แชร์

Tante-tante Kesepian
Tante-tante Kesepian
ผู้แต่ง: Ungu

Bab 1

ผู้เขียน: Ungu
"Aldo, tenanglah. Jangan gini …."

Ibu angkatku yang cantik dan seksi menelungkup dengan malu-malu di atas meja tamu, memperlihatkan bokongnya yang montok. Sekujur tubuhnya terasa lemas dan pipinya tampak memerah.

"Ibu, Ibu masukkin obat kuat itu ke dalam air minumanku. Bukankah itu tandanya Ibu ingin aku memanjakan Ibu dengan baik?"

"Bukan begitu. Itu sebenarnya untuk pamanmu. Kamu … kok bisa kamu yang minum?"

Ibu angkatku ingin menangis tetapi tidak ada air mata yang keluar. Dia mencoba meronta, tetapi tidak ada tenaga sedikit pun. Ibu angkatku tertindih di bawah tubuhku dan tidak mampu bergerak.

Dia hanya bisa menolehkan kepalanya, menatapku yang berwajah merah padam dan penuh dengan gairah yang membara. Dengan perasaan malu, ibu angkatku menggigit bibir merahnya. Sementara itu, sepasang matanya yang indah dan berkaca-kaca memancarkan rasa tidak berdaya sekaligus permohonan.

Dengan tubuhku yang tinggi menjulang mencapai 180 sentimeter, bagi ibu angkatku yang bertubuh mungil dan lembut bagai air, aku benar-benar tampak seperti sosok raksasa yang perkasa.

"Ibu, aku nggak peduli …. Ibu bahkan memasukkan begitu banyak sekaligus, tiga butir! Rasanya pembuluh darahku mau pecah, nggak nyaman banget. Biarkan aku melampiaskannya pada Ibu biar aku bisa merasa tenang."

Hawa panas tubuhku menempel erat di punggung Ibu angkatku. Dia sepertinya juga bisa merasakan sensasi yang begitu kuat dan membara itu. Tubuh moleknya gemetar sedikit, sementara bokongnya yang montok itu menggeliat dengan perasaan panik.

Namun, dengan melakukan itu, gesekannya justru makin terasa. Seakan-akan, ibu angkatku sedang memberiku pijatan.

Rasanya benar-benar luar biasa … sampai-sampai aku hampir tidak bisa tahan!

"Ibu, aku mohon …. Ibu harus tanggung jawab …."

Aku berbisik di telinganya. Embusan napas maskulinku yang panas mengenai telinganya, membuat daun telinganya seketika berubah menjadi merah padam.

"Ibu yang biasanya paling menyayangiku, 'kan? Ibu, aku mohon padamu. Aku nggak akan kasih tahu siapa pun …."

Ibu angkatku mengenakan celana yoga yang ketat, di mana kainnya yang tipis memperlihatkan dengan sangat jelas lekuk bokongnya yang montok serta kaki jenjangnya yang indah dan mulus.

Ibu angkatku hanya bisa menelungkup tak berdaya di atas meja tamu, membuat lekukan bokongnya tampak makin penuh dan anggun, bahkan hingga ke bagian bawah. Bentuk sensitif yang terbalut kain itu terlihat begitu menggoda.

Itu adalah "tujuan" yang sangat didambakan oleh setiap pria, terutama bagiku, yang seorang mahasiswa tahun ketiga yang belum pernah pacaran dan sebelumnya hanya sibuk belajar serta bermain basket.

Godaan yang paling mematikan adalah seutas tali renda merah yang mengintip dari balik pinggang celana yoganya, melingkar ketat pada kulitnya yang putih bersih dan halus.

Meski hanya terlihat sedikit, berdasarkan pengalamanku yang sudah menonton begitu banyak film, itu pastinya adalah model t-back atau thong renda.

Siapa sangka, Ibu angkatku yang dari luar tampak begitu anggun dan bersahaja, ternyata mengenakan celana dalam yang begitu menggoda dan seksi seperti ini? Jika ini bukan untuk menggoda pria, lalu apa lagi?

"Ibu, aku merasa sangat tersiksa, rasanya aku mau meledak. Kalau hari ini hasratku nggak dilepaskan dengan baik, aku bisa mati di sini …."

Napasku menjadi makin memburu dan kasar. Kedua mataku juga mulai menjadi merah padam. Sosok wanita cantik dan seksi luar biasa di hadapanku ini seakan bukan lagi sahabat ibuku, melainkan hidangan terlezat di dunia yang sedang menunggu untuk kunikmati.

