Share

Bab 5

Author: Antonia
"Ada keributan apa di sini?" Sebuah teriakan penuh amarah terdengar.

Aji entah sejak kapan sudah berdiri di pintu gerbang istana. Dia tampaknya baru saja selesai menghadiri sidang pagi, bahkan belum sempat mengganti jubah kebesarannya.

Tatapannya tertuju pada Arum yang berlutut di atas lantai dingin dengan pipi bengkak, lalu beralih pada Ranti yang sedang diselimuti kemarahan. Keningnya tampak berkerut dalam.

Ekspresi Ranti seketika berubah. Matanya merah, lalu dia melangkah maju dengan raut bersalah dan mengadu, "Yang Mulia, lihatlah Selir Arum! Hamba cuma berniat memberinya sedikit pelajaran, tapi dia malah membawa-bawa nama Penasihat Agung Pandu untuk menekan hamba. Setiap katanya membantah, sama sekali tidak ada rasa penyesalan! Hamba terlanjur emosi, makanya ...."

Aji menatap luka di wajah Arum. Bekas bengkak kemerahan itu terlihat sangat kontras dan menyedihkan di atas kulitnya yang pucat.

Jantungnya mendadak berdenyut menyengat, menyisakan rasa perih yang samar.

Akan tetapi, saat dia menatap mata Ranti yang berkaca-kaca, mengingat segala pengorbanan wanita itu untuknya hingga membuatnya mandul, rasa iba di hatinya kembali ditekan dalam-dalam.

Dia tidak bisa menyangkal Ranti di depan umum dan merusak wibawanya.

Maka, dia beralih menatap Arum, lalu bersuara dengan dingin dan kaku, "Selir Arum, apa kamu tahu kesalahanmu? Permaisuri memimpin seluruh istana harem, mendidik para selir sudah menjadi tugasnya. Kamu berani membantah dan bertindak lancang padanya hingga membuatnya murka, apa hukuman yang pantas untukmu?"

Arum perlahan mendongak, menatap pria itu.

Tatapannya terasa lebih dingin daripada es di lantai, lebih tajam daripada embusan angin saat ini, menusuk lurus ke dalam sepasang mata Aji.

Tidak ada rasa benci, tidak ada permohonan, yang tersisa hanyalah kepasrahan yang kosong.

Arum perlahan membungkuk, menempelkan dahinya pada lantai batu yang sedingin es, lalu berujar dengan suara yang teramat tenang, "Hamba mengaku salah. Hamba berserah penuh atas keputusan Yang Mulia dan Permaisuri ... untuk menghukum hamba."

Kata "menghukum" yang diucapkan dengan begitu ringan itu justru terasa seperti hantaman berat di hati Aji.

Dia mendadak teringat kembali ucapan wanita itu semalam.

"Yang Mulia bisa menambah selir lagi."

Seketika, amarah yang tak beralasan kembali bergejolak di dalam dadanya.

Dia memejamkan mata sejenak. Saat membukanya kembali, tatapannya telah kembali sedingin dan sedatar seorang penguasa. "Selir Arum telah bertindak tidak pantas dan menyinggung Permaisuri. Mulai hari ini, dia dipindahkan ke Istana Kaputren Barat untuk merenungi kesalahannya dan tidak boleh keluar tanpa ada perintah."

Istana Kaputren Barat terletak di sudut paling terpencil, sudah lama tidak berpenghuni, dan hampir menyerupai istana dingin.

Kilatan kepuasan terlintas di mata Ranti.

Arum bersujud. "Terima kasih atas kemurahan hati Yang Mulia."

Melihat tubuh Arum yang masih bersujud di atas lantai, Aji mendadak merasa sangat gusar.

Dia mengibaskan lengan jubahnya. "Kembali ke istana!"

Iring-iringan Raja pun menjauh.

Arum perlahan bangkit berdiri, rasa nyeri di lututnya terasa begitu menyengat hingga menusuk ke tulang.

Dayang Sumbi berlari menghampiri untuk memapahnya, air matanya terus mengalir.

"Nyonya, mari kita kembali ke istana."

"Ya," sahut Arum lirih. "Kemasi barang-barang kita, kita pindah istana."

Istana Kaputren Barat memang sangat terbengkalai.

