Share

Bayang-Bayang Invasi

Penulis: Ryu_Queen
last update Tanggal publikasi: 2026-05-05 22:30:52

Langit Wilderheim yang biasanya dihiasi pendaran aurora kini tertutup oleh awan jelaga yang dimuntahkan dari moncong meriam kapal-kapal besi negeri seberang.

Ledakan pertama menghantam menara pengawas di distrik timur, mengirimkan puing-puing batu yang baru saja selesai disusun minggu lalu ke udara.

Kepanikan meledak di jalanan bawah; rakyat klan manusia dan klan binatang berlarian mencari perlindungan, namun di tengah kekacauan itu, kedisiplinan para Raja tetap tegak berdiri.

Lucian, dengan ot
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Tawanan Hasrat Lima Manusia Binatang   Sudah tidak Menunggu Lama lagi

    Cahaya matahari yang semakin terik menembus jendela tinggi Aula Utama, menyirami singgasana kristal yang kini kembali menjadi saksi bisu kemelut gairah para penguasa Wilderheim.Malphas berdiri tegak dengan sayap perak yang setengah merentang, memberikan bayangan megah sekaligus mengintimidasi. Di sampingnya, Kaelen bersandar pada sandaran singgasana, menyeringai liar dengan tatapan yang seolah hendak menguliti Elara saat itu juga.Di hadapan mereka, Lucian, Vrax, dan Zhen berdiri bersedekap, mencoba menetralkan napas yang masih memburu. Namun, mata mereka tak bisa berbohong; gairah itu masih menyala terang.“Duduklah dan tonton baik-baik, kalian bertiga,” suara Malphas menggelegar, namun penuh nada posesif. “Kalian sudah mendapatkan bagian di taman tadi. Sekarang, biarkan kami menunjukkan bagaimana cara memuja Ratu ini dengan benar di singgasananya sendiri.”Kaelen tertawa rendah, sebuah suara yang terdengar seperti geraman kucing besar. “Jangan berkedip, Saudara-saudaraku. Tontonan

  • Tawanan Hasrat Lima Manusia Binatang   Sentuhan dari Ketiga Suami

    Sinar matahari pagi yang hangat menyusup di antara celah-celah pohon ek kuno di taman belakang kastil, menciptakan pola bayangan yang menari di atas rerumputan hijau yang kembali subur pasca perang.Elara duduk di atas bangku marmer putih, jemarinya yang lentur mengusap permukaan perutnya yang kini membulat besar dan kencang, memancarkan aura emas yang samar dari balik kain kimono sutra tipisnya.Ia menatap hamparan lembah Wilderheim yang mulai mengepulkan asap damai dari cerobong rumah warga; pemandangan yang indah setelah badai darah yang mereka lalui.Langkah kaki yang berat namun teratur memecah kesunyian taman. Elara tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa yang datang; aroma maskulin yang begitu khas telah mendahului kehadiran mereka.Lucian, Vrax, dan Zhen muncul dari balik semak mawar perak, wajah mereka tampak jauh lebih segar meskipun sisa-sisa kelelahan dari pertempuran kemarin masih membekas di sudut mata.“Menikmati pemandangan tanpa kami, Ratu-ku?” suara bariton Lucian

  • Tawanan Hasrat Lima Manusia Binatang   Runtuhnya Pertahanan Terakhir

    Debu kayu jati yang halus beterbangan di udara Aula Utama saat meja makan pusaka itu menyerah pada beban gairah yang tak terbendung.Suara dentuman kayu yang patah dan piring-piring perak yang tersisa berdenting di lantai marmer tak menghentikan badai nafsu di ruangan itu. Justru, runtuhnya altar kayu itu seolah meruntuhkan batas terakhir kewarasan para Raja.Elara terengah-engah di atas lantai dingin, namun hawa panas dari tubuh-tubuh yang mengepungnya membuat marmer itu terasa membara.Tubuhnya diseret dengan posesif oleh Vrax, dibalikkan hingga ia berlutut dengan kedua tangan menumpu pada puing meja.“Jangan biarkan dia beristirahat sebentar pun,” geram Vrax, tangannya yang besar merayap ke depan, meremas payudara Elara dari bawah dan menariknya dengan dominasi yang murni. “Kau ingin bukti kekuatan kami, bukan, Ratu-ku?”Vrax menunduk, bibirnya mengunci salah satu puting Elara, menghisapnya dengan tarikan yang begitu kuat hingga Elara merasakan sensasi tersedot yang menjalar ke rah

