Share

2. Api di Nadi

Author: Lubna Karkata
last update publish date: 2026-04-17 23:43:52

Seminggu berlalu sejak insiden di hutan. Runala mulai percaya bahwa keberuntungan masih berpihak padanya. Lelaki bernetra emas itu telah melepaskannya dengan tatapan hina yang paling dia syukuri seumur hidup. Jika menilai dari tatapannya yang tampak terkejut sekaligus muak, mungkin kehadiran Runala merusak selera makan sang kepala desa. 

“Kau beruntung dia sedang dalam suasana hati yang baik, Runala,” ujar Garon lirih. Suaranya sudah jauh lebih kuat kendati napasnya masih terdengar berat. “Seorang pimpinan dari pusat kerajaan biasanya akan merobek leher siapa pun yang berani melintasi jalurnya. Apalagi, kudengar yang datang kali ini adalah seorang pangeran.”

Runala hanya mengangguk kecil sambil mengaduk sisa ramuan di lumpang kayu. “Dia tidak akan peduli pada Omega sepertiku, Kakek Garon. Baginya, aku hanya debu di bawah sepatu botnya.”

“Semoga saja begitu,” harap Garon. Sepertinya werewolf tua itu sangat mengkhawatirkan nasib Runala karena bertemu dengan kepala desa yang baru. 

Runala baru saja selesai menuangkan ramuan ke dalam cangkir. Detik yang sama, derap langkah kaki kuda yang terburu-buru berhenti tepat di depan gubuk Garon. Jantungnya mencelus. Tidak hanya satu, melainkan sepuluh.

BRAK!

Pintu kayu tua gubuk Garon berderit hebat saat ditendang hingga terbuka dari luar. Dua prajurit dengan seragam hitam-perak khas kerajaan merangsek masuk. Wajah mereka pucat. Mata mereka liar karena panik.

“Mana tabibnya?!” teriak salah satu dari mereka, suaranya gemetar. “Cepat! Pangeran Solvatar terkena cakar perak beracun. Tabib kerajaan tidak bisa menghentikan pendarahannya!”

Runala terpaku. Darah di wajahnya seolah-olah surut. “S-saya ... saya bukan tabib. Saya tidak punya penawar untuk cakar perak—”

Prajurit itu tidak mau mendengar alasan. Dia mencengkeram lengan Runala. Tarikannya begitu kuat hingga lumpang di tangan gadis itu jatuh dan pecah.

“Penduduk desa bilang kau bahkan bisa menghidupkan orang mati! Jika pangeran mati, seluruh desa ini akan dibakar sebagai pembalasan! Ikut kami sekarang!”

Garon mencoba bangkit, tangannya yang gemetar meraih ujung jubah Runala. “Runala, jangan ....” 

Akan tetapi, Runala tidak punya pilihan. Jika menolak, mereka mungkin akan melakukan hal lebih buruk yang akan berdampak  pada gubuk ini dan Garon.

“Biarkan saya mengambil tas dulu.” Suara Runala bergetar, tetapi dia mencoba berdiri tegak. 

Dengan tangan yang dingin, Runala menyambar tas kulit tua yang terasa sepuluh kali lebih berat. Dia memberikan cangkir ramuan pada Garon lalu memintanya untuk tidak khawatir.

Padahal jauh di dalam hati, Runala tahu dia tidak sedang baik-baik saja. Detik berikutnya, dia membiarkan diri diseret keluar, menuju markas lelaki dengan netra emas yang masih menghantuinya setiap malam.

Begitu tiba di bangunan batu itu, Runala langsung diseret menuju sebuah ruangan. Di sana, Solvatar tergeletak di tempat tidur markas yang dingin. Tabib istana yang ikut dengannya hanya bisa meratap tidak berdaya. Sementara kulit dan dagingnya mulai membiru karena racun.

Luka di bahu Solvatar tidak hanya perih, melainkan membara seperti tertimpa magma. Darah hitam merembes keluar, membasahi jubah kebesaran. Masih terngiang  sorak-sorai tertahan dari beberapa penduduk yang senang melihat kepala desa yang mereka benci terjatuh.

