MasukKehancuran ekonomi yang terencana rapi terpampang nyata ketika ribuan lembar mata uang resmi kerajaan dicampakkan begitu saja ke dalam kobaran api di tengah alun alun kota.Masyarakat yang berkumpul di sekitar lingkaran barikade berteriak histeris menyaksikan nilai kekayaan mereka menyusut drastis menjadi sekadar tumpukan kertas tidak berharga.Patih Baskoro berdiri tegak di atas panggung kayu maklumat sembari melipat kedua tangannya dengan angkuh menikmati kepanikan massal yang merayap cepat ke seluruh penjara kota.Kebijakan devaluasi sepihak yang baru saja diumumkan memicu keputusasaan mendalam di kalangan pedagang kecil yang kini terancam gulung tikar akibat kelangkaan bahan pokok.Di sudut barisan penonton seorang saudagar beras paruh baya tampak meremas ujung pakaian sutranya hingga robek karena merasa terpukul oleh kerugian finansial yang tak terbayangkan.Matanya yang sembap menatap kosong ke arah gerobak gerobak miliknya yang kini disita secara paksa oleh jajaran aparat keuan
Sumpah setia di bawah sinar bulan sabit diikrarkan dengan penuh khidmat di tengah keheningan hutan jati yang menjadi saksi pelarian malam maut tersebut.Tubuh Ratu Alya yang menggigil kedinginan kini dibaringkan dengan sangat hati hati di atas hamparan rumput kering oleh asisten militer setianya.Maya segera memeriksa sisa pasokan air bersih dan penawar racun yang tersimpan di dalam kantong kulitnya sembari menyeka darah yang mengalir di keningnya sendiri.Keadaan Sang Ratu benar benar kritis karena efek bisa panah dari Patih Baskoro telah menyebar luas ke seluruh jaringan otot lengannya hingga memar membiru.Dalam remang kegelapan rimba sayup sayup terdengar derap langkah kaki kuda pasukan serigala perak yang mulai menyisir perbatasan luar area hutan.Detak jantung Maya berdegup kencang ketika ia menyadari bahwa jumlah mereka kini terlampau sedikit untuk menghadapi kepungan bala bantuan musuh yang bersenjata lengkap.Ia memegang gagang belati bajunya erat erat sembari mengawasi perge
Permainan catur politik yang penuh darah dimulai ketika Patih Baskoro menghentakkan tongkat kebesaran ke lantai marmer balairung istana hingga menimbulkan gema yang mengerikan.Di hadapannya para petinggi dewan menteri duduk bersimpuh dengan tubuh gemetar hebat sambil menyaksikan kepala komandan penjaga gerbang yang tergeletak di atas baki perak.Aroma anyir logam menyeruak memenuhi ruangan yang biasanya harum oleh bakaran dupa cendana kini berganti menjadi suasana mencekam bagaikan rumah jagal.Patih Baskoro menarik kursi kebesaran yang seharusnya hanya boleh diduduki oleh keluarga kerajaan lalu ia duduk dengan kaki menyilang seolah dialah penguasa tunggal.Dewan menteri tidak ada yang berani mengangkat wajah karena sepuluh prajurit bertopeng dari faksi hitam berdiri tepat di belakang punggung mereka dengan pedang terhunus.Setiap menteri yang mencoba mengajukan protes secara halus langsung diseret keluar tanpa ada satu pun orang yang mengetahui nasib mereka selanjutnya.Ruangan itu
Identitas asli sang dalang kerusuhan rakyat terkuak saat kain hitam yang menutupi wajah pria di tengah alun alun itu terlepas akibat sambaran angin malam yang kencang.Alya yang masih bersandar di bahu Maya membelalakkan mata dengan sisa tenaga yang ada karena wajah di balik topeng itu adalah sosok yang sangat ia kenali.Darah serasa berhenti mengalir ketika sinar bulan menyapu wajah dingin milik Patih Baskoro yang selama ini menjadi tangan kanan kepercayaan mendiang raja.Senyuman tipis muncul di sudut bibir pria paruh baya itu sambil memutar busur perak yang tadi digunakan untuk melepaskan anak panah beracun ke arah bahu Sang Ratu.Maya merapatkan dekapan pada tubuh Alya yang mulai mendingin akibat pengaruh bisa yang menjalar cepat ke dalam sistem saraf pusat.Asisten militer tersebut segera menarik napas dalam guna meredam emosi yang meluap karena pengkhianatan ini jauh lebih besar daripada sekadar perebutan harta karun pelabuhan.Pasukan serigala perak di sekeliling mereka mulai m
