Share

Bab 3

Author: Antonia
Malam itu, saat Aji datang, waktu sudah hampir mendekati tengah malam.

Arum baru saja bersiap untuk tidur. Begitu mendengar pengumuman kedatangan Aji, dia terpaksa kembali mengenakan jubah luarnya dan bangkit berdiri.

Dayang Sumbi hendak menyanggul rambutnya, tetapi Arum melambaikan tangan. "Tidak perlu."

Aji melangkah masuk membawa hawa dingin yang melekat di tubuhnya. Melihat Arum yang hanya mengenakan pakaian tidur tipis dengan rambut panjang terurai, langkah kakinya sempat terhenti sejenak.

"Yang Mulia." Arum memberi hormat.

"Berdiri." Aji duduk di dekat meja dan menuangkan sendiri secangkir teh. "Permaisuri sudah memberikan nama untuk Tuan Putri yaitu, Andin. Aku pikir, bagaimanapun kamu adalah ibu kandungnya, jadi aku harus menanyakan pendapatmu."

Arum menundukkan pandangannya. "Permaisuri adalah ibu dari Tuan Putri. Nama yang dipilih oleh Permaisuri tentu saja adalah nama yang baik."

Tangan Aji yang memegang cangkir teh tampak sedikit mengencang.

Di dalam aula, suara arang yang terbakar memercik sekali dengan nyaring.

"Baguslah kalau kamu berpikiran begitu." Dia meletakkan kembali cangkir tehnya. "Kedatanganku malam ini juga untuk urusan lain. Pangeran Bayu sudah genap berusia tiga tahun, sudah waktunya bagi dia untuk mulai belajar. Permaisuri sendiri yang akan memilihkan guru untuknya."

Arum mendengarkannya dengan tenang.

Aji terdiam sejenak. "Aku rasa ... untuk ke depannya, sebaiknya kamu jangan menemui Pangeran Bayu. Anak itu masih sangat kecil. Kalau dia tahu ibu kandungnya adalah orang lain, takutnya akan memicu keributan. Hanya menganggap Permaisuri sebagai satu-satunya ibunya adalah jalan terbaik bagi semua orang."

Arum mendongak, menatap Aji dengan lekat.

Di bawah pendar cahaya lilin, sepasang matanya tampak sangat tenang, seperti telaga di lubuk musim kemarau yang sunyi, tanpa riak sedikit pun.

"Hamba menerima titah Yang Mulia."

Aji mendadak merasa gusar.

Dia lebih suka jika Arum menangis, mengamuk, atau menanyakan alasan di balik semua ini dengan mata berkaca-kaca seperti dulu.

Bukannya bersikap seperti sekarang, begitu patuh dan tunduk bagai boneka tanpa jiwa.

"Apa kamu menyimpan dendam?" Suara Aji tiba-tiba menjadi dingin.

"Hamba tidak berani."

Dada Aji terasa sesak. Sikap Arum yang menerima segalanya dengan pasrah tanpa celah ini justru membuat Aji jauh lebih jengkel daripada permohonan penuh air mata di masa lalu. "Arum, dengan sikapmu yang seperti ini, apa namanya kalau bukan menyimpan dendam? Kalau hatimu memang menyimpan kebencian, bagaimana kamu bisa dengan tenang memberikan keturunan lagi bagi keluarga kerajaan?"

Sudut bibir Arum tampak terangkat sangat tipis, seolah mencemooh, atau mungkin murni karena mati rasa. "Jika Yang Mulia mengkhawatirkan masalah penerus takhta, Yang Mulia tentu dapat menambah selir di dalam istana dan memilih perempuan-perempuan yang berbudi baik untuk mengabdi di sisi Yang Mulia. Hamba memang tidak becus. Hamba khawatir tidak mampu memenuhi harapan Yang Mulia."

"Kamu!" Aji mendadak bangkit berdiri. "Aku dan Permaisuri punya janji setia di masa lalu! Memasukkanmu ke istana saja sudah melanggar sumpah setia sehidup semati. Bagaimana mungkin aku bisa mengecewakannya lagi!"

Begitu kata-kata itu terlontar, keheningan yang mencekam langsung menyelimuti seisi aula.

Aji sendiri pun mendadak terpaku.

