Se connecterSeminggu berlalu sejak insiden di hutan. Runala mulai percaya bahwa keberuntungan masih berpihak padanya. Lelaki bernetra emas itu telah melepaskannya dengan tatapan hina yang paling dia syukuri seumur hidup. Jika menilai dari tatapannya yang tampak terkejut sekaligus muak, mungkin kehadiran Runala merusak selera makan sang kepala desa.
“Kau beruntung dia sedang dalam suasana hati yang baik, Runala,” ujar Garon lirih. Suaranya sudah jauh lebih kuat kendati napasnya masih terdengar berat. “Seorang pimpinan dari pusat kerajaan biasanya akan merobek leher siapa pun yang berani melintasi jalurnya. Apalagi, kudengar yang datang kali ini adalah seorang pangeran.”
Runala hanya mengangguk kecil sambil mengaduk sisa ramuan di lumpang kayu. “Dia tidak akan peduli pada Omega sepertiku, Kakek Garon. Baginya, aku hanya debu di bawah sepatu botnya.”
“Semoga saja begitu,” harap Garon. Sepertinya werewolf tua itu sangat mengkhawatirkan nasib Runala karena bertemu dengan kepala desa yang baru.
Runala baru saja selesai menuangkan ramuan ke dalam cangkir. Detik yang sama, derap langkah kaki kuda yang terburu-buru berhenti tepat di depan gubuk Garon. Jantungnya mencelus. Tidak hanya satu, melainkan sepuluh.
BRAK!
Pintu kayu tua gubuk Garon berderit hebat saat ditendang hingga terbuka dari luar. Dua prajurit dengan seragam hitam-perak khas kerajaan merangsek masuk. Wajah mereka pucat. Mata mereka liar karena panik.
“Mana tabibnya?!” teriak salah satu dari mereka, suaranya gemetar. “Cepat! Pangeran Solvatar terkena cakar perak beracun. Tabib kerajaan tidak bisa menghentikan pendarahannya!”
Runala terpaku. Darah di wajahnya seolah-olah surut. “S-saya ... saya bukan tabib. Saya tidak punya penawar untuk cakar perak—”
Prajurit itu tidak mau mendengar alasan. Dia mencengkeram lengan Runala. Tarikannya begitu kuat hingga lumpang di tangan gadis itu jatuh dan pecah.
“Penduduk desa bilang kau bahkan bisa menghidupkan orang mati! Jika pangeran mati, seluruh desa ini akan dibakar sebagai pembalasan! Ikut kami sekarang!”
Garon mencoba bangkit, tangannya yang gemetar meraih ujung jubah Runala. “Runala, jangan ....”
Akan tetapi, Runala tidak punya pilihan. Jika menolak, mereka mungkin akan melakukan hal lebih buruk yang akan berdampak pada gubuk ini dan Garon.
“Biarkan saya mengambil tas dulu.” Suara Runala bergetar, tetapi dia mencoba berdiri tegak.
Dengan tangan yang dingin, Runala menyambar tas kulit tua yang terasa sepuluh kali lebih berat. Dia memberikan cangkir ramuan pada Garon lalu memintanya untuk tidak khawatir.
Padahal jauh di dalam hati, Runala tahu dia tidak sedang baik-baik saja. Detik berikutnya, dia membiarkan diri diseret keluar, menuju markas lelaki dengan netra emas yang masih menghantuinya setiap malam.
Begitu tiba di bangunan batu itu, Runala langsung diseret menuju sebuah ruangan. Di sana, Solvatar tergeletak di tempat tidur markas yang dingin. Tabib istana yang ikut dengannya hanya bisa meratap tidak berdaya. Sementara kulit dan dagingnya mulai membiru karena racun.
Luka di bahu Solvatar tidak hanya perih, melainkan membara seperti tertimpa magma. Darah hitam merembes keluar, membasahi jubah kebesaran. Masih terngiang sorak-sorai tertahan dari beberapa penduduk yang senang melihat kepala desa yang mereka benci terjatuh.
Penglihatan Solvatar perlahan memudar. Seiring napas yang seolah-olah ditarik paksa menjauh dari paru-paru. Racun itu merambat lebih cepat dari yang dia bayangkan. Dia sedang bersiap menyambut ajal dengan kemarahan yang meluap, sampai wangi itu muncul lagi.
Wangi bunga liar di tengah badai yang pernah dia temui di hutan.
Perlahan, Solvatar membuka kelopak mata yang terasa seberat monolit.
Gadis itu.
Kelinci hutan yang seminggu lalu tersandung kakinya. Kini gadis berambut merah kecokelatan itu berdiri di samping tempat tidur. Dia diseret paksa oleh prajurit, rambutnya berantakan, dan wajahnya dipenuhi rasa takut sekaligus keberanian yang aneh.
“Jangan ... berani ... menyentuhku .…” Solvatar mengerang parau. Tangan mungil gadis itu gemetar tatkala mulai membuka kancing pakaian Solvatar.
