LOGINNyonya dan Tuan Toretto membeku di tempat mereka berdiri. Napas Nyonya Toretto memburu, sementara wajah Laura sudah kehilangan seluruh rona merahnya, berubah sepucat kertas. Di samping mereka, Tuan Toretto hanya bisa menatap tanpa berkedip, kehilangan kata-kata untuk pertama kali dalam hidupnya.Sementara itu, ketiga Tuan Muda Toretto hanya menyilangkan tangan dengan senyum tipis yang sarat akan sindiran."Kena batunya," bisik Adrian pelan, nyaris tak terdengar di antara riuhnya tepuk tangan."Mungkin ini pelajaran berharga buat Mommy supaya nggak terlalu sombong dan memandang orang sebelah mata," timpal Lucas dengan nada santai yang menusuk.Leon tidak bersuara, namun tatapan matanya yang terkunci pada Rosella memancarkan rasa bangga yang luar biasa.Dari atas podium, Rosella melangkah anggun menuruni anak tangga, tangannya masih melingkar nyaman di lengan Robin. Dengan langkah tenang dan berwibawa, mereka berdua berjalan membelah kerumunan tamu, langsung menuju ke arah meja kel
Melihat Rosella menyeret koper kecilnya melintasi halaman, Nyonya Toretto dan Laura berdiri di teras dengan senyum puas yang menghiasi bibir mereka. Bagi Laura, kepergian Rosella adalah kemenangan mutlak—hambatan terbesarnya untuk mendapatkan Leon akhirnya menyingkir dengan sendirinya."Akhirnya hama itu sadar posisi juga," gumam Laura sembari menyesap minumannya, matanya berbinar senang.Sementara itu, Rosella melangkah santai menuju gerbang luar mansion. Di sana, sebuah mobil mewah berwarna hitam legam sudah menunggu. Robin turun dari kursi kemudi, langsung menyambut adiknya dengan pelukan hangat sebelum membantunya memasukkan koper ke bagasi.Mereka bergegas membelah jalanan menuju bandara untuk mengejar penerbangan jet pribadi langsung ke Liverpool.Setibanya di tanah kelahiran mereka di Liverpool, sebuah mobil klasik menjemput mereka menuju Mansion Anderson. Begitu menginjakkan kaki di halaman mansion, Ibu Rosella yang kini ingatannya telah pulih seutuhnya langsung menitikka
Pintu kamar Leon bahkan belum tertutup rapat saat interogasi dimulai. Suasana di dalam langsung terasa gerah, meski AC menyala maksimal."Bisa jelasin maksudnya peluk-pelukan sama ciuman sama Robin tadi?" Leon berdiri tegak, tangannya terbenam di saku celana, tapi rahangnya yang mengeras menunjukkan dia sedang menahan ledakan.Rosella baru saja mau membuka mulut, tapi Lucas sudah menyambar dari sisi lain."Iya. Aku tahu dia kakak kandung kamu," suara Lucas lembut tapi penuh penekanan, "tapi ya tetap jaga batasan, sayang. Nggak perlu sampai nempel banget gitu, kan?""Kalau kamu mendadak dibawa kabur sama dia gimana?" Adrian yang biasanya paling santai, kini duduk di kursi sudut dengan tangan bersedekap, wajahnya sangat serius seolah sedang membahas krisis negara.Rosella menatap ketiganya bergantian. Satu putaran penuh. Dia mengembuskan nafas panjang, bukan karena takut, tapi karena merasa mereka sangat kekanak-kanakan."Kalian ini kenapa sih, Tuan-Tuan?" Rosella bertanya dengan
Keesokan paginya, Angel tiba di kampus dengan satu misi. Ponselnya sudah disetel dalam mode kamera siaga tinggi. Dia mengambil posisi di bangku koridor yang paling strategis, bersembunyi di balik pilar besar yang memberinya pandangan luas ke lorong utama tanpa terlihat mencolok.Tak selang lama Robin muncul dari arah parkiran. Langkahnya tegap, mengenakan kemeja yang pas di tubuh, memegang beberapa berkas. Beberapa menit kemudian, Rosella muncul dari arah gerbang.Keduanya berpapasan di persimpangan lorong. Angel menahan napas, jarinya sudah menempel di layar. Namun, mereka hanya bicara singkat dengan jarak yang sopan. "Sial, kaku banget," gumam Angel kesal. Dia butuh sesuatu yang lebih panas untuk menghancurkan Rosella.Momen yang dia tunggu akhirnya tiba saat jam istirahat, Angel membuntuti mereka hingga ke area taman belakang yang sepi, dekat laboratorium tua. Di sana, tidak ada mahasiswa lain. Hanya ada Robin dan Rosella.Robin tiba-tiba menarik tangan Rosella, menghenti
