MasukRhea membuka matanya kala menyadari seseorang menatap ke arahnya tajam. Belum tersadar penuh, tanpa aba-aba Ayahnya langsung menarik lengannya kasar, menyeretnya bangun dari kasurnya.
"Kau sangat hina!" cerca Ayahnya.Rhea tidak mengerti dengan kondisi tiba-tiba ini.Saat menuruni anak tangga semua telah berkumpul di ruang tamu. Kala Rhea menatap neneknya, wanita tua itu hanya memalingkan wajah.Ayahnya melemparnya kasar, membuat Rhea tersungkur ke lantai."Lagi dan lagi kau bertingkah!" bentak Ayahnya dengan amarah mendidih.Rhea bergegas berdiri, bahkan rasa sakit dari lututnya yang lecet tak terasa. Dia menatap sekeliling meminta penjelasan. Satupun tak ada yang berniat menjawab kebingungannya.Lalu Lili menunjukan sebuah foto USG yang didapatkan dari tas Rhea, sembari terbesit senyum penghinaan dibibirnya.Deg.Keringat Rhea bermunculan, menyebar dari telapak tangan hingga ke lehernya. Kepalanya berdenyut dengan ketakutan yang menyeruak. "Kau... bagaimana bisa?""Kau kira, bisa merahasiakan hal gila ini sampai kapan?" Lili meremehkannya dengan perasaan kemenangan telak."Oh! kakakku sangat tak terduga." ucapnya lagi, memprovokasi."Aku tak bisa mendidik Rhea dengan baik maafkan aku," timpal Ibu tirinya bersedih, namun senyum terselip di bibirnya.Rhea menggenggam erat jemarinya yang berpeluh. Dia tak tahu harus berbuat apa. Berkelit pun semuanya sudah ketahuan."Jadi itu benar milikmu?!" tanya neneknya lirih, tatapan teduhnya seakan ingin percaya bahwa Rhea tak akan melakukan tindakan keji semacam itu.Rhea tak mampu menjawab, dia tertunduk dengan air mata berkaca-kaca. Dari mana dia mulai menceritakannya?Kemudian Rhea mendongak, menatap nanar neneknya.Diamnya Rhea, meyakinkan nenek bahwa benar itu miliknya. Nenek memalingkan wajahnya. Dia terlihat kecewa.Nenek melirik Rhea sekejap, dengan ekspersi yang mengungkapkan kekecewaan besar. Tentu saja beliau tak menyangka cucunya akan bertindak hina. Lantas nenek berbalik meninggalkan semua orang.Perasaan bersalah kian memenuhi. "Tidak. Dengar dulu.. nenek..." Rhea terbata-bata sembari hendak mengejar neneknya.Namun, dihadang cepat oleh Lili."Jangan halangi aku!" ucap Rhea menatap tajam Lili.Ibu tirinya tiba-tiba saja menjambak rambut Rhea kuat.Rhea bahkan tak meringis kesakitan, keinginan untuk mengejar neneknya lebih besar hingga dia mengabaikan rasa sakitnya. Hanya saja bagi Vareli tindakan Rhea adalah berontak yang kian membuatnya marah.Plak!
