Share

46. Roh Senjata

Author: Pancur Lidi
last update Last Updated: 2026-03-05 15:14:21

Talang Mayan melepaskan Cakram Sudra ke arah siluman kepiting itu. Cahaya merah menyelimuti senjata tersebut, diiringi dengan pusaran angin yang nampak seperti cincin alami di sekelilingnya.

Siluman kepiting mendongak ke atas, menatap senjata cakram sudara dengan mata terbelalak tidak percaya. Secara spontan, siluman itu mengerahkan seluruh energi siluman untuk bertahan.

Namun, dia lupa, energi siluman yang dimilikinya tidak memungkinkan untuk menciptakan prisai pertahanan yang lebih kuat.

Boom
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Talang Mayan: Warisan Tekad Pemburu Darah Iblis   57. Gangguan Kecil

    Talang Mayan memegang mustika burung hantu berusia seribu tahun di tangan kanannya, kemudian dia meminta Ki Paraswara untuk membaca mantra jiwa terhadap siluman itu. Namun disinilah letak kesalahan yang dilakukan oleh Ki Paraswara.Dia fikir dapat menggunakan mantra jiwa saat siluman burung hantu -yang dia bawa pula, dapat dilakukan jika siluman itu masih hidup. Namun tepat ketika nyawa siluman itu hampir sepenuhnya menghilang, maka mantra jiwa harus diucapkan.Sebaliknya, mantra itu tetap tidak akan berfungsi jika kematian siluman itu sudah lama. Jiwanya sudah pergi meninggalkan dunia ini.Untuk membantu Ki Paraswara, Talang Mayan mengeluarkan belatinya, kemudia dengan cepat menyembelih siluman burung hantu tersebut. “Bacakan mantranya!” kata Talang Mayan.Ki Paraswara mengangguk, langsung memulai mantra jiwa bersama dengan berakhirnya nyawa di dalam tubuh siluman tersebut.Beberapa saat kemudian, cahaya berwarna ungu tua muncul dari tubuh siluman burung hantu tersebut, yang melayang

  • Talang Mayan: Warisan Tekad Pemburu Darah Iblis   56. Anugrah Ratu Lebah

    “Oh, mengendalikan dua senjata sekaligus, kau benar-benar berbakat, Manusia kerdil. Namun apa yang akan kau lakukan dengan belati itu? kau tidak bisa mengalahkan angin dengan logam, mahluk kerdil?!”Tentu saja, siapa yang akan mengalahkan angin dengan logam. Talang Mayan tidak akan melakukannya, tapi dia tahu bahwa kayu bisa dikalahkan dengan belati. Ya, tujuan Talang Mayan jelas, memotong ranting yang ada di atas, membuat sekuntum bunga jatuh.Mengetahui niat Talang Mayan, Ratu Lebah Nirvana mencoba menghentikannnya, tapi sudah terlambat. Belati itu meluncur cepat, menerobos angin kencang tanpa hambatan.Wush.Ranting kecil di pucuk pohon itu kini terpotong, perlahan mulai jatuh. Sebelum sekuntum bunga itu terbang dibawa angin, Talang Mayan mengerahkan kemampuan pengendaliannya, yang memungkinkan bunga itu tidak akan melayang jauh.Wush.Dia melompat tinggi, meninggalkan Cakram Sudra yang berputar cepat menahan hembusan angin yang datang dari empat sisi.Berhasil. Pemuda itu menangka

  • Talang Mayan: Warisan Tekad Pemburu Darah Iblis   55. Ujian Besar

    “Guru, kau sudah berjanji untuk mengajariku menggunakan jimat lebah nirvana setelah aku mendapatkan 45 cakra spiritual, aku menagih janjimu!” kata Talang Mayan.“Kau ini, kenapa terlalu buru-buru? Kau sudah mengganggu waktu tidurku, dan kini...”“Aku akan bertarung hidup dan mati dua minggu lagi,” ucap Talang Mayan, “aku membutuhkan bantuanmu, Guru!”“Hidup dan mati, memangnya siapa yang akan kau hadapi?!”“Kepala keluarga pedang,” jawab Talang Mayan dengan suara mantap.Dewa Semaranta menggaruk kepala botaknya berulang kali, padahal tidak ada kutu dan tidak ada rambut di kepalanya. Kemudian dia tertawa kecil, lalu meminta Talang Mayan untuk menutup matanya.Tepat saat Talang Mayan menutup mata, Dewa Semaranta mengetuk kening Talang Mayan dengan jari telunjuknya. Seketika, kesadaran Talang Mayan mendadak ditarik paksa oleh kekuatan yang sangat besar.Sampai akhirnya, dia tiba di sebuah tempat. Tempat yang di kelilingi oleh warna emas, dan terletak begitu tinggi hingga melampaui awan.