Penglihatan Solvatar perlahan memudar. Seiring napas yang seolah-olah ditarik paksa menjauh dari paru-paru. Racun itu merambat lebih cepat dari yang dia bayangkan. Dia sedang bersiap menyambut ajal dengan kemarahan yang meluap, sampai wangi itu muncul lagi.

Wangi bunga liar di tengah badai yang pernah dia temui di hutan.

Perlahan, Solvatar membuka kelopak mata yang terasa seberat monolit.

Gadis itu.

Kelinci hutan yang seminggu lalu tersandung kakinya. Kini gadis berambut merah kecokelatan itu berdiri di samping tempat tidur. Dia diseret paksa oleh prajurit, rambutnya berantakan, dan wajahnya dipenuhi rasa takut sekaligus keberanian yang aneh.

“Jangan ... berani ... menyentuhku .…” Solvatar mengerang parau. Tangan mungil gadis itu gemetar tatkala mulai membuka kancing pakaian Solvatar. 

Alih-alih berhenti, Runala justru menatap dengan sepasang netra hijau kecokelatan yang jernih. Jelas, ia mengabaikan status Solvatar sebagai pangeran ataupun kepala desa.

“Anda ingin mati dengan terhormat sebagai pangeran yang keras kepala, atau hidup sebagai kepala desa yang punya utang nyawa pada Omega rendahan seperti saya?”

Tangan dingin Runala menyentuh kulit Solvatar yang terasa melepuh. Saat cairan dari botol kecilnya menyentuh luka. Rasa sakit berubah menjadi gumpalan salju yang memadamkan api di nadi. 

“S-siapa kau sebenarnya, Rabbit?”

Suara serak Solvatar membuat Runala menelan saliva dengan gugup. Otaknya berputar mencari alasan. Namun, tiba-tiba lelaki itu mengerang kesakitan. Lebih tersiksa dari sebelumnya. Tabib istana langsung mendekat, sementara dua prajurit menyeret Runala keluar dari ruangan. 

Kini, Runala duduk membeku di lorong yang gelap. Tempat ini lebih mirip barak militer, alih-alih kastel tempat tinggal pangeran.

Tangan Runala terus gemetar, kendatipun saling meremas di atas pangkuan. Udara di sini tidak hanya berbau jelaga, tetapi juga bercampur bau logam dari senjata yang membuatnya mual. Bekas luka bakar di telapak tangannya berdenyut ritmis, seolah-olah jantung gadis itu berpindah ke sana.

Akan tetapi, perhatiannya dengan mudah teralih pada rasa panas yang mulai membakar kulit pahanya. Di sana, di balik pakaian kusam bernoda lumpur kering, terdapat sebuah bekas luka jahitan lama yang menonjol. Sesuatu yang ditanamkan ibunya sebelum mengembuskan napas terakhir.

“Ini akan membantu untuk melindungimu, Runala,” ujar ibunya seraya menangis kala menjahit luka itu. “Ingatlah untuk mandi di lumpur dengan helai-helai bunga.”

Kini, jahitan itu berdenyut hebat. Rasa panasnya seolah-olah ingin merobek kulit Runala dari dalam. Namun, dia terlalu tegang untuk memikirkan ramuan apa yang sesuai untuk meredakan nyeri. 

Runala tersentak ketika tiba-tiba pintu terbanting membuka dari dalam. Tabib istana keluar dengan wajah pucat dan penuh amarah, disusul dua prajurit bertubuh tinggi yang menatap tajam pada Runala. 

“Berdiri!” gertak salah satunya sembari mencengkeram lengan Runala hingga dia terjingkat.

“Lepaskan! Tadi saya sudah bilang, saya tidak punya penawar untuk cakar perak!” Runala memberontak, kakinya terseret di lantai batu. “Bukan salah saya jika pangeran tidak sembuh!”