Ibu tirinya menampar keras pipi kiri Rhea."Sekarang tidak akan ada lagi yang membelamu!!" ucap Ibu tirinya dengan angkuh. "Bahkan nenek!""Rhea!!" bentak Ayahnya yang tiba-tiba menarik lengannya kasar. "Siapa bajingan yang bermain denganmu itu?!" Ayahnya mencengkeram erat pundak Rhea.Rhea memalingkan wajahnya. Bagaimana dia bisa menjawab sedangkan dia tak tahu jelas siapa dan seperti apa wajah pria itu."Aku bertanya, siapa bajingan itu?!" pekik Ayahnya lantang.Rhea tertunduk kian bungkam. Dia mengepal kuat jemarinya berusaha agar tak menitikan air matanya.Ayahnya yang tersulut, menatap Rhea tajam. Kemudian...Plak!Pipi kanannya di tampar kuat Ayahnya. Hingga mengeluarkan darah.Lili menutup mulutnya, tersembunyi senyum puas. Dia sungguh menantikan saat-saat kakaknya terpuruk. Dan akhirnya dia bisa melihat hal yang dinantikannya."Sekarang kau bukan lagi bagian dari Dominic!! Ini penghinaan yang besar!!" teriak lantang Ayahnya.Tatapan Rhea kosong. Kalimat itu bak petir menyambar di tengah malam.Air matanya tak terbendung lagi, dia menetes deras. Bagaimana lagi? harusnya tak seperti ini, dia bahkan belum memutuskan melahirkan anak ini namun semuanya telah runyam.Rhea mendongak menatap keluarga nya dan tatapan tajam mengintimidasi penuh hinaan di dapatkan. Rhea tak berani membela diri lagi. Jantung nya berdetak cepat dengan perasaan yang kian terasa sakit."Kau tak bisa diharapkan!!" lantas sang Ayah menarik paksa Rhea keluar dari rumah.Rhea tak bertenaga untuk berontak.Nenek orang yang menjadi tempat yang di pikir akan mendengar setiap masalahnya kini memilih tak menoleh padanya lagi. Sekarang dia tak memiliki alasan berada di tempat ini lagi.Omelan dan hinaan keluar dari mulut Ayahnya. Pikiran Rhea tertuju pada neneknya, hingga cercaan Ayahnya terabaikan. Bagaimana hidupnya ke depan tanpa dukungan neneknya.Rhea yang tenggelam dengan pikirannya tak menyadari Ayahnya mendorong dirinya kasar keluar dari rumah.Rhea terkejut. Beruntung seseorang menangkapnya.Rhea terdiam sejenak. Lalu terdengar suara berat yang tak asing. "Aku menemukanmu."Sontak Rhea mendongak.Pria tinggi, dengan tubuh bak atletis, wajah yang tegas namun tampan. Terkesan angkuh dan menakutkan. Terlebih bibir seksinya sangat menarik.Rhea membelalak tersadar. Buru-buru berdiri dengan cepat hendak menjauh dari pria yang menangkapnya.Namun, pria itu tak melepaskannya. Dia memeluknya kian erat. Pria itu bahkan menyentuh pipi Rhea lembut.Rhea tak mengerti mengapa pria ini bersikap aneh.Perhatian pria itu kemudian teralih, dia menatap tajam Hendra yang berdiri di depannya yang juga menatapnya dengan tajam. Pria itu tampak murka."Kau yang membuat pipinya terluka?!" teriak pria itu begitu menggelegar."Kau jangan ikut campur urusan keluarga Dominic!!" jawab Hendra tegas, berisi kemarahan yang lebih besar.Pria itu tertawa menakutkan, sembari menyibak kasar rambutnya."Jelas ini urusanku. Kau berani menyentuh wanitaku. Sialan!!""Pantas saja aku kesulitan menemukannya. Selain keluarga kalian pandai menyembunyikan identitas putri tertua Dominic!! Kalian juga pandai menyiksanya!!" teriak lantang pria itu, rasanya dia mulai tak terkendali.Ya, Ayahnya selalu melarang Rhea menggunakan nama keluarga saat di luar. Jika media tau bahwa Dominic memiliki putri tertua yang gagal itu sangat memalukan.Jikapun beberapa orang berhasil menemukan keberadaan Rhea sebagai karyawan biasa maka dia akan menutup mulut mereka dengan memberikan sejumlah uang."Apa-apaan dengan pria