Alih-alih berhenti, Runala justru menatap dengan sepasang netra hijau kecokelatan yang jernih. Jelas, ia mengabaikan status Solvatar sebagai pangeran ataupun kepala desa.
“Anda ingin mati dengan terhormat sebagai pangeran yang keras kepala, atau hidup sebagai kepala desa yang punya utang nyawa pada Omega rendahan seperti saya?”
Tangan dingin Runala menyentuh kulit Solvatar yang terasa melepuh. Saat cairan dari botol kecilnya menyentuh luka. Rasa sakit berubah menjadi gumpalan salju yang memadamkan api di nadi.
“S-siapa kau sebenarnya, Rabbit?”
Suara serak Solvatar membuat Runala menelan saliva dengan gugup. Otaknya berputar mencari alasan. Namun, tiba-tiba lelaki itu mengerang kesakitan. Lebih tersiksa dari sebelumnya. Tabib istana langsung mendekat, sementara dua prajurit menyeret Runala keluar dari ruangan.
Kini, Runala duduk membeku di lorong yang gelap. Tempat ini lebih mirip barak militer, alih-alih kastel tempat tinggal pangeran.
Tangan Runala terus gemetar, kendatipun saling meremas di atas pangkuan. Udara di sini tidak hanya berbau jelaga, tetapi juga bercampur bau logam dari senjata yang membuatnya mual. Bekas luka bakar di telapak tangannya berdenyut ritmis, seolah-olah jantung gadis itu berpindah ke sana.
Akan tetapi, perhatiannya dengan mudah teralih pada rasa panas yang mulai membakar kulit pahanya. Di sana, di balik pakaian kusam bernoda lumpur kering, terdapat sebuah bekas luka jahitan lama yang menonjol. Sesuatu yang ditanamkan ibunya sebelum mengembuskan napas terakhir.
“Ini akan membantu untuk melindungimu, Runala,” ujar ibunya seraya menangis kala menjahit luka itu. “Ingatlah untuk mandi di lumpur dengan helai-helai bunga.”
Kini, jahitan itu berdenyut hebat. Rasa panasnya seolah-olah ingin merobek kulit Runala dari dalam. Namun, dia terlalu tegang untuk memikirkan ramuan apa yang sesuai untuk meredakan nyeri.
Runala tersentak ketika tiba-tiba pintu terbanting membuka dari dalam. Tabib istana keluar dengan wajah pucat dan penuh amarah, disusul dua prajurit bertubuh tinggi yang menatap tajam pada Runala.
“Berdiri!” gertak salah satunya sembari mencengkeram lengan Runala hingga dia terjingkat.
“Lepaskan! Tadi saya sudah bilang, saya tidak punya penawar untuk cakar perak!” Runala memberontak, kakinya terseret di lantai batu. “Bukan salah saya jika pangeran tidak sembuh!”
Runala sudah bersiap akan diseret ke tiang gantungan. Namun, prajurit justru mendorongnya masuk kembali ke ruangan yang hanya diterangi satu obor redup.
Terhuyung, Runala dipaksa masuk lalu pintu ditutup dari luar. Di sana, Solvatar duduk bersandar. Sepasang netra emasnya berkilat tajam di kegelapan, mengunci sosok Runala seolah-olah tatapan lelaki itu bisa menembus pikirannya.
Tepat pada rahasia yang tersembunyi di sana.
Kini, Runala sendirian di kamar yang terlalu luas itu. Keheningan di sini terasa menindas, berbeda dengan keheningan hutan yang penuh dengan bisikan kehidupan. Gadis itu membaringkan tubuh di kasur milik Solvatar, tetapi aroma khas lelaki itu terasa terlalu menguasai. Indra penciumannya seolah-olah memberi sinyal bahwa dia berada di dalam kandang predator. Kendatipun kandang ini jauh lebih mewah dan hangat daripada gubuk tempat tinggalnya.Runala bangkit kembali, duduk di tepi tempat tidur sambil memandangi api di perapian yang menari-nari. Sehingga menimbulkan bayangan monster di dinding batu. Tatapan Runala jatuh pada tasnya yang tergeletak di atas meja. Gadis itu ingat masih menyimpan beberapa helai bunga Lave-Night yang sudah dikeringkan. Jika dia mengunyah sedikit saja, sarafnya akan rileks dan kantuk akan menjemput dalam hitungan menit. Namun, tangannya berhenti. Dia menarik jemarinya kembali seolah-olah tas itu baru saja menyengatnya.Wangi khas Lave-Night selalu membawanya ke
Glabela Solvatar berkerut kala menatap Runala yang menggeleng kuat-kuat. Setelah semua yang mereka lalui di hutan, tawaran untuk tidur di ranjang yang layak seharusnya disambut seperti anugerah, bukan beban.“Apa maksudmu kau tidak mau?” tuntut Solvatar dengan suara bergema rendah di sudut kamar yang sunyi.Runala berdiri mematung di dekat meja kayu. Jemarinya meremas ujung pakaian yang lusuh. Dia melirik tempat tidur besar dengan tatapan yang lebih mirip ketakutan daripada keinginan. “S-saya ... saya tidur di karpet lantai saja, Yang Mulia. Seperti biasa. Saya lebih terbiasa di sana.”Dengkus singkat lolos dari hidung Solvatar. Dia tahu apa yang ada di kepala gadis itu. Runala pasti mengira dia sedang memasang perangkap untuk sentuhan di luar batas.
