Home / Fantasi / Takdir sang Nona Pewaris / Bab 106 Pahit Dalam Manis

Share

Bab 106 Pahit Dalam Manis

Author: Nadira Dewy
last update publish date: 2026-08-25 20:03:06

Suran tersenyum sebelum akhirnya menjawab, “Tuan Kenn. Usia 64 tahun, duda anak 8, memiliki 6 rumah pribadi, ladang, tanah beberapa petak. Menikahlah dengan dia, itu cukup untuk membayar hutangmu.”

“A–apa?!”

Ailin terduduk lemas di lantai yang dingin.

Perintah Suran terngiang-ngiang di kepalanya.

Menikah lagi dengan pria tua?? Dengan seorang pria berusia enam puluh empat tahun.

Ailin mengepalkan tangannya kuat-kuat sampai kukunya menekan telapak tangan hingga merah.

Ia ingin sekal
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Takdir sang Nona Pewaris   Bab 123 Penolakan Suran

    “Apa?!” Rey atau Greyson tersenyum, namun senyum itu justru terasa begitu pahit. “Begitulah. Takhta diperebutkan tanpa peduli darah, tanpa peduli saudara. Aku tidak mau seperti ini, tapi masalahnya pangeran yang menginginkan takhta begitu menyeramkan.” “Aku pernah mengatakan kalau aku mundur saja, Aku menyerahkan kemungkinan ku untuk meneruskan tahta kepada pangeran yang lain, tetapi Yang Mulia menolak keras.” Suran benar-benar tidak habis pikir. “Kenapa kau tidak memiliki kesempatan itu? Kalaupun kau satu-satunya Pengaran yang dianggap memiliki kemampuan, tapi kau juga berhak mengambil keputusan, kan?” Greyson menghela napasnya. “Begitulah. Aku sudah dibiasakan sejak kecil untuk bertahan dari berbagai macam masalah. Ibarat jatuh terperosok sampai ke dasar jurang, aku hanya harus merangkak naik.” Suran pun menggelengkan kepalanya. “Aku benar-benar tidak mengerti kenapa kehidupan istana begitu rumit.” Mendengar itu, Greyson pun terdiam untuk beberapa saat. “Suran... apa per

  • Takdir sang Nona Pewaris   Bab 122 Greyson, Pangeran ke-9

    Rey terdiam cukup lama. Tatapan Suran tidak pernah beralih darinya. Pada akhirnya, Rey menganggukkan kepalanya. “Iya.” Satu kata itu membuat Suran menahan napas, terdiam. Meskipun selama ini sudah ada begitu banyak petunjuk, mendengar pengakuan itu secara langsung tetap membuat pikirannya terasa kosong. Rey melanjutkan. “Dan juga pria yang menyelamatkan Luderin dulu.” Suran menatapnya dengan tatapan tidak percaya. Rey tidak mencoba mengelak lagi. “Semua itu bukan bagian dari rencanaku. Ketika aku menyelamatkan Luderin, aku sedang menggunakan identitas lain. Aku tidak pernah berniat membuat siapa pun mengetahui siapa diriku sebenarnya.” “Lalu kenapa kau menjadi Rey?” “Karena keadaan memaksaku.” Rey menatap Suran dengan serius. “Setelah beberapa kejadian, penyamaranku semakin dalam. Aku tidak bisa begitu saja kembali ke istana. Semakin lama aku menggunakan identitas Rey, semakin banyak orang yang mengenalku dengan nama itu.” Dia tersenyum tipis. “Pada akhirnya aku se

  • Takdir sang Nona Pewaris   Bab 121 Nama Pangeran Ke-9

    “Wajahmu merah sekali, kau grogi ya?” ledek Rey. Suran menepis tangan Rey sambil berdecih sebal. “Siapa yang grogi? Jangan gila.” Mendengar itu, Rey pun hampir tertawa. “Sudahlah, kau kembali istirahat saja. Aku juga harus bekerja,” ucap Suran yang langsung ditanggapi senyuman dari Rey. Rey pun menurut saja. Selama satu minggu berikutnya, Suran benar-benar membantu merawat Rey. Semua yang diperintahkan dokter berusaha ia lakukan sendiri. Mulai dari memastikan Rey meminum obat tepat waktu, membantu menyiapkan makanan, memastikan ia cukup beristirahat, hingga mengganti perban ketika diperlukan. Tentu saja, untuk beberapa hal seperti mandi dan keperluan pribadi lainnya, Suran tetap menyerahkannya kepada pelayan. Namun selain itu, hampir semuanya dilakukan sendiri oleh Suran. “Minum obatnya.” Suran menyerahkan obat kepada Rey. Rey menerimanya tanpa banyak bicara. “Setelah itu tidur.” Rey mengangguk. Kadang-kadang rasa sakit masih terasa di sekujur tubuhnya.