Dia menatap wajah Arum yang seketika berubah kian pucat pasi, menyaksikan bibir bawahnya yang digigit kuat-kuat hingga kehilangan rona darah dan melihat sekilas binar air mata yang melintas begitu cepat dibalik bulu matanya yang bergetar, begitu cepat hingga Aji mengira itu hanya ilusi.

Dia tersadar betapa kejamnya ucapan yang baru saja dia katakan.

Di hadapan wanita yang baru saja melahirkan dua anak untuknya, yang saat ini masih dalam kondisi lemah di atas ranjang, dia justru menegaskan betapa dalam dan teguhnya cinta dia kepada wanita lain.

Keheningan yang menyiksa pun mulai menyebar di ruangan itu.

Dengan menumpu tubuhnya sendiri, Arum perlahan bergeser ke tepi ranjang. Dia bersujud rendah hingga keningnya menyentuh lantai. "Hamba telah salah berucap. Hubungan yang penuh cinta dan kesetiaan antara Yang Mulia dan Permaisuri adalah kisah cinta yang akan abadi sepanjang masa. Hamba mengantarkan kepergian Yang Mulia."

Dia tetap bertahan dalam posisi bersujud. Tubuhnya yang tampak rapuh bergetar samar di bawah temaram cahaya, tetapi tidak ada lagi satu kata pun yang keluar dari bibirnya.

Aji menatap sosok tubuh berpakaian hijau yang bersujud di lantai itu. Di dalam dadanya, rasa gusar dan kepedihan yang tak kasatmata mendadak bercampur aduk menjadi satu.

Dia mendadak teringat pada kejadian tiga tahun lalu, saat Arum baru pertama kali masuk ke istana.

Kala itu, Arum masih bisa tersenyum. Dia kerap memetik satu ranting bunga melati di Taman Kerajaan untuk dipajang di vas, atau menyandarkan diri dengan tenang sembari menggosok tinta saat Aji sedang meninjau tumpukan dokumen negara.

Pernah suatu ketika Aji mendongak dan memergoki Arum sedang mencuri pandang ke arahnya. Begitu tatapan mereka beradu, Arum bergegas menundukkan kepala dengan panik, meski ujung telinganya memerah.

Sejak kapan wanita itu tidak pernah lagi menatapnya?

Aji sempat ingin mengulurkan tangan untuk memapahnya, ingin mengatakan sesuatu demi menebus kesalahannya. Namun, wibawa seorang penguasa dan rasa bersalahnya yang teramat besar pada Ranti menahan dirinya dengan begitu kuat.

Pada akhirnya, Aji hanya mengibaskan lengan jubahnya dengan kasar, lalu berbalik dan melangkah pergi dengan gusar, membawa kemarahan yang belum reda, serta seulas rasa bersalah yang bahkan enggan dia akui sendiri.

Pintu aula terbuka lalu tertutup kembali, membiarkan hawa dingin malam menerobos masuk.

Dayang Sumbi bergegas masuk dengan panik. Sembari menangis, dia memapah Arum untuk bangkit. "Nyonya, mengapa Anda harus menyiksa diri seperti ini?"

Arum membiarkan dirinya dipapah untuk berbaring kembali. Matanya tetap terbuka, menatap kosong ke arah langit-langit kelambu tempat tidur.

Lama setelahnya, tanpa ada tanda-tanda sebelumnya, dua jalur air mata bening mengalir keluar dari sudut matanya, lalu masuk ke sela-sela rambut di pelipisnya.

Awalnya, dia hanya menangis tanpa suara, bahunya bergetar samar. Namun, perlahan, isak tangis yang tertahan dan parau mulai lolos dari tenggorokannya, terdengar menyayat hati layaknya rintihan seekor anak hewan yang terluka parah.

Dia segera menarik selimut sutranya tinggi-tinggi, menggigit ujung selimut itu kuat-kuat demi meredam seluruh suara tangisnya di dalam sana, hingga yang tersisa hanyalah tubuhnya yang berguncang hebat.

"Nyonya, tumpahkan saja tangis Anda, jangan ditahan ...." Dayang Sumbi merasa hatinya diiris-iris.

Entah berapa lama waktu telah berlalu, guncangan tubuh itu perlahan mulai mereda.

Arum menyibak selimutnya, menampakkan wajah yang berantakan oleh bekas air mata, tetapi anehnya terlihat begitu tenang.

