로그인Setelah menemani kekasihnya, Roy segera menghadap Elshi. Dia meminum kembali racun, kemudian meminta izin kepada Elshi untuk kembali ke markas Hugo.Beberapa saat kemudian, Roy tiba di sebuah jalan sepi tempat dia janji bertemu dengan Axel. Axel sudah lebih dulu sampai. Mata Axel tampak berkaca menatap Roy yang semakin dekat menuju kepadanya."Axel, maaf aku baru sampai," katanya seolah tidak ada hal besar yang terjadi pada persahabatan mereka."Sejauh ini kamu menutupi semuanya dariku, apa aku masih sahabatmu, hah?" Axel tampak berteriak karena gejolak di hatinya. Rasa sedih, kecewa, takut, dan peduli bercampur satu di hatinya."Kamu, Hugo, Doni, Devan, Mario, dan Naga Merahmu, juga kekasihmu Zea dan Elshi itu..."Axel tampak tidak mampu melanjutkan kata-katanya, yang dari tadi sambil menepuk dada kekar Roy dengan kotak rokok yang barusan digunakannya untuk mengambil beberapa batang rokok yang sudah habis 7 batang sejak dia menunggu keda
Naga Merah adalah geng mafia paling berbahaya dan ditakuti di kota ini, di bawah kepemimpinan Hugo dan banyak anggota inti mereka. Salah satunya adalah Roy sebagai juru eksekutor penembak utama di kubu Naga Merah. Kamu bilang Roy punya pacar, itu tidak mungkin. Roy tidak akan berani menentang Hugo. Di sana tidak boleh ada yang terlibat dengan asmara. Asmara membuat lelaki lemah. Oleh karena itu, aku dikirim ke Naga Merah sebagai pasangan Roy dan untuk memuaskannya di ranjang," jelas Raya.Axel serasa disambar petir di tengah terik matahari. Dia seolah tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Dia memang curiga Roy terlibat dengan komplotan ini sebelumnya, tapi dia tidak menyangka Roy adalah bagian inti dan merupakan orang penting di kubu mafia yang harus diberantas oleh Axel."Apakah Hendro dan Doni juga anggota inti?" tanya Axel."Ya, Doni dan Hendro adalah tangan kanan Hugo, orang kepercayaannya. Dan satu lagi, Devan! Lelaki muda tampan yang terlihat ter
Saat tiba di markas, teman-teman yang melihat kedatangan Roy segera mengucapkan selamat datang. Mereka bersulang untuk kepulangan Roy. Dokter pribadi di markas tersebut segera membawa Roy ke kamar dan mengobatinya. Mendengar kebisingan yang terjadi di luar, Raya segera beranjak untuk mengecek situasi. Betapa terharu Raya saat melihat Roy ternyata sudah kembali dengan selamat. Refleks, dia langsung memeluk erat Roy dan menangis.Melihat Raya, muncul ide di benak Roy. Dia pikir agar malam besok dia bisa keluar, dia bisa beralasan untuk jalan-jalan dengan Raya. Hugo pasti tidak akan curiga yang tidak-tidak, pikir Roy."Kak Roy, aku rindu kamu. Aku takut kamu kenapa-kenapa. Kak Roy, yang mana yang sakit, boleh aku lihat?" tanya Raya."Raya, lepas ya, aku baik-baik saja. Terima kasih sudah begitu khawatir. Kamu tenang saja, ada dokter yang akan mengobati u." Roy melepaskan pelukan Raya."Kakak masih marah denganku karena kejadian terakhir?" Raya tampak
Hugo berbalik, kemudian mendapati sebuah penayangan video yang langsung berasal dari depan Gedung Merah, tempat biasa Hugo menjalankan bisnis perdagangan manusia.Semua mata kini tertuju pada layar tersebut."Hugo, sekarang juga perintahkan orangmu yang ada di gedung untuk membakar gedung tersebut. Hancurkan semua akses dan sistem untuk orang-orang menuju ke sana, kecuali kamu ingin melihat Roy mati di depan matamu. Sebelum kepergiannya, aku juga akan mengirim video pengakuan Roy tentang kejahatan kalian, di mana di dalamnya ada nama Hendro, Doni, dan orang-orang kesayanganmu lainnya. Tidak lupa, kamu adalah orang yang paling bertanggung jawab alias dalang utama atas kejahatan kalian." Elshi tersenyum sinis.Tiba-tiba saja Roy berdiri dari tempat duduknya. Tangannya terlihat tidak dalam keadaan terikat seperti sebelumnya. Dia mengambil pistol di dekat pinggang Elshi dan langsung mengarahkannya tepat di kepala Elshi.Melihat keadaan lengah, Hendro,