Seluruh tubuh ibu angkatku memancarkan pesona wanita dewasa yang memikat. Wajahnya yang putih bersih dan mulus tampak merona kemerahan. Ekspresinya begitu cantik dan menggoda, bagaikan buah apel yang sudah ranum, menunggu seseorang untuk memetiknya.

Wajah ibu angkatku memerah. Ekspresinya tampak menunjukkan pergulatan batin. Namun, sepertinya dia sudah menyerah untuk melawan.

Ibu angkatku pun memalingkan wajahnya, membiarkan hamparan kulitnya yang putih bersih terpampang di hadapanku, lalu memejamkan matanya dengan perasaan yang tidak tertahankan.

Aku tidak tahan lagi. Aku menelan ludah dalam-dalam. Tanganku menyelinap masuk ke balik kerah bajunya dan dengan kasar meremas payudaranya yang begitu montok dan penuh itu ….
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Tante-tante Kesepian   Bab 8

    Ibu angkat benar-benar memanggil namaku. Suaranya yang menggoda itu benar-benar membuatku terbuai.Sekarang, aku makin percaya pada kata-kata Bibi Debby.Sebelum masuk, aku sempat mengintip ke dalam.Lampu tidur di atas nakas memancarkan cahaya hangat yang temaram. Ibu angkatku berbaring di atas ranjang tanpa sehelai benang pun. Tubuhnya tampak putih bersih dengan kulit yang halus dan mulus. Pipinya merona merah, sementara dia melakukan gerakan tak senonoh sambil membisikkan namaku berkali-kali.Sial, ternyata dia sedang memuaskan dirinya sendiri dengan tangannya.Adegan merangsang di depan mataku ini benar-benar menyulut api gairah di dalam tubuhku. Baru saja aku hendak menyerbu masuk untuk bercumbu gila-gilaan dengan ibu angkatku, tiba-tiba aku teringat akan satu masalah penting.Malam ini pasti akan menjadi pertarungan yang sengit. Dengan kekuatanku, sepuluh atau delapan ronde pun tidak akan jadi masalah.Jadi, untuk berjaga-jaga, aku harus menyiapkan kondom.Untungnya, ada satu kot

  • Tante-tante Kesepian   Bab 7

    Aku langsung terduduk dengan penuh semangat. Jangan-jangan, Bibi Debby berhasil membujuk ibu angkat?Dengan antusias, aku pun menyalakan lampu. Kemudian, tampak olehku Bibi Debby yang mengenakan gaun tidur seksi mendorong pintu, lalu masuk.Aku melirik ke arah belakangnya, tetapi ibu angkat tidak berdiri di luar pintu.“Bocah nakal, apa yang kamu lihat?”Bibi Debby tersenyum manis. Tangannya menutup pintu di belakangnya. Kemudian, dia duduk di tepi tempat tidur dengan sangat santainya.Kedua kaki jenjangnya yang putih mulus dan menggoda saling bersilangan. Sambil menatapku dengan senyum yang sulit diartikan, Bibi Debby pun bertanya padaku, “Sudah selarut ini belum tidur juga, apa kamu merasa kesepian malam ini sampai nggak bisa tidur?"Kata-katanya yang begitu blak-blakan membuatku sampai tidak tahu harus menjawab apa.“Nggak, nggak kok ….”“Hehehe, kamu bohong ya?"Sambil berkata seperti itu, Bibi Debby tiba-tiba mengulurkan tangan dan menyingkap selimutku. Saat melihat tonjolan di ba

  • Tante-tante Kesepian   Bab 6

    Beberapa menit kemudian, kedua wanita itu pergi.Hanya tersisa aku sendirian di rumah, tetapi aku belum sempat meluapkannya!Rasanya sungguh tidak nyaman, seakan-akan aku mau meledak.Aku kembali ke kamar. Baru saja hendak mencari beberapa film porno klasik di komputer untuk melepaskan hasrat, tiba-tiba ponselku di samping tempat tidur menerima pesan dari ibu angkat.[Kalau benar-benar sudah nggak tahan, pergilah ke kamar mandi. Di dalam keranjang ada pakaian dalamku yang baru dilepas dan belum dicuci.]Aku tertegun sejenak, lalu membalas: [Maksudnya apa ya?][Pikir saja sendiri!!!] Beberapa tanda seru yang berurutan menunjukkan bahwa ibu angkat sedang kesal.Seketika aku tersadar, ibu angkat ingin aku menggunakan pakaian dalamnya ….Astaga! Hal seperti ini bahkan tidak pernah berani kubayangkan sebelumnya.Jika aku benar-benar mencuri pakaian dalamnya, mungkin aku akan dipukuli sampai setengah mati oleh ibu angkat.Sepertinya dia merasa bersalah karena masalahku ini, makanya dia mau m

