MasukDamian berjalan membuntuti Jerry menuju keluar pintu. "Damian, siapa yang menyuruhmu keluar?" tanya Elshi dengan suara lembut namun mendominasi. Sejenak langkah Damian terhenti, kemudian membalikkan badannya. Pandangan mereka bertemu, keringat yang membasahi rambutnya sehingga terlihat acak-acakan mengalir sampai ke lehernya, memberikan kesan lelaki dewasa yang liar.
Elshi mendekat, menyerahkan kaos oblong berwarna hitam. "Ganti pakaianmu sekarang!!" Damian memahami itu pasti karena kemejanya yang basah karena keringat. "Boleh saya izin ke kamar mandi?" tanya Damian. Elshi kembali memandang wajah tampan maskulin Damian. "Di kamar mandi banyak barang-barang pribadi yang tidak pantas dilihat orang lain, terutama lelaki," sahut Elshi. "Ganti saja di sini, aku tidak akan melihat." Damian mengangguk, kemudian memalingkan badannya ke dinding, melepas kemejanya. Bahu lebar berototnya terlihat jelas. Elshi yang memandangi dari tadi merasakan getaran berbeda, khayalannya tentang bagaimana perkasanya Damian jika di ranjang tiba-tiba muncul, padahal selama ini tidak pernah terlintas di benaknya membayangkan hal seperti itu kepada seorang lelaki. Damian memasang baju kaos oblong yang tadi diberikan oleh Elshi, membuat tubuh kekarnya tambah terukir jelas pada setiap lekuk sudut kaos tersebut. Elshi berusaha menenangkan dirinya kembali. Dia memegang pena di tangannya dan bersikap seolah memeriksa berkas dari tadi. "Bu Elshi, maaf," kata Damian. "Duduklah," perintah Elshi. Damian duduk berseberangan dengan Elshi. "Terimakasih, Bu," sahutnya. "Kamu boleh baca perjanjian kontrak kerja ini, dan jika setuju segera tanda tangan." Mendengar perkataan Elshi, Damian begitu bahagia; itu artinya dia diterima bekerja di perusahaan tersebut. Saking bahagia dan terharu, tanpa sadar Damian meraih tangan lembut putih dan halus Elshi, meletakkan di keningnya, seraya berkata, "Ibu, terimakasih banyak, Buu," persis seperti anak kecil yang biasa salim ke orang dewasa. Tiba-tiba ketika ingin melepaskan tangannya, gelang di tangan Elshi nyangkut di kalung yang melingkar di leher perkasa Damian dan begitu susah dilepaskan. Melihat Elshi berjinjit dan terus mengangkat tangannya ke atas, Damian segera duduk di kursi dan memangku Elshi di pahanya. "Bu, maaf, apa tangannya sakit? Tunggu sebentar, saya akan melepaskannya," terdengar suara Damian yang berusaha melepaskan gelang dan kalung yang terlilit. "Aaach, eecch," teriaknya dengan nada pria dewasa yang seksi. Bulu tangan Elshi berdiri, pikirannya kembali ke hal yang tidak harusnya dia bayangkan, se perkasa apa Damian jika sedang di ranjang, pikirnya. Jarak wajah mereka yang terlalu dekat membuat Elshi memandangnya dengan tatapan membius, bibirnya membentuk bibir seksi wanita muda dewasa yang menggoda. Melihat hal itu, Damian sebagai lelaki normal tentu tergoda. Dia menelan cairan di tenggorokannya. Tiba-tiba bagian belakang paha Elshi merasakan ada sesuatu yang keras, besar, dan menonjol. Elshi tersipu malu. "Damian, tenangkan dirimu, biar aku yang melepasnya." Damian tahu maksud Bu Elshi, dia begitu malu, kemudian menunduk sambil berkata, "Bu, maafkan saya, saya tidak bermaksud kurang ajar." "Diam lah," jawab Elshi seraya menempelkan jari-jari panjang cantiknya ke bibir Damian. Damian diam, dia berusaha menstabilkan dirinya kembali. Sesaat kemudian kalungnya copot karena putus. "Damian, kalung kamu rusak." Damian