Home / Fantasi / Takdir sang Nona Pewaris / Bab 2 : Aku dan Ambisiku

Share

Bab 2 : Aku dan Ambisiku

Author: Nadira Dewy
last update publish date: 2026-05-21 23:31:07

Suran menggosok matanya beberapa kali, takut kalau itu hanya halusinasinya saja.

“Apa ini? Apa ini bagian dari ingatan ku menjelang mati?” bisiknya pada diri sendiri.

Wulien mengguncang tubuh Suran karena tidak merespon cepat seperti sebelumnya, apa lagi Suran nampak kebingungan.

“Nyonya, ada apa? Anda baik-baik saja?” tanya Wulien yang jadi semakin khawatir.

Suran menatap Wulien, tidak berkedip karena takut akan menghilang begitu dia menutup mata walaupun sedetik.

“Cubit aku!” titah Suran.

Wulien mengerutkan keningnya, bingung dengan permintaan Suran yang begitu aneh.

“Cepat!”

Wulien hanya bisa patuh mencubit Suran.

Sakit!

“Akh!” pekik Suran.

Wulien terkejut, merasa bersalah. “Maaf, Nona. Salah saya terlalu kuat mencubit anda. Maafkan saya, pantas untuk Saya dihukum, Nona.”

Suran tersenyum, matanya sudah penuh cairan. Ia pun bangkit dan memeluk Wulien erat.

“Kau masih hidup. Syukurlah... aku bahagia kau masih hidup, Wulien...” ucap Suran. Suaranya bergetar, bahkan tubuhnya pun juga.

Wulien yang kebingungan itu pun hanya diam saat Suran memeluknya semakin kuat.

Setelah Suran cukup tenang, Wulien mulai bertanya lagi sebenarnya ada apa sampai Suran bisa menangis.

Suran terdiam sejenak, mencoba untuk memastikan semua ini nyata, kesempatan untuknya kembali, memperbaiki jalan hidupnya benar-benar ada.

“Nona, apa anda merasa ada yang tidak nyaman? Kalau iya, saya akan minta penjaga untuk memanggil dokter,” ucap Wulien.

Suran lngsung menggelengkan kepalanya. “Jangan. Aku tidak membutuhkan dokter saat ini. Aku tadi... cuma mimpi buruk. Aku mimpi kau mati dengan cara yang mengenaskan, itu sangat menakutkan, Wulien.”

Dengan sopan, Wulien tersenyum dan mencoba menenangkan sang Nona. “Tidak ada yang perlu ditakutkan, Nona. Semua baik-baik saja, itu cuma mimpi.”

Wulien menuangkan teh untuk Suran. Sambil mendekatkan teh itu pada Suran, Wulien menyambung ucapannya. “Mungkin anda terlalu mengkhawatirkan Tuan Luderin, lalu kelelahan menunggu beliau berkunjung sampai ketiduran di sini. Mimpi anda buruk pasti karena sedang kacau, Nona.”

Suran mengacuhkan tehnya, dia justru kembali fokus melihat di mana dia sekarang. Di halaman rumah, menunggu Luderin yang akan datang setelah mengikuti ujian istana.

Mata Suran menyipit. “Hari ini... Luderin mengikuti ujian istana?” bisiknya.

Sejenak dia terdiam. Tangannya mencengkram kain pakaian hangat ia gunakan.

“Aku kembali ke tahun di mana aku begitu mengejar cinta Luderin. Andai saja aku bisa kembali ke satu tahun sebelumnya lagi... apakah aku bisa mencegah kematian Ayah?” batinnya.

Sesak sekali, dia merasa kecewa karena meski kembali ke beberapa tahun, masanya tetap pada saat Ayahnya telah tiada.

“Tidak, aku harus menyelesaikan masalah dengan Luderin. Aku juga harus membalas semua perbuatannya. Tidak tahu apakah itu hanya mimpi buruk saja atau bukan, tapi aku akan tahu jika sudah mengujinya,” batinnya.

Suran pun mengarahkan tatapannya pada Wulien. “Apa kau tahu sampai di mana Luderin sekarang?”

“Kabarnya, Tuan Luderin sudah menyelesaikan ujiannya. Jadi jika Tuan Luderin benar-benar datang berkunjung, mungkin akan sampai menjelang sore,” jawab Wulien.