Denyut nadi Runala dalam genggaman Solvatar berdentam-dentam keras. Lelaki itu tertegun sejenak. Bukan hanya karena tanda kehidupan yang berpacu liar seperti sayap burung yang terperangkap di bawah jemarinya, melainkan karena arah jalur rahasia ini.Siapa pun penyelundup yang membangun lorong ini puluhan tahun lalu, mereka telah memberi Solvatar kunci paling berbahaya di seluruh markas. Sebuah lubang rahasia yang terhubung langsung ke jantung ruang pribadinya. Lelaki itu segera menelan keterkejutannya, mengunci rapat ekspresi wajah sebelum Runala sempat menyadarinya. Seorang Alpha tidak boleh terlihat bingung di kamarnya sendiri.Akan tetapi, Runala tidak memiliki kemewahan untuk menyembunyikan emosi. Dia berdiri mematung, matanya terbelalak kala menatap deretan rak buku, ranjang besar yang berantakan, dan perapian yang masih menyisakan bara merah.“Tidak mungkin ... ini, kan, kamar Anda, Yang Mulia?” Suaranya hampir berupa bisikan yang bergetar.“Jangan berlebihan, Rabbit. Berhenti be
Udara hutan yang lembap menerpa wajah Runala tatkala Solvatar menggendongnya keluar dari rongga pohon. Napasnya masih tersengal seperti habis berlari jauh. Gadis itu seperti tidak bisa merasakan kakinya, selain getaran di lutut yang seolah-olah hendak menumbangkannya.Tadi, Runala sempat mencoba berdiri tegak. Namun, seluruh sendinya seolah-olah meloloskan diri. Bayangan serigala bermata merah yang sangat mirip dengan monster yang merenggut nyawa ibunya, masih menari-nari di belakang kelopak mata.Runala terisak. Bukan karena luka, melainkan karena teror masa lalu yang kembali mencekik. “Kubilang, berhenti menangis, Rabbit,” geram Solvatar. Suaranya rendah, tetapi tidak ada kemarahan di sana.Runala membenankan wajah di lekukan leher Solvatar yang berlumuran lumpur. Dari jarak sedekat ini, dia bisa merasakan detak jantung lelaki itu yang cepat di bawah kulit yang panas.Solvatar berjalan dengan langkah lebar, mengabaikan rembesan darah yang mulai membasahi kembali kain perban di bahu
Dunia Runala seakan-akan terjungkir balik tatkala lengan kekar Solvatar melingkari pinggangnya dengan sentakan yang merenggut napas. Dia bahkan tidak sempat memprotes kala lelaki itu menyeretnya masuk ke dalam rongga pohon raksasa yang sudah membusuk di tepian danau.Punggung Runala membentur batang pohon yang kasar. Sementara tubuh Solvatar yang tinggi besar menekannya begitu rapat. Hingga dia bisa merasakan panas yang memancar dari dada lelaki itu, menembus lapisan lumpur dingin yang menyelimuti tubuhnya. Satu tangan Solvatar membungkam mulutnya dengan paksa, sementara tangan lainnya mencengkeram gagang pedang, seolah-olah bersiap kapan saja untuk menyerang dari ruang sempit yang mereka bagi. “Jangan. Bersuara,” desis Solvatar dengan nada sangat rendah hingga Runala lebih merasakannya sebagai getaran di telinga daripada sebuah suara.Tiba-tiba, tanpa izin, tangan Runala yang penuh lumpur dingin meraup wajah Solvatar. Gadis itu hanya mengikuti insting untuk mengusapkan lumpur itu ke
Lorong-lorong barak yang dingin itu sepi. Namun, tidak sepenuhnya kosong. Dua prajurit penjaga yang berdiri di gerbang belakang tersentak kaget saat melihat Alpha mereka berjalan keluar dengan langkah tegap kendatipun wajahnya masih sedikit pucat. Padahal pangeran bungsu itu seharusnya masih dalam pemulihan setelah pekan lalu mengalami penyerangan. “Yang Mulia! Anda seharusnya tidak—” Salah satu prajurit berusaha mengingatkan. Sekilas, matanya melirik penuh tanya pada Runala yang tertunduk di samping Solvatar.“Buka gerbangnya,” potong Solvatar. Suaranya sarat akan otoritas yang tidak bisa diganggu gugat.Para prajurit itu saling pandang. Mereka bertanya-tanya dalam diam. Namun, kilatan kemarahan di mata keemasan Solvatar membuat mereka segera menarik rantai gerbang tanpa suara.Solvatar tidak memberi penjelasan. Baginya, martabat tidak perlu dibela di depan bawahan, kendati dia tahu besok pagi desas-desus tentang malam ini akan menyebar seperti wabah.Solvatar mendampingi Runala mene