kaget kemudian meraih kalung rusak tersebut. "Tidak apa-apa, Bu, akan saya perbaiki." Damian terlihat begitu sayang dengan kalung tersebut, Elshi sempat berpikir apa ada kenangan tertentu sehingga dia begitu khawatir saat tahu kalung tersebut putus. Damian memasukkannya ke kantong celana, kemudian berkata, "Bu Elshi, maaf, apa sudah aman sekarang?" Mendengar perkataan Damian, Elshi buru-buru berdiri dari pangkuan Damian, sekilas memperhatikan bagian yang ia rasa mengeras tadi, namun Damian sudah bisa menstabilkan kondisi tubuhnya. "Baik, Damian, sampai bertemu besok dengan Jerry. Dia yang akan melanjutkan semuanya." Damian tersenyum sambil berterimakasih. Wajahnya benar-benar tampan saat tersenyum. "Saya permisi keluar, Bu," lanjutnya. Setelah Damian keluar, Elshi tersenyum. Aku akan belanja baju-baju cantik selepas ini. Entah apa yang ada di benaknya, dia merasa harus terlihat cantik mulai besok, tanpa dia sadari tanpa ber-make up dan berpakaian bagus pun aura cantik wajahnya akan selalu membuat orang berdecak kagum jika melihatnya.Aku manajer di sebuah perusahaan. Gajiku lumayan, ditambah sering diberi bonus oleh bosku jika berhasil mencapai target." Roy terlihat belum siap memberi tahu siapa dirinya sebenarnya.Roy mengambil sebatang rokok, kemudian menyalakannya dan mengisapnya, khas lelaki dewasa di drama mafia. Axel melirik ke arah Roy."Roy, sejak kapan kamu merokok? Bukannya biasanya tidak suka?""Axel, kamu pura-pura polos atau bagaimana? Kamu saja tidur dengan perempuan yang bukan kekasihmu, aku tidak terkejut. Oh ya, bagaimana menurutmu Vita dan Kak Elshi? Apa mereka termasuk tipemu?" balas Roy."Beberapa tahun tidak bertemu, kamu sudah mulai banyak omong, ya. Tidak pendiam seperti biasanya. Elshi dan Vita biasa saja, mereka membosankan. Zea justru lebih menantang dan menarik," kata Axel menggoda Roy.Roy menatap Axel dengan tajam, kemudian melayangkan tinju ke dada kekar Axel. Axel menepi, lalu menahan tangan Roy."Serius sekali, aku hanya bercan
Beberapa saat kemudian, mereka tiba di kediaman Zea. Saat itu, Zea mengajak Roy dan Axel masuk terlebih dahulu ke dalam untuk minum kopi. Saat pintu dibuka, tampak Elshi dari balik pintu. Axel terpaku. Bagaimana mungkin dunia ini begitu sempit? Elshi adalah wanita yang pernah lomba balap dengannya waktu itu. Elshi dikenal dengan kemampuan balap terbaik di kelompok tersebut. "Kamuuuu..." Elshi dan Axel berkata serempak. "Kak Elshi, kamu kenal dengan Axel?" tanya Roy. "Elshi pernah lomba balap denganku dulu, waktu aku masih di sana. Elshi, apa kamu masih ikut balap liar tersebut?" tanya Axel. Roy terkejut. Ternyata sahabatnya itu pernah bergabung dengan dunia tersebut. Axel rupanya tidak kalah nakal darinya. Dengan mengetahui hal ini, Roy semakin mantap ingin bercerita banyak tentang dirinya kepada Axel. Sebelumnya, ia mengira Axel adalah seorang pebisnis andal, sehingga ia ragu untuk menceritakan siapa dirinya saat ini. "Ternyata kalian sudah saling kenal. Ayo kita masuk, bi
