Share

CHAPTER 1

*HAPPY READING🦋

Aqilla keluar dari gerbang sekolah melihat kearah langit yang mendung. Mungkin sore ini akan turun hujan. Aqilla menyeberang jalan untuk pergi ke halte seberang jalan, ia akan naik bus sore ini karena ayahnya sedang sibuk. Sebenarnya ayah Aqilla adalah seseorang yang otoriter tapi karena kesibukan ayahnya, Aqilla diperbolehkan naik bus. Langit masih gelap, segelap hidup Aqilla selama ini. 

Aqilla merenung, entahlah apa yang ia renungkan. Aqilla Mengingat laki-laki menyebalkan itu. Laki-laki yang akhir-akhir ini mendekatinya yang tidak sengaja bertemu di mushola sekolah.  Aqilla merasa kepalanya sedang berputar putar jika mengingatnya.

"Mau gue anter pulang?" Aqilla kaget dengan suara itu. 

Suara laki-laki yang tadi siang ia temui. Baru juga Aqilla memikirkannya, orangnya sudah berada di hadapannya sekarang. Aqilla menolak ajakan Maxime dengan menggeleng. 

Maxime berecak. "Mau ujan, ayo." Maxime berucap tanpa turun dari motor. 

"Saya gak mau. Saya mau naik bus," ucap Aqlla dengan kekeh. 

Maxime turun dari motor dan melepas helmnya. Lalu berjalan menghampiri Aqilla. Maxime berkacak pinggang. Sedangkan Aqilla mendongak menatap wajah menyebalkan Maxime. Jaraknya lumayan karena Aqilla duduk dan Maxime berdiri. 

Maxime menarik tangan Aqilla untuk berdiri. "Jangan batu ayo ikut." 

Aqilla berontak, berusaha melepaskan cekalan tangan Maxime. Namun Maxime malah mengeratkan cekalannya. "Saya gak mau. Saya mau naik bus." 

Maxime menggeleng kenapa ada manusia seperti Aqilla. Harusnya Aqilla bersyukur akaan ditebengi pulang oleh Maxime. Disaat orang lain antri ingin diantar pulang olehnya. Maxime menatap Aqilla dengan intens. Terlihat bekas jerawat yang ia lihat tadi siang. 

"Kenapa liatin saya? Mau mata kamu saya colok?" Maxime merinding mendengar ucapan Aqilla. Wanita yang sangat kasar menurut Maxime. Tapi Maxime akan tetap mendekatinya. 

"Yuk gue anter?" Aqilla malah jijik dengan nada nicara Maxime yang melembut. 

Aqilla berontak lagi berusaha melepas cekalan tangan Maxime. Ia yakin pasti tangannya sudah memerah karena cekalan kuat itu. 

"Saya gak mau pulan sama kamu! Lepasss sakit," mendengar itu Maxime langsung melepas tangan Aqilla. Dan benar saja ada bekas memerah di tangan Aqilla. 

Maxime jadi merasa bersalah. "Eh maaf sumpah gak sengaja,"

"Bodoamat!" 

Rasanya Aqilla ingin memukul Maxime sekarang tapi masih ia tahan karena berperi kemnusiaan. Aqilla langsung pergi begitu saja meninggalkan Maxime. Tapi baru satu langkah hujan turun begitu deras. 

"Nahkan apa gue bilang? Ujan kan?" sindiri Maxime yang sedang menyender di tiang halte. 

Bahu Aqilla merosot malas jika berdekatan dengan Maxime. Aqilla berjalan ke tempat duduk halte lalu duduk disana. Udara terasa dingin dan Aqilla tak memakai switter ataupun jaket sedangkan Maxime menggunakan jaket tebal kesukaannya. 

Aqilla berpikir jika ia menggunakan jaket itu pasti akan sangat hangat. Maxime yang merasa diperhatikan pun menoleh. Melihat Aqilla yang memperhatikan jaketnya. Maxime peka melepas jaket itu lalu memberikannya pada Aqilla. 

Aqilla terkaget. "Eh?" 

"Gakpapa pake aja dingin kan?" ganya Maxime sambil tersenyum manis. 

Karena Aqilla berkepala batu, ia kembalikan lagi jaket itu pada pemiliknya. Sedangakan Maxime menarik nafas panjang. Ia sudah tau pasti akan ditolak lagi. Maxime tak pantang menyerah ia memakaikan lagi jaket itu. 

"Gue tau lo dingin makanya pake aja." Aqilla diam dan memakai jaket itu. Aroma parfum Maxime yang semerbak. Wangi khas laki-laki. 

