Share

Tuan Benjamin

Author: Babytiran
last update Last Updated: 2024-01-25 08:08:35

Rhea membuka matanya kala menyadari seseorang menatap ke arahnya tajam. Belum tersadar penuh, tanpa aba-aba Ayahnya langsung menarik lengannya kasar, menyeretnya bangun dari kasurnya.

"Kau sangat hina!" cerca Ayahnya.

Rhea tidak mengerti dengan kondisi tiba-tiba ini.

Saat menuruni anak tangga semua telah berkumpul di ruang tamu. Kala Rhea menatap neneknya, wanita tua itu hanya memalingkan wajah.

Ayahnya melemparnya kasar, membuat Rhea tersungkur ke lantai.

"Lagi dan lagi kau bertingkah!" bentak Ayahnya dengan amarah mendidih.

Rhea bergegas berdiri, bahkan rasa sakit dari lututnya yang lecet tak terasa. Dia menatap sekeliling meminta penjelasan. Satupun tak ada yang berniat menjawab kebingungannya.

Lalu Lili menunjukan sebuah foto USG yang didapatkan dari tas Rhea, sembari terbesit senyum penghinaan dibibirnya.

Deg.

Keringat Rhea bermunculan, menyebar dari telapak tangan hingga ke lehernya. Kepalanya berdenyut dengan ketakutan yang menyeruak. "Kau... bagaimana bisa?"

"Kau kira, bisa merahasiakan hal gila ini sampai kapan?" Lili meremehkannya dengan perasaan kemenangan telak.

"Oh! kakakku sangat tak terduga." ucapnya lagi, memprovokasi.

"Aku tak bisa mendidik Rhea dengan baik maafkan aku," timpal Ibu tirinya bersedih, namun senyum terselip di bibirnya.

Rhea menggenggam erat jemarinya yang berpeluh. Dia tak tahu harus berbuat apa. Berkelit pun semuanya sudah ketahuan.

"Jadi itu benar milikmu?!" tanya neneknya lirih, tatapan teduhnya seakan ingin percaya bahwa Rhea tak akan melakukan tindakan keji semacam itu.

Rhea tak mampu menjawab, dia tertunduk dengan air mata berkaca-kaca. Dari mana dia mulai menceritakannya?

Kemudian Rhea mendongak, menatap nanar neneknya.

Diamnya Rhea, meyakinkan nenek bahwa benar itu miliknya. Nenek memalingkan wajahnya. Dia terlihat kecewa.

Nenek melirik Rhea sekejap, dengan ekspersi yang mengungkapkan kekecewaan besar. Tentu saja beliau tak menyangka cucunya akan bertindak hina. Lantas nenek berbalik meninggalkan semua orang.

Perasaan bersalah kian memenuhi. "Tidak. Dengar dulu.. nenek..." Rhea terbata-bata sembari hendak mengejar neneknya.

Namun, dihadang cepat oleh Lili.

"Jangan halangi aku!" ucap Rhea menatap tajam Lili.

Ibu tirinya tiba-tiba saja menjambak rambut Rhea kuat.

Rhea bahkan tak meringis kesakitan, keinginan untuk mengejar neneknya lebih besar hingga dia mengabaikan rasa sakitnya. Hanya saja bagi Vareli tindakan Rhea adalah berontak yang kian membuatnya marah. 

Plak!

Ibu tirinya menampar keras pipi kiri Rhea.

"Sekarang tidak akan ada lagi yang membelamu!!" ucap Ibu tirinya dengan angkuh. "Bahkan nenek!"

"Rhea!!" bentak Ayahnya yang tiba-tiba menarik lengannya kasar. "Siapa bajingan yang bermain denganmu itu?!" Ayahnya mencengkeram erat pundak Rhea.

Rhea memalingkan wajahnya. Bagaimana dia bisa menjawab sedangkan dia tak tahu jelas siapa dan seperti apa wajah pria itu.

"Aku bertanya, siapa bajingan itu?!" pekik Ayahnya lantang.

