Home / Fantasi / Taring Emas Sang Alpha / 1. Tanah yang Lembap

Share

Taring Emas Sang Alpha
Taring Emas Sang Alpha
Author: Lubna Karkata

1. Tanah yang Lembap

Author: Lubna Karkata
last update publish date: 2026-04-17 23:41:58

Di dunia yang dipenuhi predator, aroma adalah satu-satunya kejujuran yang tersisa. Bagi Runala, aroma adalah vonis mati yang harus gadis itu sembunyikan setiap detik.

Runala menembus rimbunnya hutan di pinggiran Desa Demura. Dengan sengaja menghindari jalan utama desa yang kini sesak oleh prajurit kerajaan. 

Kabarnya, ada kepala desa baru yang datang. Belum ada yang mampu bertahan mengatur tempat ini. Semua akan pergi sebelum purnama berikutnya. 

Begitulah yang terjadi pada para pendahulu yang berusaha mengatur desa ini.

Demura bukanlah sekadar desa buangan. Tempat ini serupa dengan lubang hitam bagi para penyamun dan kriminal kelas kakap. 

Mereka tidak lagi diterima oleh desa mana pun. Di sini, hukum rimba menjadi satu-satunya aturan. 

Desa yang menjadi tempat para pendosa paling kejam bersembunyi di balik bayang-bayang kemiskinan dan debu.

Udara di sekitarnya lembap, berbau tanah basah dan lumut. Hingga paru-paru Runala terasa seperti terbakar oleh setiap tarikan napas yang dia paksakan.

“Jangan berlari terlalu kencang, Runala.” Suara lembut Margreta sang ibunda terngiang. Kepingan memori usang yang selalu menghantuinya. “Detak jantung manusia adalah musik yang paling ingin didengar oleh taring mereka. Jadilah bayangan, atau kau akan menjadi mangsa.”

Runala mempererat genggaman pada seikat akar Silver-Lace. Tanaman berbunga perak itu berlumuran tanah. 

Garon sedang kritis di gubuknya. Werewolf tua adalah satu-satunya yang peduli setelah ibunya tiada. 

Dia tidak akan membiarkan penyakit paru-paru perak merenggut pria itu.

“Runala ... sudahlah... jangan merepotkan dirimu,” gumam Garon tadi pagi di sela batuk darahnya. “Kau hanya seorang Omega kecil berhati baik. Jangan bersusah payah hanya demi orang tua sepertiku yang sudah tinggal menunggu ajal.”

Runala tidak akan berhenti. Tidak untuk Garon.

Langkah kaki Runala menghantam dedaunan kering. Hingga terdengar gemeresik yang terlalu keras di kesunyian hutan. Runala tahu ini berbahaya. Namun, setiap detik adalah nyawa.

Tidak jauh dari jalur yang sedang ditempuh Runala, Solvatar duduk di atas batang pohon tumbang. Jubah kebesarannya tersampir. Kakinya menjulur di tanah yang lembap.

Lelaki itu butuh ruang.

Tempat busuk ini merupakan hinaan bagi indra penciuman Solvatar. Namun, setidaknya di sini tenang dan damai. 

Jauh dari wajah-wajah ketakutan penduduk desa dan tatapan mata-mata yang dikirim ayahnya dalam kedok pasukan pengawal.

Kekuatan Alpha yang bergejolak di dalam dada selalu terasa seperti api yang ingin membakar segalanya jika dia terlalu lama berada di dekat kerumunan yang lemah.

Perlahan, Solvatar memejam. Dengan indra pendengaran, dia menyaring kebisingan hutan. Suara burung gagak, gesekan dahan pohon dan sesuatu yang lain.

Langkah kaki.

Suaranya sangat ringan, tetapi ritmenya kacau. Bukan langkah kaki pemburu, juga bukan langkah kaki prajurit. Seseorang sedang berlari dengan keputusasaan yang jelas.

Solvatar bergeming. Derap itu makin dekat ke arahnya. Dia justru sengaja menghalangi jalur sempit di antara semak-semak duri dengan kaki kirinya. 

Hanya karena ingin tahu siapa werewolf yang cukup bodoh untuk berlari tanpa waspada di wilayah kekuasaannya.

Sementara itu, sedikit lagi, Runala mencapai jalur tikus di balik pepohonan tua. Jalur yang akan membawanya langsung ke belakang gubuk Garon. 

