LOGINSiang itu setelah jam kedua selesai, Rosella akan ke kantin, dia sudah membayangkan makan mie pedas kesukaannya. Tapi baru saja ingin melangkah keluar kelas, ada suara yang menghentikan langkahnya. "Rosella, sebentar."Robin berdiri dengan buku di tangan, rambutnya sedikit berantakan. Rosella berhenti lalu menghadap Robin. "Ada apa, Pak?" Tanyanya. "Ikut aku ke kantor.” Jawabnya.Tanpa sadar tangan Rosella memegang perutnya sendiri, mie pedas hilang sudah digantikan dengan larangan-larangan Tuan Muda. "Ada beberapa poin dari materi tadi yang ingin aku bahas lebih dalam, sepertinya kamu bisa mengikuti kalau dijelaskan lebih jauh." Jelas Robin. Rosella masih tidak bergerak.Dibenaknya, suara Leon yang sangat datar dari malam sebelumnya masih terdengar jelas. ‘Jawab seperlunya’. Dan di sebelah suara itu ada wajah Adrian yang bahkan sudah mengirim orang untuk menggali informasi tentang pria yang berdiri di depannya sekarang."Pak, apakah tidak bisa dibahas di kelas saja?""Tidak se
Orang Adrian mengirim data Robin ke ponsel Adrian sore itu. Adrian yang sudah menunggu segera membuka data itu. Nama lengkap, Robin Parker. Berasal dari keluarga sederhana di Manchester, ayah penjaga taman bermain, ibu seorang ibu rumah tangga.Datang ke London sekitar seminggu hingga dua minggu lalu, langsung melamar sebagai dosen dan diterima.Adrian membaca data itu dua kali kemudian meletakkan ponselnya di meja.Robin Parker dari Manchester.Tapi wajah pria itu, dan nama Robin, masih menggantung di benaknya seperti sesuatu yang hampir diingat tapi terus tergelincir sebelum bisa digenggam.Keluarga sederhana dari Manchester, tidak ada kaitan dengan Anderson Group, tapi wajahnya? Adrian menggeleng memilih mengabaikannya karena yang penting sekarang adalah bagaimana cara agar Rosella tidak dekat-dekat dengan pria itu. Malam itu Adrian menemukan Rosella di perpustakaannya, gadis itu duduk dengan buku terbuka dan pensil di tangan.Dengan pelan Adrian menutup pintu di belakangnya."
Kelas selesai lebih cepat dari jadwal, Robin menutup materinya dengan tenang, mempersilakan mahasiswanya keluar, tapi matanya mengikuti satu orang yang packing paling lambat di barisan tengah.Rosella memasukkan bukunya ke dalam tas tanpa terburu-buru.Ane sudah berdiri di pintu, melambaikan tangan. "Aku tunggu di kantin ya."Rosella mengangguk.Ketika dia keluar ke lorong, langkah kaki di belakangnya terdengar dan berhenti tepat di sisinya."Rosella."Robin berdiri dengan berkas di tangannya, senyumnya tipis dan tidak dibuat-buat."Penjelasan kamu sangat bagus, mudah dimengerti juga." Katanya.Rosella mengangguk. "Terima kasih, Pak.""Apa kamu mahasiswa beasiswa?” Tanya Robin "Iya Pak." Rosella menjawab singkat, sedikit memiringkan tubuhnya ke arah yang berlawanan tanpa dia sadari.Robin memperhatikan itu tapi tidak berkomentar."Kamu asli London?" Rosella menatapnya sebentar. Pertanyaan yang terlalu personal untuk percakapan pertama dengan dosen baru. Tapi tidak ada nada yang sala
Leon menatapnya beberapa detik tanpa berkata apa-apa.Lalu dia mengambil berkas tipis dari meja, membukanya, dan berkata dengan sangat tenang, "Tidak perlu minta maaf untuk hal yang benar Rosella, aku tahu kamu cemburu.” Rosella mendongak, menatap Leon dengan kesal. “Tidak, hanya kesal saja.” Cicitnya melemas. Leon sudah menatap berkasnya, Adrian masih menyimpan senyumnya sedangkan Lucas meletakkan gelasnya, bangkit, dan duduk lebih dekat ke Rosella dari posisi sebelumnya."Tidurlah kamu terlihat lelah dari pagi." Bisiknya "Saya lelah karena siapa.” Sahut Rosella geram. Lucas menatapnya dengan cara yang sangat tenang tapi tak bisa menyembunyikan rasa gemasnya terhadap Rosella. Pria itu memeluk Rosella membuat Adrian dan Leon kini ikut kesal. “Lucas apa yang kamu lakukan!” Teriak Leon. "Memeluk wanitaku.” Lucas semakin mengeratkan pelukannya. “Lalu kami ini kamu anggap apa?” Adrian tak terima. Sebelum mereka berebut lebih jauh, Rosella pamit untuk tidur terlebih dahulu. “Say
