Share

Bab 2

Author: Antonia
Tiga tahun lalu, pada malam ketika putranya direnggut dari pelukannya, Arum sudah pernah berpikir untuk mati.

Arum adalah putri tunggal Penasihat Agung, Pandu Kalandra. Sejak kecil, ia telah mendalami sastra dan berbagai ilmu pengetahuan, sehingga namanya termasyhur di seantero ibu kota.

Jika bukan karena gejolak politik saat Raja baru naik takhta, Arum tidak akan dikirim ke istana. Saat itu, ayahnya beralasan bahwa "pejabat sipil harus seiring sejalan dengan penguasa". Padahal, Arum seharusnya menikah dengan seorang pemuda berbakat. Menghabiskan sisa hidupnya dengan saling berbalas puisi dan menikmati secawan arak, menjalani kehidupan yang terhormat, tenang, dan bebas.

Masuk ke dalam istana bukanlah keinginannya.

Akan tetapi, kala itu, Aji baru naik takhta dengan kekuatan militer, sehingga situasi istana belum stabil dan negeri ini pun belum sepenuhnya aman.

Ayah Arum, Pandu, adalah pemimpin para pejabat sipil dan pernikahan ini merupakan simbol aliansi antara penguasa dan bawahannya. Karena itulah, dia menerima titah tersebut.

Meski begitu, jauh di lubuk hati Arum yang paling dalam, ada sebersit harapan tersembunyi yang bahkan enggan dia akui, karena dia memang pernah mencintai Aji.

Arum pernah jatuh hati pada sosok jenderal yang kembali dari perbatasan utara, seorang pahlawan penumpas pemberontakan, berdiri dengan gagah di aula besar menerima penghormatan dari para pejabat.

Arum masuk ke istana dengan harapan tersembunyi, mengira setidaknya bisa mendapatkan sedikit ketulusan.

Sampai saat hamil empat bulan, di balik taman batu istana, dia mendengar Aji berkata kepada Ranti.

"Ranti, tenanglah, di dalam hatiku cuma ada kamu seorang. Si Arum itu cuma untuk meneruskan garis keturunan kerajaan. Begitu anak itu lahir, dia akan dibawa ke pangkuanmu untuk dibesarkan."

Setiap kata yang keluar seperti pisau, mengoyak habis seluruh fantasi indah yang Arum simpan.

Malam itu, Arum duduk termenung di kamarnya hingga fajar menyingsing, tanpa menitikkan setetes air mata pun.

Ternyata dia tidak menikah dengan seorang pahlawan. Dia hanya menjadi bidak catur, sebuah alat.

Dia pernah berpikir untuk mati, tetapi saat itu negeri ini baru saja damai, pemerintahan belum stabil.

Jika dia bunuh diri, itu akan menjadi kejahatan besar bagi seorang selir dan menyeret ayahnya ikut menanggung akibat.

Jika dia berpura-pura mati demi melarikan diri, itu sama saja menghancurkan hubungan harmonis antara penguasa dan para bawahan yang susah payah dibangun ayahnya demi kestabilan negeri.

Dia hanya bisa bertahan hidup di dalam istana yang sunyi.

Satu-satunya hal yang dia nantikan setiap hari hanyalah saat pergi memberi salam ke kediaman Permaisuri, agar bisa mendengar celoteh anaknya dari balik tirai.

Meski hanya berupa bayangan yang samar, hal itu sudah cukup untuk membuatnya bertahan melewati hari.

Kini, tiga tahun telah berlalu.

Dia juga sudah melahirkan seorang putri. Kedua anaknya kini telah menjadi anak sah Ranti.

Negeri sudah damai dan pemerintahan pun telah stabil.

Bidak catur politik seperti dirinya ini telah dimanfaatkan sepenuhnya, menunaikan tugas untuk meneruskan garis keturunan kerajaan.

Akhirnya, dia bisa bebas.