Paling penting, di tidak harus berpapasan dengan satu pun prajurit dari istana.

Akan tetapi, di tengah fokusnya pada jalan di depan, sebuah benda perak berkilau menyilaukan. 

Di bawah cahaya matahari yang menembus celah pohon, sepatu bot baja menghentikan langkahnya.

Runala tidak sempat mengerem. Dia menjerit ketika tubuhnya terpelanting, menghantam akar pohon yang keras. Seikat akar obat di tangannya terbang ke udara. 

Lalu mendarat di atas tanah yang lembap. Gadis itu jatuh tersungkur. Sehingga jubah merah kumalnya tersingkap. Napasnya seolah-olah dicabut paksa tatkala hawa dingin yang menindas tiba-tiba menyelimuti seluruh tempat itu.

Jelas, itu bukan sekadar aura prajurit. Itu adalah tekanan dari seorang Alpha yang begitu kuat. Sangat kuat. Hingga membuat bulu kuduk meremang dan perut Runala seperti diaduk-aduk.

Runala membeku di atas tanah, tidak berani langsung mendongak. Di depannya, berdiri sepasang kaki terbalut pelindung baja yang sangat bersih. Terlalu bersih untuk tempat menjijikkan seperti ini.

Glabela Solvatar berkerut pada jeritan itu. Suara yang kecil dan melengking. Seorang perempuan. Dia mengenakan jubah merah kumal yang baunya sangat mengganggu. Seperti campuran belerang, lumpur, dan tanaman busuk. 

Hingga membuat hidung Solvatar berkedut tidak nyaman. Gadis itu terlihat seperti Omega rendahan yang baru saja merangkak keluar dari lubang tambang.

Akan tetapi, saat dia membeku di bawah kaki Solvatar, atmosfer di sekitar mereka seolah-olah berubah.

Jantung Runala berhenti berdetak sejenak. Dia menelan ludah. Sekarang fokusnya adalah kembali ke gubuk Garon tanpa terlibat masalah apa pun. 

Tatkala Runala mengangkat wajah, hal pertama yang dia lihat adalah sepasang netra emas yang menatap dengan tatapan predator lapar. 

Di detik yang sama, luka jahitan di pahanya tiba-tiba berdenyut membara seolah-olah bereaksi pada kehadiran lelaki di hadapannya. 

Solvatar bangkit lantas melangkah maju, tetapi tiba-tiba makhluk itu berteriak. 

“Jangan diinjak!” pekik Runala seraya memungut seikat bunga dari tanah yang sebagian tertahan bot Solvatar. “Aku mohon.”

Di antara helai rambut merah kecokelatan yang berantakan, Solvatar melihat sepasang netra yang melebar ketakutan. Saat itulah, insting serigalanya meraung. 

Sebuah reaksi yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Di bawah bau belerang busuk dan lumpur amis, ada sebuah aroma yang menyelinap masuk ke paru-paru.

“Kau memohon,” ulang Solvatar dengan nada datar. Lebih seperti seseorang yang baru saja menemukan sesuatu yang aneh menempel di telapak botnya. “Hanya untuk tanaman?”

“I-ini obat.” Runala menelan saliva. “Seseorang sedang sekarat.”

Solvatar menarik napas panjang lagi. Sengaja, memenuhi paru-paru dengan wangi khas yang menguar dari gadis itu.

Wangi itu tipis, sangat halus, sekaligus begitu murni hingga membuat kepala Solvatar pening. Baunya seperti bunga liar yang mekar di tengah badai. 

Anehnya, tidak ada jejak serigala di sana. Seolah-olah itu berasal dari makhluk yang tidak seharusnya ada di sini. 

“Banyak orang sekarat di Demura.” Kendati berat hati, Solvatar menggeser kaki. Bukannya peduli, melainkan karena tanaman itu tidak cukup menarik untuk diinjak. “Itu bukan urusanku.”

Untuk sedetik, Solvatar berniat langsung pergi.  Satu langkah sudah cukup untuk mengakhiri pertemuan ini. 

Akan tetapi, kakinya tidak bergerak. Seolah-olah pikiran Solvatar memberontak pada dirinya sendiri. Dia lantas membungkuk ke arah gadis berkulit pucat itu.

“Hei.” Suara Solvatar lebih keras dari yang dia inginkan. “Angkat wajahmu.”

