แชร์

3. Rasa Haus akan Jawaban

ผู้เขียน: Lubna Karkata
last update วันที่เผยแพร่: 2026-04-17 23:48:48

Lampu obor yang berkedip di dinding menciptakan bayangan panjang yang menari-nari. Sehingga siluet Solvatar di atas tempat tidur tampak dua kali lebih besar.

Runala berdiri terpaku di dekat pintu. Tangan gadis itu terkepal di sisi tubuh. Paha kanannya terasa panas. Benjolan di kulit pahanya itu berdenyut kencang dan menimbulkan nyeri hebat. Seperti ada puluhan tawon menyengat bersamaan. 

“Mendekatlah.” Suara Solvatar rendah, serak, dan penuh otoritas yang tidak terbantahkan.

Runala melangkah maju setapak demi setapak dengan kepala tertunduk. Dia bisa mencium aroma Solvatar yang mirip bau hutan pinus terbakar matahari. Entah bagaimana, itu membuatnya merasa pening.

“Angkat wajahmu, Rabbit,” perintah Solvatar lagi.

Saat Runala mendongak, ia mendapati sepasang netra emas itu sedang menatapnya. Solvatar meraih tas kulit kusam milik Runala yang tergeletak di meja samping tempat tidur dan melemparkannya ke lantai berlapis permadani.

Glabela Runala berkerut. Dia menandai itu sebagai tindakan tidak sopan. Bagaimanapun itu adalah tas peninggalan ibunya. Namun, melawan lelaki itu bukanlah pilihan bijak untuk saat ini. 

“Siapa sebenarnya gurumu? Ramuan apa yang kau masukkan ke dalam tubuhku?” Solvatar menunjuk botol-botol herbal Runala yang keluar dari tas. “Tabibku bilang detak jantungku kembali stabil bukan karena obat istana, melainkan karena ... sesuatu yang kau berikan.”

“Hanya akar-akaran dari hutan Demura, Tuan,” bisik Runala, berusaha menjaga suaranya tidak gemetar. “Ibu saya mengajari cara menjinakkan beberapa jenis racun. Tidak ada sihir, tidak ada mantra rahasia.”

Solvatar tiba-tiba bergerak lebih cepat dari yang bisa ditangkap mata Runala. Lelaki itu sudah berdiri di hadapannya, mencengkeram pergelangan tangan Runala dan menariknya mendekat hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti.

“Kau bohong,” desis Solvatar. Matanya menyipit, beralih dari mata Runala ke lehernya, lalu turun ke arah kaki gadis itu. Tempat di mana denyutan magis itu berasal.

“Setiap kali kau mendekat, sarafku yang biasanya terbakar mendadak tenang. Dan kau—” Solvatar menghirup udara tajam-tajam di dekat pelipis Runala, membuat gadis itu merinding. “Kau tidak berbau seperti serigala, tetapi kau juga tidak berbau seperti mangsa. Bau apa ini?”

Runala menahan napas. Dia merasa jantungnya hampir meledak. Luka jahitan di pahanya kini terasa seperti bara api yang ditempelkan langsung ke kulit.

“S-saya ... saya hanya Omega cacat, Tuan.” Runala membela diri sambil mencoba peruntungan kecil untuk menarik tangannya. “Tolong lepaskan. Saya sudah menyelamatkan nyawa Anda, bukankah itu cukup?”

Tentu, Solvatar menolak permintaan itu. Sebaliknya, dia menatap Solvatar dengan pandangan yang berubah, dari amarah menjadi rasa haus akan jawaban. “Cukup? Tidak. Kau adalah teka-teki, dan aku benci teka-teki yang tidak bisa kupecahkan.”

Solvatar melepaskan tangan Runala, tetapi tatapannya jatuh pada cara gadis itu sedikit menyeret kaki kanannya saat bergerak mundur. Dia menyadari ada yang salah dengan gerakan itu. Pasti ada sesuatu.

“Kenapa kau gemetar, Rabbit? Apa yang kau sembunyikan di balik pakaian kumalmu itu?”

Lagi-lagi, Runala merasa beruntung.

Kala Solvatar mendesaknya untuk menjawab pertanyaan sulit itu, bantuan datang. Prajurit mengetuk pintu di waktu yang tepat. Namun, Runala tahu keberuntungan ini tidak bertahan lama.

