MasukSeperti biasa, hari-hari sebagai CEO dari banyak perusahaan yang dinaunginya membuatnya begitu sibuk.
"Jerry, mengapa sangat lambat!!?? Haruskah aku yang menunggu untuk membahas proyek baru pembangunan kantor baru ini? Sudah bosan kerja ya??" Terdengar celotehan Elshi kepada salah satu asistennya. Tubuh Jerry bergetar hebat. Dia tahu apa yang akan terjadi jika membuat marah bosnya tersebut. "E–eee... Bu Elshi," suaranya gemetar dan berusaha menatap wajah bosnya itu sebelum akhirnya menunduk kembali. "Maaf, saya lupa mengabari Anda bahwa hari ini saya sedang melakukan interview dan tes kemampuan karyawan baru di perusahaan baru kita." Walau begitu, Elshi yang baru berusia 22 tahun sebenarnya bukan orang yang tak bijak kepada bawahannya. Mendengar penjelasan asistennya, dia berkata, "Kamu punya no WA-ku, hubungi aku jika memang ada urusan mendadak seperti ini. Kamu tahu aku paling benci menunggu walau hanya 5 menit." "Ba–baik Bu, ini terakhir kalinya. Kedepan saya akan bertindak lebih baik." "Mana dokumen yang kupinta? Apa berkasnya sudah siap?" tanya Elshi. "Ini Bu, semuanya sudah siap," Jerry menyerahkan berkas dan file yang diinginkan bosnya. "Kamu boleh keluar," titah Elshi. Dengan sedikit menunduk, Jerry mengucapkan permisi kemudian beranjak keluar dari tempat di mana mereka janjian bertemu. Walaupun terdengar mendominasi, kata-kata yang keluar di mulutnya itu sebenarnya sangat enak didengar. Andai dia adalah wanita biasa, bukan dengan statusnya sekarang, semua terdengar seperti gadis muda dengan suara lembut, sexi nan menggoda. Hari ini Elshi memakai dress pendek ketat berwarna putih. Tubuhnya yang langsing, putih, dan berkaki jenjang akan membuat siapa pun yang melihatnya pasti tergoda dan berdecak kagum. Bagaimana mungkin, di usianya yang masih sangat muda, dia berhasil mengelola 7 perusahaan besar dan akan bertambah menjadi 8 perusahaan dengan proyek barunya ini. Hidup dengan bergelimang kekayaan nyatanya tidak membuatnya tenang dan bahagia. Wajah-wajah pria yang menembaki ayahnya secara brutal selalu mengganggu hidup bahkan tidurnya di malam hari. Di ruang lain, masih di tempat yang sama, Jerry kembali melanjutkan wawancara dan tes kemampuan pada para lelaki yang melamar kerja di perusahaan baru tersebut. Mereka berbondong-bondong ingin bergabung karena perusahaan yang dipimpin oleh Elshi adalah perusahaan besar dengan gaji selangit. Saat Elshi sibuk memeriksa dokumen, pintu ruangannya diketuk seseorang. "Yaa masuk, Jerry," sahutnya. Pintu pun terbuka. Elshi menatap ke pintu, tiba-tiba tatapan mereka bertemu. Mata Elshi tertuju pada pria dewasa dengan tubuh tinggi, berbadan kekar dengan wajah tampan maskulin. Suaranya begitu candu ketika berkata, "Permisi Bu." "Maaf, saya sudah menunggu untuk melakukan interview dan tes sejak tadi subuh, namun belum dipanggil sampai sekarang." Elshi menatap ke jam dinding yang menunjukkan pukul 17.30 sore. "Masuklah!!" sahutnya. "Permisi Bu, maaf jika saya mengganggu. Perkenalkan, nama saya Damian." Damian mengulurkan tangannya untuk berjabat dengan Elshi. Benar saja, perbandingan tangan keduanya bak langit dan bumi. Damian yang bertangan agak keras karena biasa bekerja bangunan, warna kulitnya tidak hitam namun juga