Share

Bab 2

Author: Ungu
Mengenai masalah ini, ceritanya harus dimulai dari awal.

Namaku Aldo Agastya, seorang mahasiswa.

Orang tuaku pergi ke luar kota untuk berbisnis. Oleh karena itu, aku harus menumpang tinggal di rumah ibu angkatku.

Ibu angkatku bernama Alicia Julian. Usianya 38 tahun. Dia sahabat karib ibuku.

Kulit ibu angkatku putih mulus. Bentuk tubuhnya juga sangat proporsional, utamanya sepasang kakinya yang jenjang dan putih bersih, yang tidak kalah jika dibandingkan dengan kaki model profesional.

Wajah ibu angkatku apalagi, kecantikannya tidak perlu diragukan, begitu menawan dan memikat. Setiap gerak-gerik dan senyumannya memancarkan pesona wanita dewasa yang matang. Saat di rumah, setiap hari dia berpakaian sangat seksi, tanpa merasa sungkan sedikit pun kepadaku yang berstatus sebagai anak angkatnya.

Oleh karena itu, setiap saat dia selalu membuatku tersipu malu dengan wajah memerah, hingga pikiranku melayang ke mana-mana.

Terutama hari ini. Aku baru saja pulang bermain basket dari luar dan memang sudah merasa sangat kepanasan.

Begitu aku meminum habis segelas air di atas meja, aku merasa suhu tubuhku malah makin panas membara.

Ibu angkatku yang baru keluar dari dapur langsung berubah raut wajahnya saat melihat gelas kosong di tanganku. Dengan nada yang agak panik, dia bertanya kepadaku mengapa aku meminum air itu.

"Aku sangat haus. Memangnya kenapa, Bu? Apa air ini nggak boleh diminum?"

Ibu angkatku menjawab dengan terbata-bata dan tidak memberi penjelasan lebih lanjut. Dia hanya berkata, "Setelah selesai makan, segeralah tidur."

Kata-katanya membuatku sedikit kebingungan.

Sekarang sedang libur sekolah. Biasanya, ibu angkatku tidak pernah menyuruhku tidur lebih awal.

Akan tetapi, aku tidak ambil pusing. Aku pun duduk di sofa dan mulai bermain game.

Namun, baru bermain dua ronde, aku merasa ada yang makin tidak beres.

Di dalam tubuhku seakan ada api yang sedang berkobar dan aku merasa seluruh darahku terus mengalir deras menuju ke satu titik.

Hampir tanpa kendali, pandanganku beralih ke arah ibu angkatku yang sedang duduk menonton televisi di sofa sebelah.

Mataku terus menyisir dan tertuju pada payudaranya yang putih di balik kerah baju serta lekukan bokongnya yang montok, yang membuatku begitu sulit untuk mengalihkan pandangan.

Makin aku melihatnya, darahku makin mendidih dan hatiku merasa gatal tak tertahankan.

Di dalam hatiku seakan muncul suatu dorongan yang entah datang dari mana, membuatku ingin sekali menerjang maju, menindih ibu angkatku di atas sofa dan memukul bokongnya keras-keras.

Ibu angkatku menyadari perubahan pada diriku. Kemudian, dengan terbata-bata, akhirnya dia menjelaskan, "Aldo, sebenarnya … segelas air yang kamu minum tadi itu bermasalah. Harusnya itu disiapkan untuk pamanmu. Di dalamnya sudah dimasukkan tiga butir Viagra."

Setelah berkata seperti itu, pipi ibu angkatku sendiri juga ikut memerah.

"Tiga butir?!"

Aku tercengang, terpaku diam sampai tidak bisa berkata-kata.

Tentu saja aku tahu benda apa yang dimaksud oleh ibu angkatku. Viagra itu adalah obat ajaib untuk meningkatkan stamina dan daya tahan pria. Biasanya, pria dewasa saja maksimal hanya mengonsumsi satu butir dalam sehari.

Akan tetapi, ibu angkatku malah memasukkan tiga butir ke dalam air itu, ini benar-benar kejam!

Hal ini tidak hanya menunjukkan bahwa kondisi fisik Paman Adnan sudah menurun, tetapi secara tidak langsung juga menjelaskan ibu angkat merasa kesal kepada Paman Adnan, karena sudah lama tidak mendapatkan kepuasan seksual. Itulah sebabnya, ibu angkat memberikan dosis sekuat itu. Mungkin, itu karena dia ingin meluapkan semuanya sepuas hati malam ini.

Alhasil, tanpa sengaja aku malah meminum habis air yang sudah disiapkan dengan matang oleh ibu angkatku untuk suaminya itu.

Di tengah rasa kagetku, sensasi gelisah yang tidak tertahankan sudah membuatku mulai terengah-engah dan organ vital di bawah sana juga mulai menegang dengan hebat.

Melihat tonjolan di celanaku, ukurannya benar-benar membuat ibu angkatku terkejut.

Dengan perasaan malu sekaligus bersalah, ibu angkat berkata, "Aldo, bagaimana kalau … bagaimana kalau kamu ke kamar saja, dan selesaikan sendiri …."

