan rasa yang sangat menyengat sekali. Ia menyadari bahwa suaminya menolong bukan karena rasa sayang melainkan karena ia tidak ingin aset berharganya rusak sebelum memberikan hasil yang diinginkan. Bagi Gibran, Alya hanyalah sebuah investasi mahal yang harus dijaga kualitasnya demi nama baik serta keberlangsungan dinasti keluarga mereka yang sangat angkuh. Malam itu Alya meringkuk di dalam kamarnya yang gelap sambil memandangi tangannya yang kini sudah terbalut kain kasa berwarna putih bersih. Ia merasa jiwanya semakin lelah menghadapi permainan peran yang sangat melelahkan di dalam istana megah yang terasa seperti sebuah penjara maut. Setiap detik yang berlalu terasa seperti siksaan batin yang perlahan-lahan menghancurkan sisa-sisa harapan yang masih ia miliki untuk masa depannya yang suram. Ia tidak tahu sampai kapan ia bisa bertahan sebelum seluruh harga dirinya benar-benar hancur serta terinjak di bawah kaki para penguasa.Penyelamatan nekat tanpa bantuan prajurit itu berakhir dengan dentuman dahsyat yang menggetarkan permukaan tanah hutan terlarang saat mulut gua runtuh sepenuhnya tertelan bumi.Alya terjerembap di atas hamparan lumut basah dengan napas memburu serta jemari yang gemetar hebat meraba tanah seolah memastikan dirinya masih berpijak di alam kehidupan.Di sekelilingnya, belasan anak anak menteri yang baru saja diselamatkan menangis histeris sambil memeluk satu sama lain di bawah naungan pepohonan raksasa yang tampak seperti raksasa diam.Ratu muda itu mengabaikan rasa perih di telapak tangannya yang terkoyak batu tajam demi menghitung jumlah nyawa kecil yang berhasil ia tarik keluar dari cengkeraman maut.Maya merangkak mendekati Alya dengan wajah yang kotor oleh jelaga hitam namun matanya memancarkan kelegaan yang luar biasa besar karena mereka semua selamat.Ia segera memeriksa kondisi fisik Alya yang tampak sangat mengenaskan dengan jubah kebesaran yang kini robek di beberapa bagian akib
Jejak kaki yang mengarah ke hutan terlarang itu mendadak menghilang di balik dinding tebing terjal tepat saat ujung anak panah musuh nyaris menyentuh permukaan kulit leher Alya yang seputih pualam.Alya tidak berkedip sedikit pun meskipun deru napas pria bertopeng di hadapannya terasa begitu panas dan penuh dengan aroma tembakau yang sangat menyengat indra penciumannya.Di belakangnya, Maya serta para pengawal setia sudah berlutut dengan tangan terikat sementara hutan yang semula hanya berbisik kini mendadak riuh oleh tawa mengejek dari lusinan bayangan hitam yang muncul dari balik pepohonan raksasa.Keadaan berbalik menjadi sebuah mimpi buruk yang sangat nyata karena Sang Ratu kini benar benar terjebak di wilayah tak bertuan tanpa membawa satu pun pasukan bantuan dari istana."Katakan padaku di mana kalian menyembunyikan putra putri menteri itu sebelum kesabaranku benar benar habis!" seru Alya dengan nada suara yang tetap berwibawa meski jemarinya bergetar hebat."Anda masih mencoba
Konspirasi penculikan di taman kanak kanak itu terungkap saat matahari baru saja menyembul dari ufuk timur dan menyinari teras istana yang biasanya riuh oleh tawa putra putri para bangsawan.Alya berdiri mematung di ambang pintu besar dengan wajah pucat pasi ketika melihat taman bermain yang biasanya penuh warna kini hanya menyisakan sepatu kecil yang tergeletak sepi di atas rumput embun.Tidak ada satu pun suara bocah yang terdengar melainkan hanya desiran angin yang membawa aroma kecemasan luar biasa menyelimuti seluruh kompleks pendidikan khusus anak anak tersebut.Jantung Sang Ratu berdegup kencang seolah olah ingin melompat keluar dari dadanya saat menyadari bahwa seluruh anak menteri penting telah menghilang tanpa menyisakan jejak sedikit pun.Maya berlari menghampiri Alya dengan napas yang terengah hingga ia hampir saja tersungkur di atas lantai marmer yang dingin.Wajah asisten setia itu tampak kacau dengan bekas air mata yang belum kering sepenuhnya dari pipinya yang biasanya