Arum berbaring di atas ranjang sembari menghitung hari.

Tujuh hari lagi ayahnya akan kembali ke istana, pulang dari tugas inspeksi di wilayah selatan.

Selama tiga tahun ini, ayahnya membantu Aji di luar istana untuk menenangkan para pejabat sipil dan membenahi birokrasi, sementara Arum di dalam istana menjadi selir yang lembut dan berbudi luhur. Mereka berdua, yang satu di pemerintahan luar dan yang satu di istana harem, memainkan drama keselarasan antara penguasa dan bawahan ini dengan sempurna.

Sekarang, negeri ini sudah damai, perbatasan utara telah aman, dan ancaman di selatan pun sudah musnah. Meskipun sesekali masih ada perselisihan antara pejabat sipil dan panglima militer di pengadilan, tetapi secara keseluruhan situasinya telah stabil.

Bidak catur seperti dirinya ini sudah dimanfaatkan sepenuhnya.

Tiga hari kemudian, putrinya itu genap berusia sebulan.

Perayaan satu bulannya digelar dengan sangat meriah.

Aula utama Istana Kencana diterangi cahaya lampu yang benderang dan hampir semua istri sah dari pejabat istana tingkat tiga ke atas hadir di sana.

Ketika Aji melangkah masuk ke aula bersama Ranti, dia menggendong pangeran di dalam pelukan.

Anak itu kini sudah berusia tiga tahun, mengenakan jubah kecil berwarna kuning aprikot, sembari merangkul leher Aji dan memanggilnya Ayahanda.

Saat Ranti mengulurkan tangan untuk menggendongnya, anak itu dengan patuh langsung menghambur ke pelukannya, lalu memanggilnya Ibunda dengan suara yang lembut.

Mereka bertiga tampak seperti sebuah keluarga yang utuh, begitu harmonis dan bahagia.

Arum menundukkan pandangannya dan mengangkat cangkir tehnya.

Tehnya terlalu panas, membuat ujung jarinya sedikit bergetar.

"Selir Arum sudah datang?" Suara Ranti terdengar, membawa nada ceria. "Aku kira kamu tidak enak badan dan tidak bisa datang."

"Hari perayaan satu bulannya Tuan Putri adalah kebahagiaan besar, hamba tentu saja harus datang." Arum bangkit berdiri dan memberi hormat, suaranya terdengar tenang.

"Bagus." Ranti melambaikan tangan. "Bayu, kemari, beri salam pada Selir Arum."

Bayu, merangkak turun dari kursi, melangkah dengan kaki kecilnya yang pendek ke samping Ranti, lalu mendongak menatap Arum dengan tatapan asing.

"Bayu, ini Selir Arum," kata Ranti dengan lembut.

Anak itu mengerjapkan mata, lalu menyapa dengan suara khas balita, "Salam, Nyonya Arum."

Tangan Arum di dalam lengan bajunya sedikit bergetar, tetapi wajahnya tetap tersenyum. "Pangeran sungguh mengerti tata krama."

"Selir Arum, duduklah," sahut Aji. Tatapannya sempat tertuju pada Arum sesaat, lalu kembali berpaling.

Jamuan makan pun berlanjut. Para istri pejabat terus melontarkan kata-kata pujian, menyanjung sang putri yang tampak menggemaskan bak boneka, memuji kebaikan hati Ranti, serta mengagumi kebijaksanaan Aji.

Arum hanya duduk terdiam. Sesekali dia mengambil sedikit makanan dengan sendok, meski lidahnya sama sekali tidak bisa mengecap rasa.

Setelah jamuan berlangsung beberapa lama, Ranti tiba-tiba berujar, "Bicara tentang ini, Selir Arum bagaimanapun adalah ibu kandung Tuan Putri, tetapi tampaknya dia belum pernah menggendong anak ini, bukan?"

Suasana di dalam aula seketika senyap.

