LOGINSeberapa memalukan hukuman cambuk di Diusz? Di bawah tatapan beberapa pria kekar, rokku disingkap ke atas dengan kasar dan aku langsung dicambuk. Akan tetapi, suamiku malah bersemangat, sampai-sampai tubuh bagian bawah miliknya bereaksi. Malam itu, akhirnya aku bisa merasakan kembali kebahagiaanku yang telah lama hilang ….
View MoreCharlie's POV
My alarm went off and I rubbed my eyes, how many other seventeen year olds woke up at 4am every day I wondered and rolled out of bed, I pulled on my sweats ready to clean before school started and walked out my bedroom whilst tying my black hair up in a bun so it wouldn’t be in the way.
As soon as I left my room I could smell the stench of beer and cigarettes already, I hated it but that was what my life was like living with addicts for parents. Just one more week and I could get out of here although I had nowhere to go.
Beer cans covered every surface along with syringes they had used for drugs, I sighed, this had been my life since I was ten years old. I got up early to clean the mess they left every night, sometimes I would find one of them passed out on the floor or sofa, sometimes completely out cold, sometimes covered in vomit. At least it seemed like they both made it to their bed this time.
Sighing at the mess, I pull on a pair of rubber gloves that I have stashed away, I had to protect myself from being stabbed the best I could and money was tight so rubber gloves were my best option. I start to clean and as I move forward, I felt a crunch beneath me, there was shattered glass on the floor and I was just grateful that I had chosen to put my trainers on before leaving my tidy and clean room.
By 6am I had cleaned and scrubbed every surface, I did wonder why I bothered when it would be exactly the same tomorrow morning and headed to the shower, I was lucky because my father and step mother were always high on drugs or alcohol they had let me have the room at the top of the house which had an ensuite.
I removed my clothes and stepped into the shower, washing away the stench of stale smoke, when I heard him. My father was banging on my bedroom door “Let me in you stupid girl, you threw away my beer” I ignored him knowing the locks on my door would hold.
“Charlotte, open this damn door right now” he was slurring his words and clearly still drunk, I was surprised he even made it up the stairs. As I turned the shower off, my door was ripped off its hinges, I reached for a towel but it was too late, my father marched towards me and grabbed me around the neck, pinning me my wet body against the tiled wall not caring that i was naked.
“Dad please” my words came out squeaky as I begged him to put me down
“Where is it?” his stale breathe was vile and I tried not to urge as it reached my nostrils. “My booze you stupid girl”
“Everything was empty, I checked” I was whimpering now and he threw me down onto the floor of the shower causing me to bang my head.
He stormed out of my room, leaving the door on the floor, as I coughed and spluttered. I stayed here a few minutes more just in case he came back and when I heard the front door open and then slam I finally found the courage to look in the mirror. Bruises were already appearing around my neck “Great”. I wipe away the tears that are threatening to burst out and dress myself, thankfully I had a green turtleneck that would hide the marks perfectly.
I was getting better and better at hiding these marks that my parents would leave me with, sometimes the beatings got so bad I wish they would just kill me but they never did enough to put me in hospital. I pull on a pair of blue skinny jeans and a pair of uggs. The cold weather meant this outfit was perfect, I wasn’t sure what I would do if it was summer.
I stared at myself in the mirror, my black hair was still knotted up in a bun, my skin had lost it’s colour long ago due to poor nutrition and was now a pasty white colour, my eyes were a bluish grey colour, probably the only interesting thing about me. I sighed and looked at my door on the floor, something else I would need to fix to try and keep them out.
Quietly creaping downstairs, I made myself some porridge, it was probably the cheapest meal I could make that would keep me full until this evening or maybe tomorrow if there were no left overs. I checked my school work and made sure that I had completed my homework, I had a routine each and every day and generally would complete my school work at lunch time, whilst everyone else was at lunch, I would use the computers, it wasn’t like I could afford to eat anyway.