Rhea tertunduk kian bungkam. Dia mengepal kuat jemarinya berusaha agar tak menitikan air matanya.

Ayahnya yang tersulut, menatap Rhea tajam. Kemudian...

Plak!

Pipi kanannya di tampar kuat Ayahnya. Hingga mengeluarkan darah.

Lili menutup mulutnya, tersembunyi senyum puas. Dia sungguh menantikan saat-saat kakaknya terpuruk. Dan akhirnya dia bisa melihat hal yang dinantikannya.

"Sekarang kau bukan lagi bagian dari Dominic!! Ini penghinaan yang besar!!" teriak lantang Ayahnya.

Tatapan Rhea kosong. Kalimat itu bak petir menyambar di tengah malam.

Air matanya tak terbendung lagi, dia menetes deras. Bagaimana lagi? harusnya tak seperti ini, dia bahkan belum memutuskan melahirkan anak ini namun semuanya telah runyam.

Rhea mendongak menatap keluarga nya dan tatapan tajam mengintimidasi penuh hinaan di dapatkan. Rhea tak berani membela diri lagi. Jantung nya berdetak cepat dengan perasaan yang kian terasa sakit.

"Kau tak bisa diharapkan!!" lantas sang Ayah menarik paksa Rhea keluar dari rumah.

Rhea tak bertenaga untuk berontak.

Nenek orang yang menjadi tempat yang di pikir akan mendengar setiap masalahnya kini memilih tak menoleh padanya lagi. Sekarang dia tak memiliki alasan berada di tempat ini lagi.

Omelan dan hinaan keluar dari mulut Ayahnya. Pikiran Rhea tertuju pada neneknya, hingga cercaan Ayahnya terabaikan. Bagaimana hidupnya ke depan tanpa dukungan neneknya.

Rhea yang tenggelam dengan pikirannya tak menyadari Ayahnya mendorong dirinya kasar keluar dari rumah.

Rhea terkejut. Beruntung seseorang menangkapnya.

Rhea terdiam sejenak. Lalu terdengar suara berat yang tak asing. "Aku menemukanmu."

Sontak Rhea mendongak.

Pria tinggi, dengan tubuh bak atletis, wajah yang tegas namun tampan. Terkesan angkuh dan menakutkan. Terlebih bibir seksinya sangat menarik.

Rhea membelalak tersadar. Buru-buru berdiri dengan cepat hendak menjauh dari pria yang menangkapnya.

Namun, pria itu tak melepaskannya. Dia memeluknya kian erat. Pria itu bahkan menyentuh pipi Rhea lembut.

Rhea tak mengerti mengapa pria ini bersikap aneh.

Perhatian pria itu kemudian teralih, dia menatap tajam Hendra yang berdiri di depannya yang juga menatapnya dengan tajam. Pria itu tampak murka.

"Kau yang membuat pipinya terluka?!" teriak pria itu begitu menggelegar.

"Kau jangan ikut campur urusan keluarga Dominic!!" jawab Hendra tegas, berisi kemarahan yang lebih besar.

Pria itu tertawa menakutkan, sembari menyibak kasar rambutnya.

"Jelas ini urusanku. Kau berani menyentuh wanitaku. Sialan!!"

"Pantas saja aku kesulitan menemukannya. Selain keluarga kalian pandai menyembunyikan identitas putri tertua Dominic!! Kalian juga pandai menyiksanya!!" teriak lantang pria itu, rasanya dia mulai tak terkendali.

Ya, Ayahnya selalu melarang Rhea menggunakan nama keluarga saat di luar. Jika media tau bahwa Dominic memiliki putri tertua yang gagal itu sangat memalukan.

Jikapun beberapa orang berhasil menemukan keberadaan Rhea sebagai karyawan biasa maka dia akan menutup mulut mereka dengan memberikan sejumlah uang.

"Apa-apaan dengan pria gila ini kenapa kau muncul kediamanku, dan sok menjadi pahlawan? Anak itu tak berguna, sudah lama aku menahan diri!! dan sekarang dia menunjukkan bahwa dia sangat tak layak!!"