Setelah pembicaraan itu selesai, sang pangeran akan kembali melontarkan pertanyaan yang menekan kewarasannya. 

Di tengah ruangan, Solvatar tidak lagi memedulikannya. Setidaknya, secara fisik. Sang kepala desa sedang berdiri membelakangi Runala, mendengarkan laporan dari prajurit yang menjelaskan dengan napas tersengal.

“Utusan Pangeran Ragnavar sudah sampai di gerbang luar, Yang Mulia,” lapor prajurit itu sambil berlutut satu kaki. “Mereka membawa dua belas ksatria elit dan menuntut pemeriksaan langsung atas kondisi Anda. Mereka mengklaim membawa titah pengobatan dari istana pusat.”

Suasana di dalam kamar mendadak berubah menjadi sedingin es. Runala bisa melihat punggung lebar Solvatar menegang. Kendati lelaki itu baru saja bangkit dari ambang kematian, aura kepemimpinannya kembali dengan sangat cepat, dingin, dan mengancam.

Runala meremas jemarinya yang dingin, berusaha mengalihkan fokus dari benjolan di paha yang terus menyakitinya. Seolah-olah memiliki detak jantung sendiri yang beresonansi dengan kehadiran Solvatar di ruangan yang sama.

“Ragnavar tidak mungkin repot-repot mengirim tabib untuk menyembuhkanku.” Suara Solvatar menggeram rendah, bergema di dinding batu.

Ragnavar, sang pewaris takhta, tidak mengirim utusan untuk sekadar menjenguk adiknya yang terbuang. Mereka datang untuk memastikan bahwa Solvatar telah tiada akibat serangan racun.

Solvatar berbalik, rahangnya yang tegas tampak kaku di bawah cahaya obor yang berkedip. “Tahan mereka di gerbang kedua. Katakan bahwa kondisiku masih belum stabil dan ruangan ini dikarantina karena kontaminasi racun.”

“Tapi, Yang Mulia, mereka membawa surat perintah resmi—”

“Aku adalah hukum di Demura!” gertak Solvatar. “Lakukan, atau kepalamu yang akan kuberikan pada utusan itu sebagai pesan balasan!”

Setelah prajurit itu mundur dengan wajah pucat dan menutup pintu, kesunyian kembali menyergap. Runala merasakan bulu kuduknya meremang. Solvatar tidak segera bergerak, dia hanya berdiri di sana, mengunci pintu kamar dari dalam dengan bunyi klik yang berat.

Runala menelan ludah. Ia merasa seperti mangsa yang baru saja melihat singa menutup pintu kandangnya. Solvatar perlahan memutar tubuh, netranya yang keemasan kini kembali tertuju sepenuhnya pada Runala.

“Kau dengar itu, Rabbit?” Solvatar melangkah maju, sangat pelan, seolah-olah menikmati setiap senti ketakutan yang terpancar dari wajah gadis di hadapannya. “Dunia di luar sana ingin menghancurkanku, dan siapa pun yang ada di ruangan ini bersamaku akan dianggap sebagai komplotanku.”

Sang Alpha berhenti tepat di depan Runala, membuat gadis itu harus mendongak untuk menatap wajahnya. Solvatar menarik tali tas milik Runala yang tersampir di bahu gadis itu. 

“Kau tidak akan pergi ke mana pun. Jika utusan kakakku melihatmu, mereka akan membedahmu hanya untuk mencari tahu apa rahasia yang kau gunakan untuk membangkitkanku,” desis Solvatar. 

Tangan Solvatar terangkat, hampir menyentuh helai rambut Runala yang kotor oleh lumpur.

“Jadi, diamlah di sini. Beritahu aku segala hal tentang buku-buku medis anehmu ini, atau aku sendiri yang akan menyerahkanmu pada mereka.”

Waktu berlalu dan langit menggelap. Malam makin larut, menyisakan kesunyian yang hanya dipecah oleh retakan api di perapian.

Mereka duduk berhadapan. Solvatar dan Runala. Hanya terpisah oleh sebuah meja kayu yang dipenuhi botol herbal dan perkamen kusam. Solvatar memperhatikan setiap gerak-gerik Runala dengan saksama, sementara gadis itu menjelaskan bagaimana kelopak Moon-Leaf harus ditumbuk pelan agar tidak merusak khasiat penyembuhnya.

