MasukMendengar ucapan Rosella yang menggantung, Adrian seketika menghentikan gerakannya yang hendak meraih kamera. Ia menoleh perlahan, menatap lekat-lekat gadis yang saat ini sedang tenggelam di balik jaket gunung besarnya."Jadi apa, Rose?" tanya Adrian rendah, sepasang matanya mengunci pandangan Rosella.Bukannya menjawab, Rosella justru menundukkan kepala sedalam-dalamnya. Kedua pipinya sudah semerah tomat, dan secara refleks, gadis itu menggigit bibir bawahnya, sebuah kebiasaan yang selalu ia lakukan setiap kali merasa gugup atau terdesak oleh pesona Adrian.Melihat belahan bibir ranum yang digigit kecil itu, pertahanan Adrian yang semula sekokoh dinding batu tebing runtuh dalam satu kedipan mata. Akal sehat akademisnya menguap begitu saja. Hasrat posesif dan gairah yang sempat ia tekan sejak tadi mendadak meledak hebat di dalam dadanya.Tanpa babibu lagi, Adrian mencengkeram lembut rahang Rosella, mengangkat wajah gadis itu, dan langsung menyambar bibir manisnya.Cup.Ciuman it
Mendengar ucapan yang keluar dari bibir pria bermasker itu, senyum licik di wajah Sarah seketika membeku. Ia melongo kaku, menatap Adrian dengan tatapan tidak percaya."T-Tuan Pengawas mau ikut mendampinginya?" tanya Sarah terbata-bata, merutuki kebodohannya sendiri di dalam hati. Rencana awalnya adalah mengasingkan Rosella agar gadis itu menderita sendirian di tebing yang curam, bukan malah memberikan kesempatan emas dikawal secara eksklusif oleh pejabat pusat."Benar," jawab Adrian pendek, suaranya terdengar mutlak tanpa bantahan. "Sebagai perwakilan pusat, saya bertanggung jawab penuh atas keselamatan seluruh peserta magang. Mengirim anak magang ke medan berbahaya sendirian adalah pelanggaran prosedur keselamatan yang fatal. Jadi, saya sendiri yang akan turun ke lapangan untuk mengawasinya."Tanpa menunggu balasan dari Sarah yang masih mematung menahan dongkol, Adrian langsung berbalik menatap Rosella. "Ayo jalan. Jangan membuang waktu."Rosella mengangguk patuh sembari menyemb
Adrian kembali membetulkan letak kupluk dan kacamata hitamnya, memastikan penyamarannya kembali sempurna sebelum mereka keluar dari jalur pintas. Begitu vegetasi hutan mulai agak terbuka, sayup-sayup terdengar suara tawa dan denting alat makan dari kejauhan. Mereka telah tiba di tempat peristirahatan..Rombongan anak magang dan para senior sedang duduk beristirahat di sebuah area landai sembari menikmati makan siang mereka. Kehadiran Rosella yang tiba-tiba dan tidak sendirian seketika menghentikan aktivitas di sana. Semua mata langsung tertuju pada mereka.Sarah, yang sedang memegang botol air minum, langsung berdiri dengan mata menyipit tajam. Wajahnya yang semula puas karena mengira Rosella tertinggal jauh di bawah, kini berubah menjadi masam dan penuh rasa tidak suka."Wah, wah. Lihat siapa yang baru sampai," sindir Sarah dengan suara yang sengaja dikeraskan agar didengar semua orang. Ia melangkah mendekati Rosella dengan dagu terangkat angkuh."Hebat sekali ya kamu, Rosella. A
Mendengar pertanyaan skakmat yang keluar dari bibir Rosella, langkah kaki Adrian seketika terkunci rapat di atas tanah. Tubuh tegapnya menegang sempurna di balik jaket gunung hitamnya.Dia perlahan membalikkan badannya, menatap Rosella yang kini berdiri beberapa langkah di bawahnya dengan tangan melipat di dada dan senyuman penuh kemenangan. Sepasang mata indah gadis itu berkilat jenaka, memberi tahu Adrian bahwa benteng penyamaran akademisnya sudah runtuh total. Adrian terdiam selama beberapa detik. Merasa tidak ada gunanya lagi bersandiwara di depan gadis secerdas Rosella, pria itu mengembuskan napas panjang yang terasa berat.Dengan satu gerakan pasrah, Adrian melepas kacamata hitamnya, lalu menarik masker kain yang menutupi wajahnya ke bawah dagu. Wajah tampan dengan rahang tegas yang selama satu minggu ini dirindukan Rosella akhirnya terpampang nyata, lengkap dengan gurat salah tingkah yang sangat jarang diperlihatkan oleh seorang Tuan Muda Kedua Toretto."Bagaimana kamu bis
