MasukSudah empat hari berlalu sejak Chyara mengirim balasan surat kepada Mirelle.Pagi itu, kamar yang selama ini menjadi ruang hukumannya terasa berbeda. Tidak lagi sunyi menekan, melainkan terasa tenang seperti jeda sebelum sesuatu dimulai.Chyara duduk di tepi ranjang, ia meregangkan kedua tangannya ke atas kepala, lalu memutar bahunya perlahan. Otot-ototnya terasa kaku setelah berhari-hari dirinya hanya berbaring. Ia menghela napas pelan.“Kurasa sudah cukup beristirahat,” gumamnya lirih. Sorot matanya yang semula tampak santai kini berubah lebih fokus. “Saatnya melanjutkan rencana.”Chyara menoleh ke arah pintu.“Anna.”Tak lama kemudian, terdengar langkah cepat mendekat. Pintu terbuka, dan Anna masuk dengan sikap hormat. Ia membungkuk dalam. “Nona memanggil saya?”“Bantu aku bersiap.”Anna terdiam. Kepalanya terangkat perlahan, wajahnya menunjukkan kebingungan yang tak disembunyikan. “Bersiap…? Maksud Nona, bersiap untuk apa?” Ia tampak ragu. “Apakah Nona ... ingin keluar kamar?” Su
Setelah pengakuan itu, hari-hari berikutnya berjalan lebih tenang.Anna mulai diam-diam masuk ke kamar Chyara setiap pagi dan malam, membawa makanan hangat yang disembunyikan di balik keranjang kain. Langkahnya selalu hati-hati, memastikan tak ada pelayan lain yang melihatnya.Kebetulan, Reynard juga semakin jarang muncul. Sudah beberapa hari cahaya keemasan itu tidak lagi menyelinap masuk lewat jendela. Tidak ada sosok tinggi berambut merah yang duduk dengan wajah dingin di sofa kamarnya. Tidak ada suara dengusan kesal atau tatapan emas yang mengintimidasi.Chyara tidak terlalu memikirkannya. Setidaknya, ia berusaha tidak memikirkannya. Mungkin pria itu sedang bimbang. Atau mungkin sedang berusaha menahan diri dari ketergantungan yang mulai ia sadari sendiri.Apa pun alasannya, ketidakhadirannya memberi Chyara satu keuntungan besar, tangannya bisa beristirahat dari terluka.Meski setiap luka yang dibuat Reynard selalu sembuh dalam sekejap oleh cahaya keemasannya, rasa sakitnya tetap
Chyara bersandar santai di kepala ranjang, satu kaki terlipat malas di atas kasur. Sebuah buku terbuka di tangannya, sementara di sampingnya tergeletak piring kecil berisi potongan buah yang tinggal setengah. Sesekali ia menyuapinya dengan tenang.Sudah satu minggu ia menjalani hukuman dikurung di kamar. Anehnya, ia sama sekali tidak merasa tertekan. Tidak ada jamuan keluarga yang melelahkan, tidak ada tatapan merendahkan dari para pelayan, dan untuk sementara waktu, ia tidak perlu memikirkan Azelia.Namun ketenangan itu hanya berlaku untuk tubuhnya, bukan pikirannya.Perlahan Chyara menutup buku di tangannya, lalu menatap langit-langit kamar. Pikirannya kembali pada kejadian seminggu lalu.Dalam alur novel yang ia ketahui, Chyara-lah yang seharusnya meracuni Azelia dengan menuangkan racun ke dalam minuman. Ia sudah mencegahnya dan tidak melakukan itu, tetapi Azelia tetap teracuni. Dan racun itu bukan berasal dari minuman, melainkan dari kue.Alur cerita telah berubah. Dan perubahan
Chyara tahu ia tidak bisa selamanya memberi darahnya sedikit demi sedikit dan terus melukai dirinya sendiri. Jika hubungan mereka terus bertumpu pada rasa haus Reynard semata, maka suatu hari obsesi itu akan berubah menjadi bahaya.Ia harus mengubah dasar ketertarikan itu. Bukan lagi karena darahnya, melainkan karena dirinya.Reynard adalah makhluk yang hidup dari obsesi dan rasa superioritas. Ia terbiasa ditakuti, dihindari, dan dipatuhi. Pria itu pasti selalu melihat manusia gemetar ketakutan di hadapannya.Maka cara terbaik untuk menarik perhatiannya bukan dengan memohon, melainkan dengan menentang dan membuatnya terusik. Dirinya tidak boleh menunjukkan rasa takut sedikitpun.Dan selama beberapa hari terakhir, taktik itu berhasil.Hari ini, Chyara membuat perhitungan yang lebih berani. Ia tahu risikonya besar. Jika ia salah langkah, Reynard bisa saja benar-benar membunuhnya. Tetapi jika ia berhasil, posisi mereka akan berubah.Dan sepertinya ... cara itu berhasil. M?Reynard menata
Reynard terdiam, ia menatap Chyara beberapa detik. Mata keemasannya bersinar redup, menimbulkan kilatan tajam di sudutnya. “Apa ... kau mencampurnya dengan darahmu?” tanyanya, nada suaranya terdengar ingin tahu. Rasa manis darah Chyara yang tercampur dalam anggur itu begitu nyata, hingga indera Reynard bisa mengenalinya secara langsung. Chyara menatapnya dengan tenang, bibirnya melengkung membentuk senyum tipis. “Itu imbalan atas bantuanmu hari ini,” katanya pelan, suaranya datar namun tegas. “Dan aku akan menunggu bantuanmu di hari-hari berikutnya juga.” Reynard mengangkat sebelah alis, terkejut dan tak percaya mendengar perkataan gadis itu. “Apa ... aku harus melakukannya lagi?” suaranya rendah, nyaris tidak terdengar. Chyara mengangguk cepat, mata birunya bersinar penuh keyakinan. “Tentu saja. Kau harus menemaniku ... sampai hukumanku selesai.” Seketika, tawa pahit terdengar dari mulut Reynard. Ia mendengus kasar, kemudian berdiri dari ranjang dengan gerakan tegas. Jubah
Reynard menyipitkan mata. Aura tajam kembali menguar dari tubuhnya, membuat tirai jendela bergetar pelan meski tak ada angin yang masuk.Ia kemudian mencondongkan tubuh hingga wajah mereka hanya terpisah beberapa inci. Mata keemasannya bersinar redup, menekan dan mengintimidasi.“Kau benar-benar berani,” gumamnya pelan. “Atau mungkin ... terlalu percaya diri.”Telinga rubahnya bergerak sekali, bukan lagi karena senang, melainkan karena rasa penasaran yang terusik.“Biasanya,” lanjutnya lirih, hampir berbisik, “manusia akan gemetar saat aku mengeluarkan aura seperti ini.”Namun, Chyara tidak mundur. Jantungnya berdebar keras hingga terasa di ujung tenggorokan. Telapak tangannya berkeringat di bawah selimut. Tetapi wajahnya tetap tenang.“Kalau begitu,” katanya pelan, “anggap saja aku berbeda dari manusia biasa.”Reynard terdiam. Perlahan, sudut bibirnya terangkat.Chyara menatapnya tanpa berkedip. “Jadi ... apa kau akan mengambil tawaranku?”Reynard tetap menatap Chyara lekat-lekat. Ma