tidak putih, tampak seperti lelaki-lelaki perkasa yang biasa ada di sinema action. Hidungnya mancung, mata tajam lengkap dengan alis tebal dan suaranya begitu candu. Hari ini dia memakai kemeja putih formal dengan celana hitam yang menonjolkan aura maskulin dan perkasanya. Lengan bajunya yang panjang dilipat sampai siku. Dari kemejanya tampak terlihat badan kekarnya. Sempat tertegun dengan pemandangan di hadapannya, Elshi kemudian berusaha menstabilkan dirinya kembali. "Elshi," jawabnya. Benar saja, saat menjabat tangan Elshi, Damian merasakan aura langit dan bumi. Tangan Elshi yang lembut dan putih bak kapas membuatnya memandang sebentar ke wajahnya. Terlihat jelas bibir sexi bosnya yang menggoda dengan ulasan lipstik merah pekat, membuat dirinya kagum dalam hati. "Apa dia bidadari?" gumamnya dalam hati. Namun lamunannya segera buyar ketika menyandingkan bayangan wajah tunangannya yang ada di desa. Yaa, Dara dengan wajah manis khas gadis desa, tidak membosankan jika dipandang. "Ah, wanitaku jauh lebih cantik," gumamnya dalam hati. Elshi segera memulai pembicaraan kembali. "Damian, ruangan untuk interview ada di sebelah pojok kiri bertulis Staff HRD." "Maaf Bu, Ibu Elshi ini siapa? Saya pikir Ibu HRD di sini." Jerry yang mendengar kata-kata itu dari balik pintu segera mengetuk pintu. "Bu Elshi, maaf." Dia segera membuka pintu dengan buru-buru setelah mengetuk. Tampak Elshi memandangnya dengan tajam dari tempat duduknya yang empuk. "Sial, mengapa hari ini aku melakukan banyak kecerobohan," gumam Jerry dalam hati. "Kamu Damian?" tanya Jerry singkat. "Iya Pak," sahut Damian dengan setengah kebingungan. "Saya menunggu mu lebih dari setengah jam setelah semua peserta selesai interview dan tes. Mengapa justru ke ruangan Bu Elshi?" tanya Jerry dengan nada tinggi dan sedikit marah. "Bagaimana mungkin perusahaan besar kami menerima orang yang baru mau interview saja sudah lancang begini?" Dengan sedikit kebingungan Damian menjawab, "Pak, maafkan saya. Sepertinya saya salah ruangan. Lain kali saya tidak akan ceroboh." "Apa kamu tahu bahwa perusahaan kami sangat menjunjung disiplin? Kamu yang butuh kerjaan tapi kami yang menunggu." Mendengar keributan yang terjadi, Elshi bersuara. Suaranya menghipnotis siapa pun yang mendengar, terdengar sexi dan merdu namun mendominasi. "Sudahlah, jangan berisik. Beri dia kesempatan kembali untuk interview besok." Mendengar perkataan Elshi, Damian yakin Elshi bukan orang sembarangan di kantor ini. "Apa dia anak CEO?" gumam Damian. Yaa, jelas melihat wajahnya yang masih sangat muda, tidak akan ada yang mengira dia CEO di kantor tersebut. "Bu, maaf. Untuk mendisiplinkan dia, bolehkah saya memberikan pelajaran kecil?" tanya Jerry. Elshi menjawab, "Itu kapasitasmu, tidak perlu bertanya kepadaku." Elshi terlihat sibuk dengan pen di tangannya, dia memeriksa berkas-berkas sedari tadi. "Damian, kamu masih ingin lanjut interview di sini?" tanya Jerry. "Tentu saja Pak," jawab Damian dengan suara magnetisnya. "Push up 50 kali sekarang!!" perintah Jerry. Damian segera bersiap melakukan perintah Jerry. Saat push up, dia melakukannya dengan terlihat enteng, tidak terlihat lelah dan loyo. Badan kekarnya terlihat jelas saat melakukan gerakan ke atas ke