Share

Bab 3

Author: Ungu
Saat ini, ibu angkat sudah mengganti pakaiannya dengan satu setel baju yoga, atasan tank top hitam kecil yang dipadukan dengan celana yoga yang ketat, memperlihatkan lekuk tubuhnya yang ramping tetapi berisi itu dalam siluet kurva S yang sempurna.

Terutama setelah berolahraga, pipi ibu angkat tampak merona. Dadanya yang indah kembang kempis tidak beraturan dan di bagian payudaranya yang seputih kapas serta bulat sempurna di balik kerah baju itu, tampak butiran keringat halus yang tersebar merata. Benar-benar begitu menggoda.

Melihat adegan ini, hasrat dalam hatiku melonjak hingga ke puncaknya, seakan bisa meledak kapan saja.

Dalam kondisi pikiranku yang memanas, aku melangkah cepat ke sisi ibu angkatku, mencengkeram pergelangan tangannya dan berpura-pura menunjukkan ekspresi yang begitu menderita.

"Ibu, aku hampir meledak. Tolong selamatkan aku …. Tolong bantu aku, ya?"

Ibu angkatku gemetar seolah tersengat oleh suhu tubuhku yang panas membara. Dia mencoba memalingkan wajahnya, tetapi tanpa sengaja justru melihat bagian bawah tubuhku yang terbuka, sehingga membuat tatapan matanya menjadi gelisah dan terus menghindar.

"Aldo, Ibu akan carikan sesuatu untuk membantumu mendinginkan diri …."

Ibu angkatku hendak berbalik untuk pergi. Namun, aku yang sudah kehilangan akal sehat segera memeluknya dari belakang dan menindihnya ke atas meja tamu.

"Aldo, apa yang kamu lakukan …. Ah, tunggu sebentar …."

"Ibu, tubuhmu terasa sejuk. Biarkan aku menempel padamu, aku mohon."

Mungkin karena terpengaruh oleh tatapan mataku yang memohon, atau mungkin juga karena dia merasa sedikit bersalah, singkatnya ibu angkat hanya meronta sebentar saja. Setelah itu, ibu angkat memalingkan wajahnya dan membiarkanku melakukan apa yang aku inginkan.

Aku menarik napas dalam-dalam, menundukkan tubuhku dan membenamkan wajahku di dadanya. Aku menempel erat pada tubuh ibu angkatku. Sentuhan yang lembut dan kenyal itu, serta keharuman samar yang memabukkan dan menyegarkan hidung, membuat pikiranku menjadi benar-benar kosong.

Terutama bagian pantatnya yang berisi, yang baik sengaja maupun tidak, terus menggeliat. Rangsangan yang timbul dari gesekan itu membuatku benar-benar gila.

Dalam dorongan nafsu yang memuncak, aku tidak peduli lagi. Aku menjulurkan tangan, masuk meraba ke balik kerah tank top-nya.

Lantaran ibu angkat sedang berlatih yoga, dia sama sekali tidak mengenakan bra di dalamnya ….

Sensasi luar biasa itu membuat seluruh tubuhku tersentak dan napasku seakan terhenti.

"Ibu, punyamu besar sekali ya. Pantas saja Nino bisa tumbuh begitu kuat. Dia pasti minum banyak susu waktu kecil dulu."

Aku meremas dan mengelusnya sepuas hati dengan penuh gairah, membuat ibu angkatku mendesah lembut berkali-kali hingga seluruh tubuhnya menjadi lemas tak bertenaga.

Ibu angkat hanya mencengkeram bahuku dengan sisa-sisa tenaganya yang mulai hilang. Namun, seiring dengan datangnya gelombang kenikmatan, penolakan dalam pikirannya perlahan-lahan kehilangan kekuatannya. Pada akhirnya, ibu angkat justru memeluk bahuku dan menarikku makin rapat ke arah tubuhnya.

Aku mengeluarkan bagian lembut yang habis kuremas-remas itu dari balik kerah bajunya, lalu menatap puas pada bekas jari-jariku yang memenuhi permukaannya. Sebelum ibu angkatku sempat bereaksi, aku menundukkan kepala dan mengulum puting payudaranya.

Ibu angkatku melenguh pelan dan membusungkan dadanya, yang justru mempermudah tindakanku.

"Ibu, bertanggung jawablah padaku. Aku nggak akan kasih tahu siapa pun."

Wajahnya memerah saat melihatku yang menempel di dadanya. Akhirnya, dengan wajah yang masih merona, ibu angkat mengulurkan tangan dan mengelus rambutku dengan lembut.