gila ini kenapa kau muncul kediamanku, dan sok menjadi pahlawan? Anak itu tak berguna, sudah lama aku menahan diri!! dan sekarang dia menunjukkan bahwa dia sangat tak layak!!"Sorot mata pria itu begitu tajam membuat siapapun melihatnya bergidik.Rhea menarik baju pria itu. Dia ingin menyudahinya. Dia terlalu lelah menghadapi situasi menyakitkan yang tak ada habisnya. Rasanya dia ingin cepat menghilang sekarang.Pria itu menghela napas. Perhatian pria itu kembali tertuju pada Rhea. Dia merangkul pinggang Rhea menariknya mendekat ke arahnya."Aku terlalu lama, " bisiknya sembari mencium kening Rhea.Rhea membelalak, dia sadar. Sentuhan, postur tubuh, dan suara pria ini. Semuanya sama dengan pria malam itu.Rhea membeku, bergidik."Kau tak memiliki telinga?! huh!" teriak Hendra marah."Oh! apa pria itu. Lelaki yang menghamilimu?" ucap Ibu tirinya yang tiba-tiba saja ikut bergabung."Ah, jadi pria seperti itu pantas saja! Sama-sama tampak liar." timpal Lili."Sialan! Jadi itu kau!" amarah Hendra semakin tersulut mendengarnya.Pria itu terkejut, dia sedikit menunduk menatap Rhea lekat-lekat. "Kau hamil?"Cemas, gelisah, dan ketakutan semuanya menyeruak memenuhinya. Apa yang akan pria ini lakukan setelah tau dia hamil?Rhea yang kacau tanpa sadar menggigit bibirnya kuat, hingga darah keluar dari bibir mungilnya.Pria itu menyentuh Bibir Rhea, lantas mengelapnya dengan bibirnya.Rhea membelalak, tak bisa mempercayai tindakan pria itu."Jangan menggigit bibirmu lagi, jika tak ingin aku mengelapnya dengan bibirku." pria itu menyeringai, dia tengah menggoda.Pria itu sadar bahwa Rhea ketakutan karena dirinya. Namun dia sama sekali tak berniat melepaskan wanita yang susah payah dia temukan."Ikutlah denganku. Di sini, mereka memperlakukanmu tanpa kasih sayang layaknya bukan keluarga." bisik pria itu.Tiba-tiba Hendra mencengkeram erat kerah pria itu. Dia marah pria itu mengabaikannya dan bersikap seenaknya. Mereka saling menatap tajam. Situasi kian menegang.Sorot mata hitam legam pria itu amat mengintimidasi. Lalu pria itu memelintir lengan Hendra kuat."Argh!! Argh..." teriak Hendra merintih sakit."Pria tidak sopan!! Berani sekali bersikap kasar pada suamiku!!" teriak Vareli marah, dia bergegas berusaha membantu suaminya.Dahi pria itu mengernyit, dia kemudian melempar Hendra.Hendra terjatuh dan menimpa Vareli. Seringai puas terbesit di bibir pria itu.Lili bergegas menghampiri kedua orang tuanya dengan panik. Ia menatap marah pria itu "Bajingan!! kau pikir ini di mana. Ini kediaman Dominic dan kau berani bersikap kurang ajar!!"Pria itu menyentuh lembut wajah Rhea tanpa mempedulkan Lili. "Nah! Bagaimana kau mau ikut bersamaku?" tanyanya lagi.Rhea menatap Ayahnya yang tengah merintih kesakitan. Tatapan tajam dari Ayahnya bak siap menyiksanya. Juga tatapan kebencian Lili dan Ibu tirinya.Di keluarga ini dia tak memiliki tempat.Rhea tertunduk, kemudian mengangguk pelan. Pada akhirnya dia memilih mengikuti pria yang tak ingin dia temui lagi.Lantas pria itu menyeringai puas atas jawaban Rhea. Sebelum pergi, pria itu menatap Hendra bak memberi ultimatum."Benjamin Carrillo Fuentes. Ingat nama itu."Kemudian dia membawa Rhea pergi bersamanya.Hendra terdiam sejenak. "Be-Benjamin Carrillo Fuentes?!" dia sungguh tak mempercayai itu.Sore harinya, mereka telah kembali sampai di kediaman mereka. Saat melangkah masuk, hanya Marie yang tampak berdiri menyambut di lobi utama. "Tuan kecilku pasti lapar," kata Marie dengan nada manja yang dibuat-buat