Tangisan bayi di tengah suasana mencekam itu menyayat keheningan ruang bawah tanah istana yang selama berabad abad hanya dihuni oleh debu serta aroma apek gandum tua.Alya melangkah dengan sangat hati hati sementara jemarinya meraba dinding batu yang terasa dingin sekaligus lembap akibat rembesan air tanah yang tidak pernah mengering.Jantungnya berdegup kencang seirama dengan suara tangis yang semakin jelas terdengar saat ia melewati deretan peti kayu besar yang tertata rapi di sudut ruangan paling gelap.Ia mengangkat lentera tembaga di tangannya lebih tinggi guna memastikan bahwa apa yang ia dengar bukanlah sekadar tipuan indra atau ilusi yang diciptakan oleh rasa takutnya sendiri.Pemandangan di hadapannya mendadak membuat napas Alya tertahan di tenggorokan karena ia melihat sebuah keranjang anyaman kecil terletak di atas tumpukan karung goni.Di dalam keranjang tersebut tampak seorang bayi mungil yang sedang meronta ronta dengan wajah memerah karena terus berteriak tanpa ada yang
Keputusan sulit demi stabilitas keamanan menghantam kesadaran Alya saat ia menatap gulungan peta militer yang terbentang di atas meja jati dengan tangan yang masih gemetar hebat.Berita mengenai mundurnya Gibran dari komando tertinggi telah menyebar luas ke penjuru ibu kota secepat kobaran api yang melahap jerami kering di tengah musim kemarau.Menteri Pertahanan yang baru saja ditunjuk berdiri dengan wajah pucat sambil meremas ujung seragam kebesarannya karena ia menyadari beban yang kini berpindah ke pundaknya yang tidak sekuat milik Sang Panglima.Suasana di dalam ruang rapat mendadak menjadi sangat dingin hingga suara detak jam dinding terdengar seperti dentuman palu godam yang menghakimi setiap keraguan dalam hati Sang Ratu.Alya memaksakan diri untuk duduk tegak meskipun jiwanya terasa sedang tercabik cabik oleh rasa bersalah yang amat mendalam kepada suaminya sendiri.Ia melihat bayangan Larasati yang tersenyum sinis di balik tirai koridor seolah olah wanita itu telah berhasil
Cemburu yang menjadi senjata bagi lawan meledak seketika saat Alya menemukan seuntai kalung perak tergeletak di atas meja kerja suaminya dengan inisial nama yang sangat asing.Benda berkilau itu seolah membakar sepasang matanya hingga ia merasa sesak napas karena menyadari bahwa Gibran telah menyimpan sesuatu yang sangat rahasia darinya.Di ambang pintu, Larasati berdiri tegak dengan senyum kemenangan yang tipis namun sangat tajam seakan dia baru saja berhasil menancapkan duri tepat ke dalam jantung sang penguasa.Keheningan ruangan tersebut mendadak terasa begitu menyesakkan karena setiap sudut istana seolah olah kini sedang berbisik mengenai pengkhianatan yang sedang direncanakan secara rapi.Alya meremas jemarinya kuat guna menahan getaran hebat yang mulai merayap naik dari ujung kakinya menuju seluruh persendian tubuh yang mendadak terasa sangat lemah.Ia menoleh ke arah jendela besar di mana Gibran sedang terlihat bercengkrama akrab dengan beberapa tetua adat di taman belakang ta







