เข้าสู่ระบบ"Julian?"Victor dapat merasakan perasaan aneh hinggap dalam dirinya saat menyebut nama itu. Pikiran Victor seketika melayang kembali ke kejadian kemarin malam. Saat Adriana tidak sengaja menyebut nama pria itu.Ia ingat Adriana menolak menjawab pertanyaannya ketika Victor bertanya apa yang pria itu lakukan padanya. Dan tanpa sadar, pikiran Victor teralihkan pada sosok ayah kandung Adriana yang menyakitinya.Tapi sekarang, mengingat bagaimana Adriana begitu menolak menjawab pertanyaan mengenai Julian terasa masuk akal."Apa hubungan antara Julian dan Adriana?" tanya Victor tajam, matanya menuntut jawaban dari Davian. "Apakah mereka pernah menjalin hubungan? Atau apa Julian menginginkan sesuatu darinya?Otak Victor berputar cepat. Ia sempat mengira Julianlah yang mengirim Adriana untuk menjebaknya. Tapi teori itu runtuh saat Adriana sendiri mengakui bahwa motifnya adalah dendam pribadi terhadap Evelyn.Lalu apa hubungan Julian dengan semua ini?Davian menggeleng pelan. Pria itu sudah
Adriana mencengkeram ponsel itu semakin erat, jantungnya berpacu menunggu kelanjutan kalimat pria itu.Apa yang akan dikatakan Victor? Apakah pria itu akan mengakui bahwa ia masih peduli? Ataukah ia akan mengakui bahwa semua ini hanyalah caranya untuk menghukum Adriana lebih lama sebelum pria itu menyerahkannya pada Evelyn?Namun, jawaban yang ditunggu tidak pernah datang.Suara Victor kembali terdengar, namun bukan jawaban yang diharapkan Adriana yang keluar dari mulut pria itu."Aku akan mengirim Davian ke apartemen lamamu siang ini," ucap Victor tiba-tiba, mengalihkan topik pembicaraan mereka begitu saja. "Dia akan membereskan semua barang-barangmu di sana dan akan menyerahkannya pada kepala pelayan hari ini juga. Kau bisa mengeceknya nanti jika ada yang tertinggal"Kening Adriana berkerut dalam. Ia menjauhkan sedikit ponsel itu dari telinganya, menatap layar hitam itu dengan tatapan tak percaya, sebelum kembali menempelkannya dengan gusar."Apa?" tanyanya bingung dengan perubahan
Adriana yang masih berdiri di hadapan pria yang menghalangi jalan keluarnya, menatap pria itu dengan wajah kesal."Apa yang kau lakukan?" tanya Adriana dengan nada tajam. "Minggir. Aku bukan tahanan di sini."Pria tua itu tidak bergeming sedikit pun. Senyum sopan masih terukir sempurna di wajahnya yang berkerut, seolah kemarahan Adriana hanyalah angin lalu."Benar, Anda memang bukan tahanan, Nona," ucap pria itu dengan nada tenang. "Karena itu, mohon izinkan saya mengantarkan Anda kembali ke kamar untuk beristirahat."Ia mengulurkan tangannya ke arah Adriana, sebuah gestur sopan untuk memandu Adriana. Dengan cepat, wanita itu memundurkan langkahnya, menjauh dari jangkauan pria tua itu."Jangan sentuh aku," desisnya penuh peringatan. "Aku..."Belum sempat Adriana menyelesaikan kalimatnya, telinganya menangkap suara langkah kaki halus di belakangnya. Bukan hanya satu pasang, tapi beberapa.Mata Adriana bergerak liar menyapu sekeliling foyer yang megah itu.Para pelayan yang tadi berpura
Evelyn mengurung dirinya di kamar tamu rumah ibunya, menolak untuk melangkah keluar selangkahpun dari kamar itu.Evelyn sudah muak. Ia tidak sudi melihat wajah ayah tirinya. Pria itu selalu bersikap sok berkuasa, menatap Evelyn dari balik kacamatanya seolah-olah Evelyn adalah hama yang harus dibasmi.Tadi pagi, pria itu kembali menceramahinya. Mengatakan bahwa Evelyn tidak memiliki pengendalian diri, bahwa ia hanyalah anak manja yang tidak tahu aturan. Kata-kata itu tajam dan merendahkan. Namun yang paling menyakitkan bagi Evelyn bukanlah hinaan ayah tirinya, melainkan reaksi ibunya.Ibunya tidak mengatakan apa-apa. Wanita itu hanya menatap mereka, mengaduk tehnya dalam diam, membiarkan suaminya merendahkan putri kandungnya sendiri.Evelyn membenci mereka semua. Ia juga tidak ingin bertemu Theo, ia tidak tahu kapan pria itu ada atau tidak ada di rumah ini.Drrt... Drrt...Ponsel Evelyn bergetar di atas nakas. Untuk kesekian kalinya dalam satu jam terakhir.Layar itu menyala menampilk
Adriana terbangun saat matahari mulai tinggi dan mengganggu pandangannya. Tangannya secara refleks meraba sisi tempat tidur di sebelahnya. Kosong.Bukan hanya kosong, sprei sutra di sisi itu terasa dingin dan licin, tanpa ada satu pun kerutan bekas tindihan tubuh. Victor sepertinya tidak tidur di sana. Pria itu bahkan tidak menyentuh sisi ranjang itu semalaman, membiarkan Adriana menguasai ranjang itu sendirian.Adriana menghela napas panjang, menatap langit-langit kamar yang tinggi dengan perasaan campur aduk.Tok. Tok.Lamunannya buyar saat suara ketukan halus terdengar, disusul pintu kamar yang terbuka perlahan. Seorang pelayan wanita berseragam rapi melangkah masuk, membawa nampan berisi sarapan.“Permisi, Nona,” ucap pelayan itu sopan, namun matanya tidak berani menatap langsung ke arah wajah lebam Adriana. Ia meletakkan nampan itu di atas meja nakas. “Tuan meminta saya membawakan sarapan dan obat pereda nyeri untuk Anda.”Adriana hanya mengangguk pelan, matanya terpaku pada namp
Victor membawa Adriana masuk ke dalam kamar tidur utama, ruangan luas bernuansa abu-abu gelap dan maskulin yang selama ini hanya bisa Adriana bayangkan.Ia mendudukkan Adriana dengan hati-hati di tepi ranjang berukuran king size, seolah wanita itu adalah barang pecah belah. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Victor berjalan menuju lemari di sudut ruangan dan kembali dengan sebuah kotak P3K lengkap di tangannya.Lampu kamar yang temaram menyembunyikan sebagian ekspresi Victor, namun Adriana bisa merasakan ketegangan yang menguar dari tubuh pria itu.Victor menarik sebuah kursi mendekat ke tepi ranjang, lalu duduk tepat di hadapan Adriana. "Ini akan sedikit perih," gumam Victor pelan, suaranya terdengar berat namun lembut.Kapas basah itu menyentuh sudut bibir Adriana yang sobek."Sshhh..." Adriana mendesis refleks, tubuhnya sedikit tersentak mundur."Maaf," ujar Victor cepat. Tangannya berhenti di udara sejenak, membiarkan Adriana mengatur napas, sebelum kembali menyentuh luka itu de







