แชร์

BAB 197

ผู้เขียน: Rainina
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2026-02-16 11:45:42

"Aku Tidak mengeluarkan suara aneh!" protes Evelyn.

Davian tidak menjawab. Ia menggulung lengan kemejanya lebih tinggi, mengambil spons mandi, dan menuangkan sabun cair.

Keheningan yang canggung menyelimuti ruangan itu. Hanya ada suara percikan air dan napas mereka berdua.

Davian mulai menggosok lengan Evelyn dengan spons. Ge

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Taktik Menaklukan Ayah Musuhku   BAB 217

    Adriana tersenyum manis, hatinya menghangat mendengar pujian suaminya yang selalu berhasil meruntuhkan segala keraguannya. Matanya kembali menatap lembaran sketsa di atas map coklat itu. Setelah menimbang-nimbang sejenak, jari telunjuknya akhirnya berhenti pada salah satu desain.Gaun itu berpotongan A-line dengan kerah off-shoulder berenda klasik. Siluetnya jatuh dengan sangat elegan, tidak terlalu ketat di bagian perut, memberikan kesan mewah tanpa terlihat berlebihan."Aku suka yang ini." bisik Adriana lembut. "Sederhana, tapi sangat cantik."Victor menunduk, menatap sekilas sketsa yang ditunjuk istrinya sebelum pandangannya kembali terkunci pada bibir Adriana."Pilihan yang sempurna." puji Victor dengan suara serak yang berat. "Sama sempurnanya dengan wanita yang akan memakainya."Sebelum Adriana sempat merespons gombalan maut itu, tangan Victor yang berada di tengkuk istrinya memberikan tarikan lembut. Pria itu menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang dalam. Map coklat

  • Taktik Menaklukan Ayah Musuhku   BAB 216

    Mengabaikan tumpukan pekerjaan di mejanya sejenak, Adriana melangkah menuju ruangan Victor.. Jantungnya masih berdebar kencang sambil memeluk map coklat berisi desain gaun pengantin itu di dadanya.Ia tersenyum sopan pada sekretaris Victor dan langsung diizinkan masuk tanpa pertanyaan.Begitu melangkah ke dalam ruangan suaminya, Adriana segera menutup pintu di belakang punggungnya dan menguncinya dari dalam.Di balik meja kerja besarnya, Victor sedang memeriksa sebuah dokumen dengan kacamata baca bertengger di pangkal hidungnya. Mendengar suara pintu dikunci, pria itu perlahan mendongak.Melihat kedatangan istrinya yang tersipu malu dengan map coklat di pelukannya, sudut bibir Victor perlahan tertarik ke atas. Ia melepaskan kacamata bacanya, meletakkannya di atas meja, lalu menyandarkan punggung tegapnya ke kursi kulit kebesarannya dengan santai. Aura intimidasinya menguap tak berbekas, digantikan oleh pesona karismatik yang selalu membuat Adriana lutut Adriana lemas."Apa ada lapor

  • Taktik Menaklukan Ayah Musuhku   BAB 215

    "Apa kau benar-benar masih ingin menceraikanku?"Suara Evelyn terdengar sangat pelan, rapuh, dan nyaris seperti bisikan putus asa. Tidak ada lagi Nona Besar Sterling yang dominan di ruangan itu. Yang ada hanyalah seorang wanita yang ketakutan setengah mati kehilangan pria di hadapannya.Mendengar pertanyaan itu, rahang Davian menegang. Pria itu menatap mata istrinya yang kini berkaca-kaca selama beberapa detik, sebelum akhirnya ia menghembuskan napas panjang dan berat. Davian memutus kontak mata mereka, mengalihkan pandangannya ke arah meja di depannya.Pria itu menolak menjawab.Namun, bagi Evelyn, keheningan dan keengganan Davian untuk menatap matanya itu merupakan sebuah jawaban tersendiri. Evelyn menelan ludah dengan susah payah, air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya menetes jatuh membasahi pipinya."Apa yang harus kulakukan, Davian?"Davian masih diam mematung. Tubuhnya kaku, menolak membiarkan emosi wanita itu meruntuhkan logikanya."Apa yang harus kulakukan agar kau beru