Maxime kembali bersender pada tiang halte yang menurut Aqilla sangat dingin. Aqilla berpikir apakah laki-laki itu tidak kedinginan apalagi dengan beridi seperti itu. 

"Duduk sini," Aqilla menepuk samping bangkunya yang kosong karena merasa kasihan pada Maxime. 

Maxime menggeleng. Lebih enak berdiri sambil menghayal fikirnya.  Maxime mengulurkan tangannya untuk menadah pada air hujan yang turun. Ia tak memperdulikan motor dan helmnya yang basah. Tinggal pilih di rumah ada banyak. 

"Kamu nggak pulang?" tanya Aqilla. Aqilla ini bodoh atau bego sih? Sudah jelas masih hujan. 

"Lo gak liat ini masih hujan?" Aqilla menggaruk tengkuknya yang tidak gatal merasa bodoh akan pertanyaannya barusan. 

Maxime tertidur dengan bersandar di tiang halte karena udara yang dingin. Dingin menerpa kaki Aqilla. Apakah tiang itu tidak dingin? Atau Maxime berkulit tebal sampai sampai tertidur di tiang itu. Aqilla juga melihat motor dan helm Maxime yang kehunanan. Dasar orang kaya raya nggak pernah mikirin gituan pikir Aqilla. 

30 menit kemudian hujan mulai reda. Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore, semoga ayah Aqilla belum pulang. Terlihat pelangi yang berada di jalan akibat solar yang terkena air.

Maxime mengerjapkan matanya kala merasa ada sesuatu yang diletakkan di bahunya. "Eh udah terang ya?" tanya Maxime yang melihat hujan sudah berhenti. 

"Menurut kamu?" ucap Aqilla yang sudah berdiri di pinggir trotoar. Cepat sekali perempuan itu bergerak. 

"Gu-" Belum selesai Maxime berucap Aqilla sudah masuk kedalam taxi yang ia stop. 

Wajah Maxime menjadi cemberut, baru akan modus lagi tapi Aqilla sudah pergi. Sedangkan Aqilla di dalam taxi berdoa semoga ayahnya belum pulang. Tapi harusnya ayahnya paham bahwa sore ini hujan. 

Semerbak bau parfum maxime kembali tercium karena menempel pada baju Aqilla. Bau yang menenangkan pikir Aqilla. Tapi, jangan sampai dirinya menyukai orang itu. Semoga. Apalagi perbedaan itu ada. 

* * *

Maxime duduk di atas kasur empuk miliknya sambil bermain game online. Maxime melihat ke luar jendela, wajah kesal Aqilla tadi sore muncul. Maxime tertawa renyah, merasa bahwa orangnya benar benar ada di hadapannya. 

"Maxime," Maxime benar-benar terkejut. Ternyata ada Tyas alias Mamanya yang ada di hadapannya sekarang ini. 

Maxime mengelus dadanya merasa kaget. "Makan Max. Udah diteriakin juga dari tadi," kata Mamanya yang mungkin sudah sebal padanya. 

Maxime meringis lalu meminta maf pada mamanya. Mereka berdua lalu lalu turun ke meja makan. Sudah ada papanya yang duduk dimeja makan Dahi Maxime berkerut kala tak melihat keberadaan abangnya. 

"Abang mana?" tanya Maxime yang sudah duduk di kursi makan. 

"Abangmu nginep di apartemen," 

Maxime hanya mengangguk-aguk sebagai jawaban. Abangnya sudah berusia 24 tahun tapi sudah menjadi arsitek hebat. Abangnya juga jarang pulang karena banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan di apartemen. Berbanding terbalik dengan dirinya yang selalu keluar masuk ruang bk. 

Anggara menatap anak bungsunya yang tengah mengambil sepotong ayam. "Max jangan lupa bentar lagi kamu bakal lanjut di Singapur," 

Maxime yang baru menggigit paha ayam langsung tersedak. Ia melupakan perjanjian itu, Anggara bukan tipe ayah yang terlalu memaksa tapi harus komitmen dengan satu perjanjian. Dan beberapa bulan lalu Maxime sudah berjanji akan melanjutkan sekolahnya di Singapur. 

"Udah lanjutin makannya jangan mengobrol mulu," peringat Tyas yang sangat tidak suka melihat orang berbicara saat sedang makan. Tyas tipe mama yang mudah diajak kompromi, tidak pernah melarang ini itu asal itu tidak membahayakan dirinya. 

Sedangkan Maxime masih melamun memikirkan pindahannya. Tapi, ia sudah berjanji untuk melakukan itu. Siapa tau papanya akan memintanya tetap disini saat Maxime membawa Aqilla kemari. Siapa tau, iya kan? 

-Bersambung

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status