Runala sudah bersiap akan diseret ke tiang gantungan. Namun, prajurit justru mendorongnya masuk kembali ke ruangan yang hanya diterangi satu obor redup.

Terhuyung, Runala dipaksa masuk lalu pintu ditutup dari luar. Di sana, Solvatar duduk bersandar. Sepasang netra emasnya berkilat tajam di kegelapan, mengunci sosok Runala seolah-olah tatapan lelaki itu bisa menembus pikirannya.

Tepat pada rahasia yang tersembunyi di sana.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Taring Emas Sang Alpha   111. Pagi yang Menunggu

    Manusia serigala seharusnya menikah di bawah bulan purnama.Karena itu, tatkala matahari musim semi bersinar tepat di atas aula, semua orang tahu mereka sedang menyaksikan sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya.Beberapa bulan lalu, aula yang sama dipenuhi darah, pengkhianatan, dan raungan perang.Hari ini, aula itu dipenuhi bunga.Tidak ada malam yang dingin. Tidak ada ritual saling menandai lekukan leher dengan gigitan yang telah diwariskan selama ratusan tahun.Hari itu, untuk kali pertama dalam sejarah kerajaan Wolfaern, seorang Alpha menikah di bawah matahari.Tentu, tidak seorang pun berani memprotesnya.Mereka sengaja memilih hari pertama pergantian musim. Tepat tatkala cahaya matahari pagi musim semi yang hangat bersinggungan dengan hawa panas yang mulai memeluk dataran Wolfaern. Runala menyukai musim semi yang menumbuhkan kehidupan, sementara Solvatar mencintai musim panas yang membakar semangat. Solvatar berdiri di hadapan Runala dengan jubah hitam kebesarannya. Cahaya

  • Taring Emas Sang Alpha   110. Aula yang Porak-poranda

    Hawa dingin musim salju tidak lagi datang dari luar istana, melainkan sudah menetap di dalam aula yang porak-poranda.Jendela kaca kini hanya tersisa rangka besi yang bengkok, terbuka seperti luka. Salju malam masuk tanpa hambatan, jatuh perlahan ke lantai marmer hitam yang retak dan basah oleh sisa pertempuran. Pilar-pilar utama berdiri miring dengan retakan panjang, debu putih terus luruh seperti abu yang belum selesai berjatuhan.Di luar, Ragnavar masih terbaring dalam wujud manusianya. Tubuhnya tidak lagi memancarkan ancaman. Namun, prajurit bersenjata berdiri menjaganya tanpa banyak kata.Akan tetapi, kemenangan tidak membuat aula itu tenang.Bisik-bisik langsung tumbuh seperti jamur di ruang lembap.

  • Taring Emas Sang Alpha   109. Gema Pertempuran

    Sepasang netra hitam pekat itu menatap turun pada satu sosok, menyemburkan aura beracun yang membuat udara malam mendadak terasa mencekik.Tidak ada lagi kewibawaan seorang calon raja di wajah Ragnavar. Hanya kegilaan.Beberapa bangsawan menjerit. Yang lain mundur terburu-buru.Serigala yang ukurannya hampir menyamai tinggi pilar aula mendengus. Setiap embusan napas meninggalkan kabut hitam tipis di udara.Keheningan mencekam seluruh ruangan.Tidak seorang pun bergerak.Tidak seorang pun berani.Di tengah ketakutan itu, Solvatar justru mel

  • Taring Emas Sang Alpha   108. Napas Panjang

    Aula itu membeku dalam satu tarikan napas panjang yang seolah-olah menolak bergerak.Udara di dalamnya terasa lebih berat. Setiap batu di pilar-pilar tinggi itu seperti ikut menyimpan ketegangan yang baru saja muncul. Cahaya purnama yang menembus kaca di langit-langit tidak lagi terasa hangat atau indah, melainkan jatuh seperti pisau tipis yang membelah ruang, menyorot dua sosok yang berdiri saling berhadapan di tengah karpet merah.Gema suara Solvatar masih menggantung di udara, belum sepenuhnya hilang. Namun, sudah cukup untuk merusak kesakralan malam penobatan itu. Beberapa bangsawan di kursi belakang bahkan tidak sadar mereka menahan napas terlalu lama.Di ujung yang berseberangan, Ragnavar yang masih berlutut dengan satu kaki di undakan takhta, tidak langsung bereaksi s