Suran mengepalkan tangannya. Apa yang diucapkan Wulien barusan sama persis seperti pada ingatannya.

“Kalau tidak salah, setelah ini Wulien hampir jatuh terpeleset karena hujan kemarin membuat lantai licin,” batinnya.

Benar saja, saat Wulien akan membantu menyingkirkan teh yang sudah dingin, dia terpeleset dan hampir saja jatuh jika tidak berpegangan pada penyangga di dekatnya.

“Ya ampun!” Wulien memegang dadanya, seperti itulah reflek Wulien saat dia sedang terkejut.

Dug!

Jantung Suran berdetak dengan sangat keras. Semua kejadian yang ada dalam ingatannya benar-benar terjadi, maka itu artinya, mimpi buruk itu akan segera jadi kenyataan jika tidak dihentikan.

Gret....

Suran mengepalkan tangannya. “Semua pengkhianat yang ada di kediaman Hideria ini akan aku singkirkan satu persatu, akan ku balas tuntas setiap perbuatan kalian kepadaku, anak yang belum lahir itu, dan Wulien,” batinnya.

Suran pun bangkit. Tatapan matanya kini menjadi dingin, padahal beberapa saat lalu sebelum dia ketiduran, tatapan wajahnya benar-benar terlihat hangat khawatir, dan tentu sosok yang dikhawatirkan olehnya adalah calon suaminya yang sedang dalam perjalanan.

Sayangnya, tatapan seperti itu lagi dengan hati yang tulus tidak akan pernah terjadi di kemudian hari.

“Mulai saat ini, Kau adalah musuh yang sebenarnya, Luderin. Akan ku buat kematianmu jauh lebih mengenaskan daripada Apa yang kau lakukan padaku di kehidupan sebelumnya,” gumam Suran dan hanya dia saja yang bisa mendengarnya.

Begitu masuk ke dalam kamar, hal pertama yang Suran lakukan adalah menyelematkan semua aset milik keluarga Hideria.

Suran menatap lurus dan dingin sambil menatap kertas di meja. “Luderin, waktu itu kau bisa lulus ujian istana karena uluran tanganku. Sekarang, mari kita lihat apa kau memiliki kemampuan jika tidak ada tanganku di sisimu.”

Sore harinya, Luderin datang ke kediaman Hideria.

Suran menyambut di depan gerbang, Linira juga ikut. Gadis itu nampak lebih tidak sabaran dibanding Suran.

“Kak, kau pasti sudah merindukan Kak Luderin, ya?” tanya Linira. “Aku juga sudah tidak sabar melihat calon kakak ipar. Malam nanti kak Luderin pasti akan memberikan kita oleh-oleh seperti biasanya, kan?”

Mendengar itu, Suran tersenyum seperti biasanya dia menghadapi Linira. Dulu, dia merasa bahagia karena Linira peduli pada calon kakak iparnya, menganggap kalau semua itu wajar.

Namun, sekarang Suran paham seberapa bodohnya dia selama ini.

Jelas sekali kedekatan antara Linira dan Luderin tidak wajar, tapi bodohnya dia justru merasa bahagia dengan hal itu, menikmati kebodohannya yang akut.

Cara Linira merias diri, berpakaian yang tidak biasa, bahkan senyumnya yang menggoda saat melihat Luderin, semuanya begitu nyata.

“Bahagia lah selagi bisa. Aku yakin tidak lama dari ini hidup mu akan penuh dengan kejutan. Linira, aku harap kau juga menikmati permainan ini,” batin Suran.

Akhirnya Luderin datang.

Bukan Suran, melainkan Linira yang berlari cepat menghampiri Luderin, persis seperti di kehidupan sebelumnya.

Tidak masalah, Suran akan membiarkan semua terjadi seperti sebelumnya.

“Kak, akhirnya kau datang,” ucap Linira sambil memeluk lengan Luderin.

Luderin pun tersenyum, tidak merasa salah membiarkan Linira terus memeluk lengannya.

Sementara itu, entah kenapa tatapan mata suran beralih pada pria yang turun dari kereta setelah Luderin. Pria itu benar-benar misterius.

Tiba-tiba saja Suran merasa penasaran, tapi saat ingat kalau pria itu teman baik Luderin, Suran pun langsung merinding.

