Share

Bab 6

Author: Antonia
Sebelum keberangkatannya, Aji sempat datang berkunjung ke Istana Kaputren Barat.

Arum sedang berjemur di halaman bawah terik matahari. Begitu melihat kedatangan pria itu, dia bangkit berdiri untuk memberi salam.

"Aku akan pergi ke Pegunungan Barat selama beberapa hari. Kamu ... jagalah dirimu baik-baik."

Dia menatap wajah Arum yang masih bengkak kemerahan. Ada sesuatu yang ingin dia katakan, tetapi dia mengurungkan niatnya dan menelan kembali kata-katanya.

"Hamba melepas keberangkatan Yang Mulia."

Aji berdiri mematung beberapa saat, lalu mengeluarkan sebuah botol porselen kecil dari balik lengan jubahnya. "Ini salep pereda memar, oleskanlah."

Arum menerimanya tanpa menatap sepasang mata pria itu. "Terima kasih, Yang Mulia."

Pria itu pun berbalik pergi.

Arum terus menggenggam botol porselen tersebut. Dia baru melonggarkan cengkeraman tangannya setelah derap langkah dari iring-iringan Raja sudah benar-benar lenyap tak terdengar lagi.

Botol porselen itu jatuh ke tanah, hancur berkeping-keping, dan salep di dalamnya berceceran di mana-mana.

"Nyonya!" seru Dayang Sumbi.

"Bersihkan saja," sahut Arum seraya berbalik dan berjalan masuk ke kamarnya.

Tiga hari kemudian, desas-desus mulai berembus di dalam istana.

Ada yang berkata bahwa sebelum masuk ke istana, Arum sudah memiliki pujaan hati, seorang pemuda tampan berbudi luhur, dan keduanya sempat saling bertukar puisi sebagai tanda cinta.

Jika saja titah Raja tidak turun secara mendadak, kisah mereka pasti sudah berakhir bahagia.

Ada pula yang mengaku pernah melihat Arum menangis di depan sebuah lukisan. Lukisan yang menampilkan sosok pemuda rupawan dan pria itu jelas-jelas bukan Raja.

Desas-desus itu menyebar bagai api liar, menghanguskan seluruh penjuru istana dalam semalam.

Sore harinya, dengan dalih menertibkan lingkungan istana serta meluruskan rumor yang beredar, Ranti memerintahkan pengawalnya untuk menjemput Arum dari Istana Kaputren Barat menuju ke Istana Kencana.

"Menodai kesucian istana. Arum, lancang sekali kamu!"

Ranti berbicara dengan nada rendah, tetapi setiap katanya bagai berlumur racun, "Baru satu hari Yang Mulia meninggalkan istana, desas-desus menjijikkan seperti ini sudah gempar di mana-mana. Apa karena kamu yang tidak tahan kesepian atau memang garis keturunan Keluarga Kalandra yang bermoral rendah?"

Arum berlutut di lantai yang dingin dengan punggung tegak lurus. "Rumor itu sama sekali tidak berdasar. Mohon Permaisuri bijaksana dalam menilai."

"Tidak berdasar?"

Ranti membungkuk, ujung jarinya hampir menusuk hidung Arum. "Kalau tidak ada api, tidak mungkin ada asap! Sikapmu yang sok suci selama ini, jangan-jangan cuma pura-pura di depan Yang Mulia, padahal di hatimu ada pria lain? Begitu Yang Mulia kembali ke istana, aku akan melaporkan hal ini dan mengusut tuntas seluruh perempuan di Keluarga Kalandra."

"Yang Mulia tidak akan menyentuhku." Arum tiba-tiba mendongak dan menyela kalimatnya. Suaranya sangat lirih, tetapi terdengar begitu jelas dan penuh keyakinan.

Ranti tersentak, lalu kemarahannya meledak hingga membuatnya tertawa getir. "Apa katamu?"

"Yang Mulia," Arum menyambut tatapan matanya yang penuh amarah dan keterkejutan, lalu berucap perlahan, "tidak sepenuhnya tidak punya perasaan pada hamba."

Udara di dalam aula Istana Kencana seketika membeku.

