ANMELDENRosella tidur lebih nyenyak di ranjang Leon yang besar itu.Kasur ukuran super king, berbahan latex seharga mobil. Tidak ada mimpi, tidak ada suara, hanya gelap yang tenang sampai cahaya pagi masuk dari celah tirai tebal kamar Leon.Dia membuka mata, menatap langit-langit yang lebih tinggi dari kamarnya sendiri, dan butuh dua detik untuk mengingat di mana dia berada.Rosella duduk, melihat ke sisi ranjang yang kosong, Leon belum kembali.Di meja makan pagi itu Leon tidak ada di kursinya, Rosella duduk dengan teh di tangan, menatap kursi kosong Leon dengan perasaan yang terus berputar di dadanya. "Kak Leon harus keluar kota." Lucas muncul dari arah tangga, sudah rapi dengan kemejanya. "Tadi malam pertemuan dengan klien Edinburgh memutuskan ada kunjungan langsung ke site proyek, dia tidak sempat kasih kabar.” Rosella mengangguk, melepaskan nafas yang ternyata sudah ditahan."Kapan pulang?""Dua hari lagi." Lucas menarik kursinya lalu mengambil cangkir kopi. "Mungkin tiga hari."Rosel
Makan malam di mansion berjalan seperti biasa, Tapi tidak dengan Leon, dia duduk di kepala meja dengan ekspresi yang berbeda dari hari-hari sebelumnya, ada sesuatu di sudut bibirnya yang naik turun tanpa alasan yang jelas, matanya sesekali melirik ke arah Rosella yang duduk di kursinya dengan sangat tenang.Adrian mengangkat matanya dari piringnya, menatap Leon sebentar, lalu kembali makan.Lucas yang duduk di sisi lain melihat ke Leon, lalu ke Adrian, lalu ke Rosella, lalu kembali ke sup di hadapannya dengan ekspresi yang tidak berkata apapun.Sendok Leon berhenti di udara saat dia mengingat sesuatu dan senyum itu muncul lagi tanpa bisa dikontrol."Kak Leon kenapa?" Lucas bersuara akhirnya.Leon mengedipkan matanya, kembali ke makanannya. "Tidak apa-apa."Adrian menyesap kopinya, menatap kakaknya dari atas cangkir dengan cara seseorang yang sudah membaca situasi tapi memilih menyimpan bacaannya sendiri.Rosella makan dengan tenang, tidak menoleh ke arah Leon satu kali pun, tapi teli
Mobil mewah milik Leon Toretto itu meluncur membelah jalanan kota dengan kecepatan yang stabil. Di dalam kabin, Rosella duduk terpaku sambil menatap keluar jendela dengan tatapan kosong. Dia tidak berani melirik pria yang duduk di sampingnya dengan aura yang sangat mengintimidasi."Kenapa diam saja?" Leon bersuara dengan nada dingin yang menggetarkan udara di dalam mobil."Saya lelah, Tuan." Jawab Rosella. Suasana menjadi hening, hingga pertanyaan Rosella mencuat. “Tuan katanya minggu depan Anda datang ke kampus lagi, apa iya?” Leon mengangguk, “Kamu tahu?” “Kabar burung lagi, anda ngapain ke kampus Tuan?” Tanya Rosella. Sebenarnya tujuan Leon ke kampus tentu ingin bertemu dengan Rosella, ingin memantau kebun anak pertanian adalah hanya alasan saja. Leon membawa Rosella ke dalam dekapannya, dia mengecup pucuk kepala budaknya itu dengan lembut. “Aku adalah salah pemilik kampus itu, jadi wajar kalau datang memantau yang bisa dipantau.” Jawabnya. Rosella tersenyum, dia hampir s
Ane terus memuji Rosella, wanita itu sungguh iri dengan nasib mujur sahabatnya. “Oh Rosella.” Ujarnya sambil tersenyum senang. “Kamu bahagia sekali sih Ane.” Protes Rosella. “Jelas dong, aku bahagia buat kamu Rose, kamu benar-benar wanita paling beruntung di seluruh Inggris." Ane berbisik dengan nada yang sangat antusias.“Toretto, siapa yang tidak mau.” Lanjutnya. Rosella hanya bisa menarik sudut bibirnya dengan canggung. Dia menyesap teh melati hangatnya untuk membasahi tenggorokan yang terasa kering seketika. Andaikan Ane tahu apa yang dia alami. Huft. "Tidak seperti yang kamu bayangkan, Ane." Rosella akhirnya bersuara pelan."Jangan merendah begitu, Rose." Ane memotong dengan cepat. "Toretto adalah keluarga terkaya, Pak Adrian adalah pewaris salah satu pewaris. Dia tampan, pintar, paket komplit.” Rosella menatap Ane, membayangkan bagaimana reaksi Ane jika tahu bahwa Adrian hanyalah sepertiga dari beban yang harus ditanggung setiap malam.Toretto bersaudara bukan sekadar