Dengan suara parau, Runala menjelaskan setiap detail ramuannya. Bagaimana sari Flow-Root harus diekstrak dingin agar tidak berbalik menjadi racun. Solvatar menyimak dalam diam, sesekali membolak-balik perkamen tua milik Runala dengan glabela berkerut. Matanya tidak hanya tertuju pada tulisan, melainkan juga pada gerakan jemari Runala yang terampil kendatipun gemetar.

Lelah yang luar biasa mulai menghantam Runala. Dunia di sekitarnya tampak kabur, hingga tanpa sadar dia menguap kecil, sebelum tersentak tegak saat melihat satu botol berisi Silver-Lace yang hampir kosong.

“Aku harus pergi.” Suara Runala tiba-tiba mendesak dengan sepasang netra hijau kecokelatan yang melebar karena panik. Dia bergerak hendak berdiri tetapi kakinya terasa lemas. “Ini sudah lewat waktunya. Dia harus minum obat. Atau kondisinya akan berbahaya.”

Solvatar meletakkan perkamen setengah membanting ke meja. Atmosfer di ruangan itu mendadak sedingin badai salju saat dia condong ke depan, menatap Runala dengan kilat mata emas yang berbahaya.

“Siapa dia? Kekasihmu?”

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Taring Emas Sang Alpha   111. Pagi yang Menunggu

    Manusia serigala seharusnya menikah di bawah bulan purnama.Karena itu, tatkala matahari musim semi bersinar tepat di atas aula, semua orang tahu mereka sedang menyaksikan sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya.Beberapa bulan lalu, aula yang sama dipenuhi darah, pengkhianatan, dan raungan perang.Hari ini, aula itu dipenuhi bunga.Tidak ada malam yang dingin. Tidak ada ritual saling menandai lekukan leher dengan gigitan yang telah diwariskan selama ratusan tahun.Hari itu, untuk kali pertama dalam sejarah kerajaan Wolfaern, seorang Alpha menikah di bawah matahari.Tentu, tidak seorang pun berani memprotesnya.Mereka sengaja memilih hari pertama pergantian musim. Tepat tatkala cahaya matahari pagi musim semi yang hangat bersinggungan dengan hawa panas yang mulai memeluk dataran Wolfaern. Runala menyukai musim semi yang menumbuhkan kehidupan, sementara Solvatar mencintai musim panas yang membakar semangat. Solvatar berdiri di hadapan Runala dengan jubah hitam kebesarannya. Cahay

  • Taring Emas Sang Alpha   110. Aula yang Porak-poranda

    Hawa dingin musim salju tidak lagi datang dari luar istana, melainkan sudah menetap di dalam aula yang porak-poranda.Jendela kaca kini hanya tersisa rangka besi yang bengkok, terbuka seperti luka. Salju malam masuk tanpa hambatan, jatuh perlahan ke lantai marmer hitam yang retak dan basah oleh sisa pertempuran. Pilar-pilar utama berdiri miring dengan retakan panjang, debu putih terus luruh seperti abu yang belum selesai berjatuhan.Di luar, Ragnavar masih terbaring dalam wujud manusianya. Tubuhnya tidak lagi memancarkan ancaman. Namun, prajurit bersenjata berdiri menjaganya tanpa banyak kata.Akan tetapi, kemenangan tidak membuat aula itu tenang.Bisik-bisik langsung tumbuh seperti jamur di ruang lembap.

  • Taring Emas Sang Alpha   109. Gema Pertempuran

    Sepasang netra hitam pekat itu menatap turun pada satu sosok, menyemburkan aura beracun yang membuat udara malam mendadak terasa mencekik.Tidak ada lagi kewibawaan seorang calon raja di wajah Ragnavar. Hanya kegilaan.Beberapa bangsawan menjerit. Yang lain mundur terburu-buru.Serigala yang ukurannya hampir menyamai tinggi pilar aula mendengus. Setiap embusan napas meninggalkan kabut hitam tipis di udara.Keheningan mencekam seluruh ruangan.Tidak seorang pun bergerak.Tidak seorang pun berani.Di tengah ketakutan itu, Solvatar justru mel