  • Taring Emas Sang Alpha   107. Ambang Pintu Kaca

    Sepasang netra Ragnavar berkilat puas, menanti kehancuran mental yang seharusnya merubuhkan pertahanan gadis di hadapannya. Namun, dingin yang menjalar di sekujur tubuh Runala justru perlahan mengkristal menjadi amarah yang pekat. Rongga dadanya yang sempat bergetar hebat kini dipaksa tegak.Runala mencengkeram erat gaun sutranya, menyembunyikan fakta bahwa kedua lutut di balik kain itu sedang bergetar hebat seolah-olah siap runtuh kapan saja. Gadis itu mendongak langsung pada mata sang penyerang ibu kandungnya.“Itu saja?”Seringai Ragnavar sempat membeku sejenak, tidak mengira akan mendapatkan reaksi sedingin itu.Runala menarik napas dalam-dalam, membiarkan angin malam purnama membersihkan aroma tubuh Ragna

  • Taring Emas Sang Alpha   106. Seorang Putra Mahkota

    Hutan malam itu diselimuti kesunyian yang mencekam, kontras dengan gemuruh yang sebentar lagi akan mengguncang dunia.Kala itu, Ragnavar masih remaja. Di bawah pendaran megah bulan purnama, dia berjalan di samping Raja Ricgard—ayahnya, memimpin barisan prajurit berbaju zirah perak dan biru. Bagi Ragnavar, misi patroli malam ini hanyalah sebuah kepura-puraan yang menjemukan. Sebuah misi kosong.Ini adalah pola yang selalu berulang setiap kali Ratu Ralitsa—ibunya, hendak melahirkan adik-adiknya. Ayahnya sengaja membawa putra sulungnya dan rombongan militer menjauh dari istana, membiarkan proses persalinan berjalan tenang tanpa intervensi yang bisa mengacaukan insting protektif sang ibu.Ragnavar, seperti biasa, ikut saja. Dia memasang topeng terbaiknya, bersikap pa

  • Taring Emas Sang Alpha   58. Tertimbun di Bawah Reruntuhan

    Derap kaki kuda memecah kesunyian lembah kala rombongan patroli bergerak menyusuri kaki bukit batu. Angin dingin khas Demura berembus, membawa bau tanah basah dan hutan.Di barisan tengah, Solvatar berkuda

  • Taring Emas Sang Alpha   57. Antara Warna Biru Gelap dan Jingga

    Langit masih terbagi antara warna biru gelap dan jingga tatkala Solvatar sudah melangkah di pelataran. Angin dingin menggerung, membawa aroma embun dan daun dari pegunungan. Sang Alpha sengaja mempercepat jadwal keberangkatan, berharap bisa membawa pasukannya keluar gerbang sebelum Nachtmar terjag

  • Taring Emas Sang Alpha   55. Persiapan Sebelum Musim Dingin

    “Kenapa tidak jadi berangkat patroli? Bukankah ada banyak persiapan sebelum musim dingin?” tanya Runala seiring langkah mereka di tangga batu menuju ruangan di atas menara. Solvatar membeku di belakang Runala. Tatapannya turun pada tangan gadis itu yang membuka kunci pintu. Bahunya yang tegap tamp

  • Taring Emas Sang Alpha   52. Gencatan Senjata

    Solvatar berjalan cepat meninggalkan area barak prajurit. Langkahnya mantap menuju lapangan terbuka di dekat istal, sesuai rencana awalnya pagi ini. Setiap embusan napas, meredakan gemuruh amarah dan rasa cemburu yang membakar dadanya setelah berbincang dengan Nachtmar. Dalam keadaan seperti ini,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status