My grades stayed the same because of this, they were not the best and they were not the worst, they would get me where I needed to go and also meant that I stayed under the radar with the teachers so they did not harass me either.
A little while later and my father stumbled back into the house slurping from a can whilst carrying a bag with loads more cans in, thankfully he ignored me this time and I was able to leave the house without any problems.
Getting to school was another thing, I had to walk no matter what, I didn’t get the school bus or a taxi, nor would my parents give me a lift, it wasn’t to bad it was only a three mile walk and after a while you get used to it. Bonus was that it wasn’t raining today.
I had managed to save enough money in the summer to buy myself some headphones and a cheap phone, which helped pass the time. I also had to keep it hidden from my parents, no doubt they would sell it so they could score.
Arriving at my school, everyone was rushing around, normally I was one of the first here but today it seemed as if I was one of the last. I pushed past people and made my way to the locker, dumping all the things I wouldn’t need. I watch as some of the girls giggle as they walk, talking about a guy and wondering if he will notice them, others were plastering on makeup using the mirrors in their lockers. What was going on, what had I missed.
“They are really coming” I heard a group of girls standing by me say, I move a little closer to make sure I hear correctly
“Yes” another one nod’s their heads, “The royals are coming”
Oh yes, I remember, they were suppose to come a couple weeks go but it didn’t happen for some reason or another and apparently today was the day they would be coming for the grand opening of the crappy science block. I rolled my eyes, it made sense now, all the girls wanted the single prince to choose them.
I ignored them and carried on to my first class of the day, I did not want anything to do with this, I needed to stay invisible.
Aku menceritakan semuanya dengat sangat rinci pada Hanna karena panik dan ketakutan. Tanpa banyak bicara, Hanna langsung membawa pacarnya dan terbang malam itu juga. Kegelisahan membuatku terjaga semalaman. Meskipun menurut perkiraan Hanna, keadaan mungkin sudah mencapai titik terburuk. Namun, bagaimana kalau itu hanya salah paham? Bahkan sebelum kelompok orang itu menangkapku dan berniat memberiku "hukuman cambuk", aku masih berusaha memohon pada Ryan. Aku berdoa dia bisa menyadari kesalahannya di saat terakhir. Pria yang pernah aku cintai, justru menghancurkan hatiku perlahan-lahan! Dia hanya bisa melihat, saat pria lain di depannya memperlakukanku dengan kejam. Aku membencinya. Ingin sekali aku mengoyak hatinya dan mengetahui isinya! Tidak lama kemudian, beberapa orang yang sempat melarikan diri akhirnya tertangkap juga. Hanna dan Leon sudah melapor polisi sebelumnya. Polisi langsung datang untuk menangkap mereka semua. Baru sampai titik ini, Ryan akhirnya berhenti memba
Aku tidak terlalu berani melawan, takut kelompok orang ini akan melakukan hal yang lebih gila lagi. "Ryan, tolong aku .... " Aku berteriak sekuat tenaga. Aku menaruh harapanku pada Ryan, berharap dia masih memiliki sedikit hati nurani. Sayangnya, aku meremehkan kekejamannya. Mungkin, sejak awal aku tidak pernah benar-benar memahami siapa dia. Pria yang dulu berjanji tidak akan pernah membohongiku dan tidak akan membiarkanku kecewa, kini membuatku hancur sepenuhnya! Tawa sinis terus terdengar di telingaku. Cambuk yang sudah direndam air terus mencambukku dengan keras, tetapi rasa sakitnya tidak sebanding dengan rasa sakit hatiku. Ryan mengeluarkan penutup mata dan memasangkannya padaku dengan gugup. "Jangan melawan. Makin melawan, makin kamu merasa sakit! Nurut dan tiarap yang benar, nanti akan kuberi hadiah .... " Tepat saat hatiku hampir tenggelam dalam keputusasaan. "Brak!" Pintu di lantai atas tiba-tiba terbuka dengan keras! "Berhenti!" Itu suara Hanna. Akhirnya dia da
