ログインDi aula penobatan yang masih dipenuhi gemerlap lampu kristal dan tawa para bangsawan, udara di sekitar meja keluarga Toretto justru terasa mencekam. Nyonya Toretto merasa seolah-olah setiap pasang mata di ruangan itu sedang menatap dan menertawakan kebodohannya. Ditambah lagi dengan senyum tipis ketiga putranya yang tampak begitu puas, dadanya terasa sesak karena amarah dan malu yang bercampur aduk.Tanpa pamit kepada William Anderson maupun Rosella, Nyonya Toretto menyambar tas tangannya dengan kasar."Kita pulang. Sekarang," desis Nyonya Toretto, suaranya bergetar menahan luapan emosi.Laura yang wajahnya sudah sembap hanya bisa menunduk dalam-dalam, mengekor di belakang Nyonya Toretto dengan langkah terburu-buru. Tuan Toretto, dengan rahang mengeras karena harus menanggung malu akibat ulah istrinya, ikut melangkah lebar meninggalkan aula pesta jauh sebelum acara itu usai.Kepergian mereka yang tergesa-gesa tidak luput dari perhatian Leon, Adrian, dan Lucas. Namun, ketiga Tuan M
Nyonya dan Tuan Toretto membeku di tempat mereka berdiri. Napas Nyonya Toretto memburu, sementara wajah Laura sudah kehilangan seluruh rona merahnya, berubah sepucat kertas. Di samping mereka, Tuan Toretto hanya bisa menatap tanpa berkedip, kehilangan kata-kata untuk pertama kali dalam hidupnya.Sementara itu, ketiga Tuan Muda Toretto hanya menyilangkan tangan dengan senyum tipis yang sarat akan sindiran."Kena batunya," bisik Adrian pelan, nyaris tak terdengar di antara riuhnya tepuk tangan."Mungkin ini pelajaran berharga buat Mommy supaya nggak terlalu sombong dan memandang orang sebelah mata," timpal Lucas dengan nada santai yang menusuk.Leon tidak bersuara, namun tatapan matanya yang terkunci pada Rosella memancarkan rasa bangga yang luar biasa.Dari atas podium, Rosella melangkah anggun menuruni anak tangga, tangannya masih melingkar nyaman di lengan Robin. Dengan langkah tenang dan berwibawa, mereka berdua berjalan membelah kerumunan tamu, langsung menuju ke arah meja kel
Melihat Rosella menyeret koper kecilnya melintasi halaman, Nyonya Toretto dan Laura berdiri di teras dengan senyum puas yang menghiasi bibir mereka. Bagi Laura, kepergian Rosella adalah kemenangan mutlak—hambatan terbesarnya untuk mendapatkan Leon akhirnya menyingkir dengan sendirinya."Akhirnya hama itu sadar posisi juga," gumam Laura sembari menyesap minumannya, matanya berbinar senang.Sementara itu, Rosella melangkah santai menuju gerbang luar mansion. Di sana, sebuah mobil mewah berwarna hitam legam sudah menunggu. Robin turun dari kursi kemudi, langsung menyambut adiknya dengan pelukan hangat sebelum membantunya memasukkan koper ke bagasi.Mereka bergegas membelah jalanan menuju bandara untuk mengejar penerbangan jet pribadi langsung ke Liverpool.Setibanya di tanah kelahiran mereka di Liverpool, sebuah mobil klasik menjemput mereka menuju Mansion Anderson. Begitu menginjakkan kaki di halaman mansion, Ibu Rosella yang kini ingatannya telah pulih seutuhnya langsung menitikka
Pintu kamar Leon bahkan belum tertutup rapat saat interogasi dimulai. Suasana di dalam langsung terasa gerah, meski AC menyala maksimal."Bisa jelasin maksudnya peluk-pelukan sama ciuman sama Robin tadi?" Leon berdiri tegak, tangannya terbenam di saku celana, tapi rahangnya yang mengeras menunjukkan dia sedang menahan ledakan.Rosella baru saja mau membuka mulut, tapi Lucas sudah menyambar dari sisi lain."Iya. Aku tahu dia kakak kandung kamu," suara Lucas lembut tapi penuh penekanan, "tapi ya tetap jaga batasan, sayang. Nggak perlu sampai nempel banget gitu, kan?""Kalau kamu mendadak dibawa kabur sama dia gimana?" Adrian yang biasanya paling santai, kini duduk di kursi sudut dengan tangan bersedekap, wajahnya sangat serius seolah sedang membahas krisis negara.Rosella menatap ketiganya bergantian. Satu putaran penuh. Dia mengembuskan nafas panjang, bukan karena takut, tapi karena merasa mereka sangat kekanak-kanakan."Kalian ini kenapa sih, Tuan-Tuan?" Rosella bertanya dengan