Rumput liar tumbuh subur di halaman dan sarang laba-laba bertebaran di dalam aula.

Dayang Sumbi bersama para pelayan lainnya membersihkannya seharian penuh, barulah tempat itu lumayan layak untuk ditinggali.

Malam harinya, Dayang Sumbi mengompres wajah Arum.

Arum menatap cermin tembaga yang memantulkan wajahnya yang membengkak. Separuh pipinya merah meradang dan sudut bibirnya menyisakan bekas darah yang mengering, tampak sangat menyedihkan.

Akan tetapi, sepasang matanya begitu tenang, setenang lautan tepat sebelum badai besar melanda.

"Dayang Sumbi, menurutmu, apa selama ini aku terlalu banyak mengalah?"

Dayang Sumbi tersentak.

"Ayah mendidikku untuk menghadapi kekerasan dengan kelembutan, mengajariku untuk mementingkan kepentingan bersama."

Suara Arum terdengar sangat lirih, seolah sedang berbicara pada diri sendiri. "Aku sudah bersabar selama tiga tahun. Aku sudah bersabar saat anakku direbut, bersabar saat dihina hingga harus berlutut di tengah musim dingin bersalju, dan bahkan bersabar menerima tamparan hari ini ...."

Dia menoleh, menatap Dayang Sumbi. "Tapi, apa yang kudapatkan?"

Dayang Sumbi terpaku. Melihat sorot mata majikannya di cermin yang terasa begitu asing, hatinya mendadak mencelos. "Nyonya, Anda melakukan ini semua demi Tuan Besar, demi kepentingan bersama."

"Demi Ayah, demi kepentingan bersama ...."

Arum mengulang kalimat itu dengan suara rendah. Ujung jarinya mengusap permukaan cermin yang dingin. "Jadi, karena itu, aku harus terus menjadi ikan di atas talenan yang pasrah dikuliti? Sampai tidak bisa melindungi anak sendiri dan membiarkan nama baik Ayah diinjak-injak sesuka hati?"

Dia menarik kembali tangannya, ujung jarinya terasa sedingin es.

"Mengalah cuma membuahkan hinaan yang kian menjadi, serta perampasan yang tiada habisnya."

Dia menoleh menatap Dayang Sumbi, dengan sorot mata yang menyiratkan ada sesuatu yang hancur, tetapi juga tengah menyatu kembali menjadi bentuk yang baru.

"Ambilkan peti kayu cendana merah milikku."

Peti itu adalah bagian dari hantaran pernikahan yang dia bawa dari kediaman Keluarga Kalandra dan selama ini selalu tersimpan di dalam gudang.

Dayang Sumbi membawanya, lalu membukanya. Di dalam sana terdapat barang-barang lama. Beberapa buah buku, setumpuk naskah puisi, dan beberapa buah stempel.

Di bagian paling bawah, ada sebuah gulungan lukisan.

Arum mengambil lukisan tersebut, lalu perlahan membentangkannya di atas meja.

Lukisan itu menampilkan sosok jenderal muda yang sedang memacu kudanya menembus salju. Persis seperti rupa Aji saat pulang membawa kemenangan tiga tahun lalu.

Ini adalah lukisan yang dia buat pada malam sebelum dirinya masuk ke istana.

Kini, saat melihatnya kembali, semua itu terasa begitu menggelikan.

Dia melangkah ke meja tulis, membentangkan kertas, menggosok bak tinta, lalu mengangkat kuas untuk menorehkan tulisan di atas lukisan tersebut.

Tulisannya sangat kecil, digoreskan di bagian sudut jubah sosok itu pada lukisan, sehingga tidak akan terlihat jika tidak diperhatikan dengan saksama.

Arum meniup perlahan tinta yang masih basah hingga mengering, lalu menggulung kembali lukisan itu dan menyerahkannya kepada Dayang Sumbi. "Simpanlah. Lakukan dengan hati-hati, jangan sampai kotor atau rusak."

Dayang Sumbi tampak kebingungan.

"Simpan dengan baik," ujar Arum sambil menatap keluar jendela ke arah malam yang kian pekat, sorot matanya tampak begitu dalam dan jauh. "Suatu hari nanti, ini akan ada gunanya."