Arum mendongak, menyambut tatapan mata Ranti yang penuh senyuman.

"Hari ini adalah perayaan satu bulannya, sudah seharusnya membiarkanmu menggendongnya."

Sembari berkata demikian, Ranti benar-benar bangkit berdiri sambil mendekap sang bayi, lalu melangkah berjalan ke arahnya.

Para istri pejabat serentak saling melirik dengan heran.

Arum ikut bangkit berdiri, lalu mengulurkan kedua tangannya untuk menyambut bayi itu.

Kain bedong yang berpindah ke lengannya terasa hangat. Wajah mungil sang bayi terlihat samar. Kedua matanya terpejam, tertidur dengan begitu lelap.

Ini adalah putrinya.

Akan tetapi, baru beberapa saat dia menggendongnya, sang bayi tiba-tiba menangis kencang dengan suara yang nyaring.

Ranti segera mengulurkan tangan untuk mengambil kembali bayi itu ke pelukannya, lalu menimangnya dengan lembut. "Cup, cup, jangan menangis ya, Ibunda ada di sini."

Anehnya, begitu kembali ke pelukan Ranti, tangisan sang bayi perlahan mulai mereda.

Beberapa orang di dalam aula mulai berbisik-bisik.

"Bagaimanapun, anak akan lebih dekat dengan orang yang mengasuhnya setiap hari."

"Kasih sayang orang yang membesarkan memang lebih besar daripada yang melahirkan."

"Selir Arum bagaimanapun masih muda, dia tidak tahu cara menggendong bayi."

Setiap kalimat itu terasa seperti jarum yang menusuk tepat ke dalam hati Arum.

Dia tetap berdiri terpaku di tempatnya, kedua tangannya masih bertahan dalam posisi menggendong, tetapi kini sudah kosong.

Sembari menimang sang bayi, Ranti berkata dengan nada sesal, "Selir Arum jangan berkecil hati, ya. Tuan Putri memang suka rewel kalau dipegang orang asing."

"Hamba lah yang kurang terampil, hingga mengejutkan Tuan Putri."

Arum menundukkan pandangannya, suaranya tetap terdengar tenang. "Permaisuri sudah begitu lelah merawat Tuan Putri, hamba sangat berterima kasih."

Setelah berkata demikian, dia berbalik menghadap Aji. "Yang Mulia, hamba merasa kurang sehat, jadi hamba mohon izin untuk undur diri lebih awal."

Aji menatap wajahnya yang pucat, lalu terdiam sejenak. "Pergilah, istirahatlah yang cukup."

"Terima kasih, Yang Mulia."

Arum memberi hormat, lalu berbalik dan melangkah pergi.

Dia bisa merasakan tatapan-tatapan yang menghujam punggungnya, tatapan iba, cemoohan, hingga pandangan yang senang di atas penderitaannya.

Saat dia melangkah keluar dari Istana Kencana, langit sudah gelap.

Dayang Sumbi memapahnya, lalu berbisik lirih, "Nyonya, mari kita kembali ke istana."

"Hmm."

Setelah melangkah beberapa langkah, Arum mendadak menghentikan langkahnya, lalu menoleh ke belakang untuk melihat sekali lagi.

Aula utama di sana tampak benderang, riuh tawa dan kebahagiaan terdengar menembus jendela kertas.

Dia menyaksikan Aji melangkah ke samping Ranti, menunduk menatap sang bayi, sementara Ranti mendongak melemparkan senyum manis ke arahnya, dan Bayu merangkul erat kaki sang ayah.

Benar-benar tampak seperti sebuah keluarga seutuhnya.

Akan tetapi, itu adalah kebahagiaan keluarga orang lain.

Sama sekali tidak ada hubungannya dengan dirinya.

