Home / Romansa / Tanda Cinta Tuan Benjamin / Jatuh dalam Pelukan Benjamin

Share

Jatuh dalam Pelukan Benjamin

Author: Babytiran
last update Last Updated: 2024-01-25 08:10:41

"Benjamin, siapa dia Ayah?" tanya Lili yang terheran dengan reaksi Ayahnya.

"Dia.. dia Pemimpin Mafia Oleander." jawab Hendra masih tak percaya.

Pemimpin Oleander tak pernah sekalipun menunjukan wajahnya pada orang lain dan mereka sangat rapi dalam menangani masalah

__

"Masuklah." pria itu membukakan pintu mobil dan meminta agar Rhea segera masuk kedalamnya.

Namun, Rhea tengah kacau dengan pikirannya. "Apalagi sekarang?!" dari kehilangan Ibu, cinta Ayah yang lama mati, dan sekarang neneknya. Rasanya kepalanya hendak pecah. Mengapa rasa sakit tak pernah berhenti dia dapatkan?

“Hei!” Pria itu menyentuh pundak Rhea.

Rhea tersadar dari lamunanya. Ah! Benar dia sempat lupa bahwa sekarang dia tengah bersama pria asing.

Dari banyaknya orang, mengapa harus pria itu?! pria yang tak ingin dia temui, pria yang sangat dia benci, pria yang membuatnya berada dititik ini.

Rhea tengah berusaha melawan air mata yang hampir terjatuh dengan menahan teriakan yang tertahan di tenggorokan. Rhea menatap balik pria yang menyiksanya sejauh ini.

Kala melihat wajah pria itu. Selingan ingatan malam yang menjijikan kembali muncul. Rhea berusaha memblokir ingatan itu dan menekan ketakutannya. Dia mati-matian berusaha tampak tenang.

"Sialan!! Bajingan!! kau tak puas menghancurkanku dan sekarang kau dengan berani muncul didepanku huh!!" emosi Rhea menggebu. Rupanya dia tak bisa menahan amarahnya lebih lama.

Pria itu mengangkat kedua alisnya. Senyum kecil terselip dibibirnya. "Ah! sudah ku duga dia akan bereaksi seperti ini. Itu tampak menarik, saat dia berusaha keras menunjukan bahwa dia tidak lemah dengan situasinya." benaknya mengagumi wanita didepannya.

Pria itu memasangkan jaket pada Rhea yang baru dia ambil didalam mobil. Seketika dia tampak seperti pria hangat. “Kita bahas nanti. Angin malam sangat tidak baik untukmu.”

Rhea menepis tangan pria itu, kesabarannya sudah diambang batas. “Jangan mengalihkan pembicaraan!! Apa yang kau inginkan dariku sebenarnya?! Setelah merusak hidupku kau datang bak pahlawan!!” meski berusaha kuat, namun suaranya terdengar bergetar.

Pria itu memiringkan wajahnya, dengan jemari yang menutupi seringainya. Alih-alih membentak atau marah, dia tampak sangat tenang. Bak membiarkan Rhea meluapkan emosinya. Tidak! nyatanya dia tengah berusaha menjinakan Rhea agar dia bisa mendapatkan kepercayaannya.

“Mengapa kau diam saja?!” teriak Rhea lantang, dia menjadi emosional. “Katakan sesuatu! Kau sialan!”

Sedetik kemudian Rhea tertunduk dengan air mata menetes. Kemudian dia mengusap kasar air matanya. Dia menghela napas pelan, berusaha mengatur suaranya selepas dipenuhi emosi tak stabil. Sekarang dia perlu berpikir jernih.

Rhea mengepalkan jemarinya kuat. Dia dengan berani berkata. “Kau membantuku hari ini, anggap kita tak pernah bertemu dan mari kita lupakan kejadian malam itu.”

Setelah mengatakan kalimat itu Rhea berbalik hendak meninggalkan pria itu. "Pria itu tak akan mempertanggungjawabkan tindakannya. Rasanya pia itu hanya ingin bersenang-senang dengan mengacau ku. Hidup dengan pria yang tak senonoh? Terlebih pria yang tampak tak bersalah atas tindakannya. Apa yang bisa ku harapkan pada pria seperti itu?" memikirkannya membuat kepala Rhea kian berdenyut hebat.

Rhea mengeratkan giginya kuat. Dia berani mengambil keputusan besar. Lalu masalah bayi diperutnya, dia akan memikirkan setelahnya.