Tatapan itu entah mengapa membuat hati Dayang Sumbi bergetar cemas.

"Nyonya, apa yang Anda rencanakan ...."

"Aku tidak berencana apa-apa." Arum bangkit berdiri, lalu berjalan ke dekat jendela. "Kapan Yang Mulia akan pergi ke Pegunungan Barat untuk meninjau pasukan?"

"Tiga hari lagi."

"Bagus." Dia menatap ranting-ranting pohon yang gersang di luar jendela. "Pergilah dan lakukan sesuatu untukku."

Malam itu, Arum meminta Dayang Sumbi untuk keluar istana secara sembunyi-sembunyi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Takhta yang Dibayar Air Mata   Bab 21

    "Aku dengar kabar ... dia sudah mati."Ranti tiba-tiba tertawa. Suara tawanya terdengar parau dan serak seperti embusan angin dari alat tua yang rusak. "Di saat-saat terakhirnya, nama yang dia panggil adalah namamu."Arum diam."Kamu tahu bagaimana aku menghabiskan 15 tahun terakhir ini?"Ranti menatapnya. "Aku melihatmu naik selangkah demi selangkah, melihat putramu menjadi Putra Mahkota, melihatmu menjadi Ibu Suri. Sementara aku, membusuk di sini seperti anjing!""Itu ganjaran yang layak untukmu," ucap Arum dengan tenang."Layak?"Ranti tertawa melengking. "Ya! Aku layak! Aku memang pantas! Tapi, kamu? Arum, apa kamu bahagia selama 15 tahun terakhir ini?"Arum menatapnya. "Apa itu penting?""Penting!" teriak Ranti parau. "Aku harus tahu kalau meski aku kalah, kamu belum tentu menang! Kamu menjadi Ibu Suri yang dihormati, tapi bagaimana dengan hatimu? Orang yang kamu pernah cintai membencimu, orang yang kamu benci sudah mati. Seumur hidupmu, kamu ditakdirkan sebatang kara!"Arum terdi

  • Takhta yang Dibayar Air Mata   Bab 20

    Kabar mengenai kembalinya Arum ke istana bagaikan sebongkah batu raksasa yang dilemparkan ke permukaan danau yang tenang, memicu gelombang yang dahsyat.Seluruh istana dan kalangan pejabat terkejut, sementara harem pun gempar.Akan tetapi, Aji menggunakan kekuasaan mutlaknya untuk menekan dan membungkam semua keraguan yang ada.Dia mengumumkan bahwa sang Permaisuri saat itu dijebak oleh kaki tangan penjahat, sehingga terpaksa memalsukan kematiannya demi menyelamatkan diri.Kini, setelah kebenaran terungkap sepenuhnya, sudah sepatutnya dia disambut kembali ke istana.Tidak ada satu orang pun yang berani membantah.Sebab, mantan Permaisuri dari Keluarga Wirasana masih dikurung di dalam Istana Pengasingan dan semua pelayan istana yang terlibat dalam kasus tersebut telah dieksekusi.Tidak ada yang mau menjadi korban berikutnya.Arum pun kembali menempati Istana Pranaba.Segala sesuatu di sana masih sama seperti dulu, hanya saja kini ada tambahan jejak dari kedua anak mereka. Kuda kayu keci

  • Takhta yang Dibayar Air Mata   Bab 19

    Upacara pengangkatan Putra Mahkota ditetapkan pada hari pertengahan musim kemarau.Hari itu, seluruh pejabat memberi penghormatan, dan seluruh rakyat menyaksikan upacara tersebut.Bayu yang baru berusia tiga tahun mengenakan jubah kebesaran Putra Mahkota berwarna kuning aprikot. Tangan kecilnya digandeng oleh Aji, berjalan selangkah demi selangkah menaiki tangga batu batu alam putih di depan Aula Harmoni Agung.Meski masih sangat kecil, bocah itu melangkah dengan sangat mantap. Sorot matanya memancarkan ketenangan yang melampaui usianya.Aji menatap putranya, lalu tiba-tiba teringat pada Arum. Mata anak ini benar-benar sangat mirip dengan wanita itu.Setelah upacara itu selesai, acara dilanjutkan dengan jamuan istana.Alunan musik dan tarian memenuhi ruangan, diiringi denting cawan-cawan anggur yang saling beradu dalam kemeriahan.Aji duduk di atas takhta Raja. Dia memandang kemewahan dan keramaian di dalam aula, tetapi hatinya terasa hampa.Dia teringat waktu-waktu seperti ini pada ta

