หน้าหลัก / Fantasi / Tanda Pemberontak Langit / Bab 1: Delapan Nafas yang Lumpuh

แชร์

Tanda Pemberontak Langit
Tanda Pemberontak Langit
ผู้แต่ง: Lann

Bab 1: Delapan Nafas yang Lumpuh

ผู้เขียน: Lann
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-10-11 12:29:10

Kematian memiliki aroma yang berbeda bagi setiap kultivator. Bagi Ji Yun, kematian berbau seperti Qi (energi) yang stagnan dan lumut tua di batu fondasi yang dingin.

​Seluruh Sekte Pedang Gerbang Utara didirikan di atas keyakinan bahwa kekuatan adalah takdir, dan takdir tertulis pada saat kelahiran, terwujud dalam Akar Spiritual. Gunung yang diselimuti kabut dan arsitektur kayu pinus yang megah Sekte ini selalu terasa seperti sarang lebah yang berdengung dengan energi, tetapi hanya bagi mereka yang memiliki hak waris. Jika seseorang terlahir dengan Akar Spiritual lima elemen yang sempurna, masa depannya cerah dan mulia; jika Akar mereka tercemar, mereka ditakdirkan untuk menjadi debu.

​Ji Yun adalah debu itu.

​Duduk bersila di atas tikar jerami yang telah usang di bilik yang sempit dan remang-remang, Ji Yun menyelesaikan sesi kultivasi paginya. Itu adalah upaya menyedihkan yang telah ia lakukan setiap fajar selama tujuh tahun sejak ia mencapai tahap Qi Condensation tingkat pertama—sebuah pencapaian minimal yang hanya bisa menopang kehidupan fana, bukan membawanya menuju Keabadian.

​Ia membuka matanya, nafasnya bergetar. Udara di sekitarnya yang kaya Qi Spiritual Langit dan Bumi, yang seharusnya diserap oleh lautan Dantian (pusat energi) para kultivator, seolah-olah menjauh darinya. Setelah dua jam meditasi yang menyakitkan, ia hanya berhasil menyerap delapan nafas energi spiritual.

​Delapan nafas. Jumlah yang memalukan.

​Rekan-rekan seperguruan sering menyebutnya “Tanda Sanghyang”. Bukan karena ia seorang jenius kosmik, tetapi karena sebuah tanda merah samar seperti bekas terbakar di tulang selangka kirinya, yang katanya melambangkan kutukan Langit.

​“Kutukan leluhur,” cibiran Tetua Qing, pengawas kultivasi Sekte, seolah-olah bergema di benaknya. “Bahkan Surga pun menolak darahmu.”

​Kutukan itu lebih dari sekadar tanda; itu adalah Akar Spiritualnya yang lumpuh, yang menolak menyerap Qi Spiritual biasa. Seluruh upaya yang ia habiskan hanya cukup untuk sekadar menghangatkan tubuhnya dan memperlambat laju penipisan Jing (Esensi) tubuhnya.

​Jing adalah fondasi kehidupan, materi dasar yang secara bertahap menipis seiring bertambahnya usia, yang diwariskan dari orang tua dan disimpan di Ginjal.

Itu adalah lilin kehidupan yang perlahan terbakar.

Bagi kultivator normal, penyempurnaan Qi seharusnya meningkatkan Jing, memperpanjang umur, dan menguatkan tubuh. Namun, bagi Ji Yun, setiap nafas Qi yang dipaksakan masuk adalah perjuangan yang sia-sia, dan lilinnya terbakar dua kali lebih cepat dari yang seharusnya.

​Dia tidak akan mencapai Foundation Establishment. Dia tidak akan hidup lebih dari dua puluh tahun. Itu adalah nasib yang ia sadari sejak lama.

​Tok tok tok!

​Suara ketukan keras di pintu bilik kayunya memecah kesunyian. Kali ini, ketukan itu diikuti oleh tendangan, mengguncang dinding kayu yang ringkih.