Rhea pikir pria itu akan menerima begitu saja. Namun pria itu menarik lengannya erat, menahannya agar tak pergi.

Rhea menepis kasar tangan pria itu, menatapnya marah. “Tidakkah kau mengerti dengan kalimatku?!”

Pria itu menatapnya tajam. Sorot mata hitam legamnya terpancar, begitu mengintrupsi bak meminta agar Rhea tak berlebihan. Tampaknya pria itu sangat marah, terlihat dari rahangnya yang mengeras. "Kau pikir aku akan membiarkan wanita ku pergi?!"

Meski bergidik, dia tak akan kalah dengan ketakutannya. Rhea berteriak lantang. "Aku bukan wanitamu!!"

Tangan pria itu melayang.

Rhea menutup matanya cepat. Tangan sebesar itu jika menampar pipinya rasa sakitnya akan terasa lama dan pedih. Namun…

Bukan tamparan yang dia dapatkan, tetapi sentuhan lembut dengan tatapan hangatnya. Rhea tak bisa percaya dengan situasi ini.

"Benjamin Carrillo Fuentes. Itu namaku. Aku terlambat mengenalkan diri." ucap pria itu.

“Aku datang tiba-tiba seperti ini, tentu kau terkejut.” pria itu menarik Rhea ke dalam pelukannya.

Rhea terdiam sejenak, kemudian tangis Rhea kian pecah. Dia terisak dalam pelukan pria bernama Benjamin itu.

"Sekarang kau berpura menjadi pria baik..." lirihnya terdengar pilu. Namun nyatanya dia merasa tenang dalam pelukan pria ini, dia membutuhkan sandaran. Pada akhirnya dia tak berdaya dan berakhir dipelukan pria yang dibenci ini.

"Itu tak sepenuhnya salah," jawab Benjamin.

Sangat melelahkan. Kejadian demi kejadian tak mengenakan terus menimpanya. Entahlah, Rhea tak berniat berontak lagi. Rasanya dia hanya ingin beristrihat dengan tenang tanpa memikirkan apapun.

Air mata yang tak henti menetes, perasaan tertekan, dan hati yang kacau. Berpura-pura kuat dan pada akhirnya Rhea tak mampu lagi menahan diri yang lemah. Rhea tertidur dalam pelukan Benjamin.

Benjamin memeluk Rhea erat, dia mengelus lembut wajah wanita yang tampak kacau. Dengan hati-hati dia mengecup pipi di dekat bibir Rhea. Lantas dia menggendongnya masuk ke dalam mobil.

Benjamin menatap Rhea yang tertidur lelah dikursi sebelahnya. "Wanita keras kepala yang mati-matian berusaha tegar. Aku selalu ingin dekat denganmu setelah hari itu," Benjamin tersenyum kecil.

“Tak kusangka pada akhirnya kau ada bersamaku.” Dia mengamati lama wajah Rhea.

Kemudian Benjamin menginjak pedal gas, mobil melaju dengan pelan meninggalkan kediaman Dominic yang menyesakkan.

Benjamin Carrillo Fuentes, pria berusia 29 tahun. Pria berperangai keras dan seorang pemimpin mafia Oleander. Meski sifatnya kasar, tapi dia bukan pria yang suka bermain dengan para wanita. Benjamin percaya perasaan kasih sayang dan rasa cinta pada wanita akan merusak seorang pria.

Namun, suatu ketika dia bertemu dengan Rhea yang membantunya di hujan lebat saat terluka. Rhea yang keras kepala, berhasil menarik perhatiannya.

Meski tertarik, Benjamin tak mencari keberadaan atau menyelidiki tentang Rhea lebih dalam. Dia hanya tau namanya Rhea dan hanya sesekali mengamatinya dari kejauhan. Bagi Benjamin itu sudah cukup.

Benjamin memiliki banyak musuh yang kapan saja bisa membuat Rhea terluka.

Dia tidak mau Rhea terseret masalahnya.

Usahanya menahan diri sia-sia. Saat di club temannya Daniel memberikannya bir yang biasa dia minum. Saat itu Benjamin tak menyangka Daniel akan memberikan obat perangsang kedalam minumannya.

Benjamin merasa terangsang, gerah dan bergairah. Dia tak bisa menahannya lagi dan meminta dua bawahannya untuk mencari Rhea. Dia tak bisa berpikir jernih kala itu.