Penyusupan ke markas musuh di tengah kota mendadak berubah menjadi sebuah perangkap maut yang sangat dingin saat tatapan mata Sang Ratu berbenturan dengan senyuman licik sang perwira pengkhianat.Udara di dalam ruang bawah tanah menara pusat seketika terasa membeku menghentikan seluruh aktivitas pemindahan peti emas yang tengah dilakukan oleh para pekerja sindikat pelabuhan tua.Alya bisa merasakan degup jantungnya berpacu liar mengamati jempol tangan kanan sang perwira yang sudah bertengger di atas tombol pemantik peledak minyak tanah.Di sekeliling ruangan remang remang tersebut aroma cairan kimia yang mudah terbakar mulai menyengat indra penciuman mengonfirmasi bahwa ancaman pemusnahan massal ini bukanlah sekadar gertakan kosong.Maya secara perlahan menggeser posisi berdirinya meraba gagang belati beracun yang terselip di balik rompi kulit pelindung dadanya dengan gerakan yang sangat halus.Mata asisten militer itu menyipit tajam menghitung jarak langkah kaki yang memisahkan posis
Harta karun yang memicu perang saudara menjadi topik perdebatan panas yang memicu ketegangan hebat di atas dermaga kayu pelabuhan tua yang kaku berselimut kabut fajar.Alya menggenggam erat dinding pembatas menara pantau merasakan angin laut yang dingin menghempas kasar wajahnya yang menyiratkan kecemasan mendalam.Di bawah sana utusan armada serigala perak tampak mulai menghunus pedang panjang mereka guna menggertak barisan petinggi sindikat pelabuhan yang menolak memberikan jalan masuk.Tuntutan faksi hitam atas peta warisan mendiang penasihat utama membuktikan bahwa ambisi mereka jauh melebihi sekadar hasrat menduduki kursi singgasana ibu kota.Lembaran dokumen kuno yang tersimpan di dalam saku jubah Sang Ratu terasa seberat bongkahan batu besar karena menyimpan rahasia lokasi cadangan emas leluhur.Aset rahasia tersebut sedari awal dipersiapkan untuk menopang kesejahteraan seluruh lapisan masyarakat Rakabuming jika sewaktu waktu negara dilanda krisis finansial yang parah.Namun ji
Keputusan sulit demi stabilitas keamanan menghantam kesadaran Alya saat ia menatap gulungan peta militer yang terbentang di atas meja jati dengan tangan yang masih gemetar hebat.Berita mengenai mundurnya Gibran dari komando tertinggi telah menyebar luas ke penjuru ibu kota secepat kobaran api yang
Cemburu yang menjadi senjata bagi lawan meledak seketika saat Alya menemukan seuntai kalung perak tergeletak di atas meja kerja suaminya dengan inisial nama yang sangat asing.Benda berkilau itu seolah membakar sepasang matanya hingga ia merasa sesak napas karena menyadari bahwa Gibran telah menyim
Hasutan licik untuk memisahkan dua hati itu bekerja lebih cepat daripada racun yang paling mematikan di seluruh daratan kerajaan.Alya berdiri mematung di balik bayangan pilar batu yang sangat dingin sambil memandangi Gibran yang tampak begitu akrab dengan wanita asing berpakaian sutra ungu tersebu
Jarak yang mulai terbentang antara kita terasa sangat nyata saat Alya mendapati kursi di samping tempat tidurnya telah kosong serta menyisakan seprai yang sudah dingin pada pagi buta.Sinar matahari yang menyeruak masuk dari celah jendela seolah olah mengejek kesunyian yang kini merajai kamar kebes







