Share

Takhta yang Dibayar Air Mata
Takhta yang Dibayar Air Mata
Author: Antonia

Bab 1

Author: Antonia
Tiga tahun lalu, saat dia melahirkan putra kerajaan, dia juga tidak diizinkan melihat bayinya. Aji sendiri yang menggendong anak itu pergi dan hanya menyisakan satu kalimat dingin.

"Mulai sekarang, anak ini adalah putra sah Permaisuri. Jangan berpikir yang macam-macam."

Kala itu, dia masih punya tenaga untuk menangis dan memohon, bahkan meronta ingin turun dari ranjang demi mengejar anaknya, sebelum akhirnya ditahan kuat-kuat oleh para dayang istana.

Belakangan, dia belajar memahami aturan istana. Setiap hari dia datang ke istana Permaisuri untuk memberi salam, hanya demi bisa mendengar suara celoteh sang anak dari balik tirai penyekat.

Awalnya, Aji mengizinkan, tetapi setelah Permaisuri mengeluh bahwa sang pangeran butuh ketenangan, sejak saat itu, Arum tak pernah lagi melihat anaknya.

Kini, anak keduanya pun ikut direnggut.

Dia terbaring diam di ranjang bersalin yang kotor, seperti cangkang kosong yang kehilangan jiwa, bahkan air mata pun tidak bisa mengalir lagi.

Belum genap masa nifasnya usai, kepala dayang dari istana Permaisuri sudah datang menyampaikan perintah agar Arum kembali menjalankan tradisi memberi salam pagi dan malam.

Dengan tubuh yang belum sepenuhnya pulih, Arum memaksakan diri melangkah menuju Istana Kencana.

Di sana, Permaisuri Ranti Wirasana sedang menimang sang putri sambil mengajaknya bermain. Begitu mendongak dan melihat wajah pucat Arum, seulas senyum muncul di bibirnya. "Eh, Selir Arum sudah datang? Mukamu pucat sekali, apa kamu tidak puas padaku?"

"Hamba tidak berani."

"Baguslah." Ranti menyerahkan bayi itu kepada ibu pengasuh, lalu merapikan ujung lengan bajunya dengan perlahan.

"Karena sudah masuk ke istana, kamu harus paham tugasmu sendiri. Yang Mulia menikahimu karena melihat pengaruh Penasihat Agung Pandu di antara para pejabat. Beliau butuh keluarga kalian untuk menstabilkan istana. Sedangkan kamu ...."

Dia berhenti sejenak, senyumnya makin dalam. "Cuma sebuah alat untuk melahirkan. Memberikan putra dan putri untukku adalah satu-satunya nilai yang kamu miliki."

Di luar aula, salju mulai turun.

Ranti tiba-tiba menyudahi senyumnya. "Saat masuk tadi, dahimu agak mengernyit. Itu tandanya kamu tidak menghormatiku. Pergilah berlutut di halaman sampai kamu sadar."

Salju di atas lantai batu perlahan mulai menggenang.

Arum dipaksa berlutut di tengah salju. Dari sana, dia melihat Ranti di dalam aula sedang menggendong putri kecilnya yang baru berusia satu bulan sambil bersenandung pelan. Gerakannya begitu luwes, seolah dialah ibu kandungnya yang asli.

Rasa sakit di lututnya berubah menjadi mati rasa, hingga akhirnya benar-benar kehilangan rasa.

Saat pandangan Arum mulai gelap, dia mendengar seruan melengking dari kasim istana, "Yang Mulia telah tiba!"

Ujung jubah kuning terang melintas di sisinya, langsung melangkah masuk ke aula.

"Kenapa membiarkannya berlutut di tengah salju?" Itu suara Aji.

Ranti merajuk manja, "Hamba cuma sedang mengajarinya sedikit tata krama, tapi dia langsung memasang wajah lemah seperti itu. Yang Mulia tahu sendiri, hamba ini keturunan keluarga militer, sifat hamba blak-blakan dan tidak punya niat buruk."