  • Taring Emas Sang Alpha   108. Napas Panjang

    Aula itu membeku dalam satu tarikan napas panjang yang seolah-olah menolak bergerak.Udara di dalamnya terasa lebih berat. Setiap batu di pilar-pilar tinggi itu seperti ikut menyimpan ketegangan yang baru saja muncul. Cahaya purnama yang menembus kaca di langit-langit tidak lagi terasa hangat atau indah, melainkan jatuh seperti pisau tipis yang membelah ruang, menyorot dua sosok yang berdiri saling berhadapan di tengah karpet merah.Gema suara Solvatar masih menggantung di udara, belum sepenuhnya hilang. Namun, sudah cukup untuk merusak kesakralan malam penobatan itu. Beberapa bangsawan di kursi belakang bahkan tidak sadar mereka menahan napas terlalu lama.Di ujung yang berseberangan, Ragnavar yang masih berlutut dengan satu kaki di undakan takhta, tidak langsung bereaksi s

  • Taring Emas Sang Alpha   107. Ambang Pintu Kaca

    Sepasang netra Ragnavar berkilat puas, menanti kehancuran mental yang seharusnya merubuhkan pertahanan gadis di hadapannya. Namun, dingin yang menjalar di sekujur tubuh Runala justru perlahan mengkristal menjadi amarah yang pekat. Rongga dadanya yang sempat bergetar hebat kini dipaksa tegak.Runala mencengkeram erat gaun sutranya, menyembunyikan fakta bahwa kedua lutut di balik kain itu sedang bergetar hebat seolah-olah siap runtuh kapan saja. Gadis itu mendongak langsung pada mata sang penyerang ibu kandungnya.“Itu saja?”Seringai Ragnavar sempat membeku sejenak, tidak mengira akan mendapatkan reaksi sedingin itu.Runala menarik napas dalam-dalam, membiarkan angin malam purnama membersihkan aroma tubuh Ragna

  • Taring Emas Sang Alpha   106. Seorang Putra Mahkota

    Hutan malam itu diselimuti kesunyian yang mencekam, kontras dengan gemuruh yang sebentar lagi akan mengguncang dunia.Kala itu, Ragnavar masih remaja. Di bawah pendaran megah bulan purnama, dia berjalan di samping Raja Ricgard—ayahnya, memimpin barisan prajurit berbaju zirah perak dan biru. Bagi Ragnavar, misi patroli malam ini hanyalah sebuah kepura-puraan yang menjemukan. Sebuah misi kosong.Ini adalah pola yang selalu berulang setiap kali Ratu Ralitsa—ibunya, hendak melahirkan adik-adiknya. Ayahnya sengaja membawa putra sulungnya dan rombongan militer menjauh dari istana, membiarkan proses persalinan berjalan tenang tanpa intervensi yang bisa mengacaukan insting protektif sang ibu.Ragnavar, seperti biasa, ikut saja. Dia memasang topeng terbaiknya, bersikap pa

  • Taring Emas Sang Alpha   24. Nama Itu Kembali Muncul

    Lumbung tua di pinggiran desa itu bergetar hebat, seolah-olah fondasi kayunya akan menyerah pada amarah yang meledak di dalam. Debu jerami terbang liar, bercampur dengan uap panas dari napas-napas serigala yang bertarung antara hidup dan mati. Di bawah lengkungan cahaya dari bulan sabit, Runala tah

  • Taring Emas Sang Alpha   23. Intuisinya Menyala Tajam

    Debu dan serpihan kayu gudang beterbangan di udara, menimbulkan kabut tipis yang menyesakkan paru-paru.Runala terbatuk seraya melindungi wajah dengan lengan yang gemetar. Kini, di depannya, dua makhluk besar sedang bergulat. Serigala buas berbulu cokelat dengan helai emas buas—Solvatar yang kehila

  • Taring Emas Sang Alpha   22. Raungan yang Memecah Kesunyian

    Darah itu jatuh setetes demi setetes. Terasa hangat mengalir di tangan Runala hingga ke tanah. Namun, berangsur-angsur menjadi dingin seiring dengan detak jantungnya yang berpacu liar.Cairan merah pekat itu merembes ke garis telapak tangannya, melewati bekas luka bakar yang memutih di sana. Itu bu

  • Taring Emas Sang Alpha   21. Air Mata Mengalir Deras

    Ini akan menjadi malam yang panjang.Permukan sungai tidak lagi perak yang menenangkan, melainkan cairan pekat yang menelan rintihan. Runala berlutut di atas lumpur yang dingin, tidak memedulikan ujung pakaiannya yang koyak atau lutut yang tergores kerikil tajam.Di hadapan Runala, sosok serigala co

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status