Suaranya makin mengecil saat dia berbicara.

Sambil menatap tubuh ibu angkatku yang montok dan menggoda itu, aku begitu ingin berucap, "Bu, harusnya Ibu yang tanggung jawab."

Akan tetapi, meski ada niat, aku tidak punya keberanian. Aku pun menelan ludah, lalu dengan perasaan malu dan gelisah, aku segera masuk ke kamar sambil menutupi bagian celanaku.

Hasilnya, setelah mencoba selama hampir empat puluh menit, aku sama sekali tidak bisa mengeluarkannya. Malahan, bagian itu menjadi merah meradang dan terasa begitu kencang, seolah-olah hendak meledak.

Pikiranku dipenuhi oleh bayangan seksi ibu angkatku tadi. Aku berkhayal ibu angkatku menggunakan tubuhnya yang lembut untuk melayani bagian bawah tubuhku. Entah menggunakan dadanya yang putih dan berisi, atau bokongnya yang bulat kencang, atau mungkin kakinya yang jenjang dan indah …. Bagian mana pun tidak masalah, sampai akhirnya aku akan berejakulasi di atas tubuhnya, membiarkan tubuhnya yang penuh godaan itu berlumuran dengan cairanku.

Makin dipikirkan, aku merasa makin haus. Memuaskan diri sendiri bahkan terasa seperti hanya menyentuh bagian luarnya saja, tanpa menyelesaikan masalah. Malahan, hal itu membuatku makin tidak tahan.

Dalam keadaan terdesak, aku bahkan tidak mau repot-repot mengenakan celana dan langsung berjalan keluar kamar. Sambil menatap ibu angkatku yang sedang berlatih yoga di ruang tamu, aku berkata dengan wajah frustrasi, "Bu, sudah empat puluh menit dan masih nggak bisa keluar juga, bagaimana ini?"

"Kamu … kamu ini, Nak. Kenapa nggak pakai celana dulu …."

Mungkin karena pemandangan itu terlalu mengejutkan, ibu angkat merasa begitu malu hingga dia tidak tahu harus memalingkan wajah ke mana.

Ibu angkatku sempat merasa canggung sejenak. Akan tetapi, setelah melihat dengan jelas betapa megahnya ukuran "alat" di bagian bawah tubuhku itu, dia pun menjadi terpaku. Seketika itu juga, mata ibu angkat seakan terkunci dan tidak bisa beralih, lalu tanpa sadar ibu angkat pun menelan ludah.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tante-tante Kesepian   Bab 8

    Ibu angkat benar-benar memanggil namaku. Suaranya yang menggoda itu benar-benar membuatku terbuai.Sekarang, aku makin percaya pada kata-kata Bibi Debby.Sebelum masuk, aku sempat mengintip ke dalam.Lampu tidur di atas nakas memancarkan cahaya hangat yang temaram. Ibu angkatku berbaring di atas ranjang tanpa sehelai benang pun. Tubuhnya tampak putih bersih dengan kulit yang halus dan mulus. Pipinya merona merah, sementara dia melakukan gerakan tak senonoh sambil membisikkan namaku berkali-kali.Sial, ternyata dia sedang memuaskan dirinya sendiri dengan tangannya.Adegan merangsang di depan mataku ini benar-benar menyulut api gairah di dalam tubuhku. Baru saja aku hendak menyerbu masuk untuk bercumbu gila-gilaan dengan ibu angkatku, tiba-tiba aku teringat akan satu masalah penting.Malam ini pasti akan menjadi pertarungan yang sengit. Dengan kekuatanku, sepuluh atau delapan ronde pun tidak akan jadi masalah.Jadi, untuk berjaga-jaga, aku harus menyiapkan kondom.Untungnya, ada satu kot

  • Tante-tante Kesepian   Bab 7

    Aku langsung terduduk dengan penuh semangat. Jangan-jangan, Bibi Debby berhasil membujuk ibu angkat?Dengan antusias, aku pun menyalakan lampu. Kemudian, tampak olehku Bibi Debby yang mengenakan gaun tidur seksi mendorong pintu, lalu masuk.Aku melirik ke arah belakangnya, tetapi ibu angkat tidak berdiri di luar pintu.“Bocah nakal, apa yang kamu lihat?”Bibi Debby tersenyum manis. Tangannya menutup pintu di belakangnya. Kemudian, dia duduk di tepi tempat tidur dengan sangat santainya.Kedua kaki jenjangnya yang putih mulus dan menggoda saling bersilangan. Sambil menatapku dengan senyum yang sulit diartikan, Bibi Debby pun bertanya padaku, “Sudah selarut ini belum tidur juga, apa kamu merasa kesepian malam ini sampai nggak bisa tidur?"Kata-katanya yang begitu blak-blakan membuatku sampai tidak tahu harus menjawab apa.“Nggak, nggak kok ….”“Hehehe, kamu bohong ya?"Sambil berkata seperti itu, Bibi Debby tiba-tiba mengulurkan tangan dan menyingkap selimutku. Saat melihat tonjolan di ba