Ranti seolah baru saja mendengar lelucon paling menggelikan. Dia langsung bangkit berdiri, melangkah ke hadapan Arum, dan suaranya melengking tajam karena diselimuti rasa cemburu dan benci. "Arum, kamu mau pura-pura sampai kapan? Yang Mulia dan aku sudah bersama sejak saat muda, melewati hidup dan mati bersama! Beliau sudah lama berjanji padaku untuk sehidup semati hanya berdua! Menjadikanmu selir hanyalah demi mendapatkan keturunan dan untuk menenangkan Keluarga Kalandra! Di mata Yang Mulia, apa bedanya kamu dengan sebuah pajangan atau wadah kosong? Bagaimana mungkin Beliau bisa menaruh hati padamu!"

Setiap untaian kata yang keluar dari mulutnya terasa seperti menusuk jantung, sebuah ledakan api cemburu yang telah terpendam selama tiga tahun.

Arum mendengarkan seluruh perkataan itu dalam diam. Setelah lengkingan tajam di akhir kalimat itu lenyap dari dalam aula, barulah dia membuka suara, dengan nada yang teramat tenang hingga terasa aneh, "Hamba tidak berani membandingkan diri dengan jalinan kasih yang begitu dalam antara Permaisuri dan Yang Mulia. Hanya saja, belakangan ini hamba sedang membaca kitab sejarah dan mendapati kisah mendiang Raja Laksmana dari dinasti terdahulu bersama Permaisuri Utari. Mereka juga sepasang suami istri yang melewati masa-masa sulit bersama, saling mengasihi dan setia. Tapi, setelah Raja Laksmana naik takhta, perlahan beliau justru memanjakan selir dari Keluarga Syailendra dan menjauhi Permaisurinya. Pada akhirnya, sang Raja malah memercayai fitnah keji hingga tega berniat membunuh istri dan mengorbankan anaknya sendiri. Kalau bukan karena putra sulung Permaisuri Utari memegang kendali atas pasukan dan bergegas memimpin tentara kembali ke ibu kota tepat waktu, mungkin Permaisuri Utari sudah mati membawa dendam ke alam baka."

Wajah Ranti mendadak pucat pasi.

Arum melirik sekilas ke arah wajah lawan bicaranya yang pucat, lalu melanjutkan dengan nada datar, "Goresan pena sejarah tak pernah bohong. Raja dan Permaisuri yang berbalik saling asing, serta suami istri yang berujung saling bermusuhan, bukanlah sekadar dongeng belaka. Kasih yang sedalam lautan pun, terkadang tidak akan mampu meredam kikisan waktu, tidak akan mampu menandingi senyuman dari wanita baru, dan terlebih lagi ... tidak akan mampu melawan ikatan tali darah."

Dia menjeda kalimatnya sesaat, lalu pandangannya tampak seolah tanpa sengaja menyapu ke arah perut Ranti, sebelum akhirnya kembali menunduk. "Terlebih lagi, saat ini pangeran dan tuan putri yang ada di dalam istana semuanya lahir dari rahim hamba. Sekalipun Yang Mulia berkunjung ke Istana Kaputren Barat sesekali, itu hanya karena beliau memikirkan darah dagingnya sendiri dan hal itu sudah menjadi sebuah kewajaran."

"Tutup mulutmu!" Kalimat terakhir itu bagai jarum beracun yang menghantam telak ke dalam lubang ketakutan terdalam di benak Ranti.

Anak! Lagi-lagi soal anak! Pelacur ini sengaja menggunakan kedua anaknya untuk menggerogoti perhatian Yang Mulia sedikit demi sedikit!

Contoh dari kitab sejarah tadi bahkan membuatnya bergidik ngeri, seolah dia sedang menyaksikan masa depannya sendiri yang mengerikan.

Ketakutan seketika menelan habis akal sehatnya, berubah menjadi kobaran amarah yang membabi buta. "Budak sialan! Berani-beraninya kamu mengutukku! Menyindirku tidak bisa memiliki anak! Bahkan lancang mencoba mengadu domba hubungan Raja dan aku!"

Dada Ranti kembang kempis dengan hebat. Sambil menunjuk ke arah Arum, dia berteriak histeris kepada ibu pengasuh senior, "Seret dia keluar ke halaman aula! Hukum dia atas dakwaan menodai kesucian istana dan mengutuk Permaisuri. Beri hukuman cambuk 20 kali! Tidak, 30 kali! Pukul dia sekeras-kerasnya! Biar seluruh istana melihat, beginilah akibatnya kalau menjadi wanita penggoda yang berhati busuk!"