Sorot mata pria itu begitu tajam membuat siapapun melihatnya bergidik.

Rhea menarik baju pria itu. Dia ingin menyudahinya. Dia terlalu lelah menghadapi situasi menyakitkan yang tak ada habisnya. Rasanya dia ingin cepat menghilang sekarang.

Pria itu menghela napas. Perhatian pria itu kembali tertuju pada Rhea. Dia merangkul pinggang Rhea menariknya mendekat ke arahnya.

"Aku terlalu lama, " bisiknya sembari mencium kening Rhea.

Rhea membelalak, dia sadar. Sentuhan, postur tubuh, dan suara pria ini. Semuanya sama dengan pria malam itu.

Rhea membeku, bergidik.

"Kau tak memiliki telinga?! huh!" teriak Hendra marah.

"Oh! apa pria itu. Lelaki yang menghamilimu?" ucap Ibu tirinya yang tiba-tiba saja ikut bergabung.

"Ah, jadi pria seperti itu pantas saja! Sama-sama tampak liar." timpal Lili.

"Sialan! Jadi itu kau!" amarah Hendra semakin tersulut mendengarnya.

Pria itu terkejut, dia sedikit menunduk menatap Rhea lekat-lekat. "Kau hamil?"

Cemas, gelisah, dan ketakutan semuanya menyeruak memenuhinya. Apa yang akan pria ini lakukan setelah tau dia hamil?

Rhea yang kacau tanpa sadar menggigit bibirnya kuat, hingga darah keluar dari bibir mungilnya.

Pria itu menyentuh Bibir Rhea, lantas mengelapnya dengan bibirnya.

Rhea membelalak, tak bisa mempercayai tindakan pria itu.

"Jangan menggigit bibirmu lagi, jika tak ingin aku mengelapnya dengan bibirku." pria itu menyeringai, dia tengah menggoda.

Pria itu sadar bahwa Rhea ketakutan karena dirinya. Namun dia sama sekali tak berniat melepaskan wanita yang susah payah dia temukan.

"Ikutlah denganku. Di sini, mereka memperlakukanmu tanpa kasih sayang layaknya bukan keluarga." bisik pria itu.

Tiba-tiba Hendra mencengkeram erat kerah pria itu. Dia marah pria itu mengabaikannya dan bersikap seenaknya. Mereka saling menatap tajam. Situasi kian menegang.

Sorot mata hitam legam pria itu amat mengintimidasi. Lalu pria itu memelintir lengan Hendra kuat.

"Argh!! Argh..." teriak Hendra merintih sakit.

"Pria tidak sopan!! Berani sekali bersikap kasar pada suamiku!!" teriak Vareli marah, dia bergegas berusaha membantu suaminya.

Dahi pria itu mengernyit, dia kemudian melempar Hendra.

Hendra terjatuh dan menimpa Vareli. Seringai puas terbesit di bibir pria itu.

Lili bergegas menghampiri kedua orang tuanya dengan panik. Ia menatap marah pria itu "Bajingan!! kau pikir ini di mana. Ini kediaman Dominic dan kau berani bersikap kurang ajar!!"

Pria itu menyentuh lembut wajah Rhea tanpa mempedulkan Lili. "Nah! Bagaimana kau mau ikut bersamaku?" tanyanya lagi.

Rhea menatap Ayahnya yang tengah merintih kesakitan. Tatapan tajam dari Ayahnya bak siap menyiksanya. Juga tatapan kebencian Lili dan Ibu tirinya.

Di keluarga ini dia tak memiliki tempat.

Rhea tertunduk, kemudian mengangguk pelan. Pada akhirnya dia memilih mengikuti pria yang tak ingin dia temui lagi.

Lantas pria itu menyeringai puas atas jawaban Rhea. Sebelum pergi, pria itu menatap Hendra bak memberi ultimatum.

"Benjamin Carrillo Fuentes. Ingat nama itu."