Solvatar mencengkeram dagu Runala dengan kasar, hingga tatapan mereka bertemu. 

Di detik yang sama, tatkala kulit mereka bersentuhan, sebuah kejutan listrik yang tajam menghantam layaknya sengat petir yang menjalar dari ujung jari langsung ke jantung. 

Solvatar melepaskan sentuhan. Anehnya, kulit gadis itu terasa sangat dingin. Namun, di titik sentuhan itu, Solvatar merasa seperti menyentuh besi panas.

“Kau—” Solvatar tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya. 

Keterkejutan Solvatar dilihat sebagai kesempatan bagi Runala. Gadis itu bergegas menyambar tas, bangkit dengan sisa tenaga. 

“Berhenti!” perintah Solvatar begitu berhasil menguasai diri. “Berlutut sekarang juga di tempatmu!”

Runala mengabaikan itu. Dia menghilang ke dalam rimbunnya hutan sebelum Solvatar sempat menyadari bahwa serigala dalam dirinya baru saja melolong dalam keheningan. 

Sebuah pengakuan pada pasangan sejati yang seharusnya tidak mungkin ada.

Sengatan petir beberapa detik lalu, bergema di benak Solvatar. Diikuti ucapan peramal kerajaan. 

“Pangeran ke-19 akan hidup sendirian. Tanpa pernah punya pasangan. Selamanya.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Deana Asta
Runalaaa hati2 yaaa ...
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Taring Emas Sang Alpha   111. Pagi yang Menunggu

    Manusia serigala seharusnya menikah di bawah bulan purnama.Karena itu, tatkala matahari musim semi bersinar tepat di atas aula, semua orang tahu mereka sedang menyaksikan sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya.Beberapa bulan lalu, aula yang sama dipenuhi darah, pengkhianatan, dan raungan perang.Hari ini, aula itu dipenuhi bunga.Tidak ada malam yang dingin. Tidak ada ritual saling menandai lekukan leher dengan gigitan yang telah diwariskan selama ratusan tahun.Hari itu, untuk kali pertama dalam sejarah kerajaan Wolfaern, seorang Alpha menikah di bawah matahari.Tentu, tidak seorang pun berani memprotesnya.Mereka sengaja memilih hari pertama pergantian musim. Tepat tatkala cahaya matahari pagi musim semi yang hangat bersinggungan dengan hawa panas yang mulai memeluk dataran Wolfaern. Runala menyukai musim semi yang menumbuhkan kehidupan, sementara Solvatar mencintai musim panas yang membakar semangat. Solvatar berdiri di hadapan Runala dengan jubah hitam kebesarannya. Cahaya

  • Taring Emas Sang Alpha   110. Aula yang Porak-poranda

    Hawa dingin musim salju tidak lagi datang dari luar istana, melainkan sudah menetap di dalam aula yang porak-poranda.Jendela kaca kini hanya tersisa rangka besi yang bengkok, terbuka seperti luka. Salju malam masuk tanpa hambatan, jatuh perlahan ke lantai marmer hitam yang retak dan basah oleh sisa pertempuran. Pilar-pilar utama berdiri miring dengan retakan panjang, debu putih terus luruh seperti abu yang belum selesai berjatuhan.Di luar, Ragnavar masih terbaring dalam wujud manusianya. Tubuhnya tidak lagi memancarkan ancaman. Namun, prajurit bersenjata berdiri menjaganya tanpa banyak kata.Akan tetapi, kemenangan tidak membuat aula itu tenang.Bisik-bisik langsung tumbuh seperti jamur di ruang lembap.

  • Taring Emas Sang Alpha   109. Gema Pertempuran

    Sepasang netra hitam pekat itu menatap turun pada satu sosok, menyemburkan aura beracun yang membuat udara malam mendadak terasa mencekik.Tidak ada lagi kewibawaan seorang calon raja di wajah Ragnavar. Hanya kegilaan.Beberapa bangsawan menjerit. Yang lain mundur terburu-buru.Serigala yang ukurannya hampir menyamai tinggi pilar aula mendengus. Setiap embusan napas meninggalkan kabut hitam tipis di udara.Keheningan mencekam seluruh ruangan.Tidak seorang pun bergerak.Tidak seorang pun berani.Di tengah ketakutan itu, Solvatar justru mel