Arum pun diseret secara kasar menuju ke halaman di depan Istana Kencana.

Tubuh Arum ditekan paksa ke lantai. Tak lama, tongkat pemukul yang berat mulai menghantam tubuhnya, menimbulkan suara hantaman yang berat.

Dia menggertakkan giginya rapat-rapat. Tak ada satu pun jeritan minta ampun yang keluar dari mulutnya. Dia hanya membenamkan wajah di antara kedua lengan, menahan rasa sakit yang teramat sangat dan kian hebat di setiap pukulan.

Keringat dingin bercucuran deras dari pelipisnya, sementara pakaian di punggungnya segera basah dan ternoda oleh rembesan darah.

Para dayang istana yang kebetulan lewat hanya berani mengintip dari kejauhan. Mereka semua gemetar ketakutan, lalu buru-buru menundukkan kepala dan melangkah pergi dengan cepat.

Setelah 30 pukulan berakhir, napas Arum sudah putus-putus di ambang maut, tubuhnya nyaris tidak bisa digerakkan lagi.

Ranti berdiri di atas tangga tinggi, menatap dengan dingin ke arahnya. "Bawa dia kembali ke Istana Kaputren Barat! Awasi dengan ketat! Tanpa perintah dariku, siapa pun tidak boleh keluar masuk! Tunggu sampai Yang Mulia kembali ke istana, baru akan diputuskan lagi!"

Tubuh Arum dipapah oleh dua orang kasim, lalu diseret paksa meninggalkan Istana Kencana.

Bercak darah meninggalkan jejak samar yang terputus-putus di atas jalanan batu istana.

Begitu tiba di paviliun samping Istana Kaputren Barat yang dingin dan lembap, Dayang Sumbi menangis tersedu-sedu sambil membersihkan luka dan mengoleskan obat pada punggungnya.

"Nyonya, kenapa Anda malah sengaja membuat Permaisuri marah?"

Arum telungkup di atas dipan kayu yang keras. Suaranya terputus-putus menahan sakit, tetapi terdengar sangat jelas. "Kalau tidak memancing kemarahannya, mana mungkin dia akan terburu-buru ingin melenyapkanku?"

Tangan Dayang Sumbi seketika gemetar.

"Dunia ini luas … Kita bisa bebas pergi ke mana pun?"

Arum menyunggingkan sudut bibirnya, sebuah senyuman yang getir sekaligus teramat sadar. "Itu cuma kata-kata bodoh untuk menghibur diri sendiri. Luka yang sudah telanjur terukir akan selalu meninggalkan bekas selamanya. Bicara soal memulai hidup baru itu cuma pelarian kaum pengecut."

Dia memejamkan mata dan menarik napas perlahan. Begitu membuka mata kembali, sorot matanya hanya menyisakan dingin yang kelam. "Istana ini mengajarkanku satu hal. Kalau membalas kejahatan dengan kebaikan, lalu dengan apa kita membalas kebaikan itu sendiri? Satu-satunya cara hanyalah ... darah dibayar darah, nyawa dibayar nyawa."

Malam kian larut, Istana Kaputren Barat begitu sunyi bagai kuburan.

Malam itu juga, istana dingin terbakar.

Api mulai berkobar dari paviliun samping. Dibantu embusan angin, si jago merah dengan cepat merembet ke bangunan utama.

Di balik tembok istana, suara kepanikan orang-orang yang mencoba memadamkan api dan jeritan histeris saling bersahutan dengan kacau.

Tak ada satu pun yang menyadari bahwa kebakaran besar yang mendadak itu, selain melumat habis paviliun samping istana dingin, juga diam-diam telah membawa pergi Arum, yang seharusnya mati terbakar di dalam lautan api itu.

Perkemahan Militer Pegunungan Barat.

Aji sedang duduk di dalam tenda, jemarinya perlahan mengusap sepasang gelang batu alam putih di genggamannya.

Gelang itu adalah hadiah yang baru dipersembahkan oleh pejabat daerah setempat kemarin. Kualitas batu alamnya sangat halus dan pengerjaan ukirannya begitu indah.

