LOGINLampu obor yang berkedip di dinding menciptakan bayangan panjang yang menari-nari. Sehingga siluet Solvatar di atas tempat tidur tampak dua kali lebih besar.
Runala berdiri terpaku di dekat pintu. Tangan gadis itu terkepal di sisi tubuh. Paha kanannya terasa panas. Benjolan di kulit pahanya itu berdenyut kencang dan menimbulkan nyeri hebat. Seperti ada puluhan tawon menyengat bersamaan.
“Mendekatlah.” Suara Solvatar rendah, serak, dan penuh otoritas yang tidak terbantahkan.
Runala melangkah maju setapak demi setapak dengan kepala tertunduk. Dia bisa mencium aroma Solvatar yang mirip bau hutan pinus terbakar matahari. Entah bagaimana, itu membuatnya merasa pening.
“Angkat wajahmu, Rabbit,” perintah Solvatar lagi.
Saat Runala mendongak, ia mendapati sepasang netra emas itu sedang menatapnya. Solvatar meraih tas kulit kusam milik Runala yang tergeletak di meja samping tempat tidur dan melemparkannya ke lantai berlapis permadani.
Glabela Runala berkerut. Dia menandai itu sebagai tindakan tidak sopan. Bagaimanapun itu adalah tas peninggalan ibunya. Namun, melawan lelaki itu bukanlah pilihan bijak untuk saat ini.
“Siapa sebenarnya gurumu? Ramuan apa yang kau masukkan ke dalam tubuhku?” Solvatar menunjuk botol-botol herbal Runala yang keluar dari tas. “Tabibku bilang detak jantungku kembali stabil bukan karena obat istana, melainkan karena ... sesuatu yang kau berikan.”
“Hanya akar-akaran dari hutan Demura, Tuan,” bisik Runala, berusaha menjaga suaranya tidak gemetar. “Ibu saya mengajari cara menjinakkan beberapa jenis racun. Tidak ada sihir, tidak ada mantra rahasia.”
Solvatar tiba-tiba bergerak lebih cepat dari yang bisa ditangkap mata Runala. Lelaki itu sudah berdiri di hadapannya, mencengkeram pergelangan tangan Runala dan menariknya mendekat hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti.
“Kau bohong,” desis Solvatar. Matanya menyipit, beralih dari mata Runala ke lehernya, lalu turun ke arah kaki gadis itu. Tempat di mana denyutan magis itu berasal.
“Setiap kali kau mendekat, sarafku yang biasanya terbakar mendadak tenang. Dan kau—” Solvatar menghirup udara tajam-tajam di dekat pelipis Runala, membuat gadis itu merinding. “Kau tidak berbau seperti serigala, tetapi kau juga tidak berbau seperti mangsa. Bau apa ini?”
Runala menahan napas. Dia merasa jantungnya hampir meledak. Luka jahitan di pahanya kini terasa seperti bara api yang ditempelkan langsung ke kulit.
“S-saya ... saya hanya Omega cacat, Tuan.” Runala membela diri sambil mencoba peruntungan kecil untuk menarik tangannya. “Tolong lepaskan. Saya sudah menyelamatkan nyawa Anda, bukankah itu cukup?”
Tentu, Solvatar menolak permintaan itu. Sebaliknya, dia menatap Solvatar dengan pandangan yang berubah, dari amarah menjadi rasa haus akan jawaban. “Cukup? Tidak. Kau adalah teka-teki, dan aku benci teka-teki yang tidak bisa kupecahkan.”
Solvatar melepaskan tangan Runala, tetapi tatapannya jatuh pada cara gadis itu sedikit menyeret kaki kanannya saat bergerak mundur. Dia menyadari ada yang salah dengan gerakan itu. Pasti ada sesuatu.
“Kenapa kau gemetar, Rabbit? Apa yang kau sembunyikan di balik pakaian kumalmu itu?”
Lagi-lagi, Runala merasa beruntung.
Kala Solvatar mendesaknya untuk menjawab pertanyaan sulit itu, bantuan datang. Prajurit mengetuk pintu di waktu yang tepat. Namun, Runala tahu keberuntungan ini tidak bertahan lama.
