登入
“Akhhh...!” teriak Suran saat punggungnya dipukul menggunakan rotan kering.
Tangan gadis itu terikat ke dua sisi dinding tua yang lembab, bahkan banyak lumut yang tumbuh. Bau darah menyengat. Padahal, di adalah putri sah, pewaris keluarga Hideria. Kedua penjaga yang senang tiasa menyiksanya itu semakin bersemangat setiap kali Suran memekik kesakitan. “Hahaha... berteriak lah, Nyonya bodoh! Kau pikir akan ada yang peduli padamu?” ucap salah satu penjaga. Suran menangis. Dia benar-benar tidak mengerti kenapa hidupnya jadi kacau balau seperti ini. Selama 7 hari di dalam penjara bawah tanah milik keluarganya sendiri itu, menangislah yang bisa dia lakukan. Semakin berteriak, maka semakin kuat penjaga akan memukulinya. Seluruh tubuhnya penuh luka. Wajah cantiknya dirusak dengan kejam, bahkan dua kukunya dicabut paksa saat dia menjerit, dan mengancam dua penjaga penjara bawah tanah itu. Akan tetapi, mereka justru semakin bersemangat menyakiti Suran. Penderitaannya terlalu dalam, rasanya dia tidak sanggup bertahan lebih lama lagi. Anak yang ada di dalam perutnya, pasti juga sudah tiada. Namun, kemarahannya seperti memaksanya untuk bertahan dalam rasa sakit yang terasa sesak dan mematikan. Suran berteriak keras, “Kalau kesempatan itu ada, aku benar-benar akan membalas kalian semua!!!!!” Beberapa hari yang lalu, Suran tersenyum bahagia. Setelah 5 tahun menanti, akhirnya kebahagiaan itu tiba. Ia menggenggam gulungan surat bersegel merah hasil pemeriksaan dokter terbaik di kota dia tinggal, Ia pun berlari kecil di sepanjang lorong. “Luderin pasti akan sangat bahagia jika tahu hal ini...” gumam suran sambil mempercepat langkahnya. “Suamiku, akhirnya kita akan menjadi keluarga yang sebenarnya.” Namun, ada suara yang tidak seharusnya ia dengar. Dugg! Jantung Suran seolah dipukul keras. Dari dalam sana, terdengar suara desahan yang tertahan. Di susul suara perempuan lirih, namun jelas. Suara laki-laki yang begitu Suran kenal. Aliran darah Suran seolah seketika membeku. “Kak Luderin... jangan terlalu keras menggigit di sana. Ahhh... aku takut ada yang mendengar...” Tubuh Suran mulai terasa lemas. Itu jelas suara Linira, adik tirinya. Gadis yang selama ini suran lindungi mati-matian, rawat sepenuh hati. Ia menelan ludah, tangannya gemetar memegang gulungan surat itu. Tanpa sadar ia melangkah mendekat, tubuhnya bergerak sendiri, seolah ingin memastikan bahwa pendengarannya tidak salah. Perlahan, Suran mendekat ke celah pintu yang sedikit terbuka. Dan ketika ia mengintip, dunia Suran seperti runtuh tanpa ampun. Di dalam ruangan itu, Luderin dan Linira saling merapat. Tangan Luderin berada di pinggang Linira, wajah mereka hanya sejengkal. Linira menahan tawa kecil, sementara Luderin menyibak rambutnya dengan sentuhan intim, bahkan nampak begitu berhasrat. “Kenapa hari ini kau sangat manja, Linira?” suara Luderin rendah, menggoda. Suran menutup mulutnya, menahan isak yang hampir pecah. Gulungan surat bersegel merah di tangannya terjatuh ke lantai tanpa suara. Kabar bahagia yang ingin Ia bagikan lenyap ditelan kenyataan pahit. Suran memegang perutnya yang baru saja diisi harapan kehidupan. “Kenapa kalian melakukan ini padaku? Kenapa...? Padahal aku sudah sangat baik kepada kalian,” bisiknya, namun suaranya terlalu kecil untuk terdengar oleh siapapun. Suran tidak tahu harus melakukan apa. Rasanya, seluruh energi yang dia miliki sudah habis, pergi