“Pasti sifatnya sama brengseknya seperti Luderin. Akan lebih baik kalau tidak usah peduli,” gumamnya.

Luderin datang menghampiri, tersenyum pada Suran lalu mengulurkan tangan untuk menyentuh tangan Suran tanpa melepas lengannya dari Linira.

Suran langsung menarik tangannya, beberapa detik ekspresinya seperti jijik, tapi langsung ia perbaiki dan tersenyum.

“Luderin, apa tidak lebih baik kau cuci tangan dulu?” ujar Suran reflek.

Luderin mengerutkan keningnya. “Apa aku kotor di matamu?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
ORTYA POI
Risih juga adik harus tinggal bersama dalam satu rumah tergantung diri juga
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Takdir sang Nona Pewaris   Bab 125 Aku Bersedia

    Rey tengah mengelap pedangnya. Selama di kediaman Hideria, dia tidak pernah menggunakan pedang itu, padahal sebelumnya dia hampir setiap hari membasahi pedang tajam itu dengan darah. “Obat-obatan dari dokter terbaik benar-benar memberikan kesembuhan yang cepat. Sedikit lagi, aku hanya perlu bersabar sebentar. Setelah semua ini selesai... akan kupastikan semua berjalan sesuai dengan jalan yang sudah ditentukan.” Tiba-tiba saja pintu kamarnya ada yang mengetuk. Tok tok tok. Rey langsung menyimpan pedangnya, meletakkan di atas meja. Pintu terbuka, Suran berdiri di ambang pintu dengan tatapan yang sedikit terkejut. “Apa yang baru saja kau lakukan?” tanya Suran. Greyson tersenyum sambil terus menatap Suran yang berjalan masuk untuk dekat dengannya. “Hanya memastikan pedangku tidak berkarat,” jawabnya jujur. Meski jawaban itu terdengar masuk akal, namun Suran langsung paham apa yang sebenarnya dipikirkan Greyson. “Rey, berapa lama kaya berencana tinggal di kedia

  • Takdir sang Nona Pewaris   Bab 124 Sesuai Perintah

    Beberapa saat setelah Pangeran Keenam pergi, pintu ruang kerja Suran kembali terbuka. Suran yang sedang memandangi dokumen di atas meja langsung mengangkat wajah. Greyson masuk setelah memastikan lorong di luar benar-benar sepi. Begitu melihatnya, Suran langsung mengerutkan kening. “Kenapa kau datang ke sini?” Greyson menutup pintu perlahan. “Kondisimu belum benar-benar pulih,” timpal Suran. Greyson justru tersenyum. “Aku sudah jauh lebih baik sekarang.” “Itu bukan berarti kau sudah sembuh.” Suran menatapnya dengan kesal. “Dokter bahkan masih melarang mu terlalu banyak bergerak.” “Aku hanya berjalan dari kamarku ke sini.” “Itu tetap saja terlalu banyak untuk orang yang baru beberapa hari lalu hampir mati.” Greyson terkekeh pelan. Namun senyum itu tidak bertahan lama. Tatapan matanya berubah serius, ia berjalan mendekati meja Suran. “Dia sudah pergi?” Suran tahu siapa yang dimaksud. “Pangeran Keenam?” Greyson mengangguk. “Sudah.” “Dia datang untuk apa?”

  • Takdir sang Nona Pewaris   Bab 123 Penolakan Suran

    “Apa?!” Rey atau Greyson tersenyum, namun senyum itu justru terasa begitu pahit. “Begitulah. Takhta diperebutkan tanpa peduli darah, tanpa peduli saudara. Aku tidak mau seperti ini, tapi masalahnya pangeran yang menginginkan takhta begitu menyeramkan.” “Aku pernah mengatakan kalau aku mundur saja, Aku menyerahkan kemungkinan ku untuk meneruskan tahta kepada pangeran yang lain, tetapi Yang Mulia menolak keras.” Suran benar-benar tidak habis pikir. “Kenapa kau tidak memiliki kesempatan itu? Kalaupun kau satu-satunya Pengaran yang dianggap memiliki kemampuan, tapi kau juga berhak mengambil keputusan, kan?” Greyson menghela napasnya. “Begitulah. Aku sudah dibiasakan sejak kecil untuk bertahan dari berbagai macam masalah. Ibarat jatuh terperosok sampai ke dasar jurang, aku hanya harus merangkak naik.” Suran pun menggelengkan kepalanya. “Aku benar-benar tidak mengerti kenapa kehidupan istana begitu rumit.” Mendengar itu, Greyson pun terdiam untuk beberapa saat. “Suran... apa per