Dengan terburu-buru, Rosella langsung melompat keluar dari kantong tidurnya. Ia mengganti pakaian lapangannya secepat kilat, menyikat gigi dengan tergesa-gesa, lalu menggendong tas ransel besar berisi peralatan camping-nya yang cukup berat. Pikirannya benar-benar kalut. Bagaimana bisa dia, yang selalu disiplin, mendadak tertidur seperti orang mati di hari sepenting ini? "Apa yang sebenarnya terjadi denganku semalam?" gumamnya pelan. Begitu keluar dari tenda dengan napas memburu, Rosella langsung dihadang oleh Pak Jason yang sudah menunggunya di area tengah perkemahan yang mulai sepi. "Nona, ah, maksud saya, Rosella!" panggil Pak Jason, buru-buru meralat sebutannya karena teringat ancaman Adrian semalam. "Kamu sudah bangun?" "Maafkan saya, Pak Jason! Saya benar-benar minta maaf karena kesiangan!" ucap Rosella dengan tubuh membungkuk berkali-kali, wajahnya memerah karena malu sekaligus panik. "Saya akan langsung berjalan menyusul rombongan sekarang juga!" "Tunggu, tunggu, janga
Belum sempat Sarah memecahkan teka-teki itu, tirai tenda utama terbuka. Pak Jason melangkah keluar terlebih dahulu dengan ekspresi wajah yang dipaksakan setenang mungkin, disusul oleh Adrian yang sudah kembali mengenakan masker hitam dan kupluknya, berjalan angkuh di belakang sang Direktur. "Semuanya, harap tenang dan dengarkan saya!" seru Pak Jason dengan suara lantang, mengumpulkan kembali perhatian seluruh staf dan anak magang yang masih berdiri mengerumuni tenda Rosella. Suasana seketika hening. Sarah buru-buru meninggalkan Thomas dan berdiri di barisan depan, berharap Pak Jason akan tetap menjatuhkan hukuman pada Rosella atas keberadaan pria misterius tersebut. "Saya ingin meluruskan kesalahpahaman yang baru saja terjadi agar tidak menjadi gosip miring di perkebunan kita," ujar Pak Jason, berdehem sejenak untuk menutupi kegugupannya. "Pria di sebelah saya ini adalah perwakilan tim pengawas eksternal dari komite botani pusat yang sengaja dikirim untuk mendampingi riset kali
Rosella mematung mendengar ucapan terima kasih dari Leon.Seorang Leon berterima kasih padanya?Pria yang selama ini hanya menatapnya dengan dingin, sekarang mengucapkan terima kasih dengan nada yang berbeda? Ditambah sebuah kecupan hangat? Rosella tidak tahu harus berkata apa. Tubuhnya masih lema
Lucas tersenyum miring, mencoba mengabaikan pikirannya, lalu dia menggenggam tangan Rosella lebih erat. Suasana hening menyelimuti mereka hingga dia melihat Rosella yang kurang tak nyaman dengan pakaian yang dikenakan. “Kamu kenapa Rosella?” Tanyanya. “Tidak ada-apa Tuan.” jawab Rosella kikuk.
Rosella terdiam, wajahnya memerah mendengar pertanyaan Adrian yang begitu blak-blakan.Mulutnya ingin menolak, dan mengatakan tidakTapi tubuhnya menginginkan hal lain, tanpa sadar, kepalanya mengangguk pelan nyaris tak terlihat. Senyum tipis terukir di bibirnya, senyum yang penuh kemenangan sekal
"Lucas, tidak perlu. Kamu yang memeriksa Rosella," ucap Leon sambil menyeka bibirnya dengan serbet dengan tatapan yang tetap datar.Lucas terkejut mendengar penuturan Leon, "Kenapa? Aku dokter, Kak. Sudah tugas ku memeriksa…""Aku sudah meminta kepala pelayan memanggil dokter," potong Leon dengan n







