Share

Bab 4

Author: Antonia
Keesokan harinya, bahkan sebelum langit terang, kepala dayang dari Istana Kencana sudah datang.

Dia mengatakan bahwa semalam saat Aji meninggalkan istana Arum, ekspresi Aji tampak tidak senang. Hal itu pasti karena Arum tidak melayani dengan baik dan telah membuat Aji marah, sehingga Ranti harus memberi pelajaran tentang tata krama kepada Arum.

Sisa-sisa salju membasahi jalanan istana dan angin pelan di pagi hari terasa setajam pisau.

Ketika Arum tiba di pelataran depan Istana Kencana, Ranti sedang duduk di serambi, mengenakan jubah bulu rubah sambil memegang penghangat tangan.

"Selir Arum, apa kamu mengakui kesalahanmu?" Ranti bertanya dengan santai.

Bukan hanya Ranti yang ada di sana, tetapi juga beberapa selir yang sedang datang memberi salam, serta para pelayan yang kebetulan lewat.

"Kamu kemarin membantah Yang Mulia hingga membuat Yang Mulia murka, apa itu benar?" Ranti duduk tegak di kursinya sambil memainkan pelindung kukunya.

Arum berlutut. "Hamba tidak berani."

"Tidak berani?" Ranti terkekeh pelan. "Aku mendengar kalau Yang Mulia keluar dari istanamu semalam dengan wajah yang sangat buruk. Sebagai selir, kamu tidak mampu meringankan beban Yang Mulia dan malah membuat beliau tidak senang. Apa hukumanmu?"

"Hamba ini orang bodoh, mohon Permaisuri memberi petunjuk."

"Apa kamu tahu kesalahanmu?" Ranti bertanya dengan santai.

Arum berlutut memberi hormat. "Hamba ini orang bodoh, mohon Permaisuri memberi petunjuk."

"Bodoh? Menurutku, kamu terlihat penuh intrik!"

Suara Ranti mendadak berubah tajam. "Kemarin Yang Mulia sudah merendahkan diri untuk menjengukmu, tapi kamu tidak tahu terima kasih dan malah membuatnya murka sampai pergi! Apa ini tata krama yang diajarkan oleh Keluarga Kalandra? Apa ini didikan dari wanita paling berbakat di ibu kota?"

Arum tetap menundukkan kepala, tangannya di dalam lengan baju sedikit mengencang.

"Tampaknya, kamu tidak terima."

Ranti terkekeh sinis. "Baiklah, karena tata kramamu belum matang, biar aku sendiri yang akan mengajarimu hari ini. Berlututlah di jalanan istana ini dan rapalkan Kitab Wejangan Wanita serta Pendidikan Internal sebanyak seratus kali. Kamu baru boleh berdiri setelah selesai. Biar seisi istana harem melihat, apa akibatnya kalau tidak menghormati Yang Mulia dan tidak tunduk pada Permaisuri!"

Saat itu, bertepatan dengan musim hujan, angin pagi terasa setajam pisau.

Pelataran itu begitu luas dan terbuka. Meski para dayang istana yang berlalu-lalang tidak berani memandang langsung, mereka semua bisa melihat Arum yang sedang berlutut di atas lantai batu yang sedingin es.

Arum menegakkan punggungnya, lalu mulai merapal.

Suaranya terdengar jelas dan stabil, mengalir kata demi kata di tengah embusan angin yang menusuk.

Mulai dari bab pertama tentang kerendahan hati hingga bab kelima tentang keteguhan hati, lalu berlanjut ke bagian kebajikan dalam Kitab Pendidikan Internal ... Lututnya yang semula terasa nyeri perlahan mati rasa, bibirnya membiru karena kedinginan, tetapi punggungnya tetap tegak lurus.

Satu jam berlalu, dua jam berlalu ....

Ranti awalnya menyimak dengan santai, tetapi melihat Arum benar-benar bisa merapalkannya tanpa salah satu kata pun, raut wajahnya perlahan berubah masam.

Terlebih saat melihat beberapa selir tingkat rendah atau kepala kasim yang sesekali lewat menunjukkan simpati diam-diam kepada Arum, amarahnya kian tersulut.

"Cukup!" Ranti mendadak menyelanya. "Kamu memang fasih merapalkannya, tapi itu membuktikan kamu cuma menghafal tanpa meresapinya ke dalam hati! Ayahmu, Penasihat Agung Pandu, yang diagungkan sebagai panutan para cendekiawan di negeri ini, apa begini caranya mendidik anak? Memiliki putri yang egois dan tidak tahu cara melayani Raja, dia juga bersalah karena gagal mendidik!"

Kelopak mata Arum yang sedari tadi menunduk langsung terangkat!

Ayahnya adalah batas toleransinya.