entah ke mana. Takut akan melakukan hal yang akan dia sesali, Suran memutuskan untuk pergi meninggalkan tempat itu. Dia masuk ke kamarnya, disusul oleh pelayan setianya yang sempat ia minta untuk tidak mengikutinya saat akan pergi menemui Luderin. Pelayan itu nampak khawatir. “Nyonya, apa yang terjadi? Kenapa wajah anda sembab? Apa anda merasa tidak nyaman? Apa perlu saya panggilan tabib untuk memeriksa?” tanya pelayan yang bernama Wulien. Suran jatuh duduk di ranjang tidurnya, ia menatap Wulien dan berkata, “Wulien, tunggu di luar saja. Tidak usah minta siapapun datang. Sekarang aku benar-benar ingin sendiri.” Meski masih bingung dan khawatir, Wulien memutuskan untuk patuh. Ia keluar dari kamar itu, menunggu di luar sampai nanti Suran merasa lebih baik. Suran merasa hatinya benar-benar hancur. Namun, akal sehatnya juga masih bekerja dengan baik kala itu.. “Pria badjingan yang tidak tahu malu itu, aku harus mencari cara untuk menghukumnya. Adik tiri ku yang bermuka dua itu juga, aku harus mencari cara untuk membuatnya paham posisinya. Kalian berdua... aku tidak akan memaafkan kalian!” Suran bangkit. Ia duduk di ujung ruangan, tempat di mana dia biasanya membaca ulang dokumen. Dia mengambil selembar kertas kosong, menuliskan beberapa informasi kejadian hari ini. Hubungan keluarga Hideria dan keluarga kerjaan sangat baik, terjaga selama ini meskipun kedua orang tua Suran telah tiada. Beberapa tahun lalu, mendiang Ayahnya Suran memberikan cincin kuasanya pada Suran, mewariskan semua yang bersangkutan pada Hideria agar terus berjalan dibawah kuasa Suran. Wewenang itulah yang Suran gunakan untuk menikahi pria dari kalangan bawah, menaikkan derajatnya, menjadikan suaminya sebagai pejabat istana, bahkan tidak segan menyokong sampai hal-hal terkecil. “Aku tidak akan memanjakan kalian lagi,” ucapnya sambil menggulung kertas itu. Namun, tiba-tiba saja pintu kamar dibuka dengan kasar. Brak...! “Akh!” Wulien jatuh tersungkur. Suran membeku dalam keterkejutannya. “Wulien—” Beberapa pengawal masuk dengan wajah angkuhnya, lalu Luderin, Linira, dan Ibunya Linira. “Apa yang kalian lakukan?!” bentak Suran. “Sepertinya, istriku sudah bersiap untuk melakukan sesuatu ya?” tanya Luderin, matanya menatap kertas yang ada di tangan Suran dengan tatapan mengancam. Rupanya, Luderin dan Linira sudah tahu kalau Suran mengetahui hubungan mereka. “Kalau saja kau tetap bodoh, kau mungkin bisa hidup sedikit lebih lama lagi. Tapi, kau yang menjemput ajalmu,” ucap Luderin angkuh. Suran pun membelakangkan kertas itu. “Bukan urusanmu. Apa yang kalian lakukan di sini? Sadarkah kalian untuk apa yang kalian lakukan sekarang?!” Wulien menatap Suran dengan tatapan khawatir, “Nyonya, mereka semua penghianat. Bahkan, semua penjaga pun berpihak kepada mereka. Lari, Nyonya! Selamatkan diri anda!” teriaknya frustrasi. Suran merasa takut. Dia bingung harus bagaimana. Semua orang berada di hadapannya, tidak ada jalan untuknya kabur. Linira tersenyum mencemooh, begitu juga dengan Ibunya Linira, Ailin. “Kau pikir seorang pelayan rendahan sepertimu bisa menyelamatkannya? Hemp, mimpi!” Linira menginjak kepala Wulien. “Akh...!” teriak Wulien. Suran semakin terkejut dengan kegilaan itu. “Apa yang kalian lakukan?! Lepaskan Wulien!!!” Sejak itulah Suran dibawa ke penjara, menjalani 7 hari seperti di neraka. Di depan matanya mereka membunuh Wulien dengan kejam sampai jasadnya tidak bisa