begitu melihat Kenzo. Kenzo mengangguk-angguk penuh semangat. Marie kini dengan cekatan langsung melayani tuan kecilnya itu. Padahal Benjamin sudah memberinya pangkat yang cukup tinggi di dalam organisasi Oleander, namun wanita itu berulang kali menegaskan bahwa dia jauh lebih tertarik menjadi pengasuh pribadi Kenzo kecil. "Di mana Daniel dan Anna?!" tanya Benjamin saat tidak mendapati keberadaan dua orang itu. "Ah! Mereka menitipkan pesan sebelum pergi," jawab Marie, mencoba mengingat-ingat. "Anna baru saja pergi untuk menjelajahi kota lain, sedangkan Daniel kembali ke klub miliknya." Marie melanjutkan, "Seperti Daniel yang kita kenal, uang adalah segalanya. Dia sedang sibuk dengan beberapa pekerjaan barunya... menjadi penyanyi di klubnya sendiri." Benjamin han
Tiga tahun berlalu sejak badai besar yang hampir merenggut kebahagiaan mereka. Waktu perlahan menyembuhkan banyak luka, mengubah banyak hal, dan membawa kedamaian yang selama ini mereka impikan. "Hei, kenapa kau berlari..." Anna terengah-engah mengejar Kenzo. "Larinya lincah sekali!" "Bibi hanya ingin memeluk!" rengeknya kemudian, merasa gemas sendiri. Kenzo kecil kini menginjak usia tiga tahun. Langkah kakinya yang mungil sebenarnya masih tertatih, namun ia cukup gesit hingga membuat Anna kesulitan menangkapnya. "Dia tidak mau bersamamu," tukas Daniel seraya bangkit dari duduknya. Pria itu memasang kuda-kuda, bersiap menangkap Kenzo yang hendak melesat melewatinya. Namun, Kenzo melintas begitu saja tanpa menoleh sedikit pun pada Daniel. Bocah kecil itu berlari lurus menghampiri Rhea yang duduk tepat di sebelah kursi Daniel tadi. "Bu... Ib-u. Bibib mena-nggu..." ucap Kenzo terbata-bata. Di usianya sekarang, dia memang belum lancar berbicara dan kata-katanya masih agak sulit dip
Benjamin tak bisa sepenuhnya menikmati rasa bahagianya. Banyak hal menantinya. Esok hari, dia sudah ada dimakam itu—berdiri seorang diri. Tanahnya masih basah, nisan itu baru dipasang. Semua dia urus sendiri.Tak ada pelayat. Tak ada doa. Hanya diam menekan dada. "Setidaknya, aku harap kau tenang di sana!" ucapnya. Tak ada air mata yang menetes, wajahnya hanya datar. "Aku ingat tak mengundangmu!" kata Benjamin kemudian. Tepat disampingnya Sicilia berdiri dengan pakaian serba hitamnya. Benjamin tampak menurunkan kewaspadaanya."Dia Tuanku." jawabnya singkat. "Apa yang kau inginkan sebenarnya?!" tanya Benjamin tanpa menoleh. "... aku datang hanya untuk melihat liang terakhir pria yang penuh derita," Sicilia menepuk pelan pundak Benjamin. "Hanya itu?" kini Benjamin menoleh, memberikan tatapan tak percaya. Sicilia tersenyum kecil, lantas menaburkan bunga di atas makam basah itu. "Aku adalah saksi hidup kisah orang tuamu..."Dia melanjutkan, "Aku teman dekat Ibumu, juga orang kep
Kini di ruangan itu Benjamin seorang diri. Pikirannya melayang, segala hal buruk terjadi bersamaan. Kekhawatirannya tentang Rhea kian menjadi, bersamaan dengan perasaanya yang terasa hampa. Tak lama pintu berderit, nenek Rhea masuk dengan bingung. "Mengapa kau ada disini?" tanyanya. "Bising apa yang terjadi? aku tidak menemukan putraku juga Vareli?!" Benjamin menoleh, wajah yang penuh derita itu berubah menghangat. Dia berpura-pura tak terjadi apapun. Dia menghampiri sang nenek, menyentuh tangan wanita tua itu dengan lembut. "Nenek, aku datang untuk memberi kabar Rhea telah melahirkan seorang putra." Nenek tampak terkejut, kemudian lega. Agak lama nenek tak mengatakan apapun, dia hanya menyentuh wajah Benjamin dengan lembut. "Kau tidak baik-baik saja? pakaianmu begitu lusuh, kotor, dan terdapat noda darah! Jangan menipuku...?!" Saat itu lah Benjamin tak mampu menahan air matanya lagi. Beban yang terlalu lama menumpuk meluap begitu saja. Tak sekalipun kehangata