Dia pun membalikkan tubuh, lalu terus berjalan ke depan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Takhta yang Dibayar Air Mata   Bab 21

    "Aku dengar kabar ... dia sudah mati."Ranti tiba-tiba tertawa. Suara tawanya terdengar parau dan serak seperti embusan angin dari alat tua yang rusak. "Di saat-saat terakhirnya, nama yang dia panggil adalah namamu."Arum diam."Kamu tahu bagaimana aku menghabiskan 15 tahun terakhir ini?"Ranti menatapnya. "Aku melihatmu naik selangkah demi selangkah, melihat putramu menjadi Putra Mahkota, melihatmu menjadi Ibu Suri. Sementara aku, membusuk di sini seperti anjing!""Itu ganjaran yang layak untukmu," ucap Arum dengan tenang."Layak?"Ranti tertawa melengking. "Ya! Aku layak! Aku memang pantas! Tapi, kamu? Arum, apa kamu bahagia selama 15 tahun terakhir ini?"Arum menatapnya. "Apa itu penting?""Penting!" teriak Ranti parau. "Aku harus tahu kalau meski aku kalah, kamu belum tentu menang! Kamu menjadi Ibu Suri yang dihormati, tapi bagaimana dengan hatimu? Orang yang kamu pernah cintai membencimu, orang yang kamu benci sudah mati. Seumur hidupmu, kamu ditakdirkan sebatang kara!"Arum terdi

  • Takhta yang Dibayar Air Mata   Bab 20

    Kabar mengenai kembalinya Arum ke istana bagaikan sebongkah batu raksasa yang dilemparkan ke permukaan danau yang tenang, memicu gelombang yang dahsyat.Seluruh istana dan kalangan pejabat terkejut, sementara harem pun gempar.Akan tetapi, Aji menggunakan kekuasaan mutlaknya untuk menekan dan membungkam semua keraguan yang ada.Dia mengumumkan bahwa sang Permaisuri saat itu dijebak oleh kaki tangan penjahat, sehingga terpaksa memalsukan kematiannya demi menyelamatkan diri.Kini, setelah kebenaran terungkap sepenuhnya, sudah sepatutnya dia disambut kembali ke istana.Tidak ada satu orang pun yang berani membantah.Sebab, mantan Permaisuri dari Keluarga Wirasana masih dikurung di dalam Istana Pengasingan dan semua pelayan istana yang terlibat dalam kasus tersebut telah dieksekusi.Tidak ada yang mau menjadi korban berikutnya.Arum pun kembali menempati Istana Pranaba.Segala sesuatu di sana masih sama seperti dulu, hanya saja kini ada tambahan jejak dari kedua anak mereka. Kuda kayu keci

  • Takhta yang Dibayar Air Mata   Bab 19

    Upacara pengangkatan Putra Mahkota ditetapkan pada hari pertengahan musim kemarau.Hari itu, seluruh pejabat memberi penghormatan, dan seluruh rakyat menyaksikan upacara tersebut.Bayu yang baru berusia tiga tahun mengenakan jubah kebesaran Putra Mahkota berwarna kuning aprikot. Tangan kecilnya digandeng oleh Aji, berjalan selangkah demi selangkah menaiki tangga batu batu alam putih di depan Aula Harmoni Agung.Meski masih sangat kecil, bocah itu melangkah dengan sangat mantap. Sorot matanya memancarkan ketenangan yang melampaui usianya.Aji menatap putranya, lalu tiba-tiba teringat pada Arum. Mata anak ini benar-benar sangat mirip dengan wanita itu.Setelah upacara itu selesai, acara dilanjutkan dengan jamuan istana.Alunan musik dan tarian memenuhi ruangan, diiringi denting cawan-cawan anggur yang saling beradu dalam kemeriahan.Aji duduk di atas takhta Raja. Dia memandang kemewahan dan keramaian di dalam aula, tetapi hatinya terasa hampa.Dia teringat waktu-waktu seperti ini pada ta