Tepat sebelum pingsan, sayup-sayup Arum masih sempat mendengar suara Aji, "Sudahlah, bawa dia kembali."

Saat Arum terbangun, hari sudah senja.

Aji duduk di tepi ranjang. Begitu melihatnya membuka mata, kerutan di dahi pria itu mengendur, "Sudah sadar? Tabib bilang kamu lemas pasca melahirkan dan terkena angin dingin. Permaisuri tidak sengaja melakukannya, jangan dimasukkan ke hati."

Arum menatapnya dalam diam.

Pria ini dulunya adalah pahlawan yang gagah berani di medan perang dalam mimpi masa muda Arum. Dia pernah menulis puisi dan melukis potret pria ini.

Kini, pria itu ada di depan matanya, mengenakan jubah kebesaran Raja, tetapi mengucapkan kata-kata yang paling menyakitkan.

"Hamba mengerti." Suaranya terdengar tenang tanpa riak, "Permaisuri adalah istri pertama Yang Mulia, sudah sepatutnya hamba menghormatinya dan tidak berani menyimpan dendam sedikit pun."

Setiap ucapannya terdengar tenang dan patuh.

Aji sempat termangu.

Dalam ingatannya, Arum bukanlah sosok yang seperti ini.

Dulu, Arum akan memohon sambil berlinang air mata agar diizinkan untuk melihat anaknya. Saat permintaannya ditolak, dia akan menggigit bibir tanpa mengucap sepatah kata pun, sementara binar di matanya meredup perlahan. Namun, sekarang, tidak ada apa-apa lagi di matanya, hampa bagai air mati yang tak beriak.

"Soal anak itu," Aji membuka suara, mencoba mencari bahan pembicaraan, "dibesarkan atas nama Permaisuri dan statusnya menjadi anak sah. Kelak dia ...."

"Itu berkah bagi sang anak."

Arum memotong kalimatnya, bahkan sudut bibirnya sedikit terangkat membentuk senyuman. Namun, senyum itu tampak begitu kaku dan dingin. "Hamba cuma orang rendahan. Permaisuri bersedia merawat sang anak, itu adalah kemurahan hati dari Yang Mulia dan Permaisuri."

Kemurahan hati.

Tenggorokan Aji mendadak terasa tercekat.

Dari luar aula, terdengar suara kasim berkata, "Yang Mulia, Permaisuri telah menyiapkan sup ginseng buatannya sendiri. Beliau berkata cuaca ini sangat dingin, jadi beliau mengundang Yang Mulia ke sana untuk menghangatkan tubuh. Tuan Putri juga sedang menunggu Yang Mulia."

Aji bangkit berdiri, lalu melirik sekilas ke arah wanita di atas ranjang.

Arum sudah memejamkan mata, seolah-olah telah kembali tertidur.

Pria itu melangkah hingga ke ambang pintu, lalu berbalik, "Selir Arum, Permaisuri tidak bisa memiliki keturunan. Aku selalu merasa berutang budi padanya. Kamu adalah wanita yang pengertian, jadi maklumilah sedikit."

"Istirahatlah dengan baik." Aji entah mengapa merasa agak gusar. "Kalau nanti kamu hamil lagi, anak itu akan dibiarkan tetap bersamamu untuk kamu besarkan sendiri."

Arum tidak menanggapi ucapan itu. Dia hanya menatap langit-langit kelambu dalam diam sembari mendengarkan langkah kaki pria itu yang perlahan menjauh.

Setelah keheningan yang cukup lama, dia tiba-tiba bertanya dengan suara lirih kepada dayang yang berdiri di samping, "Sudah tiga tahun semenjak Yang Mulia naik takhta, 'kan?"

"Benar, Nyonya."

"Apa negeri ini sudah aman dan damai?"

"Perbatasan utara sudah aman. Banjir di wilayah selatan juga telah diatasi. Di dalam istana, Penasihat Agung Pandu memimpin para pejabat sipil. Meskipun sesekali ada perselisihan dengan kubu militer, tetapi secara keseluruhan suasananya stabil."

Arum perlahan-lahan tersenyum.