dikenali. Perut Suran dipukuli setiap hari, diinjak, ditendang oleh Luderin karena tidak Sudi adanya anak itu. Tubuh Suran semakin lemah, tapi di saat paling kritisnya justru harus berhadapan lagi dengan manusia paling terkutuk. Luderin dan Linira datang, menggunakan pakaian khas keluarga Hideria yang artinya Luderin mengambil posisinya sebagai penguasa keluarga Hideria, dan Linira menjadi pengantinnya. Linira dan Luderin mendekat, saling melempar senyum. “Setiap hari sudah dicekoki racun, sebentar lagi pasti mati.” Linira dan Luderin tertawa, menikmati penderitaan Suran tengah meregang nyawa. “Aku bersumpah,” bisik Suran, “jika ada kehidupan selanjutnya, setiap amarah dan rasa sakit ini akan ku balas sejuta kali lebih menyakitkan.” Suran pun menutup matanya. “Nona, Nona...!” Suran kembali membuka matanya. Ia terkejut melihat Wulien di hadapannya, masih hidup!Suran mengarahkan tatapan matanya ke arah lurus, tempat di mana sepasang manusia yang sepertinya habis melakukan sesuatu yang tidak biasa. “Kalian... apa yang kalian lakukan di kamarku?!” Semua orang menjadi tegang, sementara Linira merasakan tubuhnya yang gemetar. Sepasang manusia yang ada di sana itu adalah Ailin dan pria gelandangan. Merasa malu dan bingung, Ailin yang sudah merapihkan pakaiannya itu mencoba untuk terlihat seolah tidak tahu apa yang terjadi, memang seperti itulah kenyataannya. Luderin menatap semakin tajam, merasa kesal karena rencana kali ini pun gagal. Linira menggelengkan kepalanya, masih tidak bisa percaya dengan apa yang dia lihat. “Tidak mungkin. Kenapa bisa Ibu ada di sini. Harusnya kan...” Suran tersenyum tipis, tidak menyangka kalau adegan selanjutnya akan sangat seru seperti ini. Ailin mengelak dengan tegas, “Ibu juga tidak tahu kenapa bisa jadi begini. Ibu ingat kalau tadi Ibu ada di kamar, tidak tahu kenapa sekarang Ibu ada di sini.
Mendengar itu, Suran pun mengepalkan tangannya. “Seberapa parah anjloknya bisnis keluarga Hideria?” “Itu... hampir tidak mungkin bertahan satu tahun kemudian,” jawab Wulien sedih. Suran mengencangkan tangannya mengepal kuat. Di kehidupan sebelumnya, yang dia tahu bisnis keluarga hancur karena nama baiknya yang runtuh karena skandal memalukan sebelum menikah dengan Luderin. Dia mulai tidak peduli dengan bisnis karena dia tahu harta Hideria jelas cukup menopang hidupnya sampai setidaknya tiga generasi. Parahnya lagi, dulu Suran menyerahkan sepenuhnya bisnis keluarga Hideria pada keluarga Luderin. Terlihat maju dan berkembang pesat dari waktu ke waktu, tapi siapa sangka bisnis Hideria nyatanya sudah dipindah tangankan, dan mereka semua berakting seolah mereka telah banyak berjasa. Meski dalam amarah yang mengguncang, Suran mencoba untuk tenang dan berpikir agar mendapatkan jalan keluar yang paling aman dan tepat. “Biarkan saja begitu adanya,” ucap Suran, kini dia nampak se
Pria bernama Greyson tersenyum. Sejenak melihat pada Luderin yang tengah tersenyum penuh harap, ia pun menjawab, “Karena Luderin itu memang temanku, maka aku pasti...” Semakin lebar senyum Luderin, semakin Suran menantikan tanggapan dari pria itu meskipun dia tidak berharap banyak. Luderin berjalan cepat, mulai mengulurkan tangan untuk menerima hadiah itu dengan ekspresi yang makin tidak sabaran. Greyson tersenyum, “Maka aku pasti... tidak akan memberikannya.” Luderin terdiam dalam keterkejutannya. Senyum yang mengembang penuh harapan sebelumnya benar-benar lenyap. “Apa kau bilang?” Suran tersenyum tipis, puas dengan reaksi Greyson yang jauh dari perkiraannya. Santai, Greyson sama sekali tidak terlihat bersalah telah mengatakan itu. “Bagaimana lagi, Luderin? Kau dan aku adalah teman, tidak mungkin kita memperebutkan barang. Lagi pula, kau yang terhormat ini tidak mungkin mau mengambil sesuatu yang sudah diberikan pada temanmu ini, kan?” Hanya bisa terdiam menahan kesal