Ini adalah sebuah persetujuan tanpa suara.

Aku tersenyum lebar kegirangan. Satu tanganku meremas bagian dadanya yang lain, sementara tanganku yang satu lagi sudah mencengkeram tali renda tipis dari celana dalam thong yang melingkar di pinggang ramping ibu angkatku, lalu menariknya kuat-kuat ke atas.

"Ah …."

Ibu angkatku mengeluarkan erangan yang menggairahkan. Pada saat ini, perlawanannya yang lemah seakan berubah menjadi godaan antara menolak, tetapi menginginkan. Kedua kakinya yang jenjang gemetar sedikit, seakan menerima rangsangan yang begitu kuat.

Melihat hal itu, aku menjadi tidak tahan lagi. Dengan cepat, aku segera melucuti celana yoga dan pakaian dalam ibu angkatku.

Kini, bokongnya yang montok dan berisi terpampang sepenuhnya di depan mataku.

Begitu putih, begitu besar!

"Ibu, aku mau masuk."

Detik berikutnya, kejantananku menempel di pintu masuknya yang tersembunyi dan basah itu ….
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tante-tante Kesepian   Bab 8

    Ibu angkat benar-benar memanggil namaku. Suaranya yang menggoda itu benar-benar membuatku terbuai.Sekarang, aku makin percaya pada kata-kata Bibi Debby.Sebelum masuk, aku sempat mengintip ke dalam.Lampu tidur di atas nakas memancarkan cahaya hangat yang temaram. Ibu angkatku berbaring di atas ranjang tanpa sehelai benang pun. Tubuhnya tampak putih bersih dengan kulit yang halus dan mulus. Pipinya merona merah, sementara dia melakukan gerakan tak senonoh sambil membisikkan namaku berkali-kali.Sial, ternyata dia sedang memuaskan dirinya sendiri dengan tangannya.Adegan merangsang di depan mataku ini benar-benar menyulut api gairah di dalam tubuhku. Baru saja aku hendak menyerbu masuk untuk bercumbu gila-gilaan dengan ibu angkatku, tiba-tiba aku teringat akan satu masalah penting.Malam ini pasti akan menjadi pertarungan yang sengit. Dengan kekuatanku, sepuluh atau delapan ronde pun tidak akan jadi masalah.Jadi, untuk berjaga-jaga, aku harus menyiapkan kondom.Untungnya, ada satu kot

  • Tante-tante Kesepian   Bab 7

    Aku langsung terduduk dengan penuh semangat. Jangan-jangan, Bibi Debby berhasil membujuk ibu angkat?Dengan antusias, aku pun menyalakan lampu. Kemudian, tampak olehku Bibi Debby yang mengenakan gaun tidur seksi mendorong pintu, lalu masuk.Aku melirik ke arah belakangnya, tetapi ibu angkat tidak berdiri di luar pintu.“Bocah nakal, apa yang kamu lihat?”Bibi Debby tersenyum manis. Tangannya menutup pintu di belakangnya. Kemudian, dia duduk di tepi tempat tidur dengan sangat santainya.Kedua kaki jenjangnya yang putih mulus dan menggoda saling bersilangan. Sambil menatapku dengan senyum yang sulit diartikan, Bibi Debby pun bertanya padaku, “Sudah selarut ini belum tidur juga, apa kamu merasa kesepian malam ini sampai nggak bisa tidur?"Kata-katanya yang begitu blak-blakan membuatku sampai tidak tahu harus menjawab apa.“Nggak, nggak kok ….”“Hehehe, kamu bohong ya?"Sambil berkata seperti itu, Bibi Debby tiba-tiba mengulurkan tangan dan menyingkap selimutku. Saat melihat tonjolan di ba

  • Tante-tante Kesepian   Bab 6

    Beberapa menit kemudian, kedua wanita itu pergi.Hanya tersisa aku sendirian di rumah, tetapi aku belum sempat meluapkannya!Rasanya sungguh tidak nyaman, seakan-akan aku mau meledak.Aku kembali ke kamar. Baru saja hendak mencari beberapa film porno klasik di komputer untuk melepaskan hasrat, tiba-tiba ponselku di samping tempat tidur menerima pesan dari ibu angkat.[Kalau benar-benar sudah nggak tahan, pergilah ke kamar mandi. Di dalam keranjang ada pakaian dalamku yang baru dilepas dan belum dicuci.]Aku tertegun sejenak, lalu membalas: [Maksudnya apa ya?][Pikir saja sendiri!!!] Beberapa tanda seru yang berurutan menunjukkan bahwa ibu angkat sedang kesal.Seketika aku tersadar, ibu angkat ingin aku menggunakan pakaian dalamnya ….Astaga! Hal seperti ini bahkan tidak pernah berani kubayangkan sebelumnya.Jika aku benar-benar mencuri pakaian dalamnya, mungkin aku akan dipukuli sampai setengah mati oleh ibu angkat.Sepertinya dia merasa bersalah karena masalahku ini, makanya dia mau m

