LOGINGlabela Solvatar berkerut kala menatap Runala yang menggeleng kuat-kuat. Setelah semua yang mereka lalui di hutan, tawaran untuk tidur di ranjang yang layak seharusnya disambut seperti anugerah, bukan beban.
“Apa maksudmu kau tidak mau?” tuntut Solvatar dengan suara bergema rendah di sudut kamar yang sunyi.
Runala berdiri mematung
Kini, Runala sendirian di kamar yang terlalu luas itu. Keheningan di sini terasa menindas, berbeda dengan keheningan hutan yang penuh dengan bisikan kehidupan. Gadis itu membaringkan tubuh di kasur milik Solvatar, tetapi aroma khas lelaki itu terasa terlalu menguasai. Indra penciumannya seolah-olah memberi sinyal bahwa dia berada di dalam kandang predator. Kendatipun kandang ini jauh lebih mewah dan hangat daripada gubuk tempat tinggalnya.Runala bangkit kembali, duduk di tepi tempat tidur sambil memandangi api di perapian yang menari-nari. Sehingga menimbulkan bayangan monster di dinding batu. Tatapan Runala jatuh pada tasnya yang tergeletak di atas meja. Gadis itu ingat masih menyimpan beberapa helai bunga Lave-Night yang sudah dikeringkan. Jika dia mengunyah sedikit saja, sarafnya akan rileks dan kantuk akan menjemput dalam hitungan menit. Namun, tangannya berhenti. Dia menarik jemarinya kembali seolah-olah tas itu baru saja menyengatnya.Wangi khas Lave-Night selalu membawanya ke
Glabela Solvatar berkerut kala menatap Runala yang menggeleng kuat-kuat. Setelah semua yang mereka lalui di hutan, tawaran untuk tidur di ranjang yang layak seharusnya disambut seperti anugerah, bukan beban.“Apa maksudmu kau tidak mau?” tuntut Solvatar dengan suara bergema rendah di sudut kamar yang sunyi.Runala berdiri mematung di dekat meja kayu. Jemarinya meremas ujung pakaian yang lusuh. Dia melirik tempat tidur besar dengan tatapan yang lebih mirip ketakutan daripada keinginan. “S-saya ... saya tidur di karpet lantai saja, Yang Mulia. Seperti biasa. Saya lebih terbiasa di sana.”Dengkus singkat lolos dari hidung Solvatar. Dia tahu apa yang ada di kepala gadis itu. Runala pasti mengira dia sedang memasang perangkap untuk sentuhan di luar batas.
Denyut nadi Runala dalam genggaman Solvatar berdentam-dentam keras. Lelaki itu tertegun sejenak. Bukan hanya karena tanda kehidupan yang berpacu liar seperti sayap burung yang terperangkap di bawah jemarinya, melainkan karena arah jalur rahasia ini.Siapa pun penyelundup yang membangun lorong ini puluhan tahun lalu, mereka telah memberi Solvatar kunci paling berbahaya di seluruh markas. Sebuah lubang rahasia yang terhubung langsung ke jantung ruang pribadinya. Lelaki itu segera menelan keterkejutannya, mengunci rapat ekspresi wajah sebelum Runala sempat menyadarinya. Seorang Alpha tidak boleh terlihat bingung di kamarnya sendiri.Akan tetapi, Runala tidak memiliki kemewahan untuk menyembunyikan emosi. Dia berdiri mematung, matanya terbelalak kala menatap deretan rak buku, ranjang besar yang berantakan, dan perapian yang masih menyisakan bara merah.“Tidak mungkin ... ini, kan, kamar Anda, Yang Mulia?” Suaranya hampir berupa bisikan yang bergetar.“Jangan berlebihan, Rabbit. Berhenti be
Udara hutan yang lembap menerpa wajah Runala tatkala Solvatar menggendongnya keluar dari rongga pohon. Napasnya masih tersengal seperti habis berlari jauh. Gadis itu seperti tidak bisa merasakan kakinya, selain getaran di lutut yang seolah-olah hendak menumbangkannya.Tadi, Runala sempat mencoba berdiri tegak. Namun, seluruh sendinya seolah-olah meloloskan diri. Bayangan serigala bermata merah yang sangat mirip dengan monster yang merenggut nyawa ibunya, masih menari-nari di belakang kelopak mata.Runala terisak. Bukan karena luka, melainkan karena teror masa lalu yang kembali mencekik. “Kubilang, berhenti menangis, Rabbit,” geram Solvatar. Suaranya rendah, tetapi tidak ada kemarahan di sana.Runala membenankan wajah di lekukan leher Solvatar yang berlumuran lumpur. Dari jarak sedekat ini, dia bisa merasakan detak jantung lelaki itu yang cepat di bawah kulit yang panas.Solvatar berjalan dengan langkah lebar, mengabaikan rembesan darah yang mulai membasahi kembali kain perban di bahu
Dunia Runala seakan-akan terjungkir balik tatkala lengan kekar Solvatar melingkari pinggangnya dengan sentakan yang merenggut napas. Dia bahkan tidak sempat memprotes kala lelaki itu menyeretnya masuk ke dalam rongga pohon raksasa yang sudah membusuk di tepian danau.Punggung Runala membentur batang pohon yang kasar. Sementara tubuh Solvatar yang tinggi besar menekannya begitu rapat. Hingga dia bisa merasakan panas yang memancar dari dada lelaki itu, menembus lapisan lumpur dingin yang menyelimuti tubuhnya. Satu tangan Solvatar membungkam mulutnya dengan paksa, sementara tangan lainnya mencengkeram gagang pedang, seolah-olah bersiap kapan saja untuk menyerang dari ruang sempit yang mereka bagi. “Jangan. Bersuara,” desis Solvatar dengan nada sangat rendah hingga Runala lebih merasakannya sebagai getaran di telinga daripada sebuah suara.Tiba-tiba, tanpa izin, tangan Runala yang penuh lumpur dingin meraup wajah Solvatar. Gadis itu hanya mengikuti insting untuk mengusapkan lumpur itu ke
Lorong-lorong barak yang dingin itu sepi. Namun, tidak sepenuhnya kosong. Dua prajurit penjaga yang berdiri di gerbang belakang tersentak kaget saat melihat Alpha mereka berjalan keluar dengan langkah tegap kendatipun wajahnya masih sedikit pucat. Padahal pangeran bungsu itu seharusnya masih dalam pemulihan setelah pekan lalu mengalami penyerangan. “Yang Mulia! Anda seharusnya tidak—” Salah satu prajurit berusaha mengingatkan. Sekilas, matanya melirik penuh tanya pada Runala yang tertunduk di samping Solvatar.“Buka gerbangnya,” potong Solvatar. Suaranya sarat akan otoritas yang tidak bisa diganggu gugat.Para prajurit itu saling pandang. Mereka bertanya-tanya dalam diam. Namun, kilatan kemarahan di mata keemasan Solvatar membuat mereka segera menarik rantai gerbang tanpa suara.Solvatar tidak memberi penjelasan. Baginya, martabat tidak perlu dibela di depan bawahan, kendati dia tahu besok pagi desas-desus tentang malam ini akan menyebar seperti wabah.Solvatar mendampingi Runala mene







