LOGINCahaya matahari yang semakin terik menembus jendela tinggi Aula Utama, menyirami singgasana kristal yang kini kembali menjadi saksi bisu kemelut gairah para penguasa Wilderheim.Malphas berdiri tegak dengan sayap perak yang setengah merentang, memberikan bayangan megah sekaligus mengintimidasi. Di sampingnya, Kaelen bersandar pada sandaran singgasana, menyeringai liar dengan tatapan yang seolah hendak menguliti Elara saat itu juga.Di hadapan mereka, Lucian, Vrax, dan Zhen berdiri bersedekap, mencoba menetralkan napas yang masih memburu. Namun, mata mereka tak bisa berbohong; gairah itu masih menyala terang.“Duduklah dan tonton baik-baik, kalian bertiga,” suara Malphas menggelegar, namun penuh nada posesif. “Kalian sudah mendapatkan bagian di taman tadi. Sekarang, biarkan kami menunjukkan bagaimana cara memuja Ratu ini dengan benar di singgasananya sendiri.”Kaelen tertawa rendah, sebuah suara yang terdengar seperti geraman kucing besar. “Jangan berkedip, Saudara-saudaraku. Tontonan
Sinar matahari pagi yang hangat menyusup di antara celah-celah pohon ek kuno di taman belakang kastil, menciptakan pola bayangan yang menari di atas rerumputan hijau yang kembali subur pasca perang.Elara duduk di atas bangku marmer putih, jemarinya yang lentur mengusap permukaan perutnya yang kini membulat besar dan kencang, memancarkan aura emas yang samar dari balik kain kimono sutra tipisnya.Ia menatap hamparan lembah Wilderheim yang mulai mengepulkan asap damai dari cerobong rumah warga; pemandangan yang indah setelah badai darah yang mereka lalui.Langkah kaki yang berat namun teratur memecah kesunyian taman. Elara tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa yang datang; aroma maskulin yang begitu khas telah mendahului kehadiran mereka.Lucian, Vrax, dan Zhen muncul dari balik semak mawar perak, wajah mereka tampak jauh lebih segar meskipun sisa-sisa kelelahan dari pertempuran kemarin masih membekas di sudut mata.“Menikmati pemandangan tanpa kami, Ratu-ku?” suara bariton Lucian
Debu kayu jati yang halus beterbangan di udara Aula Utama saat meja makan pusaka itu menyerah pada beban gairah yang tak terbendung.Suara dentuman kayu yang patah dan piring-piring perak yang tersisa berdenting di lantai marmer tak menghentikan badai nafsu di ruangan itu. Justru, runtuhnya altar kayu itu seolah meruntuhkan batas terakhir kewarasan para Raja.Elara terengah-engah di atas lantai dingin, namun hawa panas dari tubuh-tubuh yang mengepungnya membuat marmer itu terasa membara.Tubuhnya diseret dengan posesif oleh Vrax, dibalikkan hingga ia berlutut dengan kedua tangan menumpu pada puing meja.“Jangan biarkan dia beristirahat sebentar pun,” geram Vrax, tangannya yang besar merayap ke depan, meremas payudara Elara dari bawah dan menariknya dengan dominasi yang murni. “Kau ingin bukti kekuatan kami, bukan, Ratu-ku?”Vrax menunduk, bibirnya mengunci salah satu puting Elara, menghisapnya dengan tarikan yang begitu kuat hingga Elara merasakan sensasi tersedot yang menjalar ke rah
Meja jati yang kini kosong itu menjadi altar bagi pemujaan yang jauh lebih sakral daripada sekadar perjamuan.Lucian mencengkeram kedua pergelangan tangan Elara, menekannya ke permukaan kayu yang dingin, sementara wajahnya terkunci dalam tatapan yang membakar. Aura dominasi Sang Raja Serigala meluap, mengisi setiap sudut aula yang sunyi.“Kau menghancurkan ketenangan kami, Elara,” geram Lucian, suaranya parau oleh hasrat yang hampir menyentuh titik didih. “Sekarang, terimalah upeti yang kau tuntut.”Tanpa menunggu jawaban, Lucian membungkam bibir Elara dengan ciuman yang liar dan menuntut. Lidah mereka saling melilit, bertukar rasa anggur yang tertinggal dan adrenalin yang belum padam.Elara mengerang di tengah lumatan itu, melengkungkan punggungnya saat merasakan tangan kasar Lucian merobek gaun merahnya, membiarkan kulit porselennya terpapar udara malam yang kontras dengan panas tubuh para pria yang mengepungnya.“Jangan hanya Lucian...” rintih Elara di sela-sela ciuman mereka, mata