  • Talang Mayan: Warisan Tekad Pemburu Darah Iblis   54. Tanggung Jawab Besar

    Keinginan Talang Mayan untuk menggulingkan kekuasaan Kepala Keluarga Pedang, akhirnya terdengar oleh Nyi Loro Ati. Hari itu juga, dia pergi menuju rumah Ki Pamanahan untuk bertemu dengan muridnya.Setelah dia bertemu dengan Talang Mayan, Nyi Loro Ati meyakinkan Talang Mayan untuk tidak melakukan tindakan yang gegabah terhadap Keluarga Pedang. “Menantang kepala keluarga itu, bukan tindakan yang tepat. Tunggulah waktu beberapa tahun lagi, sampai kau memiliki energi spiritual setara pendekar tanpa tanding.”“Jika mereka mengetahui aku masih hidup, apakah kesempatan seperti itu akan datang lagi?” tanya Talang Mayan, “Kepala keluarga pedang bukan sosok yang bisa ditemui setiap saat, penjagaan keluarga itu sangat ketat. Jika mereka tahu aku masih hidup, seluruh anggota keluarganya akan diam-diam memburuku.”Talang Mayan tidak ingin hidup di bawah tekanan seperti beberapa tahun yang lalu. Dengan cakram sudra di tangannya, Talang Mayan memiliki potensi kemenangan sekitar 30%, melawan seorang

  • Talang Mayan: Warisan Tekad Pemburu Darah Iblis   53. Niat Membunuh

    Hari itu juga, Ki Paraswara kembali ke hutan barat Indraprasta, berharap menemukan siluman burung hantu yang masih tersisa di sana.Dia bahkan tidak dibantu oleh muridnya, dia melakukannya sendiri, hanya untuk satu tujuan, menghancurkan jalan buntu yang terpampang besar menghadang langkahnya.Sementara itu, Talang Mayan sendiri tidak mempermasalahkan hal itu. Dia tidak memiliki konflik dengan Ki Paraswara, tidak pula pria itu pernah membahayakannya. Meskipun pria itu pernah menyinggung dirinya, tapi semua itu dapat dilupakan dengan mudah oleh Talang Mayan.Namun tidak dengan Kuncoro dan Pelisik. Luka yang dibuat oleh dua orang itu masih membekas di dalam hati Talang Mayan. Mereka berulang kali merendahkan Ayahnya, itu masalah yang tidak mudah untuk dimaafkan.Namun, saat ini, Talang Mayan tidak ingin berurusan dengan keduanya. Bukan karena tidak bisa, tapi karena jika dia mau, membunuh keduanya semudah membalikan telapak tangan.Sekarang, Talang Mayan fokus membantu Ki Pamanahan untuk

  • Talang Mayan: Warisan Tekad Pemburu Darah Iblis   52. Senjata Sayap Lebah

    “Ketua, karena tidak ada bahan untuk aku kerjakan, apakah aku boleh meminjam tungku perapianmu?” tanya Talang Mayan.“Apa kau ingin membuat senjata?” jawab Ki Pamanahan.“Tungku perapian milikku rusak saat melawan siluman kepiting?”Ki Pamanahan tertawa gelak-gelak, “Memangnya kau panggang siluman itu ke dalam tungku?”“Dia menyerangku habis-habisan, aku tidak punya pilihan lain untuk bertahan kecuali menggunakan tungku perapian.” Talang Mayan begitu menyayangkan tungku perapiannya hancur karena ulah siluman itu.Bagi ahli tempa senjata seperti dirinya, tungku perapian merupakan harta yang tidak ternilai harganya. Itu sama seperti kuali bagi para tabib atau pendekar obat-obatan.“Jadi kau ingin mencetak tungkumu?”Talang Mayan hanya bisa menarik nafas panjang, sebelum kemudian mengeluarkan pecahan tungku dari dalam telapak tangannya. Tungku seberat satu ton itu,kini menjadi kepingan kecil yang bahkan membutuhkan waktu tahunan untuk diperbaiki.Menurut Talang Mayan, biayaya untuk meper

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status