Suran tersenyum, “Hadiah ini...” ia mengedarkan pandangannya, menikmati momen di mana Luderin benar-benar berpikir barang semahal itu hanya untuk dirinya saja. “Suran, berikan padaku, aku janji akan menjaga pemberian darimu,” ucap Luderin. Pria itu bahkan tidak bisa menyembunyikan senyum di bibirnya. Matanya seolah silau oleh kilau benda itu, bahkan sudah mulai membayangkan bagaimana tatapan iri dan pujian dari pada pejabat istana lain jika melihat dia menggunakan set alat tulis dengan harga yang sangat fantastis.Namun, sayang sekali karena semua gambaran indah di kepalanya seketika lenyap saat Suran kembali membuka mulutnya. “Untuk anda, Tuan bertopeng.”Luderin dan semua orang yang ada di sana benar-benar sangat terkejut mendengarnya. Benar saja, di ujung ruangan ada seorang pria menggunakan topeng di wajahnya. Pria itu duduk dengan santai, sedangkan matanya sejak tadi hanya mengamati tanpa bicara sedikitpun. “Suran, kau ini sedang bicara apa? Kau sedang bercanda, kan?” tanya
“Huek...” Suran tidak tahan, ia mual, namun beruntung suara para tamu di sana tidak akan membuat ada yang menyadari hal itu kecuali Wulien yang ada di belakangnya. “Nona, apa anda baik-baik saja?” tanya Wulien panik. Suran mengangkat tangannya, meminta agar Wulien tidak perlu khawatir dengan kondisinya. “Tenang saja, aku baik. Aku cuma... seperti melihat anjing betina yang sedang birahi sampai terus mengibaskan ekornya.” Wulien benar-benar tidak memahaminya, tapi dia juga tidak bertanya. Suran akhirnya masuk ke dalam. Begitu sosoknya bisa dilihat dengan jelas oleh para tamu, sorotan pun langusng tertuju padanya seakan keberadaan Linira sudah tidak ada lagi artinya. Pakaian Suran tentu lebih terlihat elegan, bahan pakaian yang dia gunakan juga terbuat dari bahan khusus yang semua produknya hanya diperuntukkan pada Suran seorang saja. Riasan wajahnya sederhana karena wajah Suran memang tidak membutuhkan terlalu banyak tambahan riasan. Begitu Suran berdiri, tersenyum pada pa
Plak! Belum sempat pelayanan itu melanjutkan ucapannya, Linira langsung menamparnya. Ya. Tidak boleh sampai mengungkit hal tadi, Suran tidak boleh mencurigainya. Linira melotot pada pelayanan, mengancam tanpa mengatakan apapun. Seketika itu pelayan pribadi Linira terdiam. Meski jelas terlihat dari sorot matanya yang memohon bantuan agar dia tidak dihukum, sayangnya Linira hanya fokus menyelamatkan dirinya. Apapun itu resikonya, akan Linira limpahkan kepada pelayan karena tanggung jawab terburuk tidak boleh datang padanya. Tahu kalau nanti akan jadi masalah besar jika membuka mulut lebih banyak lagi, pelayan pribadi Linira itu pun terdiam. Tangisnya masih terdengar, tapi dia benar-benar pasrah sekarang. “Pengawal, pukul pelayan tidak tahu malu ini, dan buat hukuman juga yang pantas untuk pria liat kurang ajar ini!” titah Linira pada pelayan yang memang selalu ada di sudut kediaman Hideria. Luderin dan Ailin nampak pasrah. Menghukum pelayan itu memang bukan jala