Sore itu, Angel berdiri di depan gerbang megah mansion Toretto. Ponselnya digenggam erat, jantungnya bertalu lebih kencang.Setelah ayahnya menghubungi seseorang yang bisa dibilang orang dalam, gerbang besi itu terbuka perlahan. Angel melangkah masuk, memaksakan diri tampil elegan dan percaya diri, meski di balik topeng itu dia merasa seperti sedang berjudi dengan nasib.Nyonya Toretto menyambutnya di ruang tamu yang dingin. Di sana, Laura sudah duduk manis dengan secangkir teh di tangan, terlihat seperti bagian dari perabot mewah rumah itu."Anak Pak Rektor, kan?" Nyonya Toretto langsung mengenali, tatapannya tajam menilai."Benar, Nyonya," Angel mengangguk sopan. "Maaf mengganggu tanpa janji. Ada sesuatu yang menurut saya sangat penting untuk Nyonya ketahui.""Duduklah."Angel duduk di kursi seberang, meletakkan tas di pangkuan untuk menutupi tangannya yang sedikit gemetar."Ini soal Rosella," ucapnya tanpa basa-basi.Nyonya Toretto meletakkan cangkirnya dengan denting kec
Rosella menghembuskan nafas panjang, mencoba membuang beban di dadanya. Dia menatap Ane yang masih mematung dengan ekspresi karambol antara syok, bingung, dan rasa ingin tahu yang meledak-ledak."Duduk dulu, Ane," cetus Rosella pelan."Rose, aku nggak bercanda. Aku lihat sendiri," suara Ane tertahan, setengah berbisik tapi penuh penekanan. "Kamu sama Pak Robin... kalian panggil sayang, cium pipi, itu nggak mungkin cuma—""Dia kakak kandungku, Ane." Potong Rosella sebelum Ane melanjutkan kalimatnya. Dunia seolah berhenti berputar bagi Ane. Bibirnya sempat terbuka, namun tak ada satu kata pun yang lolos. Otaknya tampak sedang bekerja keras menyambungkan kabel-kabel informasi yang barusan putus."Apa?" tanya Ane akhirnya dengan suara hampa."Dia kakak kandungku," ulang Rosella, kali ini lebih tegas namun lembut.Ane menunjuk ke ujung lorong, tempat Robin baru saja menghilang. "Pak Robin? Dosen baru yang bikin seisi kampus heboh itu? Yang jadi wallpaper HP setengah mahasiswi di s
Rosella mematung mendengar ucapan terima kasih dari Leon.Seorang Leon berterima kasih padanya?Pria yang selama ini hanya menatapnya dengan dingin, sekarang mengucapkan terima kasih dengan nada yang berbeda? Ditambah sebuah kecupan hangat? Rosella tidak tahu harus berkata apa. Tubuhnya masih lema
Lucas tersenyum miring, mencoba mengabaikan pikirannya, lalu dia menggenggam tangan Rosella lebih erat. Suasana hening menyelimuti mereka hingga dia melihat Rosella yang kurang tak nyaman dengan pakaian yang dikenakan. “Kamu kenapa Rosella?” Tanyanya. “Tidak ada-apa Tuan.” jawab Rosella kikuk.
Rosella terdiam, wajahnya memerah mendengar pertanyaan Adrian yang begitu blak-blakan.Mulutnya ingin menolak, dan mengatakan tidakTapi tubuhnya menginginkan hal lain, tanpa sadar, kepalanya mengangguk pelan nyaris tak terlihat. Senyum tipis terukir di bibirnya, senyum yang penuh kemenangan sekal
"Lucas, tidak perlu. Kamu yang memeriksa Rosella," ucap Leon sambil menyeka bibirnya dengan serbet dengan tatapan yang tetap datar.Lucas terkejut mendengar penuturan Leon, "Kenapa? Aku dokter, Kak. Sudah tugas ku memeriksa…""Aku sudah meminta kepala pelayan memanggil dokter," potong Leon dengan n