Senyuman itu begitu layu dan rapuh, bagai selembar daun kering terakhir di penghujung musim kemarau.

"Baguslah."

Dia berkata dengan lirih, "Akhirnya, aku bisa mati dengan tenang."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Takhta yang Dibayar Air Mata   Bab 21

    "Aku dengar kabar ... dia sudah mati."Ranti tiba-tiba tertawa. Suara tawanya terdengar parau dan serak seperti embusan angin dari alat tua yang rusak. "Di saat-saat terakhirnya, nama yang dia panggil adalah namamu."Arum diam."Kamu tahu bagaimana aku menghabiskan 15 tahun terakhir ini?"Ranti menatapnya. "Aku melihatmu naik selangkah demi selangkah, melihat putramu menjadi Putra Mahkota, melihatmu menjadi Ibu Suri. Sementara aku, membusuk di sini seperti anjing!""Itu ganjaran yang layak untukmu," ucap Arum dengan tenang."Layak?"Ranti tertawa melengking. "Ya! Aku layak! Aku memang pantas! Tapi, kamu? Arum, apa kamu bahagia selama 15 tahun terakhir ini?"Arum menatapnya. "Apa itu penting?""Penting!" teriak Ranti parau. "Aku harus tahu kalau meski aku kalah, kamu belum tentu menang! Kamu menjadi Ibu Suri yang dihormati, tapi bagaimana dengan hatimu? Orang yang kamu pernah cintai membencimu, orang yang kamu benci sudah mati. Seumur hidupmu, kamu ditakdirkan sebatang kara!"Arum terdi

  • Takhta yang Dibayar Air Mata   Bab 20

    Kabar mengenai kembalinya Arum ke istana bagaikan sebongkah batu raksasa yang dilemparkan ke permukaan danau yang tenang, memicu gelombang yang dahsyat.Seluruh istana dan kalangan pejabat terkejut, sementara harem pun gempar.Akan tetapi, Aji menggunakan kekuasaan mutlaknya untuk menekan dan membungkam semua keraguan yang ada.Dia mengumumkan bahwa sang Permaisuri saat itu dijebak oleh kaki tangan penjahat, sehingga terpaksa memalsukan kematiannya demi menyelamatkan diri.Kini, setelah kebenaran terungkap sepenuhnya, sudah sepatutnya dia disambut kembali ke istana.Tidak ada satu orang pun yang berani membantah.Sebab, mantan Permaisuri dari Keluarga Wirasana masih dikurung di dalam Istana Pengasingan dan semua pelayan istana yang terlibat dalam kasus tersebut telah dieksekusi.Tidak ada yang mau menjadi korban berikutnya.Arum pun kembali menempati Istana Pranaba.Segala sesuatu di sana masih sama seperti dulu, hanya saja kini ada tambahan jejak dari kedua anak mereka. Kuda kayu keci

  • Takhta yang Dibayar Air Mata   Bab 19

    Upacara pengangkatan Putra Mahkota ditetapkan pada hari pertengahan musim kemarau.Hari itu, seluruh pejabat memberi penghormatan, dan seluruh rakyat menyaksikan upacara tersebut.Bayu yang baru berusia tiga tahun mengenakan jubah kebesaran Putra Mahkota berwarna kuning aprikot. Tangan kecilnya digandeng oleh Aji, berjalan selangkah demi selangkah menaiki tangga batu batu alam putih di depan Aula Harmoni Agung.Meski masih sangat kecil, bocah itu melangkah dengan sangat mantap. Sorot matanya memancarkan ketenangan yang melampaui usianya.Aji menatap putranya, lalu tiba-tiba teringat pada Arum. Mata anak ini benar-benar sangat mirip dengan wanita itu.Setelah upacara itu selesai, acara dilanjutkan dengan jamuan istana.Alunan musik dan tarian memenuhi ruangan, diiringi denting cawan-cawan anggur yang saling beradu dalam kemeriahan.Aji duduk di atas takhta Raja. Dia memandang kemewahan dan keramaian di dalam aula, tetapi hatinya terasa hampa.Dia teringat waktu-waktu seperti ini pada ta