Hari ini adalah hari jadi kampus, semua mahasiswa, dosen dan lainnya sibuk untuk acara yang akan digelar. Rosella dan Ane duduk di bangku koridor, menatap persiapan acara. “Nanti kekasih kamu mengisi acara Rose.” Goda Ane sambil tertawa. “Memangnya kenapa?” Sahut Rosella malas. “Ya kan senang gitu kekasihnya datang ke kampus ngisi acara.” Wanita itu ngomong sendiri. Sementara Rosella hanya diam seolah tak menggubris ucapan Ane. Tadi pagi Rosella menemani Leon mandi, tak hanya mandi dia digempur sekalian di kamar mandi, setelah itu Rosella keluar, Lucas menarik tangan Rosella, pria yang selalu lembut tapi entah kenapa pagi itu menjadi sedikit liar, dan dia dijadikan tempat pembuangan benih oleh dokter tampan itu. Tak selesai disitu, setelah Leon dan Lucas berangkat, Adrian meminta Rosella naik ke perpustakaan untuk mengambil buku, tapi disana dia malah mendapatkan serangan dadakan. Melayani 3 pria sekaligus pagi ini, benar-benar membuat Rosella tak bertenaga. “Aku lelah, aku ma
Leon dan Adrian saling pandang, duet? Kalau soal proyek atau ilmu bisnis mereka ahlinya tapi kalau duet? Tantangan itu tergantung di udara ruangan karaoke yang lampu warna-warninya terus berputar tidak peduli dengan drama yang sedang terjadi.Lucas yang dari tadi duduk di sofa menonton semuanya dengan sangat tenang tiba-tiba berdiri, mengambil mikrofon dari tangan Adrian."CEO dan dosen mana bisa menyanyi." Ujarnya. Leon menatap adik bungsunya geram, “Memangnya Dokter spesialis bisa?” Leon meragukan. "Aku bisa." Lucas menoleh ke Leon dan Adrian lalu ke Rosella. "Ayo kita duet.” Rosella menatapnya sebentar lalu mengangguk.Lucas memilih lagu di layar, salah satu lagu yang Rosella pilih tadi tapi belum sempat dinyanyikan, dan begitu intro-nya muncul Rosella menatap Lucas dengan sedikit terkejut.Lagu yang sama persis dengan yang ingin dia nyanyikan.Lucas menatap layar, menunggu bagiannya, dan ketika liriknya muncul suara yang keluar dari pria itu membuat seluruh ruangan berhenti b
Malam itu, ruang makan semua Tuan Muda sudah duduk di kursinya masing-masing. Leon duduk di ujung meja seperti biasa, meski wajahnya masih terlihat sedikit pucat dari demam yang belum sepenuhnya hilang. Tapi dia bersikeras untuk tidak melewatkan makan malam, meskipun Lucas menyarankan dia untuk is
Rosella mematung mendengar ucapan terima kasih dari Leon.Seorang Leon berterima kasih padanya?Pria yang selama ini hanya menatapnya dengan dingin, sekarang mengucapkan terima kasih dengan nada yang berbeda? Ditambah sebuah kecupan hangat? Rosella tidak tahu harus berkata apa. Tubuhnya masih lema
Lucas tersenyum miring, mencoba mengabaikan pikirannya, lalu dia menggenggam tangan Rosella lebih erat. Suasana hening menyelimuti mereka hingga dia melihat Rosella yang kurang tak nyaman dengan pakaian yang dikenakan. “Kamu kenapa Rosella?” Tanyanya. “Tidak ada-apa Tuan.” jawab Rosella kikuk.
Rosella terdiam, wajahnya memerah mendengar pertanyaan Adrian yang begitu blak-blakan.Mulutnya ingin menolak, dan mengatakan tidakTapi tubuhnya menginginkan hal lain, tanpa sadar, kepalanya mengangguk pelan nyaris tak terlihat. Senyum tipis terukir di bibirnya, senyum yang penuh kemenangan sekal