Saat pertama kali melihatnya, ingatan Aji langsung tertuju pada Arum. Pergelangan tangan wanita itu ramping dan kulitnya putih bersih, gelang ini pasti akan terlihat sangat cantik jika dikenakan olehnya.

Dia baru menyadari bahwa selama ini dirinya belum pernah sekali pun memberikan perhiasan yang benar-benar layak untuk wanita itu.

Seorang wakil jenderal tiba-tiba bergegas masuk ke dalam tenda, lalu langsung berlutut untuk melapor. "Yang Mulia, ada laporan darurat dari istana! Istana Kaputren Barat terbakar. Selir Arum ... telah tiada."

Gelang batu alam di tangan Aji terlepas, jatuh menghantam lantai dan hancur berkeping-keping.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Takhta yang Dibayar Air Mata   Bab 21

    "Aku dengar kabar ... dia sudah mati."Ranti tiba-tiba tertawa. Suara tawanya terdengar parau dan serak seperti embusan angin dari alat tua yang rusak. "Di saat-saat terakhirnya, nama yang dia panggil adalah namamu."Arum diam."Kamu tahu bagaimana aku menghabiskan 15 tahun terakhir ini?"Ranti menatapnya. "Aku melihatmu naik selangkah demi selangkah, melihat putramu menjadi Putra Mahkota, melihatmu menjadi Ibu Suri. Sementara aku, membusuk di sini seperti anjing!""Itu ganjaran yang layak untukmu," ucap Arum dengan tenang."Layak?"Ranti tertawa melengking. "Ya! Aku layak! Aku memang pantas! Tapi, kamu? Arum, apa kamu bahagia selama 15 tahun terakhir ini?"Arum menatapnya. "Apa itu penting?""Penting!" teriak Ranti parau. "Aku harus tahu kalau meski aku kalah, kamu belum tentu menang! Kamu menjadi Ibu Suri yang dihormati, tapi bagaimana dengan hatimu? Orang yang kamu pernah cintai membencimu, orang yang kamu benci sudah mati. Seumur hidupmu, kamu ditakdirkan sebatang kara!"Arum terdi

  • Takhta yang Dibayar Air Mata   Bab 20

    Kabar mengenai kembalinya Arum ke istana bagaikan sebongkah batu raksasa yang dilemparkan ke permukaan danau yang tenang, memicu gelombang yang dahsyat.Seluruh istana dan kalangan pejabat terkejut, sementara harem pun gempar.Akan tetapi, Aji menggunakan kekuasaan mutlaknya untuk menekan dan membungkam semua keraguan yang ada.Dia mengumumkan bahwa sang Permaisuri saat itu dijebak oleh kaki tangan penjahat, sehingga terpaksa memalsukan kematiannya demi menyelamatkan diri.Kini, setelah kebenaran terungkap sepenuhnya, sudah sepatutnya dia disambut kembali ke istana.Tidak ada satu orang pun yang berani membantah.Sebab, mantan Permaisuri dari Keluarga Wirasana masih dikurung di dalam Istana Pengasingan dan semua pelayan istana yang terlibat dalam kasus tersebut telah dieksekusi.Tidak ada yang mau menjadi korban berikutnya.Arum pun kembali menempati Istana Pranaba.Segala sesuatu di sana masih sama seperti dulu, hanya saja kini ada tambahan jejak dari kedua anak mereka. Kuda kayu keci

  • Takhta yang Dibayar Air Mata   Bab 19

    Upacara pengangkatan Putra Mahkota ditetapkan pada hari pertengahan musim kemarau.Hari itu, seluruh pejabat memberi penghormatan, dan seluruh rakyat menyaksikan upacara tersebut.Bayu yang baru berusia tiga tahun mengenakan jubah kebesaran Putra Mahkota berwarna kuning aprikot. Tangan kecilnya digandeng oleh Aji, berjalan selangkah demi selangkah menaiki tangga batu batu alam putih di depan Aula Harmoni Agung.Meski masih sangat kecil, bocah itu melangkah dengan sangat mantap. Sorot matanya memancarkan ketenangan yang melampaui usianya.Aji menatap putranya, lalu tiba-tiba teringat pada Arum. Mata anak ini benar-benar sangat mirip dengan wanita itu.Setelah upacara itu selesai, acara dilanjutkan dengan jamuan istana.Alunan musik dan tarian memenuhi ruangan, diiringi denting cawan-cawan anggur yang saling beradu dalam kemeriahan.Aji duduk di atas takhta Raja. Dia memandang kemewahan dan keramaian di dalam aula, tetapi hatinya terasa hampa.Dia teringat waktu-waktu seperti ini pada ta