  • Tawanan Hasrat Lima Manusia Binatang   Pemujaan di Atas Meja

    Meja jati yang kini kosong itu menjadi altar bagi pemujaan yang jauh lebih sakral daripada sekadar perjamuan.Lucian mencengkeram kedua pergelangan tangan Elara, menekannya ke permukaan kayu yang dingin, sementara wajahnya terkunci dalam tatapan yang membakar. Aura dominasi Sang Raja Serigala meluap, mengisi setiap sudut aula yang sunyi.“Kau menghancurkan ketenangan kami, Elara,” geram Lucian, suaranya parau oleh hasrat yang hampir menyentuh titik didih. “Sekarang, terimalah upeti yang kau tuntut.”Tanpa menunggu jawaban, Lucian membungkam bibir Elara dengan ciuman yang liar dan menuntut. Lidah mereka saling melilit, bertukar rasa anggur yang tertinggal dan adrenalin yang belum padam.Elara mengerang di tengah lumatan itu, melengkungkan punggungnya saat merasakan tangan kasar Lucian merobek gaun merahnya, membiarkan kulit porselennya terpapar udara malam yang kontras dengan panas tubuh para pria yang mengepungnya.“Jangan hanya Lucian...” rintih Elara di sela-sela ciuman mereka, mata

  • Tawanan Hasrat Lima Manusia Binatang   Makan Malam yang Panas

    Di atas meja, tersaji hidangan yang seharusnya mampu memuaskan rasa lapar paling buas sekalipun: daging rusa panggang dengan rempah pegunungan, anggur merah setua peradaban klan Serigala, dan buah-buahan segar yang masih berembun.Namun, aroma makanan itu kalah tajam oleh aroma maskulin yang menguar dari tubuh kelima pria di sana, campuran antara keringat, besi, dan dominasi yang masih tersisa dari medan tempur.Elara duduk di kursi utama, namun ia tidak menyentuh garpu peraknya. Matanya yang berkilat perak menyapu satu per satu suaminya yang sedang mencoba makan dengan sisa kedisiplinan prajurit.“Kenapa kalian begitu tegang?” Elara bertanya, suaranya halus seperti sutra yang menyeret di lantai. Ia mengangkat gelas anggurnya, memutar-mutarnya perlahan.“Musuh sudah mati. Rakyat sedang berpesta. Apakah kalian tidak merasa lapar akan sesuatu yang lebih... hangat daripada daging rusa ini?”Lucian meletakkan pisaunya, suaranya berat menahan getaran di dada. “Kami lapar, Elara. Tapi adren

  • Tawanan Hasrat Lima Manusia Binatang   Penyambutan di Singgasana

    Aula Utama masih menyisakan aroma debu mesiu dan darah yang menempel pada zirah para pengawal yang berdiri kaku di sepanjang pilar. Namun, perhatian semua orang di ruangan itu, termasuk para prajurit yang masih gemetar karena sisa adrenalin perang tertuju sepenuhnya pada wanita di atas singgasana.Elara menatap kelima suaminya yang berdiri di bawah undakan tangga, tubuh mereka kotor, terluka, dan bersimbah darah, namun di mata Elara, mereka adalah mahakarya keperkasaan yang paling indah.“Mendekatlah, para pahlawanku,” suara Elara mengalun lembut, memecah kesunyian aula.Lucian memimpin di depan, langkah porselennya berat karena kelelahan, diikuti oleh Vrax yang bahunya masih dibalut kain yang memerah, serta Malphas, Zhen, dan Kaelen.Begitu sampai di hadapan Elara, tanpa komando, kelima raja itu secara serempak menjatuhkan satu lutut mereka ke lantai marmer yang dingin. Gerakan itu begitu sinkron, sebuah pernyataan tunduk mutlak dari penguasa dunia kepada pusat semesta mereka.“Ratu-

  • Tawanan Hasrat Lima Manusia Binatang   Tidak ada Bulan Madu!

    Angin kencang berhembus dari arah pegunungan Barat, membawa hawa dingin yang menusuk tulang, namun suasana di garis depan perbatasan justru terasa membara.Elara berdiri di atas bukit batu yang menjorok ke arah lembah, menatap hamparan Hutan Berduri yang selama berabad-abad menjadi benteng alam tak

  • Tawanan Hasrat Lima Manusia Binatang   Kekuatan yang Semakin Meningkat

    Fajar menyingsing dengan warna merah tembaga yang merayap di dinding kamar, namun hawa panas di dalam ruangan itu belum juga memudar.Elara terkapar di tengah hamparan seprai sutra yang kini berantakan, basah oleh keringat dan sisa-sisa penyatuan liar semalam.Napasnya masih pendek-pendek, dadanya

  • Tawanan Hasrat Lima Manusia Binatang   Penyatuan Sebelum Perang

    Malam sebelum keberangkatan ke Lembah Kabut, suasana di paviliun pribadi Elara terasa begitu berat oleh uap gairah yang menyesakkan.Udara di luar dingin, namun di dalam kamar yang luas itu, perapian menyala terang, memantulkan cahaya jingga pada kulit Elara yang berkilat. Dia duduk di tengah ranja

  • Tawanan Hasrat Lima Manusia Binatang   Kecemburuan Kealath

    Darah keperakan merembes dari sela-sela bulu sayap Malphas yang patah, membasahi seprai sutra di kamar perawatan khusus menara Selatan.Aroma tembaga yang tajam bercampur dengan bau hujan yang masih tertinggal di jubah Elara.Di luar, badai belum benar-benar reda; guntur sesekali masih menggetarkan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status