bawah. Saat selesai, salah satu kancing kemejanya di bagian atas terbuka, terlihat jelas dada kekar, leher lelaki dewasa yang membius siapa pun yang melihatnya. Keringat memenuhi wajah dan bagian lehernya menambah kesan sexi pada diri Damian. "Bu Elshi, kami permisi dulu," ucap Jerry sambil menunduk. Elshi menatap ke arah sumber suara, namun dia tampak memindahkan pandangannya pada lelaki berkeringat yang terlihat begitu menggoda. Pria itu diam tanpa sepatah kata pun, namun tampak tidak terlihat kelelahan. Membayangkan begitu perkasanya lelaki tersebut ada sesuatu yang bergidik di tubuh Elshi. "Bu Elshi, saya permisi dulu." Tampak Jerry kemudian keluar ruangan. Elshi mengangguk ke arah Jerry. Damian kemudian—Aku manajer di sebuah perusahaan. Gajiku lumayan, ditambah sering diberi bonus oleh bosku jika berhasil mencapai target." Roy terlihat belum siap memberi tahu siapa dirinya sebenarnya.Roy mengambil sebatang rokok, kemudian menyalakannya dan mengisapnya, khas lelaki dewasa di drama mafia. Axel melirik ke arah Roy."Roy, sejak kapan kamu merokok? Bukannya biasanya tidak suka?""Axel, kamu pura-pura polos atau bagaimana? Kamu saja tidur dengan perempuan yang bukan kekasihmu, aku tidak terkejut. Oh ya, bagaimana menurutmu Vita dan Kak Elshi? Apa mereka termasuk tipemu?" balas Roy."Beberapa tahun tidak bertemu, kamu sudah mulai banyak omong, ya. Tidak pendiam seperti biasanya. Elshi dan Vita biasa saja, mereka membosankan. Zea justru lebih menantang dan menarik," kata Axel menggoda Roy.Roy menatap Axel dengan tajam, kemudian melayangkan tinju ke dada kekar Axel. Axel menepi, lalu menahan tangan Roy."Serius sekali, aku hanya bercan
Beberapa saat kemudian, mereka tiba di kediaman Zea. Saat itu, Zea mengajak Roy dan Axel masuk terlebih dahulu ke dalam untuk minum kopi. Saat pintu dibuka, tampak Elshi dari balik pintu. Axel terpaku. Bagaimana mungkin dunia ini begitu sempit? Elshi adalah wanita yang pernah lomba balap dengannya waktu itu. Elshi dikenal dengan kemampuan balap terbaik di kelompok tersebut. "Kamuuuu..." Elshi dan Axel berkata serempak. "Kak Elshi, kamu kenal dengan Axel?" tanya Roy. "Elshi pernah lomba balap denganku dulu, waktu aku masih di sana. Elshi, apa kamu masih ikut balap liar tersebut?" tanya Axel. Roy terkejut. Ternyata sahabatnya itu pernah bergabung dengan dunia tersebut. Axel rupanya tidak kalah nakal darinya. Dengan mengetahui hal ini, Roy semakin mantap ingin bercerita banyak tentang dirinya kepada Axel. Sebelumnya, ia mengira Axel adalah seorang pebisnis andal, sehingga ia ragu untuk menceritakan siapa dirinya saat ini. "Ternyata kalian sudah saling kenal. Ayo kita masuk, bi
"Damian, saat Dara membuka ranselnya, tiba-tiba ada kelabang. Dia ketakutan dan refleks berlari lalu memelukku seperti yang barusan kalian lihat tadi. Jangan salah paham, asal kamu tahu orang yang kusukai adalah wanita yang berada di mobilku saat ini," kata Jerry sambil berbisik agar Zea tidak mendengar."Aku percaya Pak Jerry bukan orang yang suka merebut tunangan orang lain. Kalau begitu, selamat senang-senang dengan Bu Zea. Silakan Pak Jerry kembali ke mobil!" kata Damian sambil tersenyum puas.Jerry menepuk pundak Damian, kemudian bergegas pergi menyusul Zea kembali."Zea, ayo kita berangkat. Aku yakin kamu bakal suka resto tersebut," kata Jerry.Setengah jam kemudian, mereka tiba di Resto Lover. Zea tampak antusias saat memilih kue yang tersedia di sana. Tiba-tiba, lengan kekar berotot menarik tangan mungil Zea dan mendekapnya ke dalam pelukan. Zea terkejut dan mendapati wajah tampan Roy di hadapannya. Lelaki tersebut tampak memasang wajah ce