Di atas meja, tersaji hidangan yang seharusnya mampu memuaskan rasa lapar paling buas sekalipun: daging rusa panggang dengan rempah pegunungan, anggur merah setua peradaban klan Serigala, dan buah-buahan segar yang masih berembun.Namun, aroma makanan itu kalah tajam oleh aroma maskulin yang menguar dari tubuh kelima pria di sana, campuran antara keringat, besi, dan dominasi yang masih tersisa dari medan tempur.Elara duduk di kursi utama, namun ia tidak menyentuh garpu peraknya. Matanya yang berkilat perak menyapu satu per satu suaminya yang sedang mencoba makan dengan sisa kedisiplinan prajurit.“Kenapa kalian begitu tegang?” Elara bertanya, suaranya halus seperti sutra yang menyeret di lantai. Ia mengangkat gelas anggurnya, memutar-mutarnya perlahan.“Musuh sudah mati. Rakyat sedang berpesta. Apakah kalian tidak merasa lapar akan sesuatu yang lebih... hangat daripada daging rusa ini?”Lucian meletakkan pisaunya, suaranya berat menahan getaran di dada. “Kami lapar, Elara. Tapi adren
Aula Utama masih menyisakan aroma debu mesiu dan darah yang menempel pada zirah para pengawal yang berdiri kaku di sepanjang pilar. Namun, perhatian semua orang di ruangan itu, termasuk para prajurit yang masih gemetar karena sisa adrenalin perang tertuju sepenuhnya pada wanita di atas singgasana.Elara menatap kelima suaminya yang berdiri di bawah undakan tangga, tubuh mereka kotor, terluka, dan bersimbah darah, namun di mata Elara, mereka adalah mahakarya keperkasaan yang paling indah.“Mendekatlah, para pahlawanku,” suara Elara mengalun lembut, memecah kesunyian aula.Lucian memimpin di depan, langkah porselennya berat karena kelelahan, diikuti oleh Vrax yang bahunya masih dibalut kain yang memerah, serta Malphas, Zhen, dan Kaelen.Begitu sampai di hadapan Elara, tanpa komando, kelima raja itu secara serempak menjatuhkan satu lutut mereka ke lantai marmer yang dingin. Gerakan itu begitu sinkron, sebuah pernyataan tunduk mutlak dari penguasa dunia kepada pusat semesta mereka.“Ratu-
Langit Wilderheim telah berubah menjadi ungu pekat saat matahari terbenam sepenuhnya di balik cakrawala granit. Di aula tengah istana yang luas, Elara duduk di atas kursi kebesaran yang dilapisi kulit harimau salju.Dia mengenakan gaun sutra hitam yang membalut tubuhnya dengan sangat ketat, memperl
Tiga hari setelah malam penyatuan yang melelahkan itu, tubuh Elara mulai mendapatkan kembali kekuatannya.Dia berdiri di depan cermin besar di kamarnya, menatap pantulan dirinya yang kini mengenakan pakaian dari sutra merah yang sangat minim, potongan dari Malphas yang telah dimodifikasi sendiri.K
Di atas ranjang bulu yang kacau, ia merasa seperti sepotong porselen retak yang dikepung oleh empat pemangsa puncak.Vrax, Malphas, Kaelath, dan Zhen berdiri dengan otot-otot menegang, memancarkan aura dominasi yang begitu pekat hingga oksigen di ruangan itu seolah tersedot habis.Elara mencoba men
Malam itu, Wilderheim seolah ikut menahan napas. Di dalam kamar batunya yang hanya diterangi oleh temaram obor lemak hewan, Elara berdiri mematung di depan satu-satunya benda yang menghubungkannya dengan masa lalu: Cermin Obsidian.Permukaannya yang hitam pekat tetap dingin dan diam, namun