  • Takhta yang Dibayar Air Mata   Bab 18

    "Lalu, setelah itu?""Setelah itu, aku ingin Bayu menjadi Putra Mahkota yang sah."Arum menatap ayahnya. "Ayah, kerajaan ini kelak akan menjadi milik putraku dan juga milik keluarga kita. Kalau aku tidak memperjuangkannya, apa aku harus membiarkannya jatuh ke tangan sisa-sisa pengikut Keluarga Wirasana? Atau menyerahkannya kepada selir-selir lain yang mungkin akan muncul di masa depan?"Jantung Pandu berdegup kencang mendengarnya."Jadi, saat Ayah bertanya apa aku sudah memikirkannya matang-matang."Arum berkata dengan sangat tenang, "Aku sudah memikirkannya dengan sangat matang. Mundur satu langkah berarti jatuh ke jurang tanpa dasar. Maju satu langkah, mungkin aku masih bisa memperjuangkan secercah jalan hidupku.""Dan jalan hidupmu ada di dalam istana?""Jalan hidupku ada di tanganku sendiri." Arum tersenyum tipis. "Apa bedanya di dalam atau di luar istana? Selama Bayu ada, selama keluarga kita tetap berdiri, aku pasti bisa bertahan hidup dengan baik di mana pun aku berada."Arum me

  • Takhta yang Dibayar Air Mata   Bab 17

    Ketika kabar mengenai pemakzulan Permaisuri sampai ke kediaman luar, Arum sedang berjemur di halaman.Dayang Sumbi masuk dengan tergesa-gesa sambil membawa sepucuk surat rahasia. Wajahnya tidak bisa menyembunyikan rasa gembira. "Nyonya, ada kabar dari istana. Yang Mulia telah memakzulkan Permaisuri! Nyonya Ranti telah dicopot dari gelarnya menjadi rakyat jelata dan diasingkan ke Istana Pengasingan!"Buku di tangan Arum sama sekali tidak bergerak. Dia hanya meliriknya sedikit. "Hmm."Dayang Sumbi tertegun. "Nyonya, Anda tidak senang?""Aku senang," ucap Arum datar. "Mengapa aku harus tidak senang?"Akan tetapi, di wajahnya memang sama sekali tidak menyiratkan kegembiraan.Dayang Sumbi ragu-ragu sejenak. "Nyonya, kalau sudah begini, situasinya menjadi lebih baik. Pangeran dan Tuan Putri akhirnya bisa mengakui Anda sebagai ibu mereka secara terang-terangan. Setelah beberapa waktu berlalu dan keadaan mulai tenang, mungkin Anda bisa ....""Bisa apa?" Arum memotong ucapannya. "Kembali ke ist

  • Takhta yang Dibayar Air Mata   Bab 16

    Tiga hari kemudian, Pandu akhirnya sembuh dari sakitnya dan kembali memasuki istana.Aji menemuinya di Istana Kedaton.Baru setengah bulan mereka tidak bersua, uban di pelipis Penasihat Agung itu kini telah jauh lebih banyak. Gurat-gurat merah terlihat jelas di matanya dan raut wajahnya tampak begitu kuyu.Aji menatapnya, rasa bersalah di dalam dadanya kian dalam."Penasihat Agung Pandu, turut berduka cita." Dia menuangkan sendiri secangkir teh, lalu mendorongnya ke hadapan Pandu.Pandu mengucap terima kasih atas kemurahan hati sang Raja, tetapi sama sekali tidak menyentuh cangkir teh tersebut."Yang Mulia memanggil hamba ke istana, apa ada urusan tertentu?"Aji terdiam sejenak sebelum berkata, "Aku telah menaikkan status Arum dengan gelar anumerta sebagai Permaisuri dan memindahkan makamnya ke makam kerajaan. Apa Penasihat Agung Pandu sudah mendengarnya?""Hamba sudah tahu," jawab Pandu dengan suara tenang. "Mewakili putri hamba, hamba mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya at

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status