Adrian bak bayi yang kehausan dia terus menghisap dada Rosella dengan kuat. Rosella yang tak tahan terus mendesah tak peduli lagi kalo ada yang mendengar. Puas dengan dada Adrian menunggingkan Rosella di meja dan membuka resleting celananya. Dia memasukkan kejantanannya ke dalam lubang kenikmatan. Aaahhhhhh Suaranya menggema, saat miliknya masuk ke dalam sarang hangat Rosella. "Adrian, ini kampus bagaimana...." Kata Rosella disela desahnya. "Tenang saja." Potong Adrian. Seolah di kamar hotel atau kamarnya, Adrian mulai bergerak pelan, dia menikmati setiap jepitan yang Rosella berikan. Beberapa waktu kemudian Rosella duduk di kursi seberang meja Adrian, merapikan bajunya, rambutnya diikat ulang dengan cepat. Adrian sudah kembali ke ekspresi dosennya, sangat tenang, sangat biasa, seperti tidak ada yang terjadi dalam satu jam terakhir. "Saya ke toilet dulu Tuan, mau bersih-bersih." Rosella berdiri, menaikkan tasnya di bahu. "Aku juga." Adrian berdiri, mengambil ja
Pagi itu kursi Leon dan Lucas sudah kosong sebelum Rosella selesai menghabiskan sarapannya. Leon berangkat lebih awal karena ada meeting, Lucas menyusul tidak lama setelah itu karena shift pagi di rumah sakit dimulai jam tujuh.Tinggal Rosella dan Adrian di meja makan.Rosella merapikan piring-piring yang sudah kosong, hendak membawanya ke dapur, ketika Adrian bersuara dari kepalanya meja."Berangkat bersamaku."Rosella menoleh. "Baik, Tuan."Di dalam mobil, suasananya lebih sunyi dari biasanya.Sopir mengemudi dengan tenang, Adrian di kursi belakang dengan ponsel di tangan, Rosella di sisinya dengan tas di pangkuan.Beberapa menit berlalu sebelum Rosella bersuara."Tuan Adrian, soal semalam." Dia memulai dengan suara pelan. "Saya ingin menjelaskan, saya tidak bermaksud mengabaikan Tuan, saya lupa dan janji dengan Tuan Lucas.” Dia menoleh takut, Rosella tahu dia yang salah. "Aku mengerti." Adrian memotong, tidak mengangkat matanya dari ponselnya.Rosella menatapnya. "Tuan tidak mara
Rosella kembali ke kamar Leon dengan langkah yang terasa berat. Tangannya memegang obat-obatan yang diberikan Lucas, pikirannya masih berkecamuk dengan apa yang baru saja terjadi. Lucas memeluknya, mengaku cemburu dan mengklaimnya untuk sore ini. Sementara pagi tadi, Leon juga melakukan hal yang
Malam itu, ruang makan semua Tuan Muda sudah duduk di kursinya masing-masing. Leon duduk di ujung meja seperti biasa, meski wajahnya masih terlihat sedikit pucat dari demam yang belum sepenuhnya hilang. Tapi dia bersikeras untuk tidak melewatkan makan malam, meskipun Lucas menyarankan dia untuk is
Rosella mematung mendengar ucapan terima kasih dari Leon.Seorang Leon berterima kasih padanya?Pria yang selama ini hanya menatapnya dengan dingin, sekarang mengucapkan terima kasih dengan nada yang berbeda? Ditambah sebuah kecupan hangat? Rosella tidak tahu harus berkata apa. Tubuhnya masih lema
Rosella mengangguk di balik tangannya yang menutupi wajah."Iya, dia tidak kasar seperti biasanya. Tuan Leon memperlakukan saya dengan lembut. Dan saya benci diri saya karena saya menikmatinya, tubuh saya merespons sentuhan Tuan Leon, sentuhan Tuan Adrian, dan bahkan sentuhan Anda Tuan Lucas. Saya