Pada akhirnya, dia tak bisa menghindar. Sudah sejauh ini, maka dia memilih untuk memilikinya sepenuhnya dan tentu akan melindunginya.

__

Selama perjalanan Benjamin sibuk dengan pikirannya. Saat berhasil mengetahui identitas Rhea sebenarnya dia tak menduga bahwa Rhea putri dari keluarga terpandang dan naasnya di diperlakukan dengan tak baik.

Setelah mengemudi selama 30 menit, Benjamin menghentikan mobilnya didepan rumah mewah bak istana. Dia lantas menggendong Rhea dengan hati-hati agar dia tak terbangun.

Sontak beberapa pelayan terkejut melihat tuannya membawa seorang wanita dalam pelukannya .

“Tuan…” seorang pelayan hendak bertanya. Namun, seketika dia membungkam mulutnya cepat kala Benjamin menatapnya tajam.

Benjamin tak ingin satupun mengeluarkan bising dan membuat Rhea terbangun.

Sontak semua mengerti. Mereka hanya menatap penasaran siapa wanita yang berhasil menggaet hati kaku tuannya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tanda Cinta Tuan Benjamin   Tanggung jawabnya

    Langkah Benjamin terhenti tepat, disisi inkubator. Tangannya gemetar saat menyentuh tepiannya. Bayi itu mengeliat pelan, mengecap bibir mungilnya. Saat tangannya dengan lembut menyentuh jemari bayinya, Jantung Benjamin berdesir. Sesuatu yang tak bisa dia jelaskan dengan kata-kata. Makhluk kecil yang tampak tak berdaya dengan tangan dan kaki mungilnya, dan kenyataan bahwa ia adalah darah dagingnya. "Bayi anda sangat sehat, jangan khawatir pak." ucap seorang perawat yang berjaga. "Anda ingin mencoba mengendongnya?" Benjamin terdiam, hanya menatap bayinya lekat-lekat sementara tangannya mengepal kuat. Kemudian dia berkata tanpa menoleh, "Bayinya terlalu rapuh, dia akan hancur dalam sentuhanku." Perawat itu tersenyum kecil, seolah sering melihat seorang ayah baru yang mengalami ketakutan serupa. "Perasaan itu wajar. Tidak apa-apa. Saya bantu pak," Benjamin tak memberi respon—tidak menolak, tetapi tidak juga menyetujui. Matanya terfokus pada bayi itu, Perawat dengan per

  • Tanda Cinta Tuan Benjamin   Daniel dan kisahnya

    Saat pintu dibuka, bau antiseptik langsung menyergap, ruangan putih itu terasa terlalu tenang untuk hatinya yang campur aduk. Di sana—Rhea terbaring di ranjang rumah sakit. Wajahnya tampak begitu pucat. Mesin monitor berdetak stabil namun pelan, jarum infus menembus kulit tangannya yang dingin. Benjamin berhenti tepat di sisi ranjang, memandang Rhea tanpa ekpresi—namun sorot matanya menyimpan kegelisahan yang tak mampu ia sembunyikan. Perlahan ia membungkukkan tubuh, jemarinya terulur mengelus lembut kepala Rhea seolah takut menyakitinya. Lalu, dengan hati-hati, bibirnya menyentuh kening Rhea dalam sebuah kecupan singkat. "Terima kasih sudah bertahan sejauh ini..." bisiknya nyaris tak terdengar. "Tolong, jangan tinggalkan aku." Hening menyambutnya. Tidak ada respons. Tidak ada gerakan. Mata Rhea tetap terpejam, seolah dunia belum memanggilnya kembali. Kriet... Pintu terbuka, sontak tatapan Benjamin menajam—seolah siap menerkam siapa pun yang masuk tanpa izin.

  • Tanda Cinta Tuan Benjamin   Beep! Beep!