  • Tante-tante Kesepian   Bab 5

    Melihat Bibi Debby ternyata masih mengenakan gaun tidur satin yang seksi, memperlihatkan tulang selangka yang indah dan hamparan kulit putih mulus di dadanya, serta paha putihnya yang mengintip di balik belahan roknya yang tinggi, aku sampai hampir meneteskan air liur karena nafsu."Bibi Debby, Bibi ada di sini?" seruku sambil berpura-pura baru bangun tidur dan menyapanya."Aduh, Aldo, apa Bibi membangunkanmu? Maaf ya …."Bibi Debby menatapku sambil tersenyum lebar. Namun, baru saja bicara sepatah kata, tatapan Bibi Debby secara tidak sadar langsung tertuju pada satu titik tertentu.Bagaimanapun, tonjolan tinggi di celana itu sulit untuk tidak diperhatikan, terutama bagi kedua wanita yang sudah lama merasa hampa dan kesepian itu. Hal tersebut mungkin merupakan godaan yang mematikan.Benar saja, Bibi Debby menunjukkan ekspresi terkejut. Entah apa yang sedang dia pikirkan, wajahnya yang cantik perlahan mulai memerah.Bibi Debby terpaku selama beberapa saat. Bukannya memalingkan wajah sep

  • Tante-tante Kesepian   Bab 4

    Sepasang mata indahnya yang berkaca-kaca perlahan memicing, menyiratkan rasa cemas dan malu, tetapi diwarnai damba. Dengan ekspresi yang menggoda, ibu angkat menatapku sambil menggigit bibir merahnya, seakan sedang terhanyut dalam perasaan. Tatapannya begitu lembut dan sayu.Tepat di saat yang krusial itu, terdengar bunyi bel pintu "ting-tong, ting-tong" dari luar."Paman Adnan sudah pulang?"Aku tersentak kaget, lalu bergegas bangkit dari tubuh ibu angkat."Aldo, cepat kembali ke kamar. Biar aku yang buka pintunya."Ibu angkat sepertinya tidak marah kepadaku. Bahkan, dari ekspresi wajahnya, tampak terselip sedikit rasa sesal.Sambil merapikan pakaiannya, ibu angkat melangkah menuju pintu depan.Melihat bokong montoknya yang bergoyang saat berjalan, aku pun menghela napas di dalam hati. Sedikit lagi padahal!Aku segera berbalik dan kembali ke kamarku sendiri.Sambil berbaring di tempat tidur, aku merasa sedikit heran. Bukankah Paman Adnan bilang malam ini akan makan malam bersama teman

  • Tante-tante Kesepian   Bab 3

    Saat ini, ibu angkat sudah mengganti pakaiannya dengan satu setel baju yoga, atasan tank top hitam kecil yang dipadukan dengan celana yoga yang ketat, memperlihatkan lekuk tubuhnya yang ramping tetapi berisi itu dalam siluet kurva S yang sempurna.Terutama setelah berolahraga, pipi ibu angkat tampak merona. Dadanya yang indah kembang kempis tidak beraturan dan di bagian payudaranya yang seputih kapas serta bulat sempurna di balik kerah baju itu, tampak butiran keringat halus yang tersebar merata. Benar-benar begitu menggoda.Melihat adegan ini, hasrat dalam hatiku melonjak hingga ke puncaknya, seakan bisa meledak kapan saja.Dalam kondisi pikiranku yang memanas, aku melangkah cepat ke sisi ibu angkatku, mencengkeram pergelangan tangannya dan berpura-pura menunjukkan ekspresi yang begitu menderita."Ibu, aku hampir meledak. Tolong selamatkan aku …. Tolong bantu aku, ya?"Ibu angkatku gemetar seolah tersengat oleh suhu tubuhku yang panas membara. Dia mencoba memalingkan wajahnya, tetapi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status