  • Taktik Menaklukan Ayah Musuhku   BAB 214

    “Apa?" tanya Adriana pelan, seolah takut ia salah mendengar."Pesta pernikahan." ulang Victor. Suara pria itu mengalun tenang di dalam kabin mobil yang senyap."Aku..." Adriana terdiam. Kata-kata seakan tersangkut di tenggorokannya. Ia menundukkan pandangan, menatap jemarinya yang saling bertaut di atas pangkuan.Victor membuang napas pelan. Ibu jarinya masih mengusap lembut pipi Adriana, menyorotkan tatapan penuh rasa bersalah yang jarang sekali mampir di wajah pria berkuasa itu. "Aku tahu aku bersikap tidak adil padamu, Adriana. Aku menikahimu dengan begitu terburu-buru, hanya mendaftarkan administrasinya tanpa pernah menanyakan apa yang sebenarnya kau inginkan."Adriana menggigit bibir bawahnya.Jauh di lubuk hatinya, Adriana tidak bisa berbohong. Ia sama seperti wanita pada umumnya. Ia memiliki impian tentang gaun putih yang menyapu lantai, altar yang dipenuhi bunga, dan janji suci yang diucapkan di hadapan altar. Bahkan dulu... saat ia hampir menikah dengan Darren sebelum Evely

  • Taktik Menaklukan Ayah Musuhku   BAB 213

    Pintu ganda ballroom hotel itu terbuka. Saat Adriana melangkah masuk dengan lengan bertaut pada Victor, seolah ada medan magnet tak kasat mata yang langsung menarik perhatian semua orang.Terutama di meja bundar tempat teman-teman lama Adriana berkumpul.Mata mereka seketika terbelalak lebar. Mulut beberapa dari mereka bahkan sedikit terbuka melihat pemandangan di depan sana. Adriana, teman mereka yang dulu selalu terlihat kelelahan dan sederhana, kini tampil begitu cantik dengan gaun sutra designer, dan perut yang membuncit tanda kehamilan, dan yang paling mengejutkan, menggandeng seorang pria luar biasa karismatik yang memancarkan aura pria berkuasa dari setiap langkahnya.Namun, sebelum Adriana dan Victor sempat menghampiri meja itu, seorang pria paruh baya bertubuh gempal tiba-tiba tergopoh-gopoh menghampiri mereka. Pria itu adalah mantan bos di tempat kerja lama Adriana, yang juga merupakan bos dari teman-temannya saat ini."Tuan Victor Sterling! Kehormatan luar biasa bisa melih

  • Taktik Menaklukan Ayah Musuhku   BAB 212

    "Menyembunyikan apa, Suamiku?"Pertanyaan parau itu mengudara, membuat darah Davian berdesir. Namun, berbekal pengalaman bertahun-tahun menghadapi situasi krisis di bawah tekanan Victor Sterling, otak Davian bekerja dalam hitungan sepersekian detik. Ia tidak membeku terlalu lama."Penawaran dari Tuan Victor untuk kembali bekerja di Sterling Industries." elak Davian cepat. Suaranya terdengar luar biasa stabil dan meyakinkan, tanpa ada nada panik sedikit pun yang bocor."Oh." gumam Evelyn pelan.Wanita itu menelan mentah-mentah kebohongan tersebut. Mengingat pasti ayahnya kesuliyan karena kehilangan asisten terbaiknya dan mencoba menarik Davian kembali. Ia berdiri diam, memperhatikan suaminya menyusupkan map coklat tebal itu ke sela-sela buku ensiklopedia dengan gerakan yang begitu tenang dan natural."Kau akan bekerja kembali pada Ayah?" tanya Evelyn lagi. Ia melangkah perlahan mendekati meja kerja."Mungkin." jawab Davian singkat.Kenyataannya, ia belum benar-benar memikirkan rencana

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status