Dia menatap Dayang Sumbi yang matanya kabur oleh air mata. Suaranya terdengar serak, tetapi setiap kata yang terucap begitu tegas dan jelas, "Sumbi, cukup kali ini saja."

"Apa?"

"Aku cuma akan menangis untuk kali ini saja." Dia mengangkat tangan, menyeka sisa-sisa air mata di wajahnya dengan kasar. Ujung jarinya terasa sedingin es. "Untuk ke depannya, tidak boleh ada tangisan lagi."

Tatapannya melewati pundak Dayang Sumbi, menerawang jauh ke ruang kosong. Dia mengulanginya lagi, entah berbicara pada Dayang Sumbi, atau justru sedang meyakinkan dirinya sendiri. "Tidak pantas."

"Untuk pria itu, semua ini sama sekali tidak pantas."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Takhta yang Dibayar Air Mata   Bab 21

    "Aku dengar kabar ... dia sudah mati."Ranti tiba-tiba tertawa. Suara tawanya terdengar parau dan serak seperti embusan angin dari alat tua yang rusak. "Di saat-saat terakhirnya, nama yang dia panggil adalah namamu."Arum diam."Kamu tahu bagaimana aku menghabiskan 15 tahun terakhir ini?"Ranti menatapnya. "Aku melihatmu naik selangkah demi selangkah, melihat putramu menjadi Putra Mahkota, melihatmu menjadi Ibu Suri. Sementara aku, membusuk di sini seperti anjing!""Itu ganjaran yang layak untukmu," ucap Arum dengan tenang."Layak?"Ranti tertawa melengking. "Ya! Aku layak! Aku memang pantas! Tapi, kamu? Arum, apa kamu bahagia selama 15 tahun terakhir ini?"Arum menatapnya. "Apa itu penting?""Penting!" teriak Ranti parau. "Aku harus tahu kalau meski aku kalah, kamu belum tentu menang! Kamu menjadi Ibu Suri yang dihormati, tapi bagaimana dengan hatimu? Orang yang kamu pernah cintai membencimu, orang yang kamu benci sudah mati. Seumur hidupmu, kamu ditakdirkan sebatang kara!"Arum terdi

  • Takhta yang Dibayar Air Mata   Bab 20

    Kabar mengenai kembalinya Arum ke istana bagaikan sebongkah batu raksasa yang dilemparkan ke permukaan danau yang tenang, memicu gelombang yang dahsyat.Seluruh istana dan kalangan pejabat terkejut, sementara harem pun gempar.Akan tetapi, Aji menggunakan kekuasaan mutlaknya untuk menekan dan membungkam semua keraguan yang ada.Dia mengumumkan bahwa sang Permaisuri saat itu dijebak oleh kaki tangan penjahat, sehingga terpaksa memalsukan kematiannya demi menyelamatkan diri.Kini, setelah kebenaran terungkap sepenuhnya, sudah sepatutnya dia disambut kembali ke istana.Tidak ada satu orang pun yang berani membantah.Sebab, mantan Permaisuri dari Keluarga Wirasana masih dikurung di dalam Istana Pengasingan dan semua pelayan istana yang terlibat dalam kasus tersebut telah dieksekusi.Tidak ada yang mau menjadi korban berikutnya.Arum pun kembali menempati Istana Pranaba.Segala sesuatu di sana masih sama seperti dulu, hanya saja kini ada tambahan jejak dari kedua anak mereka. Kuda kayu keci

  • Takhta yang Dibayar Air Mata   Bab 19

    Upacara pengangkatan Putra Mahkota ditetapkan pada hari pertengahan musim kemarau.Hari itu, seluruh pejabat memberi penghormatan, dan seluruh rakyat menyaksikan upacara tersebut.Bayu yang baru berusia tiga tahun mengenakan jubah kebesaran Putra Mahkota berwarna kuning aprikot. Tangan kecilnya digandeng oleh Aji, berjalan selangkah demi selangkah menaiki tangga batu batu alam putih di depan Aula Harmoni Agung.Meski masih sangat kecil, bocah itu melangkah dengan sangat mantap. Sorot matanya memancarkan ketenangan yang melampaui usianya.Aji menatap putranya, lalu tiba-tiba teringat pada Arum. Mata anak ini benar-benar sangat mirip dengan wanita itu.Setelah upacara itu selesai, acara dilanjutkan dengan jamuan istana.Alunan musik dan tarian memenuhi ruangan, diiringi denting cawan-cawan anggur yang saling beradu dalam kemeriahan.Aji duduk di atas takhta Raja. Dia memandang kemewahan dan keramaian di dalam aula, tetapi hatinya terasa hampa.Dia teringat waktu-waktu seperti ini pada ta