Kemudian dia membawa Rhea pergi bersamanya.

Hendra terdiam sejenak. "Be-Benjamin Carrillo Fuentes?!" dia sungguh tak mempercayai itu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tanda Cinta Tuan Benjamin   Tanggung jawabnya

    Langkah Benjamin terhenti tepat, disisi inkubator. Tangannya gemetar saat menyentuh tepiannya. Bayi itu mengeliat pelan, mengecap bibir mungilnya. Saat tangannya dengan lembut menyentuh jemari bayinya, Jantung Benjamin berdesir. Sesuatu yang tak bisa dia jelaskan dengan kata-kata. Makhluk kecil yang tampak tak berdaya dengan tangan dan kaki mungilnya, dan kenyataan bahwa ia adalah darah dagingnya. "Bayi anda sangat sehat, jangan khawatir pak." ucap seorang perawat yang berjaga. "Anda ingin mencoba mengendongnya?" Benjamin terdiam, hanya menatap bayinya lekat-lekat sementara tangannya mengepal kuat. Kemudian dia berkata tanpa menoleh, "Bayinya terlalu rapuh, dia akan hancur dalam sentuhanku." Perawat itu tersenyum kecil, seolah sering melihat seorang ayah baru yang mengalami ketakutan serupa. "Perasaan itu wajar. Tidak apa-apa. Saya bantu pak," Benjamin tak memberi respon—tidak menolak, tetapi tidak juga menyetujui. Matanya terfokus pada bayi itu, Perawat dengan per

  • Tanda Cinta Tuan Benjamin   Daniel dan kisahnya

    Saat pintu dibuka, bau antiseptik langsung menyergap, ruangan putih itu terasa terlalu tenang untuk hatinya yang campur aduk. Di sana—Rhea terbaring di ranjang rumah sakit. Wajahnya tampak begitu pucat. Mesin monitor berdetak stabil namun pelan, jarum infus menembus kulit tangannya yang dingin. Benjamin berhenti tepat di sisi ranjang, memandang Rhea tanpa ekpresi—namun sorot matanya menyimpan kegelisahan yang tak mampu ia sembunyikan. Perlahan ia membungkukkan tubuh, jemarinya terulur mengelus lembut kepala Rhea seolah takut menyakitinya. Lalu, dengan hati-hati, bibirnya menyentuh kening Rhea dalam sebuah kecupan singkat. "Terima kasih sudah bertahan sejauh ini..." bisiknya nyaris tak terdengar. "Tolong, jangan tinggalkan aku." Hening menyambutnya. Tidak ada respons. Tidak ada gerakan. Mata Rhea tetap terpejam, seolah dunia belum memanggilnya kembali. Kriet... Pintu terbuka, sontak tatapan Benjamin menajam—seolah siap menerkam siapa pun yang masuk tanpa izin.

  • Tanda Cinta Tuan Benjamin   Beep! Beep!

    Benjamin duduk di kursi panjang depan ruang bersalin, tangannya terkatup, menyangga dagu yang menunduk dalam. Wajahnya pucat, menegang, seolah setiap detik yang berlalu adalah siksaan. Dari balik pintu kaca, samar-samar ia bisa melihat tim medis berlalu-lalang, bersiap dengan peralatan steril. Rhea baru saja dipindahkan dari IGD~infus masih menancap di tangannya, wajahnya begitu lemah. Setiap kali tubuhnya bergerak, Benjamin ikut menahan napas. Takut gerakan itu akan terhenti. Jantungnya berdetak tak karuan. Dalam kepalanya, dia terus saja berdoa~berharap semua berjalan dengan lancar. "Tindakan sesar akan segera dilakukan," suara salah satu perawat memberi kabar singkat, tapi bagi Benjamin, kalimat itu seperti kabar perang. "Tolong... selamatkan keduanya," ucap Benjamin suaranya serak namun tegas. Dia menatap pintu ruangan bersalin yang kini tertutup rapat. Tangannya mengepal di pangkuan, menggigil. Sementara itu, di sisi lain rumah sakit, Daniel telah melewati masa kriti