  • Tante-tante Kesepian   Bab 6

    Beberapa menit kemudian, kedua wanita itu pergi.Hanya tersisa aku sendirian di rumah, tetapi aku belum sempat meluapkannya!Rasanya sungguh tidak nyaman, seakan-akan aku mau meledak.Aku kembali ke kamar. Baru saja hendak mencari beberapa film porno klasik di komputer untuk melepaskan hasrat, tiba-tiba ponselku di samping tempat tidur menerima pesan dari ibu angkat.[Kalau benar-benar sudah nggak tahan, pergilah ke kamar mandi. Di dalam keranjang ada pakaian dalamku yang baru dilepas dan belum dicuci.]Aku tertegun sejenak, lalu membalas: [Maksudnya apa ya?][Pikir saja sendiri!!!] Beberapa tanda seru yang berurutan menunjukkan bahwa ibu angkat sedang kesal.Seketika aku tersadar, ibu angkat ingin aku menggunakan pakaian dalamnya ….Astaga! Hal seperti ini bahkan tidak pernah berani kubayangkan sebelumnya.Jika aku benar-benar mencuri pakaian dalamnya, mungkin aku akan dipukuli sampai setengah mati oleh ibu angkat.Sepertinya dia merasa bersalah karena masalahku ini, makanya dia mau m

  • Tante-tante Kesepian   Bab 5

    Melihat Bibi Debby ternyata masih mengenakan gaun tidur satin yang seksi, memperlihatkan tulang selangka yang indah dan hamparan kulit putih mulus di dadanya, serta paha putihnya yang mengintip di balik belahan roknya yang tinggi, aku sampai hampir meneteskan air liur karena nafsu."Bibi Debby, Bibi ada di sini?" seruku sambil berpura-pura baru bangun tidur dan menyapanya."Aduh, Aldo, apa Bibi membangunkanmu? Maaf ya …."Bibi Debby menatapku sambil tersenyum lebar. Namun, baru saja bicara sepatah kata, tatapan Bibi Debby secara tidak sadar langsung tertuju pada satu titik tertentu.Bagaimanapun, tonjolan tinggi di celana itu sulit untuk tidak diperhatikan, terutama bagi kedua wanita yang sudah lama merasa hampa dan kesepian itu. Hal tersebut mungkin merupakan godaan yang mematikan.Benar saja, Bibi Debby menunjukkan ekspresi terkejut. Entah apa yang sedang dia pikirkan, wajahnya yang cantik perlahan mulai memerah.Bibi Debby terpaku selama beberapa saat. Bukannya memalingkan wajah sep

  • Tante-tante Kesepian   Bab 4

    Sepasang mata indahnya yang berkaca-kaca perlahan memicing, menyiratkan rasa cemas dan malu, tetapi diwarnai damba. Dengan ekspresi yang menggoda, ibu angkat menatapku sambil menggigit bibir merahnya, seakan sedang terhanyut dalam perasaan. Tatapannya begitu lembut dan sayu.Tepat di saat yang krusial itu, terdengar bunyi bel pintu "ting-tong, ting-tong" dari luar."Paman Adnan sudah pulang?"Aku tersentak kaget, lalu bergegas bangkit dari tubuh ibu angkat."Aldo, cepat kembali ke kamar. Biar aku yang buka pintunya."Ibu angkat sepertinya tidak marah kepadaku. Bahkan, dari ekspresi wajahnya, tampak terselip sedikit rasa sesal.Sambil merapikan pakaiannya, ibu angkat melangkah menuju pintu depan.Melihat bokong montoknya yang bergoyang saat berjalan, aku pun menghela napas di dalam hati. Sedikit lagi padahal!Aku segera berbalik dan kembali ke kamarku sendiri.Sambil berbaring di tempat tidur, aku merasa sedikit heran. Bukankah Paman Adnan bilang malam ini akan makan malam bersama teman

  • Tante-tante Kesepian   Bab 3

    Saat ini, ibu angkat sudah mengganti pakaiannya dengan satu setel baju yoga, atasan tank top hitam kecil yang dipadukan dengan celana yoga yang ketat, memperlihatkan lekuk tubuhnya yang ramping tetapi berisi itu dalam siluet kurva S yang sempurna.Terutama setelah berolahraga, pipi ibu angkat tampak merona. Dadanya yang indah kembang kempis tidak beraturan dan di bagian payudaranya yang seputih kapas serta bulat sempurna di balik kerah baju itu, tampak butiran keringat halus yang tersebar merata. Benar-benar begitu menggoda.Melihat adegan ini, hasrat dalam hatiku melonjak hingga ke puncaknya, seakan bisa meledak kapan saja.Dalam kondisi pikiranku yang memanas, aku melangkah cepat ke sisi ibu angkatku, mencengkeram pergelangan tangannya dan berpura-pura menunjukkan ekspresi yang begitu menderita."Ibu, aku hampir meledak. Tolong selamatkan aku …. Tolong bantu aku, ya?"Ibu angkatku gemetar seolah tersengat oleh suhu tubuhku yang panas membara. Dia mencoba memalingkan wajahnya, tetapi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status