Setelah pembicaraan itu selesai, sang pangeran akan kembali melontarkan pertanyaan yang menekan kewarasannya.
Di tengah ruangan, Solvatar tidak lagi memedulikannya. Setidaknya, secara fisik. Sang kepala desa sedang berdiri membelakangi Runala, mendengarkan laporan dari prajurit yang menjelaskan dengan napas tersengal.
“Utusan Pangeran Ragnavar sudah sampai di gerbang luar, Yang Mulia,” lapor prajurit itu sambil berlutut satu kaki. “Mereka membawa dua belas ksatria elit dan menuntut pemeriksaan langsung atas kondisi Anda. Mereka mengklaim membawa titah pengobatan dari istana pusat.”
Suasana di dalam kamar mendadak berubah menjadi sedingin es. Runala bisa melihat punggung lebar Solvatar menegang. Kendati lelaki itu baru saja bangkit dari ambang kematian, aura kepemimpinannya kembali dengan sangat cepat, dingin, dan mengancam.
Runala meremas jemarinya yang dingin, berusaha mengalihkan fokus dari benjolan di paha yang terus menyakitinya. Seolah-olah memiliki detak jantung sendiri yang beresonansi dengan kehadiran Solvatar di ruangan yang sama.
“Ragnavar tidak mungkin repot-repot mengirim tabib untuk menyembuhkanku.” Suara Solvatar menggeram rendah, bergema di dinding batu.
Ragnavar, sang pewaris takhta, tidak mengirim utusan untuk sekadar menjenguk adiknya yang terbuang. Mereka datang untuk memastikan bahwa Solvatar telah tiada akibat serangan racun.
Solvatar berbalik, rahangnya yang tegas tampak kaku di bawah cahaya obor yang berkedip. “Tahan mereka di gerbang kedua. Katakan bahwa kondisiku masih belum stabil dan ruangan ini dikarantina karena kontaminasi racun.”
“Tapi, Yang Mulia, mereka membawa surat perintah resmi—”
“Aku adalah hukum di Demura!” gertak Solvatar. “Lakukan, atau kepalamu yang akan kuberikan pada utusan itu sebagai pesan balasan!”
Setelah prajurit itu mundur dengan wajah pucat dan menutup pintu, kesunyian kembali menyergap. Runala merasakan bulu kuduknya meremang. Solvatar tidak segera bergerak, dia hanya berdiri di sana, mengunci pintu kamar dari dalam dengan bunyi klik yang berat.
Runala menelan ludah. Ia merasa seperti mangsa yang baru saja melihat singa menutup pintu kandangnya. Solvatar perlahan memutar tubuh, netranya yang keemasan kini kembali tertuju sepenuhnya pada Runala.
“Kau dengar itu, Rabbit?” Solvatar melangkah maju, sangat pelan, seolah-olah menikmati setiap senti ketakutan yang terpancar dari wajah gadis di hadapannya. “Dunia di luar sana ingin menghancurkanku, dan siapa pun yang ada di ruangan ini bersamaku akan dianggap sebagai komplotanku.”
Sang Alpha berhenti tepat di depan Runala, membuat gadis itu harus mendongak untuk menatap wajahnya. Solvatar menarik tali tas milik Runala yang tersampir di bahu gadis itu.
“Kau tidak akan pergi ke mana pun. Jika utusan kakakku melihatmu, mereka akan membedahmu hanya untuk mencari tahu apa rahasia yang kau gunakan untuk membangkitkanku,” desis Solvatar.
Tangan Solvatar terangkat, hampir menyentuh helai rambut Runala yang kotor oleh lumpur.
“Jadi, diamlah di sini. Beritahu aku segala hal tentang buku-buku medis anehmu ini, atau aku sendiri yang akan menyerahkanmu pada mereka.”
Waktu berlalu dan langit menggelap. Malam makin larut, menyisakan kesunyian yang hanya dipecah oleh retakan api di perapian.
Mereka duduk berhadapan. Solvatar dan Runala. Hanya terpisah oleh sebuah meja kayu yang dipenuhi botol herbal dan perkamen kusam. Solvatar memperhatikan setiap gerak-gerik Runala dengan saksama, sementara gadis itu menjelaskan bagaimana kelopak Moon-Leaf harus ditumbuk pelan agar tidak merusak khasiat penyembuhnya.