Jerry segera menurunkan Dara, dan berlari ke arah Zea yang membungkuk memungut bekas beling yang berserakan."aau sakit sekali." Seru Zea"Zea, kenapa, tanganmu berdarah, sudah lepaskan belingnya biar aku yang bersihkan." Kata JerryJerry tampak mengecup tangan kanan Zea yang terluka, dan membalutnya agar darah tidak menetes lagi."Kak Jerry, aku tidak apa-apa, terimakasih ya." Kata Zea"Zea kamu sudah tidak apa-apa kan, ayo kita segera ke ruang rapat!" Pinta Elshi sambil membantu adiknya berdiri.Sementara Damian memandang ke arah Dara dengan tatapan mematikan, dia sebenarnya ingin bertanya ada apa sebenarnya, kenapa bisa Dara memeluk Jerry dalam ruangan tersebut, tetapi dia merasa tidak cocok membicarakan nya saat jam kerja begini.Bu Dara, Mari!" Kata ElshiDara, Damian, Zea dan Jerry segera membuntuti Elshi di belakang menuju ruang rapat.di barisan paling belakang ada Jerry dan Zea, Jerry terliha
"Pak Jerry, kenapa pak Jerry ada di sini, apa Bu Elshi sedang ke luar negeri?" Tanya Damian"Damian, Bu Elshi yang memintaku agar bekerja di ruangannya, Bu Elshi sedang keluar kota, besok baru masuk kembali, Damian apapun yang terjadi di antara kita, tolong jangan bawa ke pekerjaan ya, di sini kita sama-sama berkarier, baik kamu atau saya adalah orang terdekat Bu Elshi di kantor, kita pasti akan sering berinteraksi dan membutuhkan." Kata Jerry"Pak Jerry tenang saja, saya tidak mencampurkan urusan pribadi dan pekerjaan, Oya ini berkas yang harus di periksa dan tanda tangani." Kata Damian sambil menyerahkan berkas di tangannyaDamian kemudian menunggu di luar ruangan, tiba-tiba terlihat sosok familiar, ya benar saja Dara datang ke kantor tersebut."Sayang, kamu ke sini, ada apa? apa ada sesuatu pekerjaan." Tanya Damian yang segera berdiri dari tempat duduknya kemudian memegang tangan kekasihnya."Damian, iya aku di minta menemui Bu Elshi u
Zea, Pak Damai adalah kepala pelayan dari keluarga kita. Dia adalah kepercayaan ayah. Bahkan beberapa kali aku mendengar ayah bercanda manis kepada Pak Damai. Dia bilang jika anak kita tumbuh besar, aku tidak keberatan jika mereka berjodoh. Aku yakin anak Pak Damai adalah anak baik seperti ayahnya." Pak Damai biasanya hanya membalas dengan senyum dan berkata, "Terima kasih, Tuan, tapi Non Elshi berhak mendapat yang terbaik, yang lebih dari anaknya.""Kak Elshi mau menjalin hubungan sama anak Pak Damai? Lalu siapa Bibi Uty?" tanya Zea."Ah, kamu ini. Aku mau silaturahmi sama keluarga Pak Damai. Oya, Zea, saat kejadian naas malam itu, orang terakhir yang mencoba menyelamatkanku adalah Pak Damai. Dia memohon kepada Hugo agar tidak membunuhku dengan mengaku bahwa aku adalah anaknya. Jika Hugo tahu aku adalah anak ayah, dia pasti menghabisi ku juga. Hugo membolehkan aku dan Pak Damai pergi, tetapi di depan pintu dia menembak kepala Pak Damai, sementara aku jatuh tersung