​“Ji Yun! Apa kau mati di dalam?” Suara itu milik Li Mu, seorang murid luar dengan Akar Spiritual air kelas menengah. Li Mu, dengan aura Qi Condensation tingkat empat yang arogan, menyukai penghinaan. "Gerbang Utara tidak menoleransi pemalas. Tetua Qing memerintahkanmu membersihkan Paviliun Warisan Lama sebelum matahari terbit. Jangan sampai setitik debu pun tertinggal! Jika kau gagal, kau akan kehilangan jatah pil nutrisi bulan ini!”

​Ji Yun bangkit, melipat tikar jerami yang tipis. Ia tahu, Paviliun Warisan Lama adalah gudang tua yang ditinggalkan, tempat sampah historis yang jarang disentuh. Pekerjaan itu dirancang untuk menghina, memaksanya menyentuh kotoran fana, alih-alih Qi surgawi.

​Li Mu berdiri di ambang pintu, menghalangi cahaya pagi. Ia menyeringai. “Ingat Tanda Sanghyang-mu, sampah. Jangan sentuh artefak apa pun. Kau tidak pantas. Tetua bilang, darah kotor sepertimu bisa mencemari Qi di dalamnya.”

​Pandangan Ji Yun tetap datar, tanpa emosi. "Aku mengerti, Li Mu."

​“Bagus. Sekarang pergi. Aku harus berkultivasi. Tidak seperti bejana perunggu yang gagal sepertimu, aku akan mencapai Foundation Establishment tahun ini.” Li Mu berbalik, jubah Sektenya berkibar dengan angkuh.

​Ji Yun menunggu beberapa saat, memastikan Li Mu benar-benar pergi. Ia mengambil sapu dan ember. Keheningan adalah pelindungnya. Ia telah lama belajar bahwa dalam dunia kultivasi, jawaban terbaik terhadap penghinaan adalah keheningan, dan keheningan adalah pedang terkuatnya. Memperdebatkan takdirnya hanya akan membuang energi langka yang ia butuhkan hanya untuk bertahan hidup satu hari lagi.

​Ia melangkah keluar, menatap ke langit timur yang mulai memerah. Di atas sana, jauh di dalam lautan awan, terletak Istana Surgawi—tempat Kaisar Surgawi bersemayam, yang diyakini telah menjatuhkan kutukan pada dirinya. Kaisar Surgawi dan birokrasi langit memandang Kultivasi sebagai hak prerogatif, jalur yang harus diikuti di bawah Dao yang mereka tetapkan. Bagi mereka, Wu Wei, atau Non-Tindakan, berarti menerima nasib yang telah ditentukan.

​Aku tidak meminta takdir ini, pikir Ji Yun pahit, sambil melangkah menuju Paviliun Warisan. Aku hanya ingin hidup. Jika Langit menolak, maka aku akan mencari jalan yang lain.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
ความคิดเห็น (1)
goodnovel comment avatar
Sabam Silalahi
mulai menarik
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Tanda Pemberontak Langit   Bab 36: Di Luar Kekosongan dan Kuali yang Hilang

    ​“Kau adalah Raja Abadi Bumi yang pertama yang pernah mencapai tingkat kebebasan ini, Ji Yun! Kau telah memotong rantai Langit! Sekarang, mari kita tinggalkan Alam Langit yang korup ini sebelum bala bantuan Raja Abadi Sejati yang sejati tiba!”​Seruan kemenangan Alkemis Tua Yuan menggema di benak Ji Yun. Di belakang Ji Yun, Istana Kaisar Surgawi yang hancur terlihat seperti reruntuhan megah yang perlahan runtuh. Ji Yun, yang kini berada di Level Tiga Abadi Sejati, melesat menembus Kekosongan dimensional, meninggalkan batasan Alam Langit.​"Aku merasakan kebebasan yang mutlak, Guru Yuan. Tiga Kuali ini—Jing, Shen, dan Qi—memberiku keseimbangan yang tak terbatas," balas Ji Yun, merasakan Qi Abadi Sejati murni yang mengalir dalam dirinya. "Aku telah membuktikan bahwa Tanda Sanghyang adalah Tanda Dao Agung Sejati."​Mereka akhirnya tiba di Sunyata—Kekosongan tak terbatas di antara Alam. Di sini, Qi sangat langka, tetapi energi kosmik terasa murni dan tidak terikat.​"Kaisar Surgawi telah