Dengan suara parau, Runala menjelaskan setiap detail ramuannya. Bagaimana sari Flow-Root harus diekstrak dingin agar tidak berbalik menjadi racun. Solvatar menyimak dalam diam, sesekali membolak-balik perkamen tua milik Runala dengan glabela berkerut. Matanya tidak hanya tertuju pada tulisan, melainkan juga pada gerakan jemari Runala yang terampil kendatipun gemetar.
Lelah yang luar biasa mulai menghantam Runala. Dunia di sekitarnya tampak kabur, hingga tanpa sadar dia menguap kecil, sebelum tersentak tegak saat melihat satu botol berisi Silver-Lace yang hampir kosong.
“Aku harus pergi.” Suara Runala tiba-tiba mendesak dengan sepasang netra hijau kecokelatan yang melebar karena panik. Dia bergerak hendak berdiri tetapi kakinya terasa lemas. “Ini sudah lewat waktunya. Dia harus minum obat. Atau kondisinya akan berbahaya.”
Solvatar meletakkan perkamen setengah membanting ke meja. Atmosfer di ruangan itu mendadak sedingin badai salju saat dia condong ke depan, menatap Runala dengan kilat mata emas yang berbahaya.
“Siapa dia? Kekasihmu?”
Kini, Runala sendirian di kamar yang terlalu luas itu. Keheningan di sini terasa menindas, berbeda dengan keheningan hutan yang penuh dengan bisikan kehidupan. Gadis itu membaringkan tubuh di kasur milik Solvatar, tetapi aroma khas lelaki itu terasa terlalu menguasai. Indra penciumannya seolah-olah memberi sinyal bahwa dia berada di dalam kandang predator. Kendatipun kandang ini jauh lebih mewah dan hangat daripada gubuk tempat tinggalnya.Runala bangkit kembali, duduk di tepi tempat tidur sambil memandangi api di perapian yang menari-nari. Sehingga menimbulkan bayangan monster di dinding batu. Tatapan Runala jatuh pada tasnya yang tergeletak di atas meja. Gadis itu ingat masih menyimpan beberapa helai bunga Lave-Night yang sudah dikeringkan. Jika dia mengunyah sedikit saja, sarafnya akan rileks dan kantuk akan menjemput dalam hitungan menit. Namun, tangannya berhenti. Dia menarik jemarinya kembali seolah-olah tas itu baru saja menyengatnya.Wangi khas Lave-Night selalu membawanya ke
Glabela Solvatar berkerut kala menatap Runala yang menggeleng kuat-kuat. Setelah semua yang mereka lalui di hutan, tawaran untuk tidur di ranjang yang layak seharusnya disambut seperti anugerah, bukan beban.“Apa maksudmu kau tidak mau?” tuntut Solvatar dengan suara bergema rendah di sudut kamar yang sunyi.Runala berdiri mematung di dekat meja kayu. Jemarinya meremas ujung pakaian yang lusuh. Dia melirik tempat tidur besar dengan tatapan yang lebih mirip ketakutan daripada keinginan. “S-saya ... saya tidur di karpet lantai saja, Yang Mulia. Seperti biasa. Saya lebih terbiasa di sana.”Dengkus singkat lolos dari hidung Solvatar. Dia tahu apa yang ada di kepala gadis itu. Runala pasti mengira dia sedang memasang perangkap untuk sentuhan di luar batas.