  • Tanda Cinta Tuan Benjamin   Lahirnya pemimpin baru

    Mata Benjamin melirik ke arah Rhea—penasaran bagaimana reaksinya setelah mendengar kisah buruknya. Cerita dirinya yang terlahir dari hubungan penuh polemik.Tapi kemudian mata Benjamin membelalak—tatapan istrinya sayup, tangannya menggepal kuat. Ditengah dia mengandung besar, dia masih berusaha tetap berdiri kuat ditengah badai ketengangan. Benjamin menunduk perlahan, lututnya menyentuh tanah berdebu yang dingin. Dihadapan Kartel dia tunduk untuk pertama kalinya. "Kau menang." katanya."Lakukan tujuanmu. Bawa aku—bayangan ketakutanmu." "Istriku tengah mengandung besar." suara Benjamin berat, nyaris serak. "Dia hanya seseorang yang aku seret paksa dalam hidupku. Dia tak tahu apapun, tak tahu masalaluku." Benjamin menatap lurus ke arah Kartel—pandangan mata yang selalu tegas kini retak oleh rasa putus asa.Rhea berusaha meronta, air matanya jatuh. Hanya karena untuknya pria yang selalu keras ini sampai menyerahkan harga dirinya.Kartel menjambak kasar rambut Benjamin~memaksanya mend

  • Tanda Cinta Tuan Benjamin   Ayah dan Anak penuh Intrik

    Asap tipis masih mengepul di sepanjang jalan ketika rombongan Benjamin akhirnya tiba di titik pelacak. Mobil berhenti mendadak di depan bangunan tua di pinggir kota~tampak seperti gudang yang lama ditinggalkan. Benjamin turun cepat. Pertempuran sengit semalam membuatnya lebih waspada. Pelacak di tangannya masih menyala... tapi titiknya bergerak. BRAK!!Suara benturan keras memecah keheningan, menambah ketegangan. Dari kejauhan, terdengar "DOR! DOR!"~ dua tembakan beruntun yang menggetarkan udara.Segera Benjamin kembali masuk ke dalam mobil. Rombongannya melaju cepat ke arah sumber suara.Dua tembakan ke udara adalah tanda peringatan darurat dari Daniel. Cara menembak dan suara itu, Benjamin sangat yakin itu peringatan dari Daniel. Bahwa dia tengah berhadapan langsung dengan rombongan lawan~peringatan itu juga sebagai tanda keyakinan Daniel bahwa Benjamin berada tak jauh dari lokasinya. Setelah menabrak mobil lawan hingga terguling dan melepaskan tembakan, Daniel dengan gagah bera

  • Tanda Cinta Tuan Benjamin   Si penghianat

    Sepanjang waktu Rhea terjaga, hingga malam berganti pagi. Dia takut jika terlelap hal yang lebih buruk menanti. Bahkan napan berisi makanan disebelahnya tak tersentuh. Brak!Duak!Beberapa kali pintu dihantam sesuatu dari luar. Membuat situasi terasa mencekam. Rhea menegang jantungnya berdegub tak karuan. Lalu kemudian senyap.Tak lama kemudian pintu terbuka.Seorang wanita tiba-tiba melompat masuk. Muncul seperti bayangan dengan wajah serius. Alat pemukul digengamannya, sedangkan di punggungnya, senapan terikat rapi. Rambut terkepang dua, gayanya nyentrik, dan glamor, namun masih terkesan imut.Kini mata wanita itu tertuju pada Rhea yang duduk didekat sudut ruangan."Tada aku datang." ucapnya cengegesan. Rhea hanya berkedip beberapa kali, terheran dengan wanita itu. Kesan serius dan menegangkan wanita itu langsung berubah. Dia tampak cukup konyol.Masih bingung siapa dia, wanita itu malah mendekatinya. Wanita itu menunduk mengamati perut Rhea lekat-lekat. "Wau... perutnya benar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status