Keesokan paginya, Angel tiba di kampus dengan satu misi. Ponselnya sudah disetel dalam mode kamera siaga tinggi. Dia mengambil posisi di bangku koridor yang paling strategis, bersembunyi di balik pilar besar yang memberinya pandangan luas ke lorong utama tanpa terlihat mencolok.Tak selang lama Robin muncul dari arah parkiran. Langkahnya tegap, mengenakan kemeja yang pas di tubuh, memegang beberapa berkas. Beberapa menit kemudian, Rosella muncul dari arah gerbang.Keduanya berpapasan di persimpangan lorong. Angel menahan napas, jarinya sudah menempel di layar. Namun, mereka hanya bicara singkat dengan jarak yang sopan. "Sial, kaku banget," gumam Angel kesal. Dia butuh sesuatu yang lebih panas untuk menghancurkan Rosella.Momen yang dia tunggu akhirnya tiba saat jam istirahat, Angel membuntuti mereka hingga ke area taman belakang yang sepi, dekat laboratorium tua. Di sana, tidak ada mahasiswa lain. Hanya ada Robin dan Rosella.Robin tiba-tiba menarik tangan Rosella, menghenti
Sore itu, Angel berdiri di depan gerbang megah mansion Toretto. Ponselnya digenggam erat, jantungnya bertalu lebih kencang.Setelah ayahnya menghubungi seseorang yang bisa dibilang orang dalam, gerbang besi itu terbuka perlahan. Angel melangkah masuk, memaksakan diri tampil elegan dan percaya diri, meski di balik topeng itu dia merasa seperti sedang berjudi dengan nasib.Nyonya Toretto menyambutnya di ruang tamu yang dingin. Di sana, Laura sudah duduk manis dengan secangkir teh di tangan, terlihat seperti bagian dari perabot mewah rumah itu."Anak Pak Rektor, kan?" Nyonya Toretto langsung mengenali, tatapannya tajam menilai."Benar, Nyonya," Angel mengangguk sopan. "Maaf mengganggu tanpa janji. Ada sesuatu yang menurut saya sangat penting untuk Nyonya ketahui.""Duduklah."Angel duduk di kursi seberang, meletakkan tas di pangkuan untuk menutupi tangannya yang sedikit gemetar."Ini soal Rosella," ucapnya tanpa basa-basi.Nyonya Toretto meletakkan cangkirnya dengan denting kec
Rosella terdiam, jantungnya berdebar sangat kencang mendengar perkataan Adrian. Kakinya seolah tidak mau bergerak, tapi tangan Adrian yang menariknya dengan lembut tapi pasti membuatnya mengikuti. Adrian menutup pintu, lalu berbalik menatap Rosella yang berdiri dengan tubuh gemetar."Kamu takut?"
Rosella menggeleng pelan, tangannya mencengkeram bahu Lucas dengan erat. "Saya takut."Lucas tertawa lembut mendengar jawaban jujur itu. Tangannya berhenti bergerak, menatap wajah Rosella yang memerah dengan tatapan penuh kelembutan."Takut kenapa, sayang?" tanyanya sambil mengusap pipi Rosella den
Rosella kembali ke kamar Leon dengan langkah yang terasa berat. Tangannya memegang obat-obatan yang diberikan Lucas, pikirannya masih berkecamuk dengan apa yang baru saja terjadi. Lucas memeluknya, mengaku cemburu dan mengklaimnya untuk sore ini. Sementara pagi tadi, Leon juga melakukan hal yang
Di kamar mandi, Adrian berdiri di bawah shower dengan air dingin mengalir membasahi tubuhnya.Pikirannya tidak pada air dingin ini tapi melayang pada Rosella.Di tengah kesulitan menjadi budak tapi Rosella masih ingin belajar, dan matanya sangat berbinar melihat buku dan Adrian tersenyum tipis meli