  • Takhta yang Dibayar Air Mata   Bab 18

    "Lalu, setelah itu?""Setelah itu, aku ingin Bayu menjadi Putra Mahkota yang sah."Arum menatap ayahnya. "Ayah, kerajaan ini kelak akan menjadi milik putraku dan juga milik keluarga kita. Kalau aku tidak memperjuangkannya, apa aku harus membiarkannya jatuh ke tangan sisa-sisa pengikut Keluarga Wirasana? Atau menyerahkannya kepada selir-selir lain yang mungkin akan muncul di masa depan?"Jantung Pandu berdegup kencang mendengarnya."Jadi, saat Ayah bertanya apa aku sudah memikirkannya matang-matang."Arum berkata dengan sangat tenang, "Aku sudah memikirkannya dengan sangat matang. Mundur satu langkah berarti jatuh ke jurang tanpa dasar. Maju satu langkah, mungkin aku masih bisa memperjuangkan secercah jalan hidupku.""Dan jalan hidupmu ada di dalam istana?""Jalan hidupku ada di tanganku sendiri." Arum tersenyum tipis. "Apa bedanya di dalam atau di luar istana? Selama Bayu ada, selama keluarga kita tetap berdiri, aku pasti bisa bertahan hidup dengan baik di mana pun aku berada."Arum me

  • Takhta yang Dibayar Air Mata   Bab 17

    Ketika kabar mengenai pemakzulan Permaisuri sampai ke kediaman luar, Arum sedang berjemur di halaman.Dayang Sumbi masuk dengan tergesa-gesa sambil membawa sepucuk surat rahasia. Wajahnya tidak bisa menyembunyikan rasa gembira. "Nyonya, ada kabar dari istana. Yang Mulia telah memakzulkan Permaisuri! Nyonya Ranti telah dicopot dari gelarnya menjadi rakyat jelata dan diasingkan ke Istana Pengasingan!"Buku di tangan Arum sama sekali tidak bergerak. Dia hanya meliriknya sedikit. "Hmm."Dayang Sumbi tertegun. "Nyonya, Anda tidak senang?""Aku senang," ucap Arum datar. "Mengapa aku harus tidak senang?"Akan tetapi, di wajahnya memang sama sekali tidak menyiratkan kegembiraan.Dayang Sumbi ragu-ragu sejenak. "Nyonya, kalau sudah begini, situasinya menjadi lebih baik. Pangeran dan Tuan Putri akhirnya bisa mengakui Anda sebagai ibu mereka secara terang-terangan. Setelah beberapa waktu berlalu dan keadaan mulai tenang, mungkin Anda bisa ....""Bisa apa?" Arum memotong ucapannya. "Kembali ke ist

  • Takhta yang Dibayar Air Mata   Bab 16

    Tiga hari kemudian, Pandu akhirnya sembuh dari sakitnya dan kembali memasuki istana.Aji menemuinya di Istana Kedaton.Baru setengah bulan mereka tidak bersua, uban di pelipis Penasihat Agung itu kini telah jauh lebih banyak. Gurat-gurat merah terlihat jelas di matanya dan raut wajahnya tampak begitu kuyu.Aji menatapnya, rasa bersalah di dalam dadanya kian dalam."Penasihat Agung Pandu, turut berduka cita." Dia menuangkan sendiri secangkir teh, lalu mendorongnya ke hadapan Pandu.Pandu mengucap terima kasih atas kemurahan hati sang Raja, tetapi sama sekali tidak menyentuh cangkir teh tersebut."Yang Mulia memanggil hamba ke istana, apa ada urusan tertentu?"Aji terdiam sejenak sebelum berkata, "Aku telah menaikkan status Arum dengan gelar anumerta sebagai Permaisuri dan memindahkan makamnya ke makam kerajaan. Apa Penasihat Agung Pandu sudah mendengarnya?""Hamba sudah tahu," jawab Pandu dengan suara tenang. "Mewakili putri hamba, hamba mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya at

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status