MasukGlabela Solvatar berkerut kala menatap Runala yang menggeleng kuat-kuat. Setelah semua yang mereka lalui di hutan, tawaran untuk tidur di ranjang yang layak seharusnya disambut seperti anugerah, bukan beban.
“Apa maksudmu kau tidak mau?” tuntut Solvatar dengan suara bergema rendah di sudut kamar yang sunyi.
Runala berdiri mematung
Hawa dingin musim salju tidak lagi datang dari luar istana, melainkan sudah menetap di dalam aula yang porak-poranda.Jendela kaca kini hanya tersisa rangka besi yang bengkok, terbuka seperti luka. Salju malam masuk tanpa hambatan, jatuh perlahan ke lantai marmer hitam yang retak dan basah oleh sisa pertempuran. Pilar-pilar utama berdiri miring dengan retakan panjang, debu putih terus luruh seperti abu yang belum selesai berjatuhan.Di luar, Ragnavar masih terbaring dalam wujud manusianya. Tubuhnya tidak lagi memancarkan ancaman. Namun, prajurit bersenjata berdiri menjaganya tanpa banyak kata.Akan tetapi, kemenangan tidak membuat aula itu tenang.Bisik-bisik langsung tumbuh seperti jamur di ruang lembap.
Sepasang netra hitam pekat itu menatap turun pada satu sosok, menyemburkan aura beracun yang membuat udara malam mendadak terasa mencekik.Tidak ada lagi kewibawaan seorang calon raja di wajah Ragnavar. Hanya kegilaan.Beberapa bangsawan menjerit. Yang lain mundur terburu-buru.Serigala yang ukurannya hampir menyamai tinggi pilar aula mendengus. Setiap embusan napas meninggalkan kabut hitam tipis di udara.Keheningan mencekam seluruh ruangan.Tidak seorang pun bergerak.Tidak seorang pun berani.Di tengah ketakutan itu, Solvatar justru mel
Aula itu membeku dalam satu tarikan napas panjang yang seolah-olah menolak bergerak.Udara di dalamnya terasa lebih berat. Setiap batu di pilar-pilar tinggi itu seperti ikut menyimpan ketegangan yang baru saja muncul. Cahaya purnama yang menembus kaca di langit-langit tidak lagi terasa hangat atau indah, melainkan jatuh seperti pisau tipis yang membelah ruang, menyorot dua sosok yang berdiri saling berhadapan di tengah karpet merah.Gema suara Solvatar masih menggantung di udara, belum sepenuhnya hilang. Namun, sudah cukup untuk merusak kesakralan malam penobatan itu. Beberapa bangsawan di kursi belakang bahkan tidak sadar mereka menahan napas terlalu lama.Di ujung yang berseberangan, Ragnavar yang masih berlutut dengan satu kaki di undakan takhta, tidak langsung bereaksi s
Sepasang netra Ragnavar berkilat puas, menanti kehancuran mental yang seharusnya merubuhkan pertahanan gadis di hadapannya. Namun, dingin yang menjalar di sekujur tubuh Runala justru perlahan mengkristal menjadi amarah yang pekat. Rongga dadanya yang sempat bergetar hebat kini dipaksa tegak.Runala mencengkeram erat gaun sutranya, menyembunyikan fakta bahwa kedua lutut di balik kain itu sedang bergetar hebat seolah-olah siap runtuh kapan saja. Gadis itu mendongak langsung pada mata sang penyerang ibu kandungnya.“Itu saja?”Seringai Ragnavar sempat membeku sejenak, tidak mengira akan mendapatkan reaksi sedingin itu.Runala menarik napas dalam-dalam, membiarkan angin malam purnama membersihkan aroma tubuh Ragna
Hutan malam itu diselimuti kesunyian yang mencekam, kontras dengan gemuruh yang sebentar lagi akan mengguncang dunia.Kala itu, Ragnavar masih remaja. Di bawah pendaran megah bulan purnama, dia berjalan di samping Raja Ricgard—ayahnya, memimpin barisan prajurit berbaju zirah perak dan biru. Bagi Ragnavar, misi patroli malam ini hanyalah sebuah kepura-puraan yang menjemukan. Sebuah misi kosong.Ini adalah pola yang selalu berulang setiap kali Ratu Ralitsa—ibunya, hendak melahirkan adik-adiknya. Ayahnya sengaja membawa putra sulungnya dan rombongan militer menjauh dari istana, membiarkan proses persalinan berjalan tenang tanpa intervensi yang bisa mengacaukan insting protektif sang ibu.Ragnavar, seperti biasa, ikut saja. Dia memasang topeng terbaiknya, bersikap pa
Matahari pagi musim dingin menggantung pucat di ufuk timur, memantulkan cahaya pada hamparan salju yang membeku.Di gerbang utama Volkara, kepulan napas para penjaga membubung seperti asap putih di udara. Roda-roda kayu dari kereta kuda tertutup berderit berat, memecah kesunyian fajar tatkala rombongan itu tertahan di depan barikade besi.“Berhenti! Semua kereta yang masuk harus melewati pemeriksaan!” bentak seorang penjaga. Tangan kanannya bertumpu pada hulu pedang, sementara hidungnya memerah akibat hawa dingin.Nachtmar, yang menunggangi kuda di barisan paling depan, menatap lurus dari balik celah helm besinya. Di balik jubah tebal, dia mengenakan zirah prajurit istana di atas pakaian hitam milik kawanan berlencana ular.
Dua pengawal di depan pintu ganda kamar itu mengetukkan tombak mereka, membuka jalan bagi empat orang yang baru saja tiba. Begitu pintu terbuka lebar, kehangatan dari perapian kamar langsung menyapa. Di atas ranjang megah berkelambu, Raja Ricgard dan Ratu Ralitsa tampak sedang bersandar pada tumpu
Derap langkah kaki Solvatar dan Runala terdengar seirama tatkala menyusuri selasar yang menghubungkan ke area ruang kerja istana. Angin musim dingin sesekali berembus melewati pilar-pilar batu besar, membawa serpihan es yang langsung mencair begitu menyentuh kehangatan jubah yang membungkus bahu hi
Lunielle hanya menatapnya selama beberapa detik. Namun, mampu menimbulkan gemuruh yang hebat di hati Runala.Begitu pintu kamarnya kembali tertutup rapat dari dalam, Runala bersandar di sana dengan napas memburu. Bayangan senyuman angkuh Lunielle tatkala keluar dari kamar Solvatar terus berputar di
Runala tidak bisa tenang. Langkah kakinya bergerak mondar-mandir di atas karpet tebal, memotong kesunyian kamar yang luas. Tatapannya sesekali tertuju pada pintu kayu yang terkunci rapat, lalu beralih ke deretan botol ekstrak bunga di atas meja. Kecemasan menggerogoti hatinya sejak Solvatar melangk