  • Tanda Pemberontak Langit   Bab 35: Keseimbangan Tiga Harta dan Dao Agung Sejati

    "Aku akan mengambil Tiga Kuali-mu, dan aku akan mengikat Tanda Sanghyang-mu ke Tiang Hukuman Abadi selama sepuluh ribu tahun!"​Kaisar Surgawi Level Tertinggi bangkit dari takhtanya. Ia tidak menggunakan serangan Qi; ia menggunakan kekuatan otoritas kosmiknya—Mandat Langit—yang bertujuan untuk menghancurkan Jiwa spiritual Ji Yun dan memaksanya pasrah pada takdir yang telah ditentukan.​Ji Yun, Level Tiga Abadi Sejati, merasakan tekanan yang mencekik, seolah-olah seluruh Alam Langit mencoba meremukkan Jiwa Baru Lahir-nya.​"Aku tidak akan berlutut, Kaisar Surgawi. Mandat Langit-mu hanyalah ilusi dari penindasanmu! Aku telah memurnikan Shen-ku dari ilusi itu!" balas Ji Yun, memfokuskan Kuali Pencerahan yang memancarkan cahaya biru.​Kuali Pencerahan segera membersihkan Shen Ji Yun dari tekanan kosmik Kaisar Surgawi. Meskipun tubuhnya sakit, jiwanya tetap utuh.​“Shen yang murni adalah kelemahanmu, Kaisar! Kau tidak bisa mengendalikan Roh yang bebas!” seru Ji Yun.​Kaisar Surgawi mencibi

  • Tanda Pemberontak Langit   Bab 34: Pertarungan di Takhta Surgawi

    ​“Kita tidak bisa hanya berjalan ke sana, Ji Yun! Istana Kaisar Surgawi dijaga oleh Raja Abadi Level Sembilan dan Raja Abadi Sejati Level Tertinggi! Kau harus punya rencana!”​Seruan Alkemis Tua Yuan dipenuhi ketegasan yang mutlak saat Ji Yun melesat keluar dari Gudang Artefak Terlarang. Kecepatan Level Tiga Abadi Sejati-nya kini menyaingi Abadi sejati lainnya. Di belakang mereka, Jenderal Bintang Biru dan puluhan Prajurit Langit berusaha mengejar, tetapi mereka terlalu lambat.​"Aku punya rencana, Guru Yuan. Kita tidak akan melawan semua Raja Abadi. Kita hanya akan melawan Kaisar Surgawi," jawab Ji Yun. "Aku sudah memadatkan Jimat Pengeboman Dimensional dari rampasan Jenderal Bintang Biru. Itu adalah Jimat yang dapat menghancurkan lapisan pertahanan luar Istana Kaisar Surgawi."​“Menghancurkan pertahanan luar? Itu adalah tindakan perang habis-habisan! Seluruh Alam Langit akan tahu kau datang!”​"Itu tujuanku," Ji Yun menyeringai, matanya memancarkan cahaya ungu-emas dari Tiga Kuali.