  • Taring Emas Sang Alpha   108. Napas Panjang

    Aula itu membeku dalam satu tarikan napas panjang yang seolah-olah menolak bergerak.Udara di dalamnya terasa lebih berat. Setiap batu di pilar-pilar tinggi itu seperti ikut menyimpan ketegangan yang baru saja muncul. Cahaya purnama yang menembus kaca di langit-langit tidak lagi terasa hangat atau indah, melainkan jatuh seperti pisau tipis yang membelah ruang, menyorot dua sosok yang berdiri saling berhadapan di tengah karpet merah.Gema suara Solvatar masih menggantung di udara, belum sepenuhnya hilang. Namun, sudah cukup untuk merusak kesakralan malam penobatan itu. Beberapa bangsawan di kursi belakang bahkan tidak sadar mereka menahan napas terlalu lama.Di ujung yang berseberangan, Ragnavar yang masih berlutut dengan satu kaki di undakan takhta, tidak langsung bereaksi s

  • Taring Emas Sang Alpha   107. Ambang Pintu Kaca

    Sepasang netra Ragnavar berkilat puas, menanti kehancuran mental yang seharusnya merubuhkan pertahanan gadis di hadapannya. Namun, dingin yang menjalar di sekujur tubuh Runala justru perlahan mengkristal menjadi amarah yang pekat. Rongga dadanya yang sempat bergetar hebat kini dipaksa tegak.Runala mencengkeram erat gaun sutranya, menyembunyikan fakta bahwa kedua lutut di balik kain itu sedang bergetar hebat seolah-olah siap runtuh kapan saja. Gadis itu mendongak langsung pada mata sang penyerang ibu kandungnya.“Itu saja?”Seringai Ragnavar sempat membeku sejenak, tidak mengira akan mendapatkan reaksi sedingin itu.Runala menarik napas dalam-dalam, membiarkan angin malam purnama membersihkan aroma tubuh Ragna

  • Taring Emas Sang Alpha   106. Seorang Putra Mahkota

    Hutan malam itu diselimuti kesunyian yang mencekam, kontras dengan gemuruh yang sebentar lagi akan mengguncang dunia.Kala itu, Ragnavar masih remaja. Di bawah pendaran megah bulan purnama, dia berjalan di samping Raja Ricgard—ayahnya, memimpin barisan prajurit berbaju zirah perak dan biru. Bagi Ragnavar, misi patroli malam ini hanyalah sebuah kepura-puraan yang menjemukan. Sebuah misi kosong.Ini adalah pola yang selalu berulang setiap kali Ratu Ralitsa—ibunya, hendak melahirkan adik-adiknya. Ayahnya sengaja membawa putra sulungnya dan rombongan militer menjauh dari istana, membiarkan proses persalinan berjalan tenang tanpa intervensi yang bisa mengacaukan insting protektif sang ibu.Ragnavar, seperti biasa, ikut saja. Dia memasang topeng terbaiknya, bersikap pa

  • Taring Emas Sang Alpha   94. Hampa dari Energi Serigala

    Pertanyaan Solvatar laksana petir yang menyambar di tengah kesunyian malam, membuat Runala terlonjak bangun dari ranjang. Napas memburu dan jantungnya berdegup liar. Seluruh kesadarannya tersentak paksa ke permukaan.

  • Taring Emas Sang Alpha   93. Pangeran yang Bijaksana

    Kegelapan malam ini terasa begitu pekat, seolah-olah menelan seluruh sudut kamar tanpa menyisakan ruang untuk bernapas. Dua malam telah berlalu sejak pesta api unggun itu, dan malam ini langit benar-benar gulita. Tidak ada pendar bulan. Hanya ada kerlip bintang di

  • Taring Emas Sang Alpha   92. Lantai yang Dingin

    Binar kagum di mata Runala seketika redup dan padam karena panik yang menyumbat tenggorokan. Dia merasakan seluruh darah menghilang dari wajah, menyisakan rasa dingin yang membekukan hingga ke ujung jari.

  • Taring Emas Sang Alpha   91. Akhirnya Terkunci pada Satu Titik

    Kamar itu terasa seperti penjara yang dingin.Sejak insiden di taman kaca semalam, Runala hanya bisa meringkuk di sudut tempat tidur, memeluk lututnya dengan tubuh yang sesekali masih gemetar. Bahkan dia belum sempat melepas jubah merah kusamnya. Jubah yang dia miliki sejak kecil.Rahasia tentang an

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status