Setelah memakan perjalanan sekitar tiga jam, mereka akhirnya tiba di kediaman masing-masing. Vita memilih diantarkan terlebih dulu ke rumahnya, sementara yang lainnya turun di kediaman Axel, baru pulang ke rumah masing-masing.Axel terkulai lemah saat ibunya bertanya di mana Vita, mengapa tidak balik sama-sama."Bu, Vita marah karena aku tidak membalas cintanya, dia bilang mau melupakanku, menurut ibu apa aku salah? Tapi ya sudahlah, Axel juga tidak mau Bu dibikin repot urusan cinta, Axel mau fokus di karier. Lagian Vita orang kaya, Axel tidak pantas juga bersanding dengannya. Lebih baik Axel memantaskan diri dulu," jelas Axel.Ibu Axel tersenyum mendengar cerita anaknya. Dia bilang dia menyukai Vita. Menurut ibunya tidak apa-apa kalau mau memantaskan diri dulu, tapi jangan menyesal kelak jika Vita justru bersama orang lain. Karena yang memilih ingin jalan masing-masing adalah Axel. Ibunya lebih menyarankan kalau memang suka, jalani saja, apa susahnya hid
"Axel, leher kamu? Hemm, bagus lah," kata Roy dengan ceplas-ceplos.Sementara Vita tampak membawa tas yang berisi barang-barangnya keluar. Dia sudah mencuci muka dan siap berangkat."Vita, biar aku yang bawa tas kamu, tasnya berat. Kamu masuk saja ke mobil," kata Axel."Tidak perlu. Oya, satu lagi, tolong hapus kontakku, atau kalau tidak biar aku yang memblokir nomormu," kata Vita.Axel tampak mematung. Kenapa dia berkata begitu tadi ke Vita? Mungkin seharusnya dia senang mendapat ciuman selamat bangun tidur dari Vita. Kenapa dia justru menuduh Vita yang tidak-tidak?Roy, Zea, Elshi, dan Roy membatu melihat pertengkaran mereka.Zea dan Elshi segera menyusul Vita yang buru-buru ke mobil."Elshi, aku mau duduk bersama kamu dan Damian di kursi belakang." Vita tampak masuk mobil dan duduk di kursi belakang lebih dulu.Mendengar Vita mengucapkan itu, Damian berinisiatif untuk duduk di kursi bagian tengah mobil bersam
Elshi sedang menyisir rambut indahnya di depan cermin rias di dekat ranjang tidurnya. Zea melangkah masuk dan segera berdiri di belakang kakaknya yang sedang duduk di kursi. Dari pantulan cermin, tampak wajah tegang Zea yang terlihat jelas oleh Elshi."Zea, kenapa? Apa ada masalah?
"Kak Elshi, aku hanya beda beberapa tahun darimu, jangan bilang aku anak kecil lagi. Oya, ayo kita sarapan sama-sama, aku sudah bikin sarapan untuk kita semua." Ajak Zea.Damian yang sudah mengenakan pakaian segera ikut duduk di kursi makan."Roy, Damian, maklumi saja jika
Malam ini hujan turun dengan deras. Jam menunjukkan pukul 00.45 tengah malam. Elshi masih kesusahan tidur, seperti biasa. Dia berdiri di balkon sambil menyeruput kopi hangat.Tiba-tiba sebuah sepeda motor berhenti di depan pagar rumahnya. Orang itu basah kuyup, sepertinya sosok tidak asi
Zea menarik pelatuknya dan segera bersiap membunuh lelaki yang berada di depannya saat ini."Zea, sayangku, kamu boleh membunuhku, tapi sebelumnya izinkan aku menjelaskan semuanya padamu. Setelah itu aku berjanji, aku akan mati dalam pelukanmu," pinta Roy lirih.Roy maju beberap