  • Takhta yang Dibayar Air Mata   Bab 18

    "Lalu, setelah itu?""Setelah itu, aku ingin Bayu menjadi Putra Mahkota yang sah."Arum menatap ayahnya. "Ayah, kerajaan ini kelak akan menjadi milik putraku dan juga milik keluarga kita. Kalau aku tidak memperjuangkannya, apa aku harus membiarkannya jatuh ke tangan sisa-sisa pengikut Keluarga Wirasana? Atau menyerahkannya kepada selir-selir lain yang mungkin akan muncul di masa depan?"Jantung Pandu berdegup kencang mendengarnya."Jadi, saat Ayah bertanya apa aku sudah memikirkannya matang-matang."Arum berkata dengan sangat tenang, "Aku sudah memikirkannya dengan sangat matang. Mundur satu langkah berarti jatuh ke jurang tanpa dasar. Maju satu langkah, mungkin aku masih bisa memperjuangkan secercah jalan hidupku.""Dan jalan hidupmu ada di dalam istana?""Jalan hidupku ada di tanganku sendiri." Arum tersenyum tipis. "Apa bedanya di dalam atau di luar istana? Selama Bayu ada, selama keluarga kita tetap berdiri, aku pasti bisa bertahan hidup dengan baik di mana pun aku berada."Arum me

  • Takhta yang Dibayar Air Mata   Bab 17

    Ketika kabar mengenai pemakzulan Permaisuri sampai ke kediaman luar, Arum sedang berjemur di halaman.Dayang Sumbi masuk dengan tergesa-gesa sambil membawa sepucuk surat rahasia. Wajahnya tidak bisa menyembunyikan rasa gembira. "Nyonya, ada kabar dari istana. Yang Mulia telah memakzulkan Permaisuri! Nyonya Ranti telah dicopot dari gelarnya menjadi rakyat jelata dan diasingkan ke Istana Pengasingan!"Buku di tangan Arum sama sekali tidak bergerak. Dia hanya meliriknya sedikit. "Hmm."Dayang Sumbi tertegun. "Nyonya, Anda tidak senang?""Aku senang," ucap Arum datar. "Mengapa aku harus tidak senang?"Akan tetapi, di wajahnya memang sama sekali tidak menyiratkan kegembiraan.Dayang Sumbi ragu-ragu sejenak. "Nyonya, kalau sudah begini, situasinya menjadi lebih baik. Pangeran dan Tuan Putri akhirnya bisa mengakui Anda sebagai ibu mereka secara terang-terangan. Setelah beberapa waktu berlalu dan keadaan mulai tenang, mungkin Anda bisa ....""Bisa apa?" Arum memotong ucapannya. "Kembali ke ist

  • Takhta yang Dibayar Air Mata   Bab 16

    Tiga hari kemudian, Pandu akhirnya sembuh dari sakitnya dan kembali memasuki istana.Aji menemuinya di Istana Kedaton.Baru setengah bulan mereka tidak bersua, uban di pelipis Penasihat Agung itu kini telah jauh lebih banyak. Gurat-gurat merah terlihat jelas di matanya dan raut wajahnya tampak begitu kuyu.Aji menatapnya, rasa bersalah di dalam dadanya kian dalam."Penasihat Agung Pandu, turut berduka cita." Dia menuangkan sendiri secangkir teh, lalu mendorongnya ke hadapan Pandu.Pandu mengucap terima kasih atas kemurahan hati sang Raja, tetapi sama sekali tidak menyentuh cangkir teh tersebut."Yang Mulia memanggil hamba ke istana, apa ada urusan tertentu?"Aji terdiam sejenak sebelum berkata, "Aku telah menaikkan status Arum dengan gelar anumerta sebagai Permaisuri dan memindahkan makamnya ke makam kerajaan. Apa Penasihat Agung Pandu sudah mendengarnya?""Hamba sudah tahu," jawab Pandu dengan suara tenang. "Mewakili putri hamba, hamba mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya at

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status