"Damian, saat Dara membuka ranselnya, tiba-tiba ada kelabang. Dia ketakutan dan refleks berlari lalu memelukku seperti yang barusan kalian lihat tadi. Jangan salah paham, asal kamu tahu orang yang kusukai adalah wanita yang berada di mobilku saat ini," kata Jerry sambil berbisik agar Zea tidak mendengar."Aku percaya Pak Jerry bukan orang yang suka merebut tunangan orang lain. Kalau begitu, selamat senang-senang dengan Bu Zea. Silakan Pak Jerry kembali ke mobil!" kata Damian sambil tersenyum puas.Jerry menepuk pundak Damian, kemudian bergegas pergi menyusul Zea kembali."Zea, ayo kita berangkat. Aku yakin kamu bakal suka resto tersebut," kata Jerry.Setengah jam kemudian, mereka tiba di Resto Lover. Zea tampak antusias saat memilih kue yang tersedia di sana. Tiba-tiba, lengan kekar berotot menarik tangan mungil Zea dan mendekapnya ke dalam pelukan. Zea terkejut dan mendapati wajah tampan Roy di hadapannya. Lelaki tersebut tampak memasang wajah ce
Jerry segera menurunkan Dara, dan berlari ke arah Zea yang membungkuk memungut bekas beling yang berserakan."aau sakit sekali." Seru Zea"Zea, kenapa, tanganmu berdarah, sudah lepaskan belingnya biar aku yang bersihkan." Kata JerryJerry tampak mengecup tangan kanan Zea yang terluka, dan membalutnya agar darah tidak menetes lagi."Kak Jerry, aku tidak apa-apa, terimakasih ya." Kata Zea"Zea kamu sudah tidak apa-apa kan, ayo kita segera ke ruang rapat!" Pinta Elshi sambil membantu adiknya berdiri.Sementara Damian memandang ke arah Dara dengan tatapan mematikan, dia sebenarnya ingin bertanya ada apa sebenarnya, kenapa bisa Dara memeluk Jerry dalam ruangan tersebut, tetapi dia merasa tidak cocok membicarakan nya saat jam kerja begini.Bu Dara, Mari!" Kata ElshiDara, Damian, Zea dan Jerry segera membuntuti Elshi di belakang menuju ruang rapat.di barisan paling belakang ada Jerry dan Zea, Jerry terliha
"Pak Jerry, kenapa pak Jerry ada di sini, apa Bu Elshi sedang ke luar negeri?" Tanya Damian"Damian, Bu Elshi yang memintaku agar bekerja di ruangannya, Bu Elshi sedang keluar kota, besok baru masuk kembali, Damian apapun yang terjadi di antara kita, tolong jangan bawa ke pekerjaan ya, di sini kita sama-sama berkarier, baik kamu atau saya adalah orang terdekat Bu Elshi di kantor, kita pasti akan sering berinteraksi dan membutuhkan." Kata Jerry"Pak Jerry tenang saja, saya tidak mencampurkan urusan pribadi dan pekerjaan, Oya ini berkas yang harus di periksa dan tanda tangani." Kata Damian sambil menyerahkan berkas di tangannyaDamian kemudian menunggu di luar ruangan, tiba-tiba terlihat sosok familiar, ya benar saja Dara datang ke kantor tersebut."Sayang, kamu ke sini, ada apa? apa ada sesuatu pekerjaan." Tanya Damian yang segera berdiri dari tempat duduknya kemudian memegang tangan kekasihnya."Damian, iya aku di minta menemui Bu Elshi u
Zea, Pak Damai adalah kepala pelayan dari keluarga kita. Dia adalah kepercayaan ayah. Bahkan beberapa kali aku mendengar ayah bercanda manis kepada Pak Damai. Dia bilang jika anak kita tumbuh besar, aku tidak keberatan jika mereka berjodoh. Aku yakin anak Pak Damai adalah anak baik seperti ayahnya." Pak Damai biasanya hanya membalas dengan senyum dan berkata, "Terima kasih, Tuan, tapi Non Elshi berhak mendapat yang terbaik, yang lebih dari anaknya.""Kak Elshi mau menjalin hubungan sama anak Pak Damai? Lalu siapa Bibi Uty?" tanya Zea."Ah, kamu ini. Aku mau silaturahmi sama keluarga Pak Damai. Oya, Zea, saat kejadian naas malam itu, orang terakhir yang mencoba menyelamatkanku adalah Pak Damai. Dia memohon kepada Hugo agar tidak membunuhku dengan mengaku bahwa aku adalah anaknya. Jika Hugo tahu aku adalah anak ayah, dia pasti menghabisi ku juga. Hugo membolehkan aku dan Pak Damai pergi, tetapi di depan pintu dia menembak kepala Pak Damai, sementara aku jatuh tersung