  • Takdir sang Nona Pewaris   Bab 122 Greyson, Pangeran ke-9

    Rey terdiam cukup lama. Tatapan Suran tidak pernah beralih darinya. Pada akhirnya, Rey menganggukkan kepalanya. “Iya.” Satu kata itu membuat Suran menahan napas, terdiam. Meskipun selama ini sudah ada begitu banyak petunjuk, mendengar pengakuan itu secara langsung tetap membuat pikirannya terasa kosong. Rey melanjutkan. “Dan juga pria yang menyelamatkan Luderin dulu.” Suran menatapnya dengan tatapan tidak percaya. Rey tidak mencoba mengelak lagi. “Semua itu bukan bagian dari rencanaku. Ketika aku menyelamatkan Luderin, aku sedang menggunakan identitas lain. Aku tidak pernah berniat membuat siapa pun mengetahui siapa diriku sebenarnya.” “Lalu kenapa kau menjadi Rey?” “Karena keadaan memaksaku.” Rey menatap Suran dengan serius. “Setelah beberapa kejadian, penyamaranku semakin dalam. Aku tidak bisa begitu saja kembali ke istana. Semakin lama aku menggunakan identitas Rey, semakin banyak orang yang mengenalku dengan nama itu.” Dia tersenyum tipis. “Pada akhirnya aku se

  • Takdir sang Nona Pewaris   Bab 121 Nama Pangeran Ke-9

    “Wajahmu merah sekali, kau grogi ya?” ledek Rey. Suran menepis tangan Rey sambil berdecih sebal. “Siapa yang grogi? Jangan gila.” Mendengar itu, Rey pun hampir tertawa. “Sudahlah, kau kembali istirahat saja. Aku juga harus bekerja,” ucap Suran yang langsung ditanggapi senyuman dari Rey. Rey pun menurut saja. Selama satu minggu berikutnya, Suran benar-benar membantu merawat Rey. Semua yang diperintahkan dokter berusaha ia lakukan sendiri. Mulai dari memastikan Rey meminum obat tepat waktu, membantu menyiapkan makanan, memastikan ia cukup beristirahat, hingga mengganti perban ketika diperlukan. Tentu saja, untuk beberapa hal seperti mandi dan keperluan pribadi lainnya, Suran tetap menyerahkannya kepada pelayan. Namun selain itu, hampir semuanya dilakukan sendiri oleh Suran. “Minum obatnya.” Suran menyerahkan obat kepada Rey. Rey menerimanya tanpa banyak bicara. “Setelah itu tidur.” Rey mengangguk. Kadang-kadang rasa sakit masih terasa di sekujur tubuhnya.

  • Takdir sang Nona Pewaris   Bab 120 Grogi

    Suran mengepalkan tangannya. Memikirkan itu membuat jantungnya berdegup cepat seperti ingin meledak. Ia pun membuang napas pelan sambil memejamkan matanya, mencoba untuk tenang karena sekarang yang paling penting adalah bagaimana Rey bangun dan melewati masa kritisnya. “Sudahlah... pikirkan saja nanti.” Tiga hari berlalu. Selama tiga hari itu, Rey sama sekali tidak sadarkan diri, bahkan tidak ada pergerakan. Suran hampir tidak pernah meninggalkan kamar. Dokter terbaik yang ia datangkan dari istana bahkan diminta untuk tetap tinggal sementara di kediaman Hideria agar dapat segera memberikan pertolongan jika kondisi Rey kembali memburuk. Pagi itu, Suran sedang duduk di samping tempat tidur sambil membaca sebuah dokumen. Namun tiba-tiba jari Rey bergerak. Suran langsung mengangkat wajah. Matanya membesar ketika melihat kelopak mata pria itu perlahan terbuka. “Rey?” Dokumen di tangannya segera ia letakkan. “Rey, kau sudah sadar?” Suran tersenyum lega, buru-buru berj

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status