Staf hotel itu berbicara dengan gugup, "Meskipun kalian sudah memesan tempat ini, tetap tidak bisa melakukan hal-hal yang tidak pantas di sini ...." Ryan menjawab dengan marah, "Apa yang kami lakukan adalah hak kami! Pelanggan adalah raja!" Pada awalnya, aku tidak menyadari ada yang salah. Akan tetapi tiba-tiba semuanya menjadi jelas bagiku. "Tunggu dulu," kataku sambil memandang sekitar dengan cemas. "Bagaimana kamu tahu kami berada di sini ...." Kecemasan menderaku, seketika memeriksa sekeliling untuk memastikan tidak ada kamera tersembunyi yang terlewat. Kemudian staf itu menjelaskan dengan nada ragu, "Ehem ... lantai bawah kolam renang di atap ini terbuat dari kaca tembus pandang! Apa pun yang kalian lakukan di dalam kolam renang ini, semua pelanggan di restoran bawah bisa melihatnya dengan jelas!" Kata-kata itu membuatku hampir pingsan. Perasaan kecewa dan malu menghantamku seperti gelombang besar. Jadi, semua yang kami lakukan di kolam renang tadi ... terlihat jelas seperti
Malam itu, dia dengan sengaja menyembunyikannya dariku. Sama halnya, itu juga merupakan sebuah perlindungan bagiku. “Aku baik-baik saja, hanya saja sedikit kurang tidur!” Ryan menghela napas lega dan berkata, “Baguslah kalau begitu. Aku sudah membuat janji untuk mengambil foto hari ini, jadi kita tidak boleh menundanya!" Seketika itu, hatiku merasa sangat kecewa. “Hari ini masih mau harus pergi mengambil foto?” Ryan kembali berkata seolah itu adalah hal yang biasa, “Tadi malam, bukankah kamu sudah berjanji padaku? Dengan susah payah, kita akhirnya bisa keluar bersama. Mari kita ambil beberapa foto untuk dijadikan kenang-kenangan!” Saat sedang bicara, dia mendekatkan diri ke telingaku, suaranya terdengar sangat menggoda. “Aku sudah memesan tempat di kolam renang atap sebuah hotel mewah! Hasilnya pasti akan sangat memuaskan!” “Aku sudah memesan semua tempat itu, kamu tidak perlu khawatir kalau ada yang melihatnya. Kita bebas main sepuasnya!” Kalau tadi malam, aku pasti akan ter
Rasa sakit yang tiba-tiba itu membuat tubuhku bergetar hebat. Setelah lebih dari satu jam, akhirnya ikatanku dilepas. Kakiku gemetar dan aku hampir terjatuh ke lantai. Sekalipun gaunku masih utuh, gaun itu sudah terkena noda sesuatu yang menjijikkan dan membuatku ingin mencabik-cabiknya. Ketika s
Kalau tidak, kami akan dituntut dan bahkan dijatuhi hukuman. Aku dan suamiku benar-benar panik. Manajer itu tampak tidak sabar, dia kembali berkata, "Kalau tidak ada bukti kuat, kami tidak akan menangkap orang sesuka hati! Menurut laporan dari orang asing tadi, kamu bahkan tidak mengenakan pakaian
Suamiku memohon dengan suara pelan, "Tolonglah! Saat aku melihatmu mengenakan gaun, aku jadi teringat saat pertama kali kita bertemu. Gaun ini dapat membangkitkan fantasiku!" "Kalau kamu khawatir pakaian dalammu kelihatan … sekalian saja nggak usah dipakai! Lagi pula, kita sedang berada di negara as
Seberapa memalukan hukuman cambuk di Diusz? Di bawah tatapan beberapa pria kekar, rokku disingkap ke atas dengan kasar dan aku langsung dicambuk. Akan tetapi, suamiku malah bersemangat, sampai-sampai tubuh bagian bawah miliknya bereaksi. Malam itu, akhirnya aku bisa merasakan kembali kebahagiaanku y


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.