เข้าสู่ระบบHari-hari di Kediaman Hideria terasa jauh lebih tenang setelah Ailin dan Linira pergi dari sana. Suran bisa tidur tanpa mendengar keributan dari kamar Linira atau menerima laporan mengenai masalah yang dibuat oleh Ailin. Pagi hari pun terasa lebih tenang dan damai. Suran bisa duduk membaca dokumen tanpa harus merasa terganggu. Bahkan malam-malamnya terasa jauh lebih nyaman. Ia berdiri di depan jendela kamar sambil memandang halaman yang diterangi cahaya bulan sempurna. “Jauh lebih tenang. Ternyata suasana yang seperti ini terasa damai dan melegakan.” Wulien yang sedang merapikan beberapa dokumen dagang milik keluarga Hideria hanya tersenyum. Suran kemudian kembali duduk. Namun ketenangan itu bukan berarti ia berniat berhenti untuk bergerak. Justru sekarang, setelah masalah Ailin dan Linira untuk sementara selesai, Suran bisa mengalihkan seluruh perhatiannya kepada satu orang saja. Tuan Lucien yang juga adalah kakeknya sendiri. Pria tua yang selama ini bersem
Suran tersenyum sebelum akhirnya menjawab, “Tuan Kenn. Usia 64 tahun, duda anak 8, memiliki 6 rumah pribadi, ladang, tanah beberapa petak. Menikahlah dengan dia, itu cukup untuk membayar hutangmu.” “A–apa?!” Ailin terduduk lemas di lantai yang dingin. Perintah Suran terngiang-ngiang di kepalanya. Menikah lagi dengan pria tua?? Dengan seorang pria berusia enam puluh empat tahun. Ailin mengepalkan tangannya kuat-kuat sampai kukunya menekan telapak tangan hingga merah. Ia ingin sekali menolak. Namun setiap kali teringat wajah Linira yang masih terbaring lemah di kamar, keberaniannya langsung runtuh tak ber “Kalau saja aku menolak...” gumamnya lirih. “Pengobatan Linira akan terhenti. Dokter mungkin tidak akan datang lagi.” Obat-obatan yang dibutuhkan putrinya pun tidak akan bisa dibeli. Ailin akhirnya menundukkan kepala, lesu. “Baiklah kalau itu maumu.” Suaranya hampir tidak terdengar. “Aku akan melakukannya, apapun yang kau mau.” Suran menatapnya tanpa sedikit
Suran menganggukkan kepalanya, dia ingin bertanya lagi, tapi sempat merasa agak ragu. “Ngomong-ngomong... bagaimana dengan Rey?” Sejenak Wendy terdiam. “Nona, Rey itu sangat aneh. Tidak ada yang tahu dia siapa, rekam jejaknya juga tidak terbaca. Bukankah ini... mengerikan?” Mendengar itu, Suran terdiam sejenak. Tentu saja dia sudah menyadari ini sejak awal. Rey memiliki kekuatan yang besar, tapi pria itu tidak bisa ditebak setiap tindakannya. Semuanya seperti mudah untuk dia hadapi, tapi kadang Suran juga bisa melihat ada ketakutan, rasa sakit, dan kesulitan yang tidak bisa dia ungkapkan. “Mengerikan? Sepertinya semua orang akan berpikir seperti itu. Tapi kadang aku justru merasa sangat kasihan padanya. Aku tidak tahu kenapa, tapi aku bisa merasakan semua itu bahkan tanpa ada alasan yang jelas.” Wulien mendengar itu meskipun Suran hanya seperti bergumam. Dahinya pun berkerut. “Nona, dia pergi kali ini pasti tidak akan kembali. Saya merasa takut kadang kala kalau dekat de
Setelah mendapatkan uang dari Suran, Ailin tidak membuang waktu sedikit pun. Ia segera menggunakan sebagian besar uang tersebut untuk mendatangkan salah satu dokter terbaik yang biasa menangani keluarga bangsawan dan bahkan memiliki pengalaman selama bertahun-tahun merawat keluarga dari lingkungan istana. Biayanya sangat mahal, namun Ailin tidak lagi memikirkan dirinya sendiri sekarang. “Berapa pun biayanya, tolong sembuhkan putriku, biarkan dia kembali seperti semula.” Dokter itu menatap Linira cukup lama sebelum menjawab, “Saya akan melakukan yang terbaik. Tetapi Anda harus memahami bahwa kondisi seperti ini membutuhkan waktu, dan biayanya juga tidak sedikit.” Ailin mengangguk cepat. “Saya tahu, saya pasti sanggup.” Perawatan pun dimulai, tidak ada obat ajaib yang membuat Linira langsung kembali seperti semula. Semuanya dilakukan sedikit demi sedikit, penuh kesabaran. Dokter mulai mengatur waktu tidur Linira, memastikan ia mendapatkan makanan yang cukup, mengurangi ha
Sejak membawa Linira kembali ke Kediaman Hideria, Ailin benar-benar mencurahkan seluruh waktunya untuk putrinya seorang. Ia memanggil dokter satu demi satu memeriksa. Dokter pertama datang membawa berbagai peralatan pemeriksaan. Setelah memeriksa Linira cukup lama, ia hanya menggelengkan kepala dengan ekspresi yang nampak lesu. “Kondisi tubuhnya tidak menunjukkan penyakit yang menjadi penyebab utama perilakunya saat ini.” Ailin langsung bertanya, “Lalu apa yang harus dilakukan sekarang?” Dokter itu menghela napas. “Dia mengalami gangguan berat pada pikirannya. Dengan kondisi seperti ini, pengobatannya tidak akan sederhana, perlu orang yang ahli di bidang ini.” Dokter berikutnya memberikan pendapat yang hampir sama. Dokter lainnya bahkan mengatakan bahwa dirinya tidak mampu menangani kondisi Linira yang sudah separah ini. Setiap kali mendengar kalimat seperti itu, hati Ailin semakin hancur. “Tidak boleh...” Ia menggeleng. “Harus ada cara apapun itu.” Ia tidak ped
Namun, seketika langkah kakinya terhenti kala matanya menatap seorang gadis duduk di tanah yang becek sambil memeluk daun-daun kering di bajunya. “L–Linira....” Ailin akhirnya menemukan Linira di sebuah sudut jalan. “Linira...” Perempuan itu menoleh. Wajahnya kotor, rambutnya berantakan, dan tatapannya nampak kosong. Namun Ailin tetap mengenalinya. “Itu... itu Linira.” Ia berlari menghampiri putrinya lalu langsung memeluknya erat. “Linira! Ini kau?” Tubuh Linira sempat menegang, tetapi tidak melakukan perlawanan sedikitpun. Ailin memegang wajah putrinya dengan kedua tangan. “Biarkan Ibu melihatmu, Nak.” Air mata Ailin langsung jatuh bercucuran. “Ya Tuhan... kenapa kau jadi begini?” Ia menyentuh pipi Linira yang kini jauh lebih kurus. “Benar-benar kau...” Linira hanya menatapnya, beberapa detik kemudian, ia tiba-tiba tertawa sendiri. “Hahaha...” Ailin terdiam. “Linira? Kau kenapa, nak?” Linira memiringkan kepala. “Ibu sudah datang...” Senyum aneh muncul d