  • Takhta yang Dibayar Air Mata   Bab 18

    "Lalu, setelah itu?""Setelah itu, aku ingin Bayu menjadi Putra Mahkota yang sah."Arum menatap ayahnya. "Ayah, kerajaan ini kelak akan menjadi milik putraku dan juga milik keluarga kita. Kalau aku tidak memperjuangkannya, apa aku harus membiarkannya jatuh ke tangan sisa-sisa pengikut Keluarga Wirasana? Atau menyerahkannya kepada selir-selir lain yang mungkin akan muncul di masa depan?"Jantung Pandu berdegup kencang mendengarnya."Jadi, saat Ayah bertanya apa aku sudah memikirkannya matang-matang."Arum berkata dengan sangat tenang, "Aku sudah memikirkannya dengan sangat matang. Mundur satu langkah berarti jatuh ke jurang tanpa dasar. Maju satu langkah, mungkin aku masih bisa memperjuangkan secercah jalan hidupku.""Dan jalan hidupmu ada di dalam istana?""Jalan hidupku ada di tanganku sendiri." Arum tersenyum tipis. "Apa bedanya di dalam atau di luar istana? Selama Bayu ada, selama keluarga kita tetap berdiri, aku pasti bisa bertahan hidup dengan baik di mana pun aku berada."Arum me

  • Takhta yang Dibayar Air Mata   Bab 17

    Ketika kabar mengenai pemakzulan Permaisuri sampai ke kediaman luar, Arum sedang berjemur di halaman.Dayang Sumbi masuk dengan tergesa-gesa sambil membawa sepucuk surat rahasia. Wajahnya tidak bisa menyembunyikan rasa gembira. "Nyonya, ada kabar dari istana. Yang Mulia telah memakzulkan Permaisuri! Nyonya Ranti telah dicopot dari gelarnya menjadi rakyat jelata dan diasingkan ke Istana Pengasingan!"Buku di tangan Arum sama sekali tidak bergerak. Dia hanya meliriknya sedikit. "Hmm."Dayang Sumbi tertegun. "Nyonya, Anda tidak senang?""Aku senang," ucap Arum datar. "Mengapa aku harus tidak senang?"Akan tetapi, di wajahnya memang sama sekali tidak menyiratkan kegembiraan.Dayang Sumbi ragu-ragu sejenak. "Nyonya, kalau sudah begini, situasinya menjadi lebih baik. Pangeran dan Tuan Putri akhirnya bisa mengakui Anda sebagai ibu mereka secara terang-terangan. Setelah beberapa waktu berlalu dan keadaan mulai tenang, mungkin Anda bisa ....""Bisa apa?" Arum memotong ucapannya. "Kembali ke ist

  • Takhta yang Dibayar Air Mata   Bab 16

    Tiga hari kemudian, Pandu akhirnya sembuh dari sakitnya dan kembali memasuki istana.Aji menemuinya di Istana Kedaton.Baru setengah bulan mereka tidak bersua, uban di pelipis Penasihat Agung itu kini telah jauh lebih banyak. Gurat-gurat merah terlihat jelas di matanya dan raut wajahnya tampak begitu kuyu.Aji menatapnya, rasa bersalah di dalam dadanya kian dalam."Penasihat Agung Pandu, turut berduka cita." Dia menuangkan sendiri secangkir teh, lalu mendorongnya ke hadapan Pandu.Pandu mengucap terima kasih atas kemurahan hati sang Raja, tetapi sama sekali tidak menyentuh cangkir teh tersebut."Yang Mulia memanggil hamba ke istana, apa ada urusan tertentu?"Aji terdiam sejenak sebelum berkata, "Aku telah menaikkan status Arum dengan gelar anumerta sebagai Permaisuri dan memindahkan makamnya ke makam kerajaan. Apa Penasihat Agung Pandu sudah mendengarnya?""Hamba sudah tahu," jawab Pandu dengan suara tenang. "Mewakili putri hamba, hamba mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya at

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status