  • Takhta yang Dibayar Air Mata   Bab 18

    "Lalu, setelah itu?""Setelah itu, aku ingin Bayu menjadi Putra Mahkota yang sah."Arum menatap ayahnya. "Ayah, kerajaan ini kelak akan menjadi milik putraku dan juga milik keluarga kita. Kalau aku tidak memperjuangkannya, apa aku harus membiarkannya jatuh ke tangan sisa-sisa pengikut Keluarga Wirasana? Atau menyerahkannya kepada selir-selir lain yang mungkin akan muncul di masa depan?"Jantung Pandu berdegup kencang mendengarnya."Jadi, saat Ayah bertanya apa aku sudah memikirkannya matang-matang."Arum berkata dengan sangat tenang, "Aku sudah memikirkannya dengan sangat matang. Mundur satu langkah berarti jatuh ke jurang tanpa dasar. Maju satu langkah, mungkin aku masih bisa memperjuangkan secercah jalan hidupku.""Dan jalan hidupmu ada di dalam istana?""Jalan hidupku ada di tanganku sendiri." Arum tersenyum tipis. "Apa bedanya di dalam atau di luar istana? Selama Bayu ada, selama keluarga kita tetap berdiri, aku pasti bisa bertahan hidup dengan baik di mana pun aku berada."Arum me

  • Takhta yang Dibayar Air Mata   Bab 17

    Ketika kabar mengenai pemakzulan Permaisuri sampai ke kediaman luar, Arum sedang berjemur di halaman.Dayang Sumbi masuk dengan tergesa-gesa sambil membawa sepucuk surat rahasia. Wajahnya tidak bisa menyembunyikan rasa gembira. "Nyonya, ada kabar dari istana. Yang Mulia telah memakzulkan Permaisuri! Nyonya Ranti telah dicopot dari gelarnya menjadi rakyat jelata dan diasingkan ke Istana Pengasingan!"Buku di tangan Arum sama sekali tidak bergerak. Dia hanya meliriknya sedikit. "Hmm."Dayang Sumbi tertegun. "Nyonya, Anda tidak senang?""Aku senang," ucap Arum datar. "Mengapa aku harus tidak senang?"Akan tetapi, di wajahnya memang sama sekali tidak menyiratkan kegembiraan.Dayang Sumbi ragu-ragu sejenak. "Nyonya, kalau sudah begini, situasinya menjadi lebih baik. Pangeran dan Tuan Putri akhirnya bisa mengakui Anda sebagai ibu mereka secara terang-terangan. Setelah beberapa waktu berlalu dan keadaan mulai tenang, mungkin Anda bisa ....""Bisa apa?" Arum memotong ucapannya. "Kembali ke ist

  • Takhta yang Dibayar Air Mata   Bab 16

    Tiga hari kemudian, Pandu akhirnya sembuh dari sakitnya dan kembali memasuki istana.Aji menemuinya di Istana Kedaton.Baru setengah bulan mereka tidak bersua, uban di pelipis Penasihat Agung itu kini telah jauh lebih banyak. Gurat-gurat merah terlihat jelas di matanya dan raut wajahnya tampak begitu kuyu.Aji menatapnya, rasa bersalah di dalam dadanya kian dalam."Penasihat Agung Pandu, turut berduka cita." Dia menuangkan sendiri secangkir teh, lalu mendorongnya ke hadapan Pandu.Pandu mengucap terima kasih atas kemurahan hati sang Raja, tetapi sama sekali tidak menyentuh cangkir teh tersebut."Yang Mulia memanggil hamba ke istana, apa ada urusan tertentu?"Aji terdiam sejenak sebelum berkata, "Aku telah menaikkan status Arum dengan gelar anumerta sebagai Permaisuri dan memindahkan makamnya ke makam kerajaan. Apa Penasihat Agung Pandu sudah mendengarnya?""Hamba sudah tahu," jawab Pandu dengan suara tenang. "Mewakili putri hamba, hamba mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya at

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status