  • Tanda Pemberontak Langit   Bab 33: Tiga Kuali Bersatu dan Transformasi Abadi

    ​"Ji Yun, cepat! Jangan lihat artefak lain! Fokus! Kuali Transformasi Qi adalah di tengah ruangan! Kita tidak punya waktu—Jenderal Bintang Biru akan segera menghancurkan Formasi Pemutus Langit dan menyerbu masuk!"​Teriakan Alkemis Tua Yuan menggema dalam kesadaran Ji Yun, yang baru saja berhasil menipu Formasi pertahanan utama Istana Surgawi. Ji Yun melesat ke dalam Gudang Artefak Terlarang—sebuah ruangan raksasa, diselimuti oleh aura kuno, di mana ribuan artefak Langit yang memancarkan Qi tersimpan rapi di rak-rak giok.​Ji Yun mengabaikan Pedang Abadi, Pil Keabadian, dan Jimat Langit yang mematikan. Matanya terfokus ke tengah ruangan, di mana di atas alas giok setinggi pinggang, sebuah fragmen Kuali bersinar dengan cahaya keemasan.​Itu adalah Kuali Transformasi Qi—fragmen terakhir dari Sembilan Kuali Surga.​"Itu dia, Guru! Kuali yang dapat mengubah Primal Qi-ku menjadi Qi Abadi sejati!" seru Ji Yun.​"Ya! Jangan disentuh perlahan! Kau harus menyatukan ketiga fragmen itu secara pa

  • Tanda Pemberontak Langit   Bab 32: Jantung Birokrasi dan Formasi Pemutus Langit

    ​"Ini adalah jantung birokrasi, Ji Yun! Istana Surgawi adalah mesin yang menggerakkan Mandat Langit! Setiap batu di sini adalah formasi, setiap Scribe adalah mata-mata!" ​Seruan Alkemis Tua Yuan dipenuhi ketegangan saat Ji Yun meluncur di bawah Istana Kaisar Surgawi. Menggunakan jadwal pembersihan yang dicuri dari Scribe Ming, Ji Yun menyelinap ke pintu masuk tersembunbi—jalur pemeliharaan yang hanya dibuka untuk beberapa jam setiap siklus Abadi. Pintu itu, disamarkan sebagai air terjun Qi spiritual, adalah celah sempit menuju perut kekuasaan Langit. ​"Aku merasakannya, Guru Yuan. Qi di sini sangat padat, tetapi juga sangat terstruktur. Tidak ada Qi yang liar; semuanya terikat pada hukum," balas Ji Yun, berjalan di lorong batu giok yang dingin. "Kita harus cepat. Jenderal Bintang Biru sudah tahu ke mana kita menuju." ​"Pintu masuk sudah berhasil kau tembus. Sekarang kau berada di terowongan yang mengarah ke Inti Formasi. Ingat, Kuali Transformasi Qi tersembunyi di sana. Kuali itu a

  • Tanda Pemberontak Langit   Bab 31: Penyamaran di Istana Giok dan Sang Jenderal

    ​"Itu adalah kegilaan tingkat kosmik, Ji Yun! Kau menyerang Jenderal Bintang Biru, perwira Level Empat Abadi Sejati! Kita tidak bisa lagi bersembunyi di Alam Langit; dia akan mengerahkan seluruh garnisun Istana Surgawi untuk memburumu!"​Teriakan khawatir Alkemis Tua Yuan hampir melampaui suara gemuruh Qi di Alam Langit. Setelah menyerang Jenderal Bintang Biru dengan Gelombang Kejutan Primal Qi, Ji Yun segera melesat menembus lautan awan yang bergolak, menuju kompleks istana yang paling padat.​"Aku tahu, Guru Yuan. Tapi serangan kejutan itu memberiku waktu beberapa menit," balas Ji Yun, sambil memaksakan Jiwa Baru Lahir-nya untuk menyerap Qi Langit yang berat. "Di sini, Qi spiritual Langit sangat padat, tetapi auraku yang penuh Primal Qi terasa seperti obor di tengah kegelapan bagi mereka. Aku tidak bisa terus terbang!"​Ji Yun mendarat di atap sebuah istana giok kecil, segera menggunakan Kuali Pencerahan untuk menekan aura Primal Qi-nya.​"Kau harus melakukan penyamaran segera! Qi L

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status