Denyut nadi Runala dalam genggaman Solvatar berdentam-dentam keras. Lelaki itu tertegun sejenak. Bukan hanya karena tanda kehidupan yang berpacu liar seperti sayap burung yang terperangkap di bawah jemarinya, melainkan karena arah jalur rahasia ini.Siapa pun penyelundup yang membangun lorong ini puluhan tahun lalu, mereka telah memberi Solvatar kunci paling berbahaya di seluruh markas. Sebuah lubang rahasia yang terhubung langsung ke jantung ruang pribadinya. Lelaki itu segera menelan keterkejutannya, mengunci rapat ekspresi wajah sebelum Runala sempat menyadarinya. Seorang Alpha tidak boleh terlihat bingung di kamarnya sendiri.Akan tetapi, Runala tidak memiliki kemewahan untuk menyembunyikan emosi. Dia berdiri mematung, matanya terbelalak kala menatap deretan rak buku, ranjang besar yang berantakan, dan perapian yang masih menyisakan bara merah.“Tidak mungkin ... ini, kan, kamar Anda, Yang Mulia?” Suaranya hampir berupa bisikan yang bergetar.“Jangan berlebihan, Rabbit. Berhenti be
Udara hutan yang lembap menerpa wajah Runala tatkala Solvatar menggendongnya keluar dari rongga pohon. Napasnya masih tersengal seperti habis berlari jauh. Gadis itu seperti tidak bisa merasakan kakinya, selain getaran di lutut yang seolah-olah hendak menumbangkannya.Tadi, Runala sempat mencoba berdiri tegak. Namun, seluruh sendinya seolah-olah meloloskan diri. Bayangan serigala bermata merah yang sangat mirip dengan monster yang merenggut nyawa ibunya, masih menari-nari di belakang kelopak mata.Runala terisak. Bukan karena luka, melainkan karena teror masa lalu yang kembali mencekik. “Kubilang, berhenti menangis, Rabbit,” geram Solvatar. Suaranya rendah, tetapi tidak ada kemarahan di sana.Runala membenankan wajah di lekukan leher Solvatar yang berlumuran lumpur. Dari jarak sedekat ini, dia bisa merasakan detak jantung lelaki itu yang cepat di bawah kulit yang panas.Solvatar berjalan dengan langkah lebar, mengabaikan rembesan darah yang mulai membasahi kembali kain perban di bahu
Dunia Runala seakan-akan terjungkir balik tatkala lengan kekar Solvatar melingkari pinggangnya dengan sentakan yang merenggut napas. Dia bahkan tidak sempat memprotes kala lelaki itu menyeretnya masuk ke dalam rongga pohon raksasa yang sudah membusuk di tepian danau.Punggung Runala membentur batang pohon yang kasar. Sementara tubuh Solvatar yang tinggi besar menekannya begitu rapat. Hingga dia bisa merasakan panas yang memancar dari dada lelaki itu, menembus lapisan lumpur dingin yang menyelimuti tubuhnya. Satu tangan Solvatar membungkam mulutnya dengan paksa, sementara tangan lainnya mencengkeram gagang pedang, seolah-olah bersiap kapan saja untuk menyerang dari ruang sempit yang mereka bagi. “Jangan. Bersuara,” desis Solvatar dengan nada sangat rendah hingga Runala lebih merasakannya sebagai getaran di telinga daripada sebuah suara.Tiba-tiba, tanpa izin, tangan Runala yang penuh lumpur dingin meraup wajah Solvatar. Gadis itu hanya mengikuti insting untuk mengusapkan lumpur itu ke
Lorong-lorong barak yang dingin itu sepi. Namun, tidak sepenuhnya kosong. Dua prajurit penjaga yang berdiri di gerbang belakang tersentak kaget saat melihat Alpha mereka berjalan keluar dengan langkah tegap kendatipun wajahnya masih sedikit pucat. Padahal pangeran bungsu itu seharusnya masih dalam pemulihan setelah pekan lalu mengalami penyerangan. “Yang Mulia! Anda seharusnya tidak—” Salah satu prajurit berusaha mengingatkan. Sekilas, matanya melirik penuh tanya pada Runala yang tertunduk di samping Solvatar.“Buka gerbangnya,” potong Solvatar. Suaranya sarat akan otoritas yang tidak bisa diganggu gugat.Para prajurit itu saling pandang. Mereka bertanya-tanya dalam diam. Namun, kilatan kemarahan di mata keemasan Solvatar membuat mereka segera menarik rantai gerbang tanpa suara.Solvatar tidak memberi penjelasan. Baginya, martabat tidak perlu dibela di depan bawahan, kendati dia tahu besok pagi desas-desus tentang malam ini akan menyebar seperti wabah.Solvatar mendampingi Runala mene