    Benjamin duduk di kursi panjang depan ruang bersalin, tangannya terkatup, menyangga dagu yang menunduk dalam. Wajahnya pucat, menegang, seolah setiap detik yang berlalu adalah siksaan. Dari balik pintu kaca, samar-samar ia bisa melihat tim medis berlalu-lalang, bersiap dengan peralatan steril. Rhea baru saja dipindahkan dari IGD~infus masih menancap di tangannya, wajahnya begitu lemah. Setiap kali tubuhnya bergerak, Benjamin ikut menahan napas. Takut gerakan itu akan terhenti. Jantungnya berdetak tak karuan. Dalam kepalanya, dia terus saja berdoa~berharap semua berjalan dengan lancar. "Tindakan sesar akan segera dilakukan," suara salah satu perawat memberi kabar singkat, tapi bagi Benjamin, kalimat itu seperti kabar perang. "Tolong... selamatkan keduanya," ucap Benjamin suaranya serak namun tegas. Dia menatap pintu ruangan bersalin yang kini tertutup rapat. Tangannya mengepal di pangkuan, menggigil. Sementara itu, di sisi lain rumah sakit, Daniel telah melewati masa kriti

  • Tanda Cinta Tuan Benjamin   Lahirnya pemimpin baru

    Mata Benjamin melirik ke arah Rhea—penasaran bagaimana reaksinya setelah mendengar kisah buruknya. Cerita dirinya yang terlahir dari hubungan penuh polemik.Tapi kemudian mata Benjamin membelalak—tatapan istrinya sayup, tangannya menggepal kuat. Ditengah dia mengandung besar, dia masih berusaha tetap berdiri kuat ditengah badai ketengangan. Benjamin menunduk perlahan, lututnya menyentuh tanah berdebu yang dingin. Dihadapan Kartel dia tunduk untuk pertama kalinya. "Kau menang." katanya."Lakukan tujuanmu. Bawa aku—bayangan ketakutanmu." "Istriku tengah mengandung besar." suara Benjamin berat, nyaris serak. "Dia hanya seseorang yang aku seret paksa dalam hidupku. Dia tak tahu apapun, tak tahu masalaluku." Benjamin menatap lurus ke arah Kartel—pandangan mata yang selalu tegas kini retak oleh rasa putus asa.Rhea berusaha meronta, air matanya jatuh. Hanya karena untuknya pria yang selalu keras ini sampai menyerahkan harga dirinya.Kartel menjambak kasar rambut Benjamin~memaksanya mend

  • Tanda Cinta Tuan Benjamin   Ayah dan Anak penuh Intrik

    Asap tipis masih mengepul di sepanjang jalan ketika rombongan Benjamin akhirnya tiba di titik pelacak. Mobil berhenti mendadak di depan bangunan tua di pinggir kota~tampak seperti gudang yang lama ditinggalkan. Benjamin turun cepat. Pertempuran sengit semalam membuatnya lebih waspada. Pelacak di tangannya masih menyala... tapi titiknya bergerak. BRAK!!Suara benturan keras memecah keheningan, menambah ketegangan. Dari kejauhan, terdengar "DOR! DOR!"~ dua tembakan beruntun yang menggetarkan udara.Segera Benjamin kembali masuk ke dalam mobil. Rombongannya melaju cepat ke arah sumber suara.Dua tembakan ke udara adalah tanda peringatan darurat dari Daniel. Cara menembak dan suara itu, Benjamin sangat yakin itu peringatan dari Daniel. Bahwa dia tengah berhadapan langsung dengan rombongan lawan~peringatan itu juga sebagai tanda keyakinan Daniel bahwa Benjamin berada tak jauh dari lokasinya. Setelah menabrak mobil lawan hingga terguling dan melepaskan tembakan, Daniel dengan gagah bera

  • Tanda Cinta Tuan Benjamin   Si penghianat

    Sepanjang waktu Rhea terjaga, hingga malam berganti pagi. Dia takut jika terlelap hal yang lebih buruk menanti. Bahkan napan berisi makanan disebelahnya tak tersentuh. Brak!Duak!Beberapa kali pintu dihantam sesuatu dari luar. Membuat situasi terasa mencekam. Rhea menegang jantungnya berdegub tak karuan. Lalu kemudian senyap.Tak lama kemudian pintu terbuka.Seorang wanita tiba-tiba melompat masuk. Muncul seperti bayangan dengan wajah serius. Alat pemukul digengamannya, sedangkan di punggungnya, senapan terikat rapi. Rambut terkepang dua, gayanya nyentrik, dan glamor, namun masih terkesan imut.Kini mata wanita itu tertuju pada Rhea yang duduk didekat sudut ruangan."Tada aku datang." ucapnya cengegesan. Rhea hanya berkedip beberapa kali, terheran dengan wanita itu. Kesan serius dan menegangkan wanita itu langsung berubah. Dia tampak cukup konyol.Masih bingung siapa dia, wanita itu malah mendekatinya. Wanita itu menunduk mengamati perut Rhea lekat-lekat. "Wau... perutnya benar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status