LOGINRunala mengerjap bingung, bulu matanya yang lentik mengepak cepat seiring dengan hatinya yang mendadak terasa menyempit. Hening yang pekat dari kamar sang Alpha seakan-akan meredam detak jantungnya sendiri.“Apa?”Suara gadis itu hampir berupa bisikan, pecah di antara derak kayu yang terbakar dalam perapian batu besar di sudut ruangan. Musim gugur yang basah akan segera berganti menjadi musim dingin yang kejam di luar sana. Hawa sedingin es beradu dengan kehangatan ruangan bertembok batu kelabu itu.Solvatar tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun. Lelaki itu berdiri sangat dekat, memamerkan dada bidangnya yang telanjang dan dipenuhi goresan bekas luka. “Aku memintamu menjadi Luna-ku, Runala. Menikahlah denganku.”Kata-kata itu menghantam kesadaran Runala seperti godam besi. Lidahnya seketika kelu, membeku dalam rongga mulut yang mendadak kering. Selama beberapa detik, dunianya berhenti berputar. Baginya, itu bukan lamaran romantis, melainkan lonceng maut yang berdentang keras untu
Keheningan yang pekat langsung menyelimuti kamar begitu pintu kamar itu menutup. Di dalam ruangan pribadi sang Alpha yang luas, ketegangan dari rawa barat tadi seolah-olah ikut terbawa masuk, mengendap di antara kehangatan perapian yang menyala samar.Runala baru saja selesai mengganti pakaiannya. Kini, dia mengenakan gaun katun longgar berwarna abu-abu yang jauh lebih nyaman daripada pakaian berburu yang kotor oleh tanah rawa. Namun, kendati tubuhnya sudah bersih, pikirannya sama sekali tidak tenang. Gadis itu menatap telapak tangan dan lengan bawahnya sendiri di bawah temaram api.Kulit Runala kembali mulus, bersih, dan kering. Lumpur pekat yang tadi dibalurkan Solvatar dengan begitu tebal telah lenyap sepenuhnya, terserap masuk ke dalam pori-porinya seolah-olah kulitnya adalah tanah kering yang merindukan air. Dia meremas jemari, sebuah usaha untuk mengusir rasa cemas yang perlahan merambat naik ke dada. Di dekat tempat tidur besar, Solvatar sedang berdiri membelakanginya. Lelaki
Kabut tebal dari rawa barat mulai menelan sisa-sisa cahaya senja yang memerah di kaki langit Demura. Suasana begitu sunyi, hanya menyisakan suara kecipak air dangkal di bawah kaki-kaki Ashvor. Di tepi kubangan lumpur, Runala menarik tali kendali, membuat hewan besar itu berhenti dengan patuh.Solvatar masih duduk di belakang Runala, mengurung tubuh gadis itu di antara kedua lengannya yang kekar. Posisi mereka begitu dekat hingga Runala bisa merasakan setiap embusan napas Solvatar yang hangat menerpa tengkuknya, membuat bulu kuduknya meremang halus. Bukan karena dingin, melainkan karena aura dominan lelaki di belakangnya.“Jadi ini alasanmu menunda waktu pulang?” Suara rendah Solvatar berdengung, berat dan penuh selidik. Tangan yang semula berada di tali kendali perlahan turun, melingkari pinggang Runala dan menarik punggung gadis itu agar makin menempel erat pada dada bidangnya. “Kau ingin mandi sementara kegelapan hampir menelan langit? Malam ini fase bulan mati, Rabbit.”Runala tida
Runala salah kalau mengira Solvatar akan bersikap lembut padanya. Setelah latihan fisik dan bertarung jarak dekat tiga hari berturut-turut, sekarang Solvatar memintanya latihan memanah. Tidak hanya berdiri melainkan sambil menunggang kuda. Kendati Solvatar ikut duduk di belakangnya seraya merapatkan tubuh untuk membantu menstabilkan posisi. Namun, tetap saja ini bukan hal mudah. Tembakan gadis itu memeleset jauh dari target lingkaran merah yang dipasang Solvatar pada batang pohon tua di tepi hutan.Anak panah itu tertancap pada semak belukar di sebelahnya, menimbulkan bunyi pelesat angin yang payah.“Jaga fokusmu agar tidak terpecah, Rabbit. Pegangan busurmu goyah setiap kali Ashvor melangkah.” Suara rendah Solvatar berdengung tepat di sebelah telinga Runala, getarannya terasa hingga ke dada gadis itu. Kedua tangan Solvatar berada di atas tangan Runala, memandu cara menarik tali busur.Runala mendengkus, berusaha menyembunyikan rasa lelah yang membakar otot-otot lengannya. Tubuhnya di
Langkah kaki mereka menghantam lantai lorong barak dengan irama yang kacau. Napas yang tadinya sudah tersengal-sengal akibat pertarungan jarak dekat di ruang latihan kini terasa makin membakar paru-paru Runala.Di sampingnya, Solvatar berlari dengan kecepatan mengerikan. Wajah sang Alpha yang biasanya dingin kini tampak kaku seperti batu pahatan. Rahangnya terkatup rapat dengan sorot mata yang memancarkan kekhawatiran.“Menyingkir!” gertak Solvatar pada dua orang prajurit yang berjaga di lorong sempit menuju kamar Nachtmar. Mereka terlonjak, hampur terjatuh kala sang Alpha menerjang lewat tanpa mengurangi kecepatan sedikit pun.Runala berusaha keras mengimbangi langkah lebar Solvatar, mengabaikan rasa lelah yang mencengkeram otot paha dan betis. Di dalam benaknya, berbagai asumsi berputar liar. Kejang di tengah koma panjang bisa berarti banyak hal. Penolakan saraf terhadap ramuan, infeksi yang tidak terdeteksi, atau fase kritis menuju kesadaran. Namun, untuk kondisi Nachtmar, risikony
Bau keringat, debu tanah, dan aroma pohon yang tajam memenuhi ruang latihan di sudut tersembunyi barak Demura. Cahaya matahari pagi yang pucat menembus celah-celah dinding batu yang renggang, membentuk garis-garis terang, memperlihatkan partikel debu yang menari di udara. Runala menyesuaikan posisi kaki di atas lantai tanah yang keras, merasakan otot-otot pahanya berkedut hebat karena kelelahan diiringi denyut dari luka jahitannya.Sudah tiga hari sejak malam di mana Runala melihat Solvatar duduk tegang menulis surat balasan untuk Ragnavar. Sejak hari itu, ada atmosfer yang berubah di barak ini. Solvatar tidak lagi pergi berpatroli hingga matahari terbenam seperti biasanya.Runala menyeka peluh di pelipis dengan punggung tangan yang gemetar, menatap sosok Solvatar yang berdiri kokoh beberapa langkah di depan. Lelaki itu hanya mengenakan celana panjang yang menggantung di pinggangnya, sementara otot torsonya terekspos bebas. Sinar matahari pagi menyoroti jejak bekas-bekas luka yang men