Dia bisa menahan segala hinaan, tetapi dia tidak akan pernah membiarkan orang lain menodai nama baik ayahnya, apalagi dengan tuduhan yang mengada-ada seperti ini!

Dia menatap lurus ke arah Ranti. Suaranya serak karena hawa dingin dan belum minum, tetapi tersirat ketegasan yang berwibawa, "Kalau Permaisuri ingin mendidik hamba, hamba rela menerimanya. Tapi, ayah hamba seumur hidupnya selalu setia pada Raja dan negara, bekerja keras siang dan malam demi menjaga kestabilan istana serta menenangkan para cendekiawan di negeri ini. Beliau tidak pernah sekali pun lalai! Hamba sama sekali tidak bisa menerima ucapan Permaisuri. Hamba khawatir hal ini dapat melukai hati pejabat yang setia serta merusak nama baik Yang Mulia!"

"Kamu berani membantah?"

Ranti meradang. Dia melangkah maju dengan cepat dan langsung melayangkan tamparan keras!

Plak! Suara tamparan itu bergema nyaring di tengah pelataran yang sepi.

Pukulan itu membuat wajah Arum terlempar ke samping dan bekas kemerahan bercampur bengkak segera muncul di pipi putihnya.

Dia perlahan menoleh kembali. Sudut bibirnya mengeluarkan sedikit darah, tetapi tatapannya tetap lurus menatap Ranti tanpa ada rasa takut sedikit pun.

"Bagus, hebat sekali putri seorang pejabat setia ini! Benar-benar tajam mulutmu!"

Dada Ranti naik-turun karena emosi. "Pengawal!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Takhta yang Dibayar Air Mata   Bab 21

    "Aku dengar kabar ... dia sudah mati."Ranti tiba-tiba tertawa. Suara tawanya terdengar parau dan serak seperti embusan angin dari alat tua yang rusak. "Di saat-saat terakhirnya, nama yang dia panggil adalah namamu."Arum diam."Kamu tahu bagaimana aku menghabiskan 15 tahun terakhir ini?"Ranti menatapnya. "Aku melihatmu naik selangkah demi selangkah, melihat putramu menjadi Putra Mahkota, melihatmu menjadi Ibu Suri. Sementara aku, membusuk di sini seperti anjing!""Itu ganjaran yang layak untukmu," ucap Arum dengan tenang."Layak?"Ranti tertawa melengking. "Ya! Aku layak! Aku memang pantas! Tapi, kamu? Arum, apa kamu bahagia selama 15 tahun terakhir ini?"Arum menatapnya. "Apa itu penting?""Penting!" teriak Ranti parau. "Aku harus tahu kalau meski aku kalah, kamu belum tentu menang! Kamu menjadi Ibu Suri yang dihormati, tapi bagaimana dengan hatimu? Orang yang kamu pernah cintai membencimu, orang yang kamu benci sudah mati. Seumur hidupmu, kamu ditakdirkan sebatang kara!"Arum terdi

  • Takhta yang Dibayar Air Mata   Bab 20

    Kabar mengenai kembalinya Arum ke istana bagaikan sebongkah batu raksasa yang dilemparkan ke permukaan danau yang tenang, memicu gelombang yang dahsyat.Seluruh istana dan kalangan pejabat terkejut, sementara harem pun gempar.Akan tetapi, Aji menggunakan kekuasaan mutlaknya untuk menekan dan membungkam semua keraguan yang ada.Dia mengumumkan bahwa sang Permaisuri saat itu dijebak oleh kaki tangan penjahat, sehingga terpaksa memalsukan kematiannya demi menyelamatkan diri.Kini, setelah kebenaran terungkap sepenuhnya, sudah sepatutnya dia disambut kembali ke istana.Tidak ada satu orang pun yang berani membantah.Sebab, mantan Permaisuri dari Keluarga Wirasana masih dikurung di dalam Istana Pengasingan dan semua pelayan istana yang terlibat dalam kasus tersebut telah dieksekusi.Tidak ada yang mau menjadi korban berikutnya.Arum pun kembali menempati Istana Pranaba.Segala sesuatu di sana masih sama seperti dulu, hanya saja kini ada tambahan jejak dari kedua anak mereka. Kuda kayu keci