  • Tante-tante Kesepian   Bab 5

    Melihat Bibi Debby ternyata masih mengenakan gaun tidur satin yang seksi, memperlihatkan tulang selangka yang indah dan hamparan kulit putih mulus di dadanya, serta paha putihnya yang mengintip di balik belahan roknya yang tinggi, aku sampai hampir meneteskan air liur karena nafsu."Bibi Debby, Bibi ada di sini?" seruku sambil berpura-pura baru bangun tidur dan menyapanya."Aduh, Aldo, apa Bibi membangunkanmu? Maaf ya …."Bibi Debby menatapku sambil tersenyum lebar. Namun, baru saja bicara sepatah kata, tatapan Bibi Debby secara tidak sadar langsung tertuju pada satu titik tertentu.Bagaimanapun, tonjolan tinggi di celana itu sulit untuk tidak diperhatikan, terutama bagi kedua wanita yang sudah lama merasa hampa dan kesepian itu. Hal tersebut mungkin merupakan godaan yang mematikan.Benar saja, Bibi Debby menunjukkan ekspresi terkejut. Entah apa yang sedang dia pikirkan, wajahnya yang cantik perlahan mulai memerah.Bibi Debby terpaku selama beberapa saat. Bukannya memalingkan wajah sep

  • Tante-tante Kesepian   Bab 4

    Sepasang mata indahnya yang berkaca-kaca perlahan memicing, menyiratkan rasa cemas dan malu, tetapi diwarnai damba. Dengan ekspresi yang menggoda, ibu angkat menatapku sambil menggigit bibir merahnya, seakan sedang terhanyut dalam perasaan. Tatapannya begitu lembut dan sayu.Tepat di saat yang krusial itu, terdengar bunyi bel pintu "ting-tong, ting-tong" dari luar."Paman Adnan sudah pulang?"Aku tersentak kaget, lalu bergegas bangkit dari tubuh ibu angkat."Aldo, cepat kembali ke kamar. Biar aku yang buka pintunya."Ibu angkat sepertinya tidak marah kepadaku. Bahkan, dari ekspresi wajahnya, tampak terselip sedikit rasa sesal.Sambil merapikan pakaiannya, ibu angkat melangkah menuju pintu depan.Melihat bokong montoknya yang bergoyang saat berjalan, aku pun menghela napas di dalam hati. Sedikit lagi padahal!Aku segera berbalik dan kembali ke kamarku sendiri.Sambil berbaring di tempat tidur, aku merasa sedikit heran. Bukankah Paman Adnan bilang malam ini akan makan malam bersama teman

  • Tante-tante Kesepian   Bab 3

    Saat ini, ibu angkat sudah mengganti pakaiannya dengan satu setel baju yoga, atasan tank top hitam kecil yang dipadukan dengan celana yoga yang ketat, memperlihatkan lekuk tubuhnya yang ramping tetapi berisi itu dalam siluet kurva S yang sempurna.Terutama setelah berolahraga, pipi ibu angkat tampak merona. Dadanya yang indah kembang kempis tidak beraturan dan di bagian payudaranya yang seputih kapas serta bulat sempurna di balik kerah baju itu, tampak butiran keringat halus yang tersebar merata. Benar-benar begitu menggoda.Melihat adegan ini, hasrat dalam hatiku melonjak hingga ke puncaknya, seakan bisa meledak kapan saja.Dalam kondisi pikiranku yang memanas, aku melangkah cepat ke sisi ibu angkatku, mencengkeram pergelangan tangannya dan berpura-pura menunjukkan ekspresi yang begitu menderita."Ibu, aku hampir meledak. Tolong selamatkan aku …. Tolong bantu aku, ya?"Ibu angkatku gemetar seolah tersengat oleh suhu tubuhku yang panas membara. Dia mencoba memalingkan wajahnya, tetapi

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status