  • Takdir sang Nona Pewaris   Bab 120 Grogi

    Suran mengepalkan tangannya. Memikirkan itu membuat jantungnya berdegup cepat seperti ingin meledak. Ia pun membuang napas pelan sambil memejamkan matanya, mencoba untuk tenang karena sekarang yang paling penting adalah bagaimana Rey bangun dan melewati masa kritisnya. “Sudahlah... pikirkan saja nanti.” Tiga hari berlalu. Selama tiga hari itu, Rey sama sekali tidak sadarkan diri, bahkan tidak ada pergerakan. Suran hampir tidak pernah meninggalkan kamar. Dokter terbaik yang ia datangkan dari istana bahkan diminta untuk tetap tinggal sementara di kediaman Hideria agar dapat segera memberikan pertolongan jika kondisi Rey kembali memburuk. Pagi itu, Suran sedang duduk di samping tempat tidur sambil membaca sebuah dokumen. Namun tiba-tiba jari Rey bergerak. Suran langsung mengangkat wajah. Matanya membesar ketika melihat kelopak mata pria itu perlahan terbuka. “Rey?” Dokumen di tangannya segera ia letakkan. “Rey, kau sudah sadar?” Suran tersenyum lega, buru-buru berj

  • Takdir sang Nona Pewaris   Bab 119 Hilangnya Pangeran Ke-9

    “Keadaan Tuan Rey benar-benar kritis. Banyak sekali lukanya, darahnya sudah banyak yang terbuang. Kita cuma bisa berdoa saja sekarang.” Suran melotot tak percaya. “Apa...?” Ia pun menggelengkan kepalanya, “Tidak boleh. Datangkan dokter terbaik, dia harus selamat.” Beberapa saat kemudian, Rey mendapatkan perawatan terbaik yang bisa diberikan Hideria. Begitu dokter terbaik dipanggil, seluruh perlengkapan pengobatan segera disiapkan. Tidak ada satu pun luka Rey yang dibiarkan tanpa penanganan. Suran bahkan memutuskan agar Rey tetap berada di kamarnya. Ia ingin memastikan pria itu berada di tempat yang paling mudah diawasi. Sepanjang malam, Suran hampir tidak meninggalkan sisi tempat tidur Sesekali ia memeriksa wajah Rey, sesekali ia melihat perban yang membalut tubuh pria itu, dan setiap kali napas Rey terdengar sedikit lebih berat, jantung Suran ikut berdegup kencang. “Nona, sebaiknya Anda beristirahat.” Dokter yang baru selesai memeriksa Rey berdiri di samping tempat

  • Takdir sang Nona Pewaris   Bab 118 Kedatangan Rey Mengejutkan

    Sore itu, Suran sedang duduk di ruang kerjanya ketika seorang kepercayaannya datang membawa kabar. “Nona.” Suran mengangkat wajah. “Bagaimana keadaan Linira? Sudah lama aku tidak tahu keadaannya.” “Ingatan Nona Linira mulai kembali. Dokter mengatakan kondisinya menunjukkan perkembangan yang cukup baik.” Mendengar itu, Suran justru tersenyum. “Benarkah?” “Benar, Nona.” Suran menyandarkan tubuhnya pada kursi. Untuk sesaat, ia hanya diam kemudian senyum tipis muncul di bibirnya. “Kalau begitu, berikan lebih banyak uang kepada dokter yang merawatnya.” Orang kepercayaannya sedikit terkejut. “Lebih banyak uang?” “Ya.” “Pastikan semua kebutuhan pengobatannya terpenuhi.” Suran mengambil cangkir teh di hadapannya. “Jangan sampai dia kekurangan obat atau perawatan hanya karena masalah uang.” Orang itu mengangguk. “Baik, Nona.” Ia kemudian ragu sejenak sebelum bertanya, “Namun... mengapa Nona begitu memperhatikan keadaan Nona Linira?” Suran tertawa kecil. “Karena aku ingin

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status