Dengan perasaan puas Vareli membuka ruangan suaminya, dimana segala cap dan hak kekuasaan ada disana. Senyum yang sempat merekah indah mendadak lenyap, tat kala melihat Benjamin duduk santai di kursi dengan kaki menyilang di atas meja. "Aap-" belum sempat Vareli berteriak, seseorang telah membekap mulutnya dari samping. Pintu tertutup rapat. Dengan kasar, tubuhnya dipaksa merosot hingga berlutut di lantai. Benjamin menopang wajahnya sembari menatap ke arah Vareli tajam. "Aku sudah memperingati, jangan menganggu!" ucapnya dingin.Dengan wajah kebingungan, dan takut Vareli mencoba memberontak dari dekapan bawahan Benjamin, yang jelas mustahil."Orang bodoh!" kata Benjamin, "Sejak tau Lili bergabung dengan Charles kediaman Dominic ada dalam pengawasan ku." dia menyeringai. "Benar kan Ayah mertua," Pintu berderit, Vareli segera menoleh kebelakang, dan Hendra berjalan masuk dengan tegap, dan hidup. Lalu Charles dan Lili sudah tertangkap oleh bawahan Benjamin lainnya. Kini Benjami
Di dalam sebuah gudang tua yang lembab. Charles dan Lili bersembunyi didalamya. Jauh dari lokasi perseteruan dengan rombongan Benjamin sebelumnya. Lili menatap Charles penuh keputusasaan—pria yang terengah-engah akibat luka tembakan serta pukulan yang sempat menghantamnya. "Kenapa begini!" Lili mengacak kasar rambutnya. Dia dengan kasar menarik kerah jaket Charles, "Aku tidak ingin MATI. Kau berjanji padaku bahwa posisi Benjamin akan kau gantikan!""Aku bergabung dengan mu sebab, ingin melihat kehancuran Rhea, bukan sebaliknya?!" teriaknya lantang.Tapi Charles bahkan tak bergeming hanya napas berat yang susah payah ia tenangkan. Dengan kesal Lili memukul dada Charles. Wajahnya pucat pasi. Tangannya gemetar saat menggenggam jaketnya sendiri. Ia berkali-kali menoleh ke pintu, ke jendela, ke sudut-sudut gelap ruangan. Menduga-duga bawahan Benjamin pasti akan segera menemukan mereka."Kita harus pergi lagi," ucap Lili terbata. "Benjamin tidak akan berhenti. Sekarang dia memimpin dua
Rhea terperanjat bangun dari posisi tidurnya. Dia sadar dia berada dikasur yang jelas bukan miliknya. "Dimana aku?”Matanya mengamati sekitar, tempat yang tak di kenali. Tampak Interior kamar yang elegan didominasi dengan warna hitam abu-abu.“Ah! Aku ingat. Semalam tanpa sadar aku tertidur dalam pe
"Benjamin, siapa dia Ayah?" tanya Lili yang terheran dengan reaksi Ayahnya. "Dia.. dia Pemimpin Mafia Oleander." jawab Hendra masih tak percaya. Pemimpin Oleander tak pernah sekalipun menunjukan wajahnya pada orang lain dan mereka sangat rapi dalam menangani masalah __ "Masuklah." pria itu memb
Di sisi lain seorang pria berdiri didekat jendela dengan mantel mandi yang masih melekat di tubuhnya. Air terus-menerus menetes dari ujung-ujung rambutnya. Dia menatap gelas yang ada di genggamannya, menggoyangkannya beberapa kali. Kemudian perhatian pria itu teralih keluar jendela. Gedung-gedung
Cahaya mentari masuk dari jendela dengan gorden yang dibuka lebar. Rhea mengernyit, merasa terganggu. Dia menggeliat, lalu merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Matanya mengerjap. Kemudian dia tersadar berapa di tempat asing. Matanya membelalak, penggalan ingatan semalam muncul memenuhi dirinya, ke