  • Takhta yang Dibayar Air Mata   Bab 19

    Upacara pengangkatan Putra Mahkota ditetapkan pada hari pertengahan musim kemarau.Hari itu, seluruh pejabat memberi penghormatan, dan seluruh rakyat menyaksikan upacara tersebut.Bayu yang baru berusia tiga tahun mengenakan jubah kebesaran Putra Mahkota berwarna kuning aprikot. Tangan kecilnya digandeng oleh Aji, berjalan selangkah demi selangkah menaiki tangga batu batu alam putih di depan Aula Harmoni Agung.Meski masih sangat kecil, bocah itu melangkah dengan sangat mantap. Sorot matanya memancarkan ketenangan yang melampaui usianya.Aji menatap putranya, lalu tiba-tiba teringat pada Arum. Mata anak ini benar-benar sangat mirip dengan wanita itu.Setelah upacara itu selesai, acara dilanjutkan dengan jamuan istana.Alunan musik dan tarian memenuhi ruangan, diiringi denting cawan-cawan anggur yang saling beradu dalam kemeriahan.Aji duduk di atas takhta Raja. Dia memandang kemewahan dan keramaian di dalam aula, tetapi hatinya terasa hampa.Dia teringat waktu-waktu seperti ini pada ta

  • Takhta yang Dibayar Air Mata   Bab 18

    "Lalu, setelah itu?""Setelah itu, aku ingin Bayu menjadi Putra Mahkota yang sah."Arum menatap ayahnya. "Ayah, kerajaan ini kelak akan menjadi milik putraku dan juga milik keluarga kita. Kalau aku tidak memperjuangkannya, apa aku harus membiarkannya jatuh ke tangan sisa-sisa pengikut Keluarga Wirasana? Atau menyerahkannya kepada selir-selir lain yang mungkin akan muncul di masa depan?"Jantung Pandu berdegup kencang mendengarnya."Jadi, saat Ayah bertanya apa aku sudah memikirkannya matang-matang."Arum berkata dengan sangat tenang, "Aku sudah memikirkannya dengan sangat matang. Mundur satu langkah berarti jatuh ke jurang tanpa dasar. Maju satu langkah, mungkin aku masih bisa memperjuangkan secercah jalan hidupku.""Dan jalan hidupmu ada di dalam istana?""Jalan hidupku ada di tanganku sendiri." Arum tersenyum tipis. "Apa bedanya di dalam atau di luar istana? Selama Bayu ada, selama keluarga kita tetap berdiri, aku pasti bisa bertahan hidup dengan baik di mana pun aku berada."Arum me

  • Takhta yang Dibayar Air Mata   Bab 17

    Ketika kabar mengenai pemakzulan Permaisuri sampai ke kediaman luar, Arum sedang berjemur di halaman.Dayang Sumbi masuk dengan tergesa-gesa sambil membawa sepucuk surat rahasia. Wajahnya tidak bisa menyembunyikan rasa gembira. "Nyonya, ada kabar dari istana. Yang Mulia telah memakzulkan Permaisuri! Nyonya Ranti telah dicopot dari gelarnya menjadi rakyat jelata dan diasingkan ke Istana Pengasingan!"Buku di tangan Arum sama sekali tidak bergerak. Dia hanya meliriknya sedikit. "Hmm."Dayang Sumbi tertegun. "Nyonya, Anda tidak senang?""Aku senang," ucap Arum datar. "Mengapa aku harus tidak senang?"Akan tetapi, di wajahnya memang sama sekali tidak menyiratkan kegembiraan.Dayang Sumbi ragu-ragu sejenak. "Nyonya, kalau sudah begini, situasinya menjadi lebih baik. Pangeran dan Tuan Putri akhirnya bisa mengakui Anda sebagai ibu mereka secara terang-terangan. Setelah beberapa waktu berlalu dan keadaan mulai tenang, mungkin Anda bisa ....""Bisa apa?" Arum memotong ucapannya. "Kembali ke ist

  • Takhta yang Dibayar Air Mata   Bab 16

    Tiga hari kemudian, Pandu akhirnya sembuh dari sakitnya dan kembali memasuki istana.Aji menemuinya di Istana Kedaton.Baru setengah bulan mereka tidak bersua, uban di pelipis Penasihat Agung itu kini telah jauh lebih banyak. Gurat-gurat merah terlihat jelas di matanya dan raut wajahnya tampak begitu kuyu.Aji menatapnya, rasa bersalah di dalam dadanya kian dalam."Penasihat Agung Pandu, turut berduka cita." Dia menuangkan sendiri secangkir teh, lalu mendorongnya ke hadapan Pandu.Pandu mengucap terima kasih atas kemurahan hati sang Raja, tetapi sama sekali tidak menyentuh cangkir teh tersebut."Yang Mulia memanggil hamba ke istana, apa ada urusan tertentu?"Aji terdiam sejenak sebelum berkata, "Aku telah menaikkan status Arum dengan gelar anumerta sebagai Permaisuri dan memindahkan makamnya ke makam kerajaan. Apa Penasihat Agung Pandu sudah mendengarnya?""Hamba sudah tahu," jawab Pandu dengan suara tenang